Suasana sudah sepi ketika Irva sampai di sekolah. Memang ia terlambat kira-kira sepuluh menit, tapi tetap saja dirinya melenggang santai melewati ruang Tatibsi lurus sampai di koridor depan ruang kepala sekolah. Tidak ada Faz, sekolah jadi kurang asyik, batin Irva.
Ia berencana untuk memotong jalan lewat taman depan melewati lapangan basket agar bisa sampai di kelasnya lebih cepat. Namun, saat hendak berbelok ke jalan kecil di tengah taman, seseorang memanggil namanya.
Irva menoleh dan posturnya seketika berubah kaku saat mengetahui siapa yang memanggil. Pikiran culasnya memerintahkan agar dirinya meneruskan langkah dan mengabaikan sosok yang sedang berjalan cepat menghampiri dirinya. Namun, akhirnya ia memilih tetap berdiri di tempat menunggu sosok itu mendekat.
"Bagaimana kondisinya?"
Meski Bram tidak menyebutkan nama, tapi Irva tahu bahwa yang dimaksud oleh kepala sekolahnya itu adalah Fazluna. Irva membuang napas dengan keras sebelum menjawab, "baik."
"Syukurlah." Bram menghela napas lega. "Bisa kau ikut ke kantor sekarang? Ada hal yang harus kamu lihat. Nanti siang akan ada petugas dari kepolisian datang. Kau termasuk salah satu saksi penting pada kejadian ini."
"Untuk apa?" Irva bertanya heran. "Anda tidak melaporkan kasus ini ke polisi, kan?"
Bram menatap Irva dengan wajah penuh tekad. "Sayang sekali aku harus melakukan ini. Karena hal ini sudah termasuk tindak kriminal."
Irva menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar penjelasan Bram. "Apa Faz akan ikut diinterogasi?"
"Tentu saja dia harus memberikan keterangan." Bram menjawab mantap. "Aku tahu, mungkin Faz akan merasa trauma dan malu, tapi jika dia tidak bisa bekerja sama, mungkin ke depan akan ada lagi kejadian serupa."
Irva merenung sejenak. Memang alasan yang disampaikan oleh kepala sekolahnya, benar adanya, tapi ia tetap merasa bahwa Faz tidak akan menyetujui jika kasus ini sampai dilaporkan ke polisi. "Apa sekolah tidak bisa menangani ini?"
"Kita membutuhkan pihak yang lebih ahli untuk menyelidiki hal ini agar tidak sampai salah menuduh." Bram menatap Irva tegas. "Lihat dulu rekaman CCTV itu, siapa tahu kamu bisa mengenali siapa-siapa yang mencurigakan."
Irva menggelengkan kepala beberapa kali sambil memohon maaf dengan nada kaku bahwa dirinya tidak bisa ikut karena ada kelas. Ia tidak mau dianggap membolos dan mendapatkan nilai buruk dari guru sastra Inggrisnya. Namun, Bram terus memaksa dan berjanji untuk mengirim petugas Tatibsi ke kelasnya untuk menyampaikan izin.
Irva tak mempunyai pilihan lain. Ia sendiri sebetulnya tidak terlalu peduli jika harus membolos. Ia hanya tidak ingin terlalu lama berdua dengan kepala sekolahnya itu. Rasa cemburu selalu menguasai hatinya ketika dirinya berjumpa dengan sang kepala sekolah.
Beberapa menit kemudian, baik Irva maupun Pak Bram sudah duduk berdua di ruang tamu kantor Kepala Sekolah menyaksikan rekaman CCTV. Rekaman itu tidak terlalu jelas memperlihatkan wajah murid yang lalu lalang melewati Laboratorium Biologi menuju toilet. Hanya Faz yang bisa langsung dikenali karena gadis itu memakai jilbab lebar sebagai ciri khasnya.
"Kau lihat sendiri, kita membutuhkan pihak penyidik untuk bisa mengusut hal ini. Kita tidak mempunyai banyak petunjuk selain rekaman tidak jelas ini."
Irva diam tidak menanggapi ucapan kepala sekolahnya itu. Dalam hatinya juga berharap bahwa siapa yang telah berbuat keji kepada Faz harus mendapat hukuman setimpal, tapi dirinya juga tidak setuju jika masalah ini sampai melibatkan pihak kepolisian. Faz akan ketakutan dan trauma, ia yakin sekali. Untuk itu, dirinya berpikir dengan keras cara untuk menyelesaikan masalah ini tanpa perlu melibatkan pihak berwajib.
"Jika, kita bisa menemukan pelakunya, apa Bapak akan tetap memanggil polisi?"
"Tidak. Aku akan menyelesaikan masalah ini sesuai hukum dan peraturan yang berlalu di sekolah. Tapi kita tidak memiliki banyak bukti."
"Saya ada ide," ujar Irva yakin. "Dan ini harus dilakukan dengan segera, jika.bapak setuju."
Bram terlihat meragukan rencana Irva, tapi ia tetap mendengarkan penjelasan pemuda itu dengan seksama dan ketika dipikir kembali, rencana Irva masuk akal dan bisa dicoba.
"Bagaimana, Pak? Bisakah kita coba cara ini dulu? Jika ternyata tidak berhasil, silakan Bapak melibatkan polisi untuk mengusut pelakunya."
Kepala Bram mengangguk beberapa kali untuk mempertimbangkan usulan Irva. Beberapa saat kemudian, ia pun memutuskan untuk mencoba cara yang Irva usulkan. "Kau bisa melakukannya?"
"Harus saat ini juga kita persiapkan, sebelum mereka menyadari bahwa ini jebakan."
Bram pun setuju dan ia memberikan akses pada Irva untuk memanfaatkan seluruh fasilitas di sekolah sebagai penunjang keberhasilan rencananya, sementara ia sendiri akan bertindak sebagai pengawas dan penjaga agar tidak ada yang mengganggu Irva.
Irva bergegas meninggalkan ruang Kepala Sekolah dan langsung berlari ke toilet tempat Faz kemarin ditemukan. Beruntung sekali toilet dalam kondisi sepi. Ia mengunci pintu bilik tempat Faz dikurung kemarin setelah memasang sebuah kamera kecil di atas dinding pembatas antar bilik.
Seperti rencana yang ia susun, setelah menyiapkan jebakan itu, Irva kembali ke kelas dan berpura-pura heran melihat Faz tidak ada di bangkunya. Sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan karena sepertinya teman-teman sekelasnya sudah mengetahui bahwa dirinya dan Faz sedang terlibat masalah. Kemarin ia memilih kembali ke bangkunya di sudut belakang kelas dan tidak berbicara dengan Faz.
Beberapa pasang mata menatap Irva heran begitu dirinya memasuki kelas setelah melapor pada guru pengajarnya bahwa urusannya dengan kepala sekolah selesai. Ia duduk seperti biasa di bangkunya di sudut belakang kelas sbil mengamati satu per satu teman sekelasnya, mencari gelagat mencurigakan. Bagaimanapun juga dirinya pernah menjadi bagian dari kelompok yang tidak terlalu menyukai keberadaan Faz, jadi bisa saja salah satu dari teman sekelas Faz yang melakukan kejahilan kemarin.
Rencana yang Irva susun adalah, ia ingin menjebak pelaku untuk datang sendiri ke bilik toilet. Jika melihat Faz tidak muncul dan tidak ada kecurigaan apa pun mengenai ketidak hadiran Faz baik dari Irva maupun dari pihak sekolah, pelaku pembullyan kemarin pasti akan mengecek bilik tempat mereka mengurung Faz. Irva tidak tahu ada berapa pelaku pembullyan itu. Yang jelas tidak mungkin satu orang karena ketika yang satu mengurung dan menghajar Faz yang satu lagi harus berjaga-jaga di pintu siapa tahu ada yang datang.
Irva mengikuti pelajaran dengan tidak tenang. Ia gelisah dan tidak sabar untuk segera mengetahui siapa pelaku yang tega berbuat keji pada gadis yang ia cintai. Hingga bel berbunyi pun tiba.
Kali ini Irva tidak pergi ke kantin atau ke mana pun. Ia hanya duduk di depan kelas sambil bermain gitar dan bercanda dengan teman-temannya seperti biasa. Dirinya sebisa mungkin tidak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun perihal Faz seolah dirinya tidak tahu menahu tentang nasib buruk yang menimpa gadis itu. Ia yakin, siapapun yang mem-bully Faz kemarin pasti saat ini juga mengawasi dirinya.
Saat akhirnya bel masuk kembali berdering, Irva masuk mengikuti pelajaran seperti biasanya kemudian berpura-pura tertidur agar ditegur oleh gurunya. Persis seperti yang ia rencanakan, Irva dimarahi oleh guru Sastra dan Kebudayaan Indonesia dan disuruh keluar kelas. Ia diminta mencuci muka kemudian menemui petugas Tatibsi sambil membawa surat hukuman yang diberikan gurunya.
Irva keluar kelas tepat ketika Bram sedang berjalan berkeliling seolah sedang melakukan audit. Padahal itu hanya salah satu alibi agar rencana Irva bisa berjalan mulus. Bram akan mencegat siapa saja yang menuju ke arah toilet.
Irva mengecek kondisi bilik tempat Faz dikurung. Pintunya sudah tidak lagi terkunci meski masih dalam kondisi tertutup. Itu artinya ada yang datang dan masuk ke dalam sana mencari Faz. Irva bergegas mengambil kamera di atas dinding pembatas antar bilik kemudian keluar dari toilet.
Ia berlari cepat menuju ke ruang kepala sekolah. Ia tahu, Pak Bram masih melancarkan alibinya untuk berkeliling mengecek situasi belajar mengajar di sekolah dan baru akan kembali beberapa menit lagi, tapi dirinya hanya ingin mengamankan bukti yang saat ini ada di tangannya saja.
Sampai di ruang kepala sekolah, Irva tanpa permisi langsung masuk ke dalam ruang pribadi kepala sekolah. Ia tidak ingin terpergok oleh siapa pun sedang sendirian di sana dan diusir. Sambil menunggu kepala sekolahnya datang, Irva memutar rekaman kamera yang tadi ia letakkan di toilet.
Matanya membelalak terkejut melihat dua orang yang ia kenal masuk ke dalam bilik itu. Keduanya terlihat bingung dan ketakutan kemudian buru-buru meninggalkan bilik. Irva mengepalkan sebelah tangannya yang tidak sedang memegang kamera. Ia marah dan bersumpah untuk memberikan pelajaran pada siapa saja yang sudah melukai Faz-nya.
"Kau sudah tahu siapa pelakunya?"
Irva berdiri kaku. "Ya." Ia menjawab tanpa menoleh ke arah kepala sekolahnya yang berderap cepat melintasi ruangan dan duduk di bangkunya. "Saya ingin mereka diberikan balasan setimpal."
Bram mengangguk sambil melihat rekaman kamera yang diberikan oleh Irva. Sama seperti Irva, ia pun marah dan emosi mengetahui siapa pelaku pembullyan itu.
"Baik. Kita akan selesaikan segera," ujarnya sambil memutar ulang rekaman itu.
***