Kencan

2024 Words
"Kau sama sekali tidak memiliki kontak kerabat atau siapa yang bisa dihubungi?" Irva menyapukan ibu jarinya dengan lembut di sepanjang lengan Faz yang saat ini meringkuk di pangkuannya. "Aku bisa membantu mencari jika kau mau." Irva bisa merasakan kepala Faz menggeleng. Gadis itu sudah berhenti menangis, tapi sesekali masih ada isak tertahan yang lolos dari pertahanannya. Ia bisa maklum. Apa yang telah Faz alami dalam hidupnya bukannya cobaan yang ringan, bahkan dirinya mungkin tak akan bisa setegar gadis itu. Faz luar biasa karena bisa bertahan sampai detik ini. Hal ini tentu semakin menambah nilai lebih Fazluna di matanya. Sosok ayah selalu menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya. Begitu juga dengan Fazluna. Ia begitu menyanjung ayahnya. Di matanya tak ada sosok yang lebih sempurna daripada ayahnya dulu. Itulah mengapa ketika ayahnya pergi tanpa mengucapkan apa pun lagi padanya, hatinya patah dan hancur berkeping. Faz kehilangan pegangan hidup sekaligus sosok panutan yang biasanya selalu menjadi kiblatnya dalam segala hal. "Sekarang kau sudah punya aku, Faz." Irva mencoba meyakinkan. "Aku janji akan terus menjagamu. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun menyakitimu." Faz mengirup dalam-dalam aroma kaus ayahnya yang dipake oleh Irva. Sosok ayahnya terus menari-nari dalam benaknya. Namun, kali ini ia bertekad untuk tidak menangis lagi, meski hatinya masih terasa begitu pedih. Tidak! Dirinya harus terus menjalani hari sampai maut menjemput. Faz mengusap air mata di wajahnya kemudian menegakkan badan. Ia masih duduk di atas pangkuan Irva, tapi tubuhnya sudah bisa tegak, tidak lagi meringkuk dalam pelukan cowok itu. "Maaf," ujarnya serak. "Aku tidak seharusnya begini ketika ada kamu di sini." "Justru kamu hanya boleh terlihat rapuh di depanku saja." Irva memegang dengan lembut kedua lengan Faz. "Kau bisa menumpahkan semua kesedihan dan masalahmu padaku. Tapi di luar itu, kau harus terus tersenyum dan semangat seperti biasa." Kepala Faz mengangguk dan ia memaksakan sebuah senyum untuk Irva. Matanya berkedip beberapa kali untuk mengahalau air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mengamati wajah Irva yang terlihat begitu tulus mengkhawatirkan dirinya. Hal itu tentu saja membuatnya ketakutan. Ia takut dirinya tak akan bisa bangkit lagi jika ternyata Irva harus pergi suatu saat nanti seperti ayahnya yang tiba-tiba saja pergi tanpa menoleh atau menatapnya lagi. Faz menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Selepas menangis begitu lama, dadanya menjadi lebih lega. Meski sakit dan luka itu masih ada, tapi dirinya merasa jauh lebih kuat untuk menjalani hari ke depannya. Apalagi dengan adanya Irva. Ia kembali menyandarkan kepalanya di ceruk leher Irva, melupakan segala aturan. Pelukan hangat Irva selalu sukses membuat perasaannya menjadi lebih tenang. Irva menempelkan pipinya di puncak kepala Fazluna, mengirup aroma shampo gadis itu, sementara lengannya melingkar melingkupi gadis itu agar merapat dalam dekapannya. Jika saja bisa, ingin rasanya ia mengikat gadis itu dengan borgol yang tidak terlihat yang bisa membuat mereka selalu bersama dan tak terpisahkan. "Irva, makasih ya," lirih Faz. "Makasih untuk apa?" "Semuanya." Faz melingkarkan lengannya di tubuh Irva. Ia sadar betul bahwa tidak seharusnya dirinya melakukan hal itu, tapi untuk saat ini dirinya hanya ingin merasakan kehangatan pelukan Irva sebagai obat dari rasa rindu pada ayahnya. "Aku bisa merasakan lagi kebahagiaan setelah ada kamu." "Dan aku adalah orang yang paling beruntung karena bisa menjadi satu-satunya yang bisa dekat denganmu." Keduanya saling berpelukan sampai beberapa lama, tanpa ada kata atau obrolan apa pun, hanya saling meresapi makna kedekatan yang terjalin di antara mereka hingga suara perut Faz yang keroncongan memecah keheningan yang tercipta. "Maaf," ujarnya malu. Irva terkekeh geli sambil menarik Faz semakin erat dalam pelukannya. "Aku ada janji untuk mengajakmu makan di luar, kan, hari ini. Jadi, cepat pakai jilbabmu dan kita bisa segera berangkat." "Gimana bisa cepet kalau kamu terus memelukku seperti ini?" Irva pun tergelak. Akhirnya dengan berat hati dirinya harus melepaskan Faz dan membiarkan gadis itu turu dari pangkuannya. "Kalau gitu aku tunggu di luar," ujarnya sambil melangkah ke arah pintu. Saat sampai di ambang pintu, ia berhenti dan berbalik menghadap Faz. "Oya, aku suka jilbabmu yang tosca itu. Kau cantik memakai warna itu." Irva mengedipkan sebelah matanya sambil menyunggingkan senyum menggoda sebelum meninggalkan Faz untuk berganti baju. Sementara itu, Faz membuka lemari bajunya yang tidak terlalu banyak isinya. Dirinya hanya memiliki beberapa setelan gamis di luar seragam sekolah, jadi pilihan bajunya pun tidak banyak. Irva berkata bahwa cowok itu menyukai saat dirinya memakai setelan gamis berwarna tosca beberapa waktu lalu, jadi hari ini sebaiknya ia tidak memakai warna itu. Ia tidak ingin membuat Irva terlalu menyukainya, meski dalam hati kecilnya menjerit ketika memikirkan hal itu. Keinginan hasratnya yang paling dalam adalah Irva terus menyukainya dan tidak pernah memandang gadis lain, hanya dirinya. Namun, ia tahu itu terlalu egois mengingat mereka hanya bersama untuk berpisah pada akhirnya. Faz mengeluarkan setelan gamis berwarna marun kombinasi dusty pink dari dalam lemari dan mengganti baju rumahnya dengan gamis itu. Dirinya tidak perlu berdandan hingga tak berapa lama, ia sudah keluar dari dalam kamar. Irva menyambutnya di ruang tamu dengan mata membelalak dan mulut menganga lebar. Irva menelan ludahnya dengan susah payah. Faz terlihat begitu cantik dan menawan dalam balutan busana dan jilbab berwarna marun. Tanpa sadar dengan apa yang ia lakukan, Irva sudah bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Faz. Tangannya terulur untuk menyapu pipi gadis itu dengan sentuhan lembut. "Mengapa kau memakai warna ini? Membuatku tak berdaya." "Apa?" tanya Faz bingung. "Warna ini membuat kulitmu terlihat semakin bersinar dan wajahmu ... Aku suka perpaduan kontras jilbab ini dengan warna kulitmu. Kau luar biasa cantik." Faz terperangah sesaat melihat Irva yang begitu terpesona olehnya. Namun, kemudian ia menunduk malu mendengar pujian yang cowok itu lontarkan untuknya. "Kupikir, aku tidak akan memakai tosca supaya kau tidak terus memperhatikan aku," bisiknya lirih. "Kau salah," erang Irva. "Tidak. Aku yang salah. Aku belum terlalu sering melihatmu memakai banyak warna dan tiba-tiba saja berkata bahwa tosca membuatmu semakin cantik. Sekarang aku yakin sekali, meski memakai warna hitam atau biru menyala sekalipun kau akan tetap terlihat cantik." "Ihh, mulai deh, gombal." Faz salah tingkah dan terus memalingkan wajahnya dari tatapan Irva. "Ini jadi keluar, nggak? Kalau nggak jadi, aku bikin mie instan aja." Irva pun tergelak. "Jadi, dong." Ia melangkah ke pintu dan menarik kunci dari lubangnya. "Kamu tunggu di luar. Biar aku aku kunci pintunya." Faz membelalak melihat pintu rumahnya sekarang begitu mudah untuk ditutup. "Bagaimana bisa? Biasanya suka seret kalau ditarik menutup?" "Tadi aku bawa oli dari rumah. Semua engselnya sudah aku tetesin oli, jadi sekarang lebih mudah ketika dibuka dan ditutup." "Makasih banyak ya." Faz merasa tak enak hati karena sudah seringkali merepotkan Irva. "Aku nggak tau lagi gimana caranya buat balas semua yang sudah kamu lakuin buat aku." Ia mendesah pelan. "Hidupku jauh terasa lebih mudah semenjak ada kamu." Irva merasakan suasana hati Faz berubah mendung lagi. Ohh, tidak. Dirinya tidak ingin kencannya kali ini harus gagal karena Faz harus kembali menangis seperti tadi. Ia pun akhirnya berkata bahwa semua yang ia lakukan itu tidak gratis dan dirinya akan mengumpulkan semua tagihan dan menyerahkannya pada Faz. Sambil mengatakan itu, ia mengukir cengiran lebar di wajahnya membuat Faz akhirnya tertawa. "Ohh, aku tidak sabar melihat deretan tagihan itu." Keduanya pun akhirnya berjalan beriringan ke pekarangan samping rumah Faz di mana motor Irva terparkir di sana. "Kita mau ke mana?" Faz bertanya ketika dirinya sudah duduk di jok belakang dengan tangan melingkar di perut Irva. Dadanya berdebar ketika merasakan kerasnya perut itu. Ia juga bisa merasakan ada beberapa kotak-kotak seperti bantal yang keras di sana. Namun, ia tetap menahan jemarinya agar terus meremas kaus Irva karena jika tidak, ia takut tergoda untuk meraba perut Irva. "Nggak terlalu jauh, tapi tempatnya agak masuk-masuk, makanya aku pakai motor biar lebih cepat." Irva menyalakan mesin motor dan mulai melaju meninggalkan rumah Faz. Dari jalan raya, ia berbelok ke arah pinggiran kota di mana tempat makan yang ia tuju berada. Benar yang dikatakan Irva bahwa tempat yang mereka tuju memang sedikit terpencil karena mereka masuk ke dalam jalanan kampung yang tidak terlalu ramai. Faz tidak pernah ke tempat ini sebelumnya, tapi dari beberapa papan yang di jalan yang ia lewati, sepertinya mereka saat ini sedang menuju ke sebuah danau yang digunakan sebagai pembangkit listrik. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah tempat yang lapang dengan banyak pepohonan tinggi rindang yang membuat suasana di bawahnya menjadi teduh. Di tepi tanah lapang itu, berderet di sisi kiri dan kanan dengan balai-balai di depan masing-masing warung itu. Awalnya, Faz masih bingung di mana mereka berada saat itu sampai dirinya berjalan semakin dekat ke jembatan. Barulah saat itu terlihat bentangan danau yang luas di hadapannya. Beberapa perahu motor dengan cat warna warni terparkir di tepinya, sementara di tanah yang posisinya sedikit lebih tinggi di atas danau, Faz melihat papan yang bertuliskan 'Tempat Pelelangan Ikan'. Irva mengulum senyum melihat ekspresi takjub di wajah Faz. Nyata sekali jika gadis itu belum pernah ke tempat ini. "Ayok, kita pilih ikannya dulu baru jalan-jalan." "Bisa tidak jika kita menyusuri jembatan ini dulu sampai sana?" Faz memohon. Rasa laparnya seketika hilang ketika melihat danau yang begitu menakjubkan. "Nanti. Sekarang kita harus beli ikan dulu." Faz cemberut, tapi tidak membantah ketika Irva menggandeng lengannya, membawanya melewati jalanan berbatu dan naik ke tempat pelelangan ikan. "Kau mau makan apa?" Irva bertanya sambil menunjuk aneka macam ikan yang digelar di tempat pelelangan ikan. Mulai dari gurame, mujair, nila, gabus, udang air tawar, termasuk lobster air tawar. "Waaah!" Faz berbinar melihat ada begitu banyak macam-macam ikan di sana. Bahkan sebagian besar ia tidak tahu namanya. "Aku tidak tahu yang mana yang enak. Kamu saja yang pilih." "Terserah. Pilih saja?" Irva menarik Faz agar mendekat ke arahnya ketika seorang lelaki dengan rokok di tangannya menerobos kerumuman untuk membeli ikan. "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal ikan, Irva. Apa aja pasti aku mau." "Oke deh." Irva tidak mau mendesak lagi. Ia akhirnya membeli satu porsi lobster air tawar, gurami dan ikan berukuran kecil-kecil. Setelahnya, ia membawa Faz untuk mencari rumah makan langganan keluarganya untuk memasakkan ikan-ikan yang sudah mereka beli. Faz memperhatikan Irva dengan heran. Cowok itu berbicara pada salah seorang pemilik rumah makan sambil menyerahkan ikan-ikan yang dibeli tadi. Mereka terlihat akrab dan sepertinya sudah saling mengenal. Setelahnya, Irva menghampiri dirinya dengan senyum puas. "Ayuk, baru satu jam lagi siap." "Apanya?" "Ya, ikannya." "Aku nggak ngerti, deh." "Jadi, di sini emang sistemnya gitu. Kita beli ikannya di tempat pelelangan tadi, terus kita bawa ke warung-warung tadi. Mereka masakin sesuai keinginan kita. Bisa digoreng, digulai atau apa saja. Nanti, kita tinggal bayar aja. Nasi, sayur dan minum nanti disediakan satu paket." "Tapi, apa tidak terlalu banyak tadi?" "Sebagian kita bawa pulang untuk di rumah." Irva menunjuk sebuah perahu warna warni yang terlihat siap berangkat. "Mau naik itu?" "Perahu? Nggak aah, aku takut. Aku nggak bisa renang, Irva." "Ngapain naik perahu harus bisa renang." Ia menggiring Faz untuk menuruni jalanan setapak menuju tepian danau di mana perahu itu parkir. "Ayok." "Nanti kalau perahunya terguling, gimana? Aku beneran nggak bisa renang." Irva terkekeh geli. " Apa aku akan membiarkan gadis yang sangat berarti buatku tenggelam? Aku bisa renang!" Irva setengah memaksa agar Faz mau ikut turun ke tepi danau. Sementara dirinya membayar tarif naik perahu untuk mereka berdua, ia terus menahan lengan Faz agar gadis itu tidak bisa kabur. Faz harus memiliki banyak pengalaman yang menyenangkan, pikirnya. Setelah membayar, Irva mendorong Faz agar naik ke atas perahu melewati sebuah papan kecil yang bergoyang-goyang ketika diinjak. "Irva!" Faz menjerit takut. "Nggak apa-apa. Namanya di atas air ya pasti gerak-gerak." Ia pun akhirnya memeluk Faz dari belakang dan menuntun gadis itu melewati kayu kecil yang menghubungkan dermaga dengan perahu. "Lihat saja, nanti kau pasti akan suka." Faz terus mencengkeram lengan Irva selama perahu itu masih bergoyang-goyang ketika beberapa penumpang lagi masuk ke dalam. Namun, begitu perahu mulai bergerak dan stabil, rasa takutnya mulai menguap. Ia tersenyum melihat pemandangan di seberang danau yang terlihat semakin jelas. "Seru, kan?" Irva bertanya dengan nada geli. Faz terlihat seperti anak kecil, bertepuk tangan sambil sesekali melongok ke tepi perahu untuk melihat air beriak dari arah belakang perahu. Dalam hatinya berjanji, dirinya akan berusaha untuk terus membahagiakan gadis itu dan mengobati luka masa lalu yang masih menjadi mimpi buruk Faz. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD