Ketakutan

2093 Words
Sudah jam dua dini hari ketika Irva berjingkat mendatangi kamarnya untuk mengintip Fazluna yang tidur di sana. Ia sendiri tidak bisa tidur sejak meninggalkan Faz beberapa jam lalu di kamarnya agar gadis itu bisa beristirahat, sementara dirinya tidur di ruang tengah. Dalam benaknya selalu bermunculan bayangan dirinya mencium Faz tadi dan ini sangat menganggu. Sebagai laki-laki normal tentu saja dirinya mendambakan hal itu, bahkan lebih. Irva memegang kenop pintu kamarnya sambil menempelkan telinganya di pintu untuk mendengarkan Fazluna apakah sudah tidur atau belum. Setelahnya, ia tertawa sendiri sambil mengutuk kebodohannya. Mana mungkin ia bisa mendengar suara Fazluna tidur kecuali gadis itu mendengkur dengan suara keras seperti terompet. Irva nekat membuka pintu kamarnya dengan gerakan yang sangat pelan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ketika pintu sudah separuh terbuka, ia melongok ke dalam untuk melihat keadaan. Ia terkejut sedikit ketika Fazluna balas menatapnya dari dalam kamar. Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memangku bantal. Sudah kepalang basah, Irva memutuskan masuk saja sekalian, tapi tetap membiarkan pintu kamarnya terbuka. "Kau belum tidur?" Ia melangkah pelan melewati lantai kamar kemudian bersimpuh di lantai tepat di bawah Fazluna duduk. "Aku tidak bisa tidur," Fazluna mendesah pelan. "Tapi kau seharusnya banyak istirahat." Irva menegur. "Ada yang menganggu pikiranmu?" Faz mengangguk samar. "Soal Pak Bram. Aku merasa tak enak hati karena Pak Bram yang sudah menanggung biaya rumah sakit kemarin." Irva yang semula menyandarkan kepalanya di tepi ranjang seketika menegakkan badan begitu Faz menyinggung soal si Brambang. "Salah sendiri, siapa suruh langsung nyelonong ke bagian admin begitu tahu dokter sudah memperbolehkan kau pulang. Aku pun masih bisa membayarnya." "Itulah aku jadi merasa tak enak hati. Semalam aku sudah berkata akan mengembalikan semuanya, tapi Pak Bram menolak dan menawarkan bantuan lebih banyak lagi." Faz kembali menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. "Aku tak bisa berhutang budi pada Pak Bram." "Aku pun tak suka dia ikut campur urusanmu, tapi karena dia masih kepala sekolah kita jadi aku tak bisa menolak begitu saja ketika dia memaksa untuk mengurus-mu di rumah sakit kemarin. Kalau kau mau, kita bisa mengembalikan uang yang sudah dibayarkan ke rumah sakit." "Tidak akan diterima, Irva." "Banyak cara yang bisa dilakukan. Kita bisa mentransfer uang itu diam-diam atau mengirimkannya ke kantor tanpa nama pengirim. Sudahlah, besok saja kita pikirkan caranya, yang penting kau tidurlah dulu." "Kamu juga perlu istirahat, kan?" "Aku akan tidur setelah kau tidur," balas Irva sambil nyengir. "Atau kau mau ku-nyanyikan lagu Nina Bobo?" Faz tergelak mendengar tawaran Irva. "Memangnya aku bayi?" Namun saat Irva mulai bersenandung lagu Nina Bobo yang sudah diimprov liriknya, ia pun menikmati lagu itu dan mulai mengantuk. Awalnya, ia masih tertawa ketika Irva merubah lirik 'kalau tidak bobo digigit nyamuk' menjadi digigit kecoa, digigit tikus, digigit kerbau dan macam-macam lagi, tapi beberapa saat kemudian matanya mulai berat dan sulit untuk tetap terbuka. Apalagi Irva tak hanya menyanyi untuknya, cowok itu itu mengusap dengan lembut pelipisnya sambil merapikan rambut yang menutupi dahi dan matanya membuat dirinya semakin merasa nyaman dan terlelap. Irva mengamati wajah Faz yang sudah pulas. Cantik, batinnya. Dadanya bergemuruh oleh hasrat untuk memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri. Ia tahu Pak Bram sangat menginginkan Faz dan terlihat sangat jelas bahwa Pak Bram tidaklah main-main. Hal ini membuatnya tidak tenang dan dilanda ketakutan kalau-kalau suatu hari Faz akan berkata 'ya' pada lelaki tua bangka itu. Namun, jika bisa dan harus bisa, dirinya akan mencegah hal itu agar tidak sampai terjadi. Irva meraih tangan Faz dan menciumi jari jemari Faz yang lembut dan tampak rapuh itu. Tekadnya sudah bulat bahwa apa pun yang terjadi, dirinya akan tetap mempertahankan Fazluna. Ia yakin mereka tetap bisa bersama meski dengan jurang perbedaan yang begitu dalam. Dirinya tidak mungkin membujuk Faz agar mengikuti keyakinannya, begitu juga sebaliknya. Tapi, bukanlah terlalu dini untuk memikirkan hal itu?! batin Irva membantah. Tidak! Meski tidak terlalu paham akan komitmen, tapi Irva yakin bahwa perasaan yang ia miliki untuk Faz begitu kuat dan semakin kuat setiap harinya. Belum pernah dirinya merasa seperti ini sebelumnya. Ohh, dirinya pernah beberapa kali menjalin kasih dan berpacaran, tapi tak pernah bertahan lama. Sebulan dua bulan, dirinya akan mengakhiri hubungan itu karena tak tahan dikekang oleh makhluk mengerikan bernama perempuan. Akan tetapi ketika bersama Faz, dirinya merasakan hal yang berbeda. Ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk melindungi dan menaungi gadis itu dari kejamnya dunia. Sikap dan sifat Faz telah membangkitkan sisi ke-lelakian dalam dirinya. Bahkan rasanya dirinya bersedia menerobos lautan api demi Fazluna. Irva memajukan badannya kemudian mencium kening Faz turun ke mata, pipi hingga dagu. "I love you," bisiknya spontan dan lirih. Setelahnya ia tertegun merenungi apa yang baru saja ia lakukan. Benarkah dirinya benar-benar mencintai gadis ini sampai dadanya terasa sesak hanya karena membayangkan bahwa pria lain pun menginginkannya? Ibu jari Irva menyapu bibir Faz dengan lembut. Dirinya teringat ketika tiba-tiba saja ia mencium gadis itu tadi dan jika boleh jujur, sama sekali tidak ada penyesalan yang ia rasakan. Sebaliknya, ia merasa bangga karena ciuman pertama itu sudah menjadi miliknya. Memang terkesan kekanakan dan egois, tapi apa lagi yang bisa Irva lakukan dengan kondisi mereka saat ini? Jangankan untuk jadian apalagi dicium, disentuh dengan sadar saja Faz sudah pasti berlari menghindar. Itulah mengapa Irva memilih momen di mana Faz lengah. Bayangan Irva berkelana jauh ke masa depan. Ia dan Faz hidup bersama, menikah dan memiliki banyak anak. Mereka tetap dengan keyakinan masing-masing, Faz masih dengan jilbab lebarnya yang cantik dan dirinya tetap memenuhi harapan orang tua dengan berpegang teguh pada keyakinannya saat ini. Jika saja bisa semudah itu, batin Irva mengeluh. Faz sudah pulas dengan napas teratur yang membuat Irva merasa tenang. Namun ia masih enggan untuk meninggalkan kamar dan tidur di ruang tengah. Akhirnya, ia meletakkan kepalanya di tepi tempat tidur sambil menempatkan tangan Faz agar menempel di pipinya dan ia pun ikut tertidur. Pagi harinya, Irva terbangun karena merasakan sakit di telinganya. Awalnya, ia mengabaikan rasa sakit itu, tapi makin lama makin terasa sakit hingga ia pun akhirnya membuka mata. "Mama?!" Irva mengucek matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas. Ternyata sakit di telinganya tadi karena namanya menjewer telinganya dengan kuat. "Apa sih?" "Jam berapa ini?" Mama Irva memberi isyarat supaya Irva keluar dari kamar sambil menunjuk Faz yang masih tidur lelap. "Dia nggak sholat subuh?" "Lagi