Rencana Gila

2386 Words
"Ma!" Irva masuk ke dalam rumahnya sambil menenteng kresek berisi ikan goreng yang tadi dipesan mamanya. "Untung kamu cepet pulang," Mama Irva menerima kresek pemberian Irva dan membongkar isinya. "Papamu sudah heboh suruh pesan makanan, karena sudah jam tujuh kamu belum juga balik." "Ya, maaf. Tadi kan Irva anter Faz pulang dulu." Irva pun akhirnya ikut membantu mamanya untuk menyiapkan makan sebagai permintaan maaf karena pulang terlambat. Memang tadi dirinya sudah berjanji untuk membawakan ikan dari warung langganan mereka di danau. "Ini di Bu Warsini, kan?" Mama Irva memastikan. "Iya," jawab Irva sambil menata piring di meja makan. "Chika mana sih?" "Dia keluar sama Diego. Nonton katanya." Irva menghentikan kegiatannya menata piring dan sendok kemudian menatap mamanya kesal. "Mama ini terlalu bebasin Chika. Kenapa dikasih izin keluar malam-malam?" "Lha, kamu sendiri seharian ini baru pulang, kan?" "Beda, dong. Irva kan cowok, Ma. Chika itu cewek dan masih kecil." Mama Irva tertawa melihat kekesalan putranya. Sejak awal memang Irva yang paling menentang adik perempuannya itu berpacaran, alasannya karena Chika masih kecil. "Berarti Faz pun harusnya nggak boleh dong, jalan seenaknya sama kamu?" "Tapi Irva bakal jagain Faz, Mam." "Begitu juga Diego. Sudah, jangan kayak anak kecil, bentar lagi mereka juga pulang." Mama Irva meninggalkan Irva menata meja makan sendiri untuk mengambil nasi di dapur. Namun, ternyata Irva mengekor di belakangnya. "Ada apa lagi?" Irva tidak langsung menjawab. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Irva boleh tanya sesuatu nggak sama Mama." Mama Irva tetap tidak menghentikan kegiatannya memindahkan nasi dari magic com ke wadah kaca untuk dibawa ke meja makan. "Mau tanya ya tanya aja. Biasanya juga gimana?" Irva mengatur napas untuk meredakan debaran di dadanya akibat gugup yang ia rasakan karena yang ia tanyakan pada mamanya merupakan suatu hal yang penting dan ia tidak yakin mamanya akan menyukai pertanyaannya ini. Namun, karena dirinya tak kunjung bertanya, mamanya meninggalkan dapur sambil membawa nasi ke meja makan. Ia pun kembali mengikuti mamanya dan berdiri kaku di belakang mamanya yang menata nasi dan lauk di meja makan. "Irva, minggir ihh, gangguin Mama aja deh!" Mama Irva kesal karena Irva terus mengekor di belakangnya. "Sudah keburu malam nih, nanti Papa marah loh kalau makannya telat." Irva mundur beberapa langkah, tapi masih tetap mengikuti ke mana pun mamanya bergerak. Ia sedang mengumpulkan tekad untuk menanyakan hal yang menurutnya sangat penting ini, tapi entah mengapa meski seluruh keberanian sudah terkumpul, mulutnya malah terasa kelu hingga akhirnya tetap tidak ada satu kata pun ia ucapkan. Lama-lama Mama Irva akhirnya menyadari kegugupan sang putra. Ia akhirnya berhenti dan berdiri menghadap putranya itu. "Oke, kamu mau tanya soal apa?" "Ehh?" Irva kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soal Faz." "Kenapa dengan Faz?" Mama Irva memperhatikan bagaimama putranya terlihat kebingungan dan gugup dengan apa yang ingin disampaikan. "Apa terjadi sesuatu pada Faz?" Irva menggeleng. "Hmm, menurut Mama, Irva sudah pantas nikah belum?" Mama Irva mendelik mendengar pertanyaan putranya yang tiba-tiba. Pikirannya berkelana pada hal-hal buruk mengenai hubungan Faz dan Irva yang mungkin kebablasan. Ia tersentak mengingat beberapa saat lalu Irva sudah heboh ketika adik perempuannya keluar bersama pacarnua. Rupanya dia takut jika adiknya mengalami hal yang sama seperti Faz. Mama Irva mengatur napasnya untuk mengontrol emosi. Ia harus tetap berkepala dingin menghadapi berita yang akan disampaikan oleh putranya. Sesaat kemudian, ia menatap Irva dengan wajah tenang dan bertanya, "sudah berapa bulan?" "Apa?" Irva bingung dengan pertanyaan mamanya. "Faz." "Faz, kenapa?" Irva malah balik bertanya. "Irva jangan bercanda ya! Mama sudah mencoba sabar ini." Irva semakin bingung. "Pertanyaan Mama bikin Irva bingung." Mama Irva menarik napas panjang kemudian mengembuskan