"Faz, aku datang." Faz merinding mendengar bisikan lembut di telinganya. Bukan hanya karena nada dalam bisikan itu begitu syahdu mengungkapkan berjuta kerinduan, tapi juga karena panas yang terpancar dari tubuh Irva—yang berdiri semakin dekat ke arahnya—seolah ikut merasuk dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Faz memejamkan mata merasakan semua sensasi meledak-ledak di dalam tubuhnya, seperti ada jutaan kembang api menyala di dalam rongga perutnya. Ini seperti jawaban dari derita hatinya selama ini, tapi apakah bisa dibenarkan jika dirinya menikmati perasaan semacam ini lagi? Ia takut. Sungguh takut jika semua ini tetap harus berakhir buruk seperti sebelumnya karena jika sampai itu terjadi lagi, mungkin dirinya tidak lagi bisa bertahan karena seluruh tekad dan kekuatannya selama ini terku

