Satu teko besar teh serta satu nampan pisang goreng telah siap di meja ruang tamu. Rencananya Faz akan menata itu semua di teras rumah saat kerja bakti sudah di mulai. Saat ini dirinya hanya berjalan mondar mandir di ruang tamunya dengan gelisah. Benarkah Irva akan datang?
Untuk kesekian kalinya, Faz melirik jam di dinding. Masih pukul enam kurang sepuluh. Ia mendesah pelan melihat jarum jam itu rasanya bergerak begitu lambat. Irva berjanji untuk datang jam 6, tapi dirinya sudah berdebar dan tak sabar untuk bertemu dengan cowok itu sejak bangun subuh tadi. Bahkan, semalam pun tidurnya tidak tenang karena selalu memikirkan Irva.
Faz berjinjit di hadapan jendela samping rumahnya untuk mengintip apakah mobil Irva sudah terparkir di pekarangan samping. Bahunya terkulai melihat tidak ada mobil terparkir di sana. Ia pun memutuskan untuk menata sendiri minuman dan makanan untuk orang-orang yang kerja bakti tanpa menunggu Irva. Namun, baru saja dirinya membungkuk di atas meja untuk mengangkat nampan yang berisi teko teh dan gelas-gelas ketika mendengar ketukan di pintu rumahnya.
Mungkin Pak RT, batin Faz lesu. Ia pun melangkah gontai untuk membuka pintu dan ketika pintu sudah terbuka, matanya membelalak lebar dengan mulut setengah terbuka melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Kenapa terkejut begitu?" Irva tergelak melihat keterkejutan Faz. "Kan, aku sudah bilang untuk datang."
"Aku ... Tidak mendengar suara mobilmu." Faz menjawab masih setengah linglung. Apalagi saat melihat penampilan Irva yang tidak biasa. Kaus polos krem dipadukan dengan celana jins yang sudah robek di lutut dan beberapa bagian lain, ditambah topi hitam yang dibalik ke belakang membuat Irva terlihat begitu seksi.
"Aku tidak bawa mobil." Irva tergelak melihat Faz masih mematung di depan pintu sambil mengamati dirinya dari atas ke bawah. "Aku mau kerja bakti. Apa kau berharap aku dandan seperti artis?"
Faz menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat berantakan akibat kedatangan Irva juga penampilan berantakan cowok itu yang entah mengapa membuat jantungnya terus melompat-lompat tak karuan.
"Aku nggak disuruh masuk, nih?" Irva berkacak pinggang dengan gaya tersinggung, tapi itu justru membuat Faz semakin kacau. Gadis itu berjalan mundur dengan tatapan tidak fokus. "Kau ini kenapa sih? Kok kayak liat hantu begitu?" tanya Irva sambil nyelonong masuk, duduk di kursi dan mencomot pisang goreng yang ada di meja.
Faz ikut duduk dan sesekali masih melirik Irva yang sudah menghabiskan pisang goreng pertamanya, kemudian mengambil lagi pisang goreng kedua. Dia memakan pisang goreng itu hanya dalam dua gigitan dan ketika Irva menekan pisang goreng terakhirnya, tanpa sadar Faz ikut menelan ludah. Tiba-tiba saja ada gairah yang tidak ia pahami muncul di dalam dirinya. Dirinya ingin dipeluk oleh tubuh seksi itu.
Astaghfirullah, batin Faz. Ia buru-buru menundukkan pandangan dan terus mengucap istighfar.
"Kau bikin sendiri?" Irva mencomot pisang goreng ketiga.
"Hmm," jawab Faz pelan. Ia masih berusaha untuk menenangkan debaran di dadanya.
"Enak." Irva mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi menggoda. "Besok-besok aku buatin sendiri, ya? Nanti aku yang beli bahannya."
Faz mengangguk malu dengan pujian Irva. "Ehm, aku tata di teras dulu ya, teh sama pisang gorengnya," ujarnya sambil buru-buru berdiri. Namun, ia kembali duduk ketika Irva meraih pergelangan tangannya untuk menahan gerakannya yang ingin mengangkat nampan di atas meja.
"Biar aku aja. Kamu yang siapkan saja tempatnya di teras."
Faz tidak menjawab. Ia takut jika suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar mengerikan karena memang sekujur tubuhnya termasuk lidah dan pipinya terasa kaku untuk digerakkan.
Setelah menata teh, gelas dan pisang goreng di atas kursi di teras, Faz kembali masuk ke dalam rumah, sementara Irva mengobrol dengan beberapa warga yang sudah mulai berkumpul. Faz tidak menutup pintu rumahnya, tapi tetap saja dirinya tidak ingin melihat Irva secara terang-terangan. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menyingkap gorden di kamarnya sedikit saja, hanya agar dirinya bisa mengintip Irva.
Faz tersenyum sendiri melihat Irva sudah terlihat akrab dengan beberapa tetangganya. Dia bercanda dan mengobrol tanpa terlihat canggung sama sekali. Irva memang supel dan pandai bergaul. Faz merasa tenang melihat Irva tidak mengalami kesulitan bersosialisasi dengan warga di sekitar rumahnya.
Kerja bakti kali ini adalah untuk membersihkan saluran air untuk menyambut datangnya musim hujan serta memasang paving—bantuan dari pemkot— di sepanjang jalan kampung sampai jalan raya.
Selama kerja bakti berlangsung, Faz seolah tidak merasa lelah sama sekali meski sudah berdiri di depan jendela untuk mengintip Irva selama lebih dari satu jam lamanya. Senyumnya terus mengembang bangga melihat Irva ternyata tidak canggung sama sekali melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kotor dan berat. Dia meraup sampah yang sudah diangkat dari selokan, mendorong gerobak yang mengangkut pasir dan paving yang akan dipasang.
Menjelang Dzuhur, barulah kerja bakti itu selesai. Irva dan beberapa warga terlihat duduk di teras rumah Faz sambil menikmati teh dan pisang goreng. Sesekali Faz mendengar tawa membahana dari teras, entah apa yang mereka tertawakan. Obrolan dan guyonan baru berhenti ketika adzan Dzuhur berkumandang. Semua pamit pulang dan mengucapkan terima kasih karena Irva sudah bersedia membantu.
Faz keluar dari kamar tepat ketika Irva masuk ke dalam sambil membawa nampan yang sudah kosong. "Capek, nggak?" Faz bertanya basa-basi.
"Biasa aja." Irva terus melangkah ke dapur dan meletakkan nampan dan gelas-gelas kosong itu ke dalam bak cuci piring. "Faz, aku mandi dulu, ya."
"Kamu bawa ganti, nggak? Kalau nggak bawa aku cariin baju bekas ayah."
"Boleh, deh. Kebetulan aku kelupaan untuk bawa baju ganti."
Faz mengangguk kemudian bergegas masuk ke kamar orang tuanya dulu. Kamar yang sudah lama tidak ia masuki lagi karena dirinya tidak ingin terus bersedih ketika mengingat mereka.
Faz menyalakan lampu dan satu sentakan dahsyat ia rasakan ketika melihat tempat tidur kosong itu. Semua yang ada di dalam kamar itu masih sama seperti saat kedua orang tuanya pergi meninggalkan rumah. Faz tidak pernah merubah interiornya, hanya sesekali membersihkan kamar itu dari kotoran dan debu. Sebagian dari dirinya masih berharap bahwa suatu saat mereka akan kembali pulang.
Faz menarik napas panjang kemudian melangkah ke arah lemari dan membukanya. Rasa sedih kembali menyerang ketika melihat baju-baju yang dulu dipakai oleh ayah dan ibunya. Mereka tidak membawa semua barang-barangnya saat pergi. Matanya terpejam mengingat mereka pernah menjadi keluarga yang bahagia, dulu. Sebelum ayahnya tahu bahwa dirinya bukanlah putri biologisnya. Hal itu merubah segalanya dan malam itu, ketika dua orang tuanya bertengkar hebat, adalah malam terakhir dirinya melihat ayah dan ibunya. Itu sudah bertahun-tahun lalu.
Faz mengusap setitik air mata di situ matanya kemudian meraih sebuah kaus putih dengan dua garis coklat memanjang di bagian d**a dan celana panjang hitam milik ayahnya. Ia ingat, ayahnya pernah menjemput dirinya ke sekolah mengenakan kaus itu, mereka pulang sambil berjalan kaki dan membeli jajanan di sepanjang jalan yang Faz mau. Ayahnya tidak pernah marah satu kali pun dan kepergian yang tiba-tiba itu benar-benar menyisakan sebuah lubang besar di hatinya sampai detik ini.
Faz mendengar Irva berteriak dari arah kamar mandi. Ia pun menghapus air mata yang tanpa sadar sudah menetes deras di pipinya, menutup lemari dan bergegas keluar dari dalam kamar dua orang tuanya.
Faz mengetuk pintu kamar mandi, menyerahkan baju ganti untuk Irva dan handuk kemudian bergegas lari ke kamarnya. Ia butuh menangis sendirian. Rasa rindu dan marah yang ia rasakan pada ketiga orang tuanya kembali muncul. Padahal sudah sejak lama dirinya bisa mengendalikan hal ini. Ia rindu pada ayah dan ibunya, tapi tidak pada papa biologisnya. Ia marah pada papa biologisnya karena menurutnya semua bencana ini terjadi karena dia.
Papa biologis Faz ialah seorang ernis Tionghoa yang memiliki sebuah pabrik rokok di mana dulu ibunya bekerja di sana di mana perselingkuhan ibunya bermula hingga hamil dirinya.
Keluarganya semula baik-baik saja sampai dirinya mulai beranjak besar. Dirinya tumbuh sebagai gadis dengan kulit putih dengan mata sipit, padahal ayah dan ibunya adalah etnis Jawa asli. Awalnya, ayahnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu dan bepikiran terbuka bahwa anak adalah anugerah Tuhan dan tidak harus memilih wajah yang sama persis dengan orang tuanya. Bagi ayahnya, Faz adalah rezeki yang luar biasa. Cantik dan solehah.
Suatu kali, Faz demam tinggi. Dokter menganjurkan untuk tes darah. Ayah Faz setuju dan sekalian meminta tolong untuk di cek golongan darahnya karena sejak lahir, mereka belum mengetahui golongan darah Faz. Di situlah keretakan rumah tangga orang tuanya bermula. Golongan darah Faz berbeda dengan ayah dan ibunya. Ayahnya memiliki golongan darah O, ibunya B, sementara dirinya bergolongan darah AB+.
Ayah Faz menahan amarahnya sampai saat Faz pulang dari rumah sakit. Malam itu juga, ayahnya menuntut penjelasan dari ibunya. Namun, karena ibunya tidak memberikan penjelasan memuaskan, malah marah-marah dengan mengatakan bahwa ayahnya adalah laki-laki paling tidak bertanggung jawab yang pernah ia temui dan membuat ibunya mencari kebahagiaan dari laki-laki lain. Hal itu membuat ayah Faz marah besar dan menampar ibunya. Tidak hanya menampar, ayah Faz juga meludahi wajah ibunya karena tidak menyangka bahwa ternyata pernikahannya selama ini diwarnai dengan adanya laki-laki lain. Bahkan perselingkuhan itu berlangsung selama bertahun-tahun lamanya tanpa pernah terungkap. Tentu saja hal itu membuat ayahnya kecewa. Berbagai u*****n kasar dilontarkan pada ibunya. p*****r, w************n, istri durhaka dan masih banyak lagi.
Malam itu juga, ayahnya mengemasi baju dan pergi tanpa pamit padanya, sementara ibunya menyusul pergi beberapa menit setelahnya. Keduanya tak pernah kembali sampai saat ini dirinya sudah hampir lulus dari SMA.
Irva kebingungan saat tidak menemukan Faz di dapur atau si ruang tamu. Pintu kamar gadis itu juga tertutup. Awalnya ia hanya akan menunggu di ruang tamu saja sampai Faz keluar dari kamar, tapi ketika telinganya menangkap suara isak tangis yang begitu memilukan, ia tak bisa tinggal diam.
Sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Faz, Irva menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan bahwa memang suara tangis itu berasal dari dalam. Ternyata benar, Faz sedang menangis.
Irva membuka kamar Faz perlahan dan mengintip ke dalam. Faz berbaring tengkurap di atas tempat tidur. Tubuh gadis itu berguncang oleh tangis. Kakinya melangkah mendekati ranjang dan duduk di tepinya. Hatinya pedih melihat gadisnya bersedih.
"Faz?" Irva mengusap punggung Faz dengan lembut. "Ada apa?"
Bukannya menjawab, Faz justru terisak semakin keras. Aroma baju yang dikenakan oleh Irva mengingatkan Faz akan sosok ayahnya. Dulu, ia begitu menyayangi ayahnya itu seolah tidak ada lagi orang yang paling baik di dunia selain ayahnya. Bahkan, saat ini pun dirinya masih menyimpan rasa sayang dan rindunya untuk ayahnya itu, terlepas dia bukanlah ayah biologisnya. Hatinya sungguh berharap untuk bisa bertemu lagi dengan ayahnya itu. Sekali saja. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi ayah yang baik untuknya.
Irva tidak lagi bertanya. Ia hanya terus mengusap punggung Faz dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Ia tidak tahu apa yang membuat Faz begitu sedih dan terlihat begitu rapuh. Apa pun itu, dirinya akan tetap menemani gadis itu dan melindunginya. Inilah yang membuatnya sulit untuk menjauh dari Faz karena semakin dirinya menemukan sisi rapuh gadis itu, semakin dirinya ingin untuk menjadi pelipur lara sekaligus pelindung untuk Faz.
"Menangislah sampai puas. Luapkan semua kesedihanmu. Aku hanya akan terus ada di sini untuk menemanimu."
***