halangan." Irva bergumam sambil berjalan tersaruk mengikuti mamanya keluar dari dalam kamar. "Lagian, Mama ngapain sih, ganggu orang tidur aja." "Kamu kan harus sekolah, Irva." "Aduh, Ma, bolos dulu kenapa sih?" Irva membanting tubuhnya ke sofa panjang di ruang keluarga. "Kan ada Faz di sini, masak ditinggal sekolah." "Biar Faz di rumah sama Mama," sahut Mama Irva dari dapur yang memang bersebelahan dengan ruang makan dan ruang keluarga. Irva tidak menjawab lagi. Ia memilih kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya. Namun baru beberapa saat matanya terpejam, ia kembali membuka matanya sambil mengaduh ketika merasakan hantaman di kepalanya. Ia pun mendongak dan melihat mamanya mengacungkan centong sayur di tangan ke arahnya. "Ma, kenapa kepala Irva dipukul centong, sih?!" Irva menggerutu sambil mengusap kepalanya. "Nah, makanya buruan mandi dan berangkat sekolah atau Faz nggak usah nginep sini!" Mama Irva mengancam dengan ancaman yang mematikan karena terbukti Irva langsung bangun dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Irva mendengus pelan, tapi tetap saja ia menurut daripada Faz dilarang menginap di rumahnya lagi. "Iya, ini mau mandi. Jahat bener dipukul centong. Berasa kek anak tiri jadinya." "Apa kamu bilang?!" Mama Irva yang sudah separuh jalan kembali ke dapur pun mengejar Irva ke kamar mandi sambil mengacung-acungkan centong sayur di tangannya. "Sini, anak kurang ajar!" Namun, saat sampai di depan kamar mandi, pintunya buru-buru ditutup oleh Irva membuat mama Irva harus puas hanya dengan memukul pintu kamar mandi. Setelahnya, Mama Irva kembali ke dapur sambil mengomel sendiri dan terkejut melihat Faz sudah berdiri di pintu masuk dapur. "Ehh, Faz. Sudah bangun, Sayang?" Mama Irva menghampiri Faz dan menarik gadis itu untuk duduk di meja makan. "Gimana kondisi kamu?" "Baik, Tante." Faz menjawab malu-malu. "Maaf, lagi-lagi Faz merepotkan." Mama Irva tersenyum hangat sambil mengusap lengan Faz. "Sama sekali tidak repot, Sayang. Malah lebih baik kamu di sini supaya kita semua tidak terus kepikiran kamu." "Makasih," ucap Faz penuh haru yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Mama Irva. Setelahnya, ia hanya duduk di meja makan sambil mengamati kesibukan Mama Irva di dapur karena saat dirinya menawarkan diri untuk membantu, Mama Irva menolak dengan tegas dan tetap memaksanya untuk beristirahat. "Chika dan Papa tadi berangkat lebih pagi karena hari ini Chika ada kegiatan Study Tour jadi memang diharuskan untuk berkumpul di sekolah lebih pagi." Mama Irva berbicara sambil meletakkan semangkuk bubur ayam hangat di hadapan Faz. "Ini dimakan mumpung masih hangat." Faz mengucapkan terima kasih berulang kali karena benar-benar merasa tak enak hati karena sudah merepotkan. Mama Irva meninggalkan Faz sendiri di meja makan agar gadis itu tidak merasa malu atau canggung. Ia pamit pada Faz untuk mencuci di atas dan berpesan bahwa sarapan untuk Irva sudah disediakan di dapur. Faz menyendok buburnya dan memakannya sedikit. Rasa lembut dan hangat dari bubur itu membuat perutnya yang semula terasa sebah terasa nyaman. Ia menyendok lebih banyak lagi dan mulai makan dengan lahap. Beberapa saat kemudian, Irva masuk datang sudah berpakaian seragam lengkap. "Maaf, aku sarapan dulu." Faz tersenyum malu. "Gapapa, makan aja. Kamu butuh banyak asupan gizi biar cepet pulih." Irva mengusap lembut rambut Faz sebelum masuk ke dapur dan kembali beberapa saat kemudian ke meja makan dengan sepiring nasi goreng di tangannya. Ia duduk tepat di sebelah Faz dan mulai memakan nasi gorengnya. "Mau?" Ia tersenyum jahil saat melihat Faz menganga melihat dirinya makan. "Ini aja cukup, kok. Makasih." Faz menggeleng pelan. "Tapi, kamu yakin bisa ngabisin segitu banyak?" Faz menunjuk porsi nasi goreng Irva yang menggunung di piringnya dengan beberapa potongan daging di tepinya. "Kenapa?" Irva nyengir mengetahui Faz ngeri melihat porsi sarapannya. "Seharian kemarin aku sama sekali nggak makan." "Kok bisa nggak makan?" Faz hampir saja mengomeli Irva ketika ingat bahwa kemarin dari pulang sekolah sampai malam Irva memang tengah menjaganya di rumah sakit dan tak beranjak sedetik pun dari sampingnya. "Ohh, maaf. Gara-gara aku kamu jadi nggak makan." Irva melambaikan tangan untuk mengatakan bahwa Faz tak perlu memikirkan itu. Ia tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh dengan nasi goreng. Setelah ia menelan makanannya dengan susah payah, ia pun tertawa sambil berkata bahwa Faz tidak perlu merasa bersalah karena dirinya melakukan itu dengan senang hati, bukan karena terpaksa. "Habiskan buburnya!" Irva menunjuk mangkuk Faz yang masih penuh. "Kasihan Mama yang udah susah-susah masakin bubur itu kalau nggak kamu habisin." "Ahh, iya." Ucapan terakhir Irva sukses membuat Faz merasa bersalah dan akhirnya buru-buru menghabiskan buburnya. Ia tak mau menjadi orang yang tak tahu diri dengan tidak menghargai jerih payah Mama Irva yang sudah menerimanya dengan baik di rumahnya. Setelah menghabiskan buburnya, ia membawa mangkuk kosongnya ke tempat cuci piring dan mencucinya kemudian kembali ke meja makan untuk menemani Irva sarapan. "Irva, aku beneran ngerasa nggak enak loh sama mama kamu." "Nggak enak kenapa? Kamu sudah jadi bagian dari keluarga di sini, ngapain ngerasa nggak enak?" Faz mendesah pelan. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang ia rasakan pada Irva karena cowok itu pasti akan terus menjawab bahwa dirinya tak perlu merasa begitu. Kalau boleh jujur dirinya merasa senang karena bisa diterima dengan baik oleh keluarga Irva, tapi juga merasa bersalah karena ia tahu dirinya tak bisa membalas kebaikan keluarga Irva. "Hmm, daripada mikir yang enggak-enggak gimana kalau kamu bikinin kopi aja. Biar aku nggak ngantuk di sekolah." "Ohh, bisa kok." Faz menjawab cepat dan seketika berdiri untuk merebut air di kompor, tapi sebelum ia sempat menyalakan kompor, Irva sudah menyusulnya ke dapur dan menunjuk mesin pembuat kopi serta mengajarkan cara kerjanya. "Nah, padahal kamu bisa bikin sendiri lebih cepat." "Ya, kalau ada kamu ngapain aku harus bikin sendiri," balas Irva sambil tergelak membuat Faz cemberut menatapnya. "Aku tunggu di meja makan ya, Sayangku," ujarnya sambil mencuri ciuman di pipi Faz. "Uppsss, maaf. Kelupaan." Irva mengatupkan tangannya di depan d**a sebagai permohonan maaf, tapi di wajahnya sama sekali tidak tampak ekspresi menyesal. Ia justru tergelak dengan keras sambil berlalu meninggalkan Faz sendiri di dapur membuatkan kopi untuknya. Sementara itu, Faz terpaku di tempatnya. Sekali lagi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika Irva melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Faz tahu ini salah, tapi dirinya tidak berdaya untuk marah dan menolak Irva. Ia tahu bahwa ini semua tidak bisa diteruskan atau membuat dirinya melanggar ajaran agamanya lebih banyak lagi, tapi sungguh dirinya tidak tahu bagaimana cara untuk mengakhiri ini. Tuhan, tolong berikan petunjuk dan jalan keluar, batin Faz merana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD