Tak Terduga

1506 Words
Irva menunggu dengan tegang di ruang kepala sekolah, sementara dua orang petugas dari Tatibsi menjemput dua siswi terduga penyekapan Faz. Beberapa kali ia memejamkan mata dengan dahi mengerut sebagai upaya untuk meredakan emosi yang bergejolak di hati. "Kau mengenal baik mereka?" Pak Bram bertanya penasaran sembari terus memikirkan motif mereka melakukan hal keji itu. "Ya. Mereka anggota di ekskul musik." Bram menganggukkan kepala beberapa kali sebagai respon dari jawaban Irva. "Apa mereka mengenal Faz?" "Tidak. Faz tidak berteman dengan siapa pun di sekolah ini karena semua menganggapnya aneh." "Unik." Bram mengoreksi Irva. Irva tak merespon lagi. Ia mondar mandir di tengah ruangan dengan tidak sabar. Dalam hatinya mengumpat dengan berbagai kata-k********r karena petugas Tatibsi itu lambat. Baru saja Irva berniat meminta izin untuk menyusul petugas Tatibsi itu ketika ia mendengar suara pintu depan diketuk. Hampir saja dirinya menerobos ke depan untuk melihat siapa yang datang ketika Pak Bram menahan lengannya dan berkata agar dirinya tidak gegabah dan merusak rencana mereka semua. Bram memerintahkan agar Irva tetap berada di ruang pribadinya sambil merekam percakapan mereka nanti, sementara dirinya keluar untuk melihat siapa yang datang. Seorang petugas Tatibsi datang bersama seorang siswi dari kelas sebelas. "Masuk dan silakan duduk." Bram berkata formal dan memaksakan sebuah senyum untuk keduanya. Tak lama berselang petugas satu lagi datang bersama seorang siswi lain yang berasal dari kelas berbeda. Bram memlersilahkan siswi itu untuk duduk dan berkata pada dua petugas Tatibsi bahwa mereka bisa meninggalkan ruangan. Bram duduk di bangku berhadapan dengan dua siswi itu. Ia tidak ingin berbasa-basi atau memnunda-nunda pembicaraan, jadi ia langsung bertanya pada pokok permasalahannya. "Apa kalian tahu mengapa kalian dipanggil kemari?" Keduanya saling melirik sebentar kemudian menggeleng takut. Bram mengembuskan napas pelan sambil memijat cuping hidungnya. Ia tetap berusaha bersikap profesional sebagai seorang kepala sekolah. Meski dadanya terbakar emosi, tetap saja ia harus bersikap netral untuk saat ini sampai keduanya mau mengaku. "Kalian ingin masalah ini ditangani oleh sekolah atau pihak berwajib?" "Ma-maksud Bapak apa?" "Tolong jangan memperumit keadaan. Karena semakin kalian berbelit-belit urusannya akan semakin rumit." Bram memperingatkan. Ia meraih kamera di atas mejanya dan menunjukkan pada dua siswi di hadapannya. "Di sini tersimpan semua bukti. Kalian hanya perlu mengakui, setelah itu bisa kita selesaikan dengan cara baik-baik. Tapi jika kalian lebih suka untuk memperpanjang masalah, saya terpaksa harus memanggil kedua orang tua kalian." "Tolong, jangan, Pak. Saya akan menceritakan semuanya, tapi tol—" "Kau ini bicara apa?" Siswi yang satu lagi memotong ucapan temannya. "Reis, sebaiknya kita mengaku saja. Semalaman aku ketakutan kalau-kalau dia ...." "Saya tidak melakukan apa pun!" Siswi yang dipanggil Reis itu tetap pada pendiriannya. Bram menatap bergantian antara Reistya dan siswi yang satu lagi. "Ini kesempatan kalian berbicara dan masalah akan kita selesaikan secara kekeluargaan." "Tapi, saya sungguh tidak mengerti apa yang Bapak maksud?" Reistya menjawab kethus. Bram menelpon petugas di bagian admin agar membuat surat panggilan untuk kedua orang tua Reistya dan temannya. Ia meminta agar undangan itu bisa dikirim via email, diberi tanda penting dan memastikan bahwa surat mendapat respon semestinya dari pihak wali murid. "Tolong, jangan telpon orang tua saya, Pak. Saya berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Saya baru melakukannya beberapa kali saja." "Sirly!" Reistya mendelik menatap temannya. Bram mengernyitkan dahi. Ia tidak memahami maksud ucapan itu, tapi dirinya dengan cerdik menutupi kebingungannya dan berpura-pura bahwa itu adalah masalah yang memang sedang mereka bicarakan. "Lanjutkan kalau begitu!" "Awalnya hanya iseng, Pak. Ibu kantin itu judes dan ceriwis, jadi saya, Reis, Jean dan Bimo hanya berniat untuk jahil saja. Tpai sumpah, Pak. Saya hanya mengambil snack ringan saja." "Hmm, jadi kau hanya mencuri snack ringan? Lalu teman-temanmu yang lain?" Bram memancing penjelasan lebih lengkap. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Sirly justru mengaku untuk kasus lain dan bukan kasus penyekapan Faz. "Untuk helm-helm di garasi sekolah? Ponsel beberapa murid?" Sirly terlihat ragu dan takut untuk melanjutkan. Apalagi saat matanya bertatapan dengan Reistya yang sudah murka. "Hukumanmu bisa lebih ringan, Sirly, jika kau mau mengakui semua sekarang." Bram meyakinkan. "Keselamatanmu juga akan terjamin. Kebetulan sekolah juga bekerja sama dengan pihak berwajib dalam hal ini. Siang nanti para penyidik akan datang." Baik Reistya maupun Sirly menjadi pucat pasi mendengar penjelasan Pak Bram. Mereka sungguh takut jika urusan sampai melibatkan orang tua dan polisi, tapi mereka tak ada pilihan lain, jika mereka mengakui semua itu artinya mereka harus membuka siapa-siapa saja yang terlibat. Reistya duduk gelisah di bangkunya, sementara Sirly sudah berkaca-kaca. "Saya tidak punya banyak waktu." Bram menekan keduanya agar segera menjelaskan semua. Sirly terisak, ia pun akhirnya mengaku bahwa dia dan beberapa temannya sering melakukan aksi pencurian di sekolah. Ia awalnya tidak ingin terlibat dalam aksi itu, tapi karena terdesak kebutuhan, ia pun akhirnya terpaksa ikut andil dalam semua aksi pencurian itu. Untuk helm, ponsel dan beberapa barang berharga lain, mereka memiliki penadah yang siap menampung semua barang curian mereka. Sementara itu, Reistya hanya diam dengan wajah tertunduk di bangkunya. Ia tidak mengatakan satu patah kata pun untuk mengiyakan ataupun membantah penjelasan Sirly. "Semua keterangan sudah direkam, tapi sebetulnya bukan untuk kasus pencurian itu kalian dipanggil kemari. Tak disangka, kalian mengakuinya sendiri." Bram berkata puas. Sirly dan Reistya mendongak terkejut. Keduanya membelalakkan mata tanpa ada satu patah kata pun yang sanggup mereka ucapkan. Keduanya hanya membelalak semakin lebar saat sang kepala sekolah memperlihatkan rekaman di bilik toilet. "Kalian tentu tahu kan maksud dari rekaman ini?" Bram bertanya dengan nada dingin menusuk kulit dengan pandangan dingin, tak ada keramahan seperti sebelumnya. "Seorang siswi dari kelas 12 bahasa kemarin ditemukan hampir tewas di sana dan pagi ini kalian terlihat masuk ke bilik itu untuk mengecek keberadaan Fazluna, bukan?" Sirly gemetar di bangkunya, sementara Reistya terlihat tegang. "Untuk yang ini, banyak bukti baik dari rekaman di toilet ataupun CCTV." Reistya mendesah dengan bahu terkulai sebelum akhirnya mengaku bahwa memang dirinya yang mengusulkan untuk mengurung Faz di sana. Ia tidak berniat membunuh gadis itu, hanya memberi pelajaran saja. Dirinya marah karena Faz telah merubah Irva menjadi orang yang berbeda. Sebelum dekat dengan Faz, Irva sangat aktif untuk mengisi pelatihan gitar di ekskul mereka, tapi semenjak ada Faz, Irva tidak pernah lagi hadir di sekretariat musik. "Sepertinya itu bukan alasan yang masuk akal." Bram tidak begitu saja memercayai penjelasan Reistya. "Bukankah pihak sekolah sudah memfasilitasi semua kebutuhan di ekskul musik termasuk beberapa guru vocal dan alat musik?" Reistya menunduk dalam tak berani menatap kepala sekolahnya. Ia meremas jari jemarinya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya pada Faz. Menurutnya semua ini terjadi karena gadis sialan itu. Jika Fazluna tidak tiba-tiba saja menyabotase Irva untuk dirinya sendiri, tentu saja ia tak akan menjadi begini marah. "Reis? Kau masih bisa memilih untuk berkata jujur dan aku berjanji untuk mencarikan solusi terbaik atas masalah ini atau terpaksa aku harus menyerahkan urusan ini pada pihak berwajib. Karena tindakanmu ini membahayakan nyawa orang lain. Kau bisa dituduh merencanakan pembunuhan dengan hukuman beberapa tahun di penjara." Reistya menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Hatinya terasa begitu sakit setiap mengingat Faz. "Dia merebut Kak Irva dari saya." Irva yang diam menunggu sambil merekam semua percakapan mereka pun terkejut mendengar pengakuan Reistya. Selama ini mereka memang dekat, tapi hanya sebatas teman di satu ekskul saja. Ia sering mengajari Reistya cara bermain gitar yang baik dengan beberapa teknik yang bahkan tidak akan diberikan oleh guru musik mereka, tapi hanya sebatas itu. "Apa Irva pacarmu?" Bram memancing. Reistya menggeleng lemah. "Kami hanya dekat. Saya pikir Kak Irva menyukai saya, karena di antara teman-teman di ekskul, Kak Irva seperti lebih sering mengajari saya dibanding yang lain. Kami sering duet bareng, ngobrol membahas musik dan macam-macam. Mungkin, jika Fazluna tidak tiba-tiba saja muncul di antara kami, kami sudah ...." Reistya tidak melanjutkan ucapannya. "Sudah lama saya menyimpan marah untuk Faz, tapi setiap ingin memberi pelajaran, Kak Irva selalu ada di dekatnya bahkan ke toilet sekalipun, Kak Irva akan menunggu di depan pintu. Tapi, kemarin melihat dia sendiri, ide untuk mengurungnya tiba-tiba saja muncul." Irva tak tahan untuk tetap diam di tempat. Ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak, "kau salah!" Semua yang ada di ruangan menoleh dan terkejut melihat Irva melangkah dari dalam, termasuk Bram. Padahal ia berharap Irva tetap di tempat sampai interogasinya selesai, tapi pemuda itu benar-benar semaunya sendiri. Sambil terus melangkah, Irva berkata bahwa dirinya tak pernah memiliki perasaan lebih barang secuil pun untuk Reistya. Ada atau tidaknya Fazluna sama sekali tidak berpengaruh pada hubungan mereka. Baginya Reistya hanya adik kelas yang butuh bantuan untuk belajar gitar, tidak lebih. Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya belum berpikir untuk pacaran atau menjalin kasih dengan siapapun. Bram akhirnya harus mengambil keputusan untuk memanggil kedua orang tua Reistya, Sirly dan beberapa nama lain yang terlibat. Ia pun meminta dengan sangat agar Irva tidak main hakim sendiri karena dirinya akan melakukan rapat dengan para guru untuk membahas hal ini. Untuk sementara ini, sampai ada keputusan Reistya dan Sirly lun diskors. Irva tidak membantah. Meski tidak luas, tapi dirinya menyerahkan sepenuhnya masalah ini pada Bram karena dirinya harus fokus untuk menjaga Faz karena gadis itu pasti masih trauma untuk datang ke sekolah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD