"Mau tambah lagi?" Faz menawarkan saat melihat mangkok bakso Irva sudah kosong. Ini sudah mangkuk yang kedua, tapi sepertinya Irva belum merasa kenyang. Cowok itu nyengir ke arahnya sambil bertanya, "emang boleh?"
Faz menganggukkan kepala sebagai jawaban. Meski keuangannya sedang menipis, tapi ia senang melihat Irva makan dengan lahap. Lagipula, jika dibuat perhitungan, dirinya yang lebih sering merepotkan Irva dan keluarganya. Menginap dan makan minum di rumahnya secara gratis. Jadi tidak ada salahnya sesekali mentraktir cowok itu sampai dia puas.
Irva menyeringai lebar kemudian berlari cepat menghampiri stan nasi campur. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke meja di mana Faz sudah menunggunya sambil membawa sepiring nasi campur dan segelas es jeruk. "Daripada nggak kenyang, sekalian deh makan nasi," ujarnya sambil menyendok nasi campur.
Faz tertawa melihat cara Irva makan. Selalu menyenangkan seperti orang yang habis kelaparan. Dirinya sudah terbiasa dengan porsi makan Irva yang banyak, jadi sudah tidak terlalu kaget melihat nasi yang menggunung di piring Irva plus lauk yang memenuhi hampir seluruh permukaan piring membuat nasinya sendiri tidak kelihatan.
"Kau makanlah," ucap Irva.
"Enggak. Udah kenyang."
"Apanya yang kenyang? Bakso segitu doang." Ia membelah telur yang dibumbu merah menjadi beberapa bagian kemudian meletakkan satu potong di tepi piring dicampur mie, tumis buncis, orek tempe dan sedikit sambal lalu menyendok semua itu dan mengarahkannya ke mulut Faz. "Buka mulut, aaaa!"
"Apa?" Faz bingung, tapi tetap saja membuka mulut. Porsi yang disendokkan Irva terlalu besar membuat Faz harus membuka mulutnya lebar-lebar. Alhasil saat ini, pipinya menggembung seperti mas koki. Matanya mendelik jengkel saat melihat Irva tergelak, tapi dirinya tidak bisa memarahi cowok itu. Mulutnya terlalu penuh makanan hingga tak ada satu kata pun yang bisa ia keluarkan. Jangankan untuk bicara, untuk mengunyah saja kesulitan.
"Makan yang banyak, dong." Irva mengedipkan sebelah matanya jahil.
Faz mengunyah dan menelan makanan di mulutnya dengan susah payah. Matanya sampai berair dibuatnya. Kemudian ketika seluruh makanan itu berhasil ia telan, ia memijat pipinya yang terasa kaku. "Irva jahat, ihh."
"Uuu, Tayank." Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Faz. Hal itu membuat beberapa murid yang juga sedang makan di kantin menatap iri ke arah mereka, terutama para cewek. Namun, Irva sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Ia justru merasa bangga karena di antara ratusan cowok yang ada di sekolah ini, hanya dirinya yang bisa dekat dengan Faz. Cowok mana yang tidak akan merasa bangga dengan hal itu?
Setelah itu, Irva tetap memaksa Faz untuk makan, tapi kali ini dirinya menyendok dengan porsi yang lebih sedikit saat menyuapi Faz. Segelas es jeruk pun mereka bagi berdua karena sebelumnya masing-masing sudah memesan minuman dan telah habis lebih dulu.
Faz bangkit dari kursinya untuk membayar dan ketika Irva ikut berdiri, matanya mendelik memperingatkan cowok itu bahwa kali ini adalah gilirannya yang membayar.
"Apa? Aku cuma mau cuci tangan tuh di wastafel." Irva tersenyum jenaka sambil mengangkat kedua tangannya kemudian menunjuk wastafel. Ia tergelak ketika Faz memutar badannya dan berjalan sambil menghentakkan kaki untuk membayar makanan mereka.
Selesai dari kantin, keduanya berjalan beriringan kembali ke kelas. Karena bel istirahat sudah berbunyi dan mereka sudah makan, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk-duduk saja di depan kelas.
Irva mengambil gitarnya dari dalam kelas, kemudian duduk bersila di lantai depan kelas sambil memangku gitarnya. Ia mulai memetik gitar dengan nada tak beraturan sebagai pemanasan. Setelahnya ia melanjutkan dengan intro sebuah lagu dengan nada yang cukup rapat, tapi menyayat di hati. Sebuah lagu tentang cinta, lebih tepatnya tentang cinta yang ia rasakan saat ini. Bukan jenis cinta terlarang yang bahkan takdir pun tidak menginginkannya, tapi ini jenis cinta yang tidak ia rencanakan akan jatuh pada perempuan yang tidak mudah ia jangkau.
Irva menyebutnya sebagai cinta buta, karena meski dirinya dan Faz menyadari jurang dalam yang terbentang di antara mereka, tetap saja ia tidak bisa menyerah begitu saja pada cintanya.
Cinta itu adalah pengorbanan
Pengorbanan adalah cinta
Cinta itu tangis dan tawa
Cinta adalah hati
Hati adalah cinta
Irva menyanyikan bait pertama lagu itu dengan penuh perasaan. Ini adalah apa yang ada di pikirannya ketika merenungkan tentang cintanya pada Faz. Bagaimana ia bisa tertawa lepas ketika bersama gadis itu, tapi di satu sisi hatinya semakin teriris perih ketika menyadari perbedaan yang ada. Ia juga bisa merasakan luapan kerinduan yang seakan tak terbendung ketika sedetik saja dirinya tidak berada di dekat gadis itu.
Cinta itu adalah kerinduan
Kerinduan adalah cinta
Cinta itu nikmat dan perih
Cinta adalah nafsu
Nafsu adalah cinta
Meski awalnya perasaan yang Irva miliki tulus dan murni, tapi semakin lama apa yang ia rasakan pun semakin menuntut. Ia ingin selalu merengkuh Faz ke dalam dekapan hangatnya, mencium gadis itu sebagai luapan kasih, bahkan terkadang tanpa sadar pikirannya sudah berkelana membayangkan rasa tubuh gadis itu.
Cinta itu memang buta
Kalau tidak buta bukan cinta
Cuma sekedar sayang
Cinta tak perlu logika
Cinta butuh perasaan cinta
Tak butuh kenyataan
Irva bukan bujangan tidak laku baik di lingkungan sekolah atau tempat ibadahnya. Ia hanya tidak ingin saja dekat dengan perempuan mana pun melebihi teman. Faz, gadis pertama yang berhasil memunculkan sisi ingin memiliki kekasih dalam dirinya. Padahal jika dipikir secara logika, Irva bisa memilih cewek mana saja yang ia inginkan untuk menjadi kekasih atau pacar. Namun, cinta tidak bisa diatur oleh logika. Semua terjadi begitu saja dan tiba-tiba hatinya sudah menjadi milik Fazluna.
Cinta itu adalah cemburu
Cemburu adalah cinta
Cinta itu ruang dan waktu
Cinta adalah hidup
Hidup adalah cinta
Irva mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Faz. Seperti biasa, debar halus selalu muncul di dadanya dan menjalar ke setiap sel di tubuhnya setiap kali dirinya menatap gadis itu. Tangannya berhenti memetik gitar dan meraih tangan Faz kemudian mengecup punggung tangannya dengan penuh kelembutan. Ia bisa merasakan tangan Faz bergetar dalam genggamannya.
"Irva?"
Irva mengecup punggung tangan itu sekali lagi kemudian mengembalikannya ke atas pangkuan Faz. Ia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. "Aku janji, kita pasti akan menemukan cara untuk terus bersama."
Faz tidak menjawab. Ia tahu, tidak ada solusi dan jalan keluar dari hubungan mereka kecuali Irva menjadi mualaf dan itu tidak mungkin terjadi. Sedikit banyak dirinya sudah mengenal keluarga Irva dan ia tahu orang tua Irva tidak menginginkan Irva dan adiknya untuk meninggalkan keyakinan mereka. Faz tidak akan pernah membujuk atau bahkan memaksa Irva agar mengikuti keyakinan yang ia anut. Begitu juga sebaliknya, dirinya tidak akan mengorbankan imannya hanya demi seorang laki-laki.
Bahu Faz terkulai ketika memikirkan berbagai kemungkinan yang tidak mungkin terjadi. Ia sadar betul cepat atau lambat hubungannya dengan Irva harus berakhir, hanya saja dirinya belum menemukan jalannya. Ini menyedihkan. Faktanya justru Irva adalah sosok yang selalu hadir untuk melengkapi kehidupannya yang penuh dengan kepedihan. Irva seperti penyembuh luka di hatinya yang selama ini terus menganga di dalam hatinya.
Lamunan Faz dan Irva buyar ketika beberapa teman sekelas mereka datang dan ikut duduk di depan kelas.
"Wah, sudah lama nih nggak denger Irva nyanyi." Salah seorang dari teman sekelas mereka menunjuk gitar di pangkuan Irva. "Nyanyi, dong. Jangan pacaran mulu."
"Iya, nih. Kita-kita udah stres mikir ujian, dihibur, kek," celetuk temannya yang lain.
Irva tertawa mendengar omongan teman-temannya. "Ya udah, mau lagu apa?"
"Serah deh, yang enak aja."
Irva kembali tertawa renyah kemudian kembali memetik gitarnya dengan nada rapat yang merdu. Ditambah alunan suaranya saat bernyanyi, membuat teman-temannya seketika diam dan menyimak lagu yang ia bawakan.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan slalu memujamu
Di setiap langkahku
Kukan slalu memimpikan dirimu
Tak bisa kubayangkan
Hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu
Ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Ohh, sayangku kau begitu
Sempurna ...
Teman-teman sekelas Irva saling sikut melihat Irva bernyanyi sambil terus memperhatikan Faz. Jemari Irva bergerak lentik bermain gitar, sementara matanya tak pernah lepas dari wajah ayu Faz yang salah tingkah.
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu
Ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Ohh, sayangku kau begitu
Sempurna ...
Irva mengulang di bagian reff lagu—yang menurutnya sangat sesuai dengan apa yang ia rasakan terhadap Faz— berharap gadis itu bisa menangkap pesan yang ia nyanyikan lewat lagu dengan baik.
Faz berkedip beberapa kali karena rasa gugup bercampur gairah yang ia rasakan. Ia sengaja memusatkan perhatian pada pohon Cemara yang menjulang tinggi di depan kelas, berpura-pura tidak mengetahui jika Irva terus memperhatikan dirinya. Kepalanya mendongak untuk melihat pucuk pohon cemara itu, sementara telinganya masih bisa mendengar senandung yang Irva nyanyikan. Kau adalah jantungku, tubuhnya bergetar ketika mendengar Irva melantunkan lirik itu. Meski hanya sebuah lagu, tapi Irva pandai sekali menyanyikannya dengan penuh perasaan membuat dirinya terbawa masuk ke dalam lagu. Namun, dirinya tidak akan menaruh harapan lebih. Irva tidak akan menganggapnya sampai sepenting itu. Tidak! Cowok itu pasti juga sedang memikirkan cara untuk mengakhiri hubungan sama seperti dirinya. Mungkin, nanti setelah lulus SMA dan mereka sudah memiliki kehidupan berbeda. Tiba-tiba saja Faz dilanda kesedihan yang teramat sangat membayangkan bahwa kelulusan tidak akan lama lagi. Irva akan melanjutkan kuliah, sementara dirinya harus terus bekerja untuk menyambung nasib.
Beberapa guru menyarankan agar Faz mencoba untuk mendaftar beasiswa, tapi Faz menolak. Meski ingin sekali melanjutkan pendidikannya, tapi Faz sadar dirinya tidak akan bisa kuliah sambil bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Bukan putus asa sebelum berjuang, ia hanya berusaha bersikap realistis dan menerima kenyataan. Baginya, bisa hidup dan makan tiap hari saja sudah lebih dari cukup.
Faz terus melamun memikirkan rencana masa depannya setelah lulus SMA hingga tidak menyadari bahwa Irva sudah berhenti bernyanyi dan bel masuk telah berbunyi.
"Ada apa?" Irva menepuk pundak Faz dan membuyarkan lamunan gadis itu. "Ngelamunin apa sih? Serius banget kayaknya?"
"Nggak ada. Cuma lagi mikir aja."
"Mikirin siapa?" Irva memicingkan mata curiga. "Kau ada dekat dengan cowok lain?"
Faz tertawa keras mendengar pertanyaan Irva yang jelas-jelas cemburu. Ohh, Irva memang tidak pernah berusaha menutupi kecemburuan dan perasaannya pada Faz.
"Siapa?!" Irva terus mendesak menuntut jawaban. Ia tahu mereka bukan pasangan kekasih, tapi baginya hubungannya dan Faz ya memang selayaknya pasangan kekasih. Ia yakin Faz juga memiliki persepsi yang sama terhadap hubungan mereka.
"Irva ... sejak pagi aku keluar dari rumah, kamu yang jemput. Sampai malam aku pulang kerja pun kamu yang antar pulang." Faz menjawab geli sambil berjalan masuk ke dalam kelas, sementara Irva mengekor di belakangnya. Cowok itu sudah kembali duduk di sebelahnya seperti saat mereka belum bertengkar beberapa hari yang lalu.
"Di rental?" Irva masih belum puas.
"Nggak ada. Cuma kamu." Faz duduk di bangkunya dan menatap lurus ke depan kelas karena guru Bahasa Jerman mereka sudah datang.
"Beneran?"
Faz mengangguk samar sebagai jawaban, tapi rupanya hal itu belum cukup bagi Irva karena ia bisa merasakan cowok itu menyikut lengannya sambil menendang-nendang kakinya di bawah meja. Ia pun terpaksa menoleh dan mendelik menatap sahabatnya itu. "Irva, dengan kamu terus berada di dekatku, cowok mana pun akan berpikir seribu kali untuk mendekat."
"Pak Bram?"
Faz mendesah pelan. "Aku tidak memikirkan hal itu, Irva."
Guru di depan kelas mulai menerangkan materi dan meminta perhatian dari murid-muridnya hingga Irva harus menulis di buku kalau dia nembak kamu, gimana?
Faz membaca membaca pesan yang ditulis Irva sambil tersenyum geli. Ia tidak membalas dengan apa pun, hanya menggambar sebuah hati kecil di bawah pertanyaan Irva kemudian mendorong buku itu kembali ke hadapan Irva.
Irva mendelik melihat pesan yang diberikan Faz padanya. Sebuah gambar hati kecil. Apakah itu berarti Faz ...?
***