perlahan. "Oke, mungkin memang harus periksa dulu ke dokter. Tapi, sejak kapan Fazluna telat haid?" "Mama!" Irva mengerang dengan keras mendengar pertanyaan mamanya. "Saat ini Faz sedang haid, tapi untuk apa Mama tanyain itu, sih?" Irva menjadi jengkel sendiri karena pertanyaan intinya tentang menikah malah tidak mendapat jawaban. Mama Irva hampir meledak tertawa melihat ekspresi frustrasi putranya. Ia kemudian menepuk jidatnya karena sudah berpikiran buruk tentang Faz dan putranya. "Maaf, Mama pikir Faz hamil. Jadi, kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal menikah jika bukan karena Faz hamil?" Irva melongo. Kemudian dia pun menjelaskan bahwa Faz bukan gadis gampangan yang bisa dengan mudah memberikan kegadisannya pada laki-laki yang belum tentu menjadi suaminya. "Iya, Mama kan sudah minta maaf. Kamu juga sih, ngapain tiba-tiba tanya soal menikah?" "Cuma pingin tau aja gimana pendapat Mama. Apa Irva sudah pantas untuk menikah atau minimal tunangan dulu, gitu?" Mama Irva tidak terkejut mendengar pertanyaan sang putra karena menurut pengamatannya selama ini hubungan Faz dan Irva terlihat serius melebihi sahabat meski keduanya tidak pernah mau mengakui itu. "Apa Faz sudah setuju untuk ikut kita?" Irva mengerang dalam hati. Inilah halangan yang sulit ditembus. Mama dan papanya tidak akan pernah melarang jika dirinya berniat serius dengan Faz. Bahkan sekalipun dirinya berniat menikahi gadis itu detik ini juga keduanya tidak akan melarang asalkan Faz memiliki keyakinan yang sama dengan keluarga mereka. Irva duduk di salah satu kursi meja makan. Ia menumpukan kepalanya di tangan yang ia lipat di atas meja. Syarat yang diberikan orang tuanya tidak mudah untuk ia penuhi. Dirinya tidak ingin memaksa Faz untuk mengikuti keyakinannya. Menurutnya, ia dan Faz bisa tetap bersama dengan keyakinan yang berbeda. Dirinya sangat yakin jika mereka berdua bisa menjalani itu. "Irva." Mama Irva duduk di samping sang putra sambil membelai kepala Irva. "Dua keyakinan berbeda akan sulit untuk disatukan. Jika hubungan kalian memang mengarah pada hal yang lebih serius, kalian harus membicarakan soal perbedaan ini lebih dulu. Kehidupan pernikahan berbeda dengan pacaran yang bisa putus nyambung kapan saja kamu mau. Pernikahan adalah komitmen bersama untuk seumur hidup. Kalian akan mengikat janji setia sehidup semati di hadapan Tuhan. Faz harus mengikuti kita, agar semua bisa berjalan lebih mudah." "Hanya tunangan apa juga harus sama agamanya," ujar Irva lirih. "Irva hanya ingin mengikat Faz dalam satu kepastian. Soal keyakinan, Irva tidak bisa memaksa Faz untuk mengganti kepercayaannya. Itu butuh proses." "Oke, katakanlah kalian bertunangan masih dengan keyakinan berbeda, lalu apa yang akan kamu lakukan setelahnya, seandainya Faz tetap pada apa yang dia yakini sekarang? Kalian tetap tidak akan bisa bersama. Jadi, apa fungsinya tunangan itu di sini?" Irva memejamkan mata sambil mengerutkan dahi dengan ekspresi kesakitan. Andai saja apa yang dikatakan mamanya begitu mudah untuk dilakukan—meminta Faz untuk mengikuti keyakinannya—tentu dirinya tidak perlu merasa begini stres. Nyatanya itu bukan hal mudah, bahkan dirinya yakin sekali ketika ia meminta Faz untuk berpindah keyakinan, Faz akan langsung menjauh darinya sesakit apa pun itu. Beruntung obrolan itu terputus dengan kehadiran Chika dan pacarnya. Irva kemudian berdiri dan berkata bahwa dirinya sudah kenyang kemudian berjalan ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin diganggu oleh mamanya. Ia hanya butuh sendiri dan merenung. Di kamarnya, Irva hanya tidur berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Hatinya merasa tidak tenang memikirkan masa depan yang harus ia perjuangkan bersama Fazluna. Satu-satunya cara yang masih masuk akan dan terbaik untuknya dan Faz adalah mereka tetap dengan kepercayaan masing-masing, tapi tetap bersama dalam toleransi yang akan terus mereka jaga. Ya, sepertinya dia bisa menawarkan komitmen seperti itu pada Faz. Gadis itu tidak perlu berpindah agama mengikuti keyakinannya dan dirinya pun tetap bisa memenuhi harapan orang tuanya untuk tidak menjadi mualaf seperti kakak sulungnya. Namun, tetap saja ada satu hal yang masih akan terus membuatnya khawatir dan takut. Bagaimana jika suatu hari ada lelaki lain yang memiliki keyakinan sama dengan Faz tiba-tiba saja datang melamar gadis itu? Irva marah membayangkan Faz menerima pinangan dari lelaki lain. Tidak! Dirinya tentu saja tidak akan membiarkan itu. Ohh, ia tidak akan bisa melepas Faz begitu saja. Gadis itu benar-benar telah membajak seluruh ruang di dalam hatinya hingga rasanya tak ada tempat lagi untuk perempuan mana pun di hatinya. Irva memukul tempat tidur kosong di sebelahnya dengan amarah yang menggelegak di dalam dirinya. Secepatnya dirinya harus memikirkan cara untuk membuat Faz terikat padanya dengan cara apa pun. Tiba-tiba saja Irva sudah meraih jaket dan keluar dari dalam kamarnya. Ia melewati ruang makan tanpa mengatakan apa pun kemudian menuju garasi rumahnya. Untung sekali kunci motor Chika belum ia kembalikan hingga malam ini dirinya bisa memakai motor itu lagi untuk pergi ke rumah Faz. Ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan gadis itu. Karena sudah malam, jalanan pun tidak terlalu ramai hingga Irva bisa sampai di rumah Faz lebih cepat. Ia memarkir motor di tempat biasanya kemudian bergegas melewati teras dan mengetuk rumah Faz. Cukup lama juga gadis itu membukakan pintu untuknya, mungkin dia harus memakai jilbabnya dulu. Ketika akhirnya pintu di hadapannya terbuka, wajah terkejut Faz menyambutnya. "Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu, tapi tidak di sini." "Soal apa?" Faz bingung. "Ini sudah malam, aku tidak bisa pergi." "Ini penting!" Irva mendesak membuat Faz mengernyitkan dahi bingung. "Ayo, ikut saja." Faz menolak dengan alasan sudah malam. Ia tidak enak dengan para tetangga jika ketahuan keluar malam dengan seorang laki-laki. "Bicara di sini saja." Irva mengacak-acak rambutnya frustrasi karena rencananya tidak berjalan mulus. "Baik, kita masuk ke dalam saja. Ia setengah menyeret tangan Faz untuk masuk ke dalam. Ia tetap membiarkan pintu ruang tamu terbuka agar para tetangga tidak ada yang curiga, tapi dirinya terus mendorong Faz untuk masuk ke dalam kamar gadis itu. Irva gelap mata. Fokusnya hanya satu, yaitu membuat Faz menjadi miliknya untuk selamanya hingga ia pun akhirnya memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Ia berniat membuat Faz hamil agar orang tuanya tidak memperumit semuanya dan supaya Faz tidak terus mencari-cari alasan untuk menolak komitmen serius yang ia tawarkan. Irva membungkam mulut Faz agar gadis itu itu tidak bisa berteriak dan menarik perhatian. Meski dirinya tidak tahu banyak mengenai cara melakukan hubungan biologis, tapi dari beberapa mimpi yang pernah ia dapatkan, dari pelajaran biologi di sekolahnya juga dari percakapan dengan beberapa temannya, ia merasa yakin bahwa apa yang ia lakukan sudah benar. Irva memejamkan mata karena tidak ingin melihat tangis pilu Faz. Dirinya tidak akan tega jika melihat Faz dan itu bisa menggagalkan rencananya. "Maafkan aku," bisiknya di telinga gadis itu. Malam ini telah merubah segalanya. Irva merasa puas karena akhirnya dirinya berhasil mengklaim Faz sebagai miliknya. Dalam hatinya juga terus berharap semoga benih yang ia tanamkan di rahim Faz bisa tumbuh menjadi janin yang akan menyatukan ikatan cinta mereka untuk selamanya. Sembilan bulan kemudian, Faz tertawa dengan perut yang sudah besar. Dia menggelayut manja di lengan Irva yang tentu saja akan menyambut dengan bahagia kemanjaan istrinya itu. Irva mengusap perut Faz kemudian mendekatkan telinganya di perut sang istri. Ia berbicara pada buah hatinya dan Faz. Ketika si bayi membalas sapaannya dengan menendang perut sang istri, ia pun tak bisa menahan tawa bahagianya. Hidupnya benar-benar terasa sempurna dengan Faz ada bersamanya. "Aku mencintaimu," ujarnya sambil mengecup kepala Faz yang tertutup jilbab marun. "Aku membencimu!" "Apa?" Irva terkejut mendengar jawaban sang istri. "Aku membencimu!" "Tidak mungkin. Kita saling mencintai, bukan?" "Kau salah. Kau monster jahat yang tidak punya perasaan. Aku berharap anak ini mati agar tidak tumbuh menjadi monster sepertimu!" Faz meraih pisau buah di atas meja kemudian menusuk perutnya yang membesar dengan pisau itu. "Tidaaaaaak!!!" Irva berteriak histeris, tapi terlambat. Darah sudah muncrat dari perut Faz. "Ya Tuhan. Tidak! Faz!" Irva syok dan bingung melihat keadaan yang semula baik-baik saja tiba-tiba saja berubah mengerikan. Ia bersimpuh di lantai untuk memangku tubuh sang istri yang sudah tak sadarkan diri karena mengeluarkan banyak darah. Ia memeluk tubuh itu sambil menangis, tidak tahu apa ya harus dilakukan. "Faz! Faz! Kumohon!" Irva baru membuka mata ketika merasakan tepukan yang sangat keras di pundaknya. Ia membuka matanya dan terkejut ketika melihat mama dan papanya menatapnya khawatir. "Ada apa?" Mama Irva khawatir. "Kenapa teriak-teriak begitu?" "Mimpi buruk?" Papa Irva bertanya sambil meraih air mineral botol di atas meja belajar Irva. "Ini, diminum dulu." Irva duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan wajah bingung, tapi dirinya tetap menerima air yang diulurkan oleh papanya dan meminumnya beberapa teguk. Sambil minum, ia mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami. Rupanya tadi dirinya ketiduran ketika sedang melamun dan apa yang ia pikirkan sesaat sebelum tidur pun akhirnya terbawa sampai ke dalam mimpi. Irva mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia meminta maaf pada mama dan papanya karena telah membuat mereka khawatir. Ia bersumpah bahwa dirinya tidak apa-apa dan hanya mimpi buruk saja. "Kami terus berteriak memanggil Faz." Mama Irva menjelaskan. "Kami terpaksa memakai kunci serep untuk membuka kamarmu." "Iya, nggak apa-apa. Cuma mimpi." Irva menolak untuk membalas tatapan mamanya. "Ya sudah, tidur saja lagi." Papa Irva akhirnya menyeret istrinya untuk keluar dari kamar putranya. Ia ingin memberi Irva privasi setelah tahu bahwa putranya itu baik-baik saja. Setelah dua orang tuanya pergi, Irva turun dari tempat tidur dan melepas kausnya yang basah keringat. Ia melempar kaus itu ke dalam keranjang cucian kotor yang diletakkan di sudut belakang pintu oleh Faz, kemudian membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Irva mematung di depan lemari selama beberapa saat. Pakaiannya sudah tertata rapi di dalam lemari sesuai kelompoknya. Celana ada di deretan celana, kaus juga ditata rapi sendiri di rak kedua, begitu juga dengan kemeja. Semua itu Faz yang merapikan untuknya. Pikiran bahwa Faz adalah istrinya kembali menghantui. Irva mengambil kaus di deretan paling atas dan mengenakannya dengan cepat sebelum akhirnya duduk di depan meja belajarnya sambil menyalakan laptop. Ia mencari banyak informasi tentang nikah muda di internet dan apa saja syarat yang harus dipenuhi. Irva cukup terkejut mengetahui bahwa ternyata banyak sekali pasangan yang menikah di usia muda bahkan masih di bawah umur yang disyaratkan untuk menikah oleh negara. Memang prosesnya sedikit rumit karena harus melalui sidang untuk mendapatkan surat izin menikah itu, tapi bukan berarti itu tidak mungkin dilakukan. Hanya saja ada masalah di situ, semua pasangan yang menikah muda itu memiliki keyakinan yang sama. Alvin Faiz—putra dari ustadz kondang Arifin Ilham—menikah dengan seorang gadis mualaf. Haikal Siregar pun menikah dengan gadis yang seagama dengannya. Aidan Blackstone dan Aaro putranya pun menikah di usia muda dengan wanita yang memiliki keyakinan sama. Lalu bagaimana jika pasangan muda ini memiliki agama yang berbeda? Bagaimana prosesnya? Irva belum menemukan referensi yang cukup bisa dipercaya di internet. Jika sudah dewasa dan cukup umur, mungkin dirinya bisa membawa lari Faz untuk menikah di luar negeri, tapi mereka masih di bawah umur. Negara tidak akan dengan mudah memberikan izin untuk menikah. Irva mematikan laptopnya dan kembali berbaring. "Faz," lirihnya sambil memejamkan mata. "Love you." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD