Faz masuk ke dalam ruang kepala sekolah didampingi oleh Irva. Hal itu membuat Reistya yang sudah berada di dalam bersama kedua orang tuanya melirik penuh kebencian. Namun, Irva tidak tinggal diam ketika menyadari hal itu. Ia bergeser sedikit untuk menutupi Faz dari tatapan sinis Reis.
"Kalian sudah datang?" Bram melirik sekilas Faz dan Irva. Ia merasa lega karena Faz sudah terlihat lebih segar. Kemudian, tanpa menunggu jawaban Faz dan Irva, Bram menjelaskan pada kedua orang tua Reis dan Sirly mengenai alasan mereka diundang ke sekolah. Meski tidak sampai hati melihat ekspresi para orang tua itu, tapi Bram merasa harus menjelaskan semuanya dengan detail agar mereka mengerti dan bisa mengambil sikap terhadap pendidikan anak-anak mereka ke depannya.
"Fazluna, adalah siswi kelas dua belah yang mereka kurung di toilet beberapa hari yang lalu setelah sebelumnya dia diperlakukan dengan tidak baik." Bram menunjuk ke arah Faz. "Saat ini, dia sudah terlihat lebih baik, tapi beberapa hari lalu saat kami menemukan dia terkurung di dalam toilet dalam kondisi lemas dan menggigil, dokter berkata dia mengalami hipotermia yang itu bisa membahayakan nyawanya jika tidak segera mendapat pertolongan."
Ibu Reistya menangis tersedu mendengar penjelasan Pak Bram. Ia sungguh tidak menyangka putrinya tega melakukan hal yang begitu tercela. Apalagi ketika mendengar alasan mengapa putrinya melakukan itu hanya karena cemburu.
"Saya terpaksa harus mengambil keputusan tegas karena masalah ini tidak jadi kami limpahkan kepada pihak berwajib. Jadi, harapan saya Bapak dan Ibu bisa menerima apa pun keputusan yang telah saya rapatkan bersama para guru dan dewan sekolah."
Ibunda Sirly tidak bisa berkata-kata. Ia hanya duduk dengan bahu terkulai dan mata menatap kosong ke depan. Sirly adalah putri semata wayang yang menjadi harapan satu-satunya. Namun, ketika harapan itu justru pupus di tengah jalan, ia merasa seakan dunianya runtuh seketika. Ayah Sirly berusaha memberi kekuatan dengan merangkul dan terus mengusap pundaknya, tapi itu tidak banyak membantu. Hatinya tetap merasa sedih dan kecewa.
Faz tidak sampai hati melihat dua ibu itu terlihat begitu terpukul dan bersedih. Ia mencoba berbicara pada Pak Bram supaya pihak sekolah mempertimbangkan kembali keputusannya, tapi rupanya itu sudah final. Pak Bram terpaksa harus mengeluarkan dua siswi itu dari sekolah.
"Tidak bisakah diberi kesempatan sekali lagi, Pak?" Faz memohon dengan sangat. "Bukankah setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan?"
"Maaf, Faz. Tindakan mereka itu sudah melebihi batas wajar."
"Tolong, Pak. Berikan kesempatan pada mereka sekali lagi. Jika kesempatan kedua itu tidak mereka manfaatkan baik-baik, itu berarti sudah menjadi jalan yang mereka pilih dan sekolah berhak memberikan sanksi apa saja."
Bram menarim napas panjang. Dirinya tidak mengira bahwa Fazluna akan memohon keringanan hukuman untuk orang yang sudah berbuat jahat padanya. Dirinya saja sampai detik ini masih belum bisa memaklumi dan memaafkan perbuatan itu, tapi bagaimana bisa Fazluna dengan begitu mudahnya memohon padanya agar bisa memberikan Reis dan Sirly kesempatan kedua.
Irva melirik Faz. Tangannya masih menggenggam tangan Faz yang berkeringat dingin. Dari kerutan di dahi gadis itu, ia tahu bahwa Faz sedang bersedih karena tidak tega melihat ibunda Reis dan Sirly begitu terpukul.
"Sepertinya, usulan Faz masuk akal, Pak." Irva ikut mendukung permohonan Faz. Jika kemarin Pak Bram sudah berbuat curang dengan mengatakan alasan Reistya melakukan pembullyan itu, sekarang ia pun akan melakukan hal yang sama. Dirinya akan ikut menyuarakan pendapat sama seperti Faz yang itu sudah pasti membuat Brambang kebingungan. Setidaknya, Irva tahu bahwa Faz akan sangat menghargai dukungan yang ia berikan.
Pak Bram memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata. Menurutnya Irva bertindak curang dengan berusaha mendapatkan simpati Faz pada kondisi yang kurang tepat. "Saya tidak bisa mengambil risiko bahwa hal ini akan terulang lagi."
"Tidak akan, Pak." Ayah Sirly menjawab cepat. Ia menatap Pak Bram dengan penuh keteguhan. "Saya berjanji untuk mendidik Sirly dengan lebih baik lagi, tapi tolong izinkan dia untuk tetap bersekolah di sini."
Sementara ayah Sirly memohon, ibunda Sirly hanya diam dengan tubuh mengayun ke depan dan ke belakang dengan pelan, terlihat jelas jika sedang terguncang.
"Saya tidak memiliki biaya jika harus memindahkan Sirly ke sekolah lain, Pak. Saya hanya PNS rendahan, bukan orang kaya yang bisa membayar mahal agar anaknya bisa diterima di sekolah mana saja."
Bram masih tetap diam. Ia menatap bergantian wajah-wajah tegang yang berada di hadapannya. Tatapannya berhenti pada wajah ayu nan teduh Fazluna. Alasan dirinya mengusut masalah ini adalah karena gadis itu. Ia ingin memastikan bahwa Fazluna aman dan dirinya benar-benar tidak bisa mengambil risiko jika suatu saat Reis atau Sirly merencanakan balas dendam pada gadis pujaan hatinya itu.
"Saya rela membayar berapa pun asalkan Reis tidak dikeluarkan dari sekolah ini." Ayah Reis berkata kaku. Sejak tadi ia hanya diam sambil mengamati situasi.
"Ini bukan soal uang." Pak Bram menjawab dengan nada tersinggung yang nyata. "Dan melihat hal ini, saya memutuskan untuk merubah hukuman bagi Sirly. Mengingat Sirly bukanlah dalang dari semua ini, dia tidak jadi dikeluarkan dari sekolah, tapi harus belajar dari rumah selama satu Minggu ini. Setelah kembali masuk ke sekolah pun kami para guru akan terus memantau serial kegiatannya. Untuk Reis, saya persilahkan untuk mencari sekolah lain. Kami akan memberikan surat pindah secara resmi dari pihak sekolah. Dia tidak dikeluarkan, tapi tetap harus pindah dari sekolah ini."
Keputusan Bram sudah bulat. Ia menutup penjelasannya dengan tegas kemudian menghubungi pihak admin agar mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk skorsing dan juga surat pindah sekolah dengan cepat.
Sementara hal itu disiapkan, ia mempersilahkan Irva dan Faz untuk meninggalkan ruangannya. Namun, sebelum gadis itu sempat melangkah, Ibunda Reis dan juga ayah Sirly datang menghampiri untuk meminta maaf dan berterima kasih atas kebaikan hati Faz. Ayah Reis bahkan menawarkan hadiah sebagai ucapan terima kasih dan tanda permintaan maaf, tapi gadis itu menolak dengan sopan.
Bram merasakan gemuruh hebat di dadanya. Keinginannya untuk memiliki Faz semakin besar. Gadis itu tidak hanya baik, tapi juga pandai menempatkan diri dan sopan. Setiap tutur kata yang diucapkan terdengar lembut dan menenangkan. Sungguh calon istri idaman bagi pria berakal.
"Hmm, jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya mohon undur diri dulu." Faz membungkuk sopan sambil menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu termasuk Reis dan Sirly. Reis membalasnya dengan tatapan sinis, sementara Sirly terlihat malu kemudian menundukkan kepala tidak membalas senyum ramah Faz. Faz tentu saja tidak mengambil hati akan sikap Reis dan Sirly, ia justru merasa kasihan pada keduanya dan berdoa semoga mereka mendapat hidayah dan bertaubat dari perbuatan buruk yang sudah dilakukan.
Irva mengekor di belakang Faz yang sudah berjalan lebih keluar dari ruang kepala sekolah. Ia hanya mengangguk singkat dan buru-buru mengejar Faz tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Faz!" Irva mengejar Faz yang sudah berlari ke arah gazebo taman di samping aula sekolah. Dengan beberapa langkah panjang, ia berhasil menyalip Faz dan menghadang jalan gadis itu. "Kenapa buru-buru?" Ia bertanya heran. Namun, saat melihat bening kristal di sudut mata Faz, ia pun mencelos. "Apa aku menyakitimu atau—?"
"Enggak, kok." Suara Faz serak karena menahan tangis.
"Ada apa?" Irva mulai khawatir.
"Aku hanya nggak tega liat orang tua Reis dan Sirly." Tangis Faz pecah. "Kenapa mereka harus menyia-nyiakan kasih sayang dari orang tua mereka?"
Irva akhirnya paham. Faz pasti bersedih melihat besarnya pengorbanan orang tua Resi dan Sirly demi putri mereka. Ia maklum, karena orang tua di mana lun pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anak mereka, tapi itu tidak berlaku bagi orang tua Faz sendiri.
"Kau kangen orang tuamu?"
"Aku—"
Irva tidak membiarkan Faz melanjutkan ucapannya. Ia menarik gadis itu ke dalam ceruk di tembok aula dan memeluknya. "Ssst! Kau tak perlu mengatakan apa pun jika itu menyakiti hatimu."
"Faz menggeleng pelan. "Aku ingin Reis dan Sirly jera, tapi aku tidak sampai hati melihat kesedihan ibu mereka. Itulah mengapa aku meminta agar Pak Bram bersedia memberikan kesempatan kedua untuk mereka. Ini bukan untuk Reis dan Sirly, tapi untuk ibu mereka."
"Aku tau," jawab Irva asal. Padahal sebenarnya dirinya bingung dengan jalan pikiran Faz yang menurutnya membingungkan seperti benang kusut. Ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Mereka satu keluarga yang bisa saling mendukung, sementara kau sendirian. Jadi, berhentilah merasa bertanggung jawab terhadap semua kesusahan orang lain. Itu bukan salahmu, oke?"
Faz mengangguk kemudian mengusap air mata di wajahnya. "Aku konyol, ya?"
"Sedikit," jawab Irva sambil menyengir lebar. "Hmm, begini saja, kita ke kantin sekarang. Kau perlu minum yang manis-manis agar suasana hatimu menjadi lebih baik. Aku yang traktir."
"Nggak mau." Faz menolak sambil bersedekap. Ohh, hanya di depan Irva dirinya berani bersikap begini. "Sekarang giliran aku yang traktir."
Irva menyengir semakin lebar. "Yakin? Aku makannya banyak. Kamu tahu sendiri, kan?"
Faz mengerucutkan bibirnya. "Jangan banyak-banyak juga, dong. Aku kan belum gajian."
Irva tergelak sambil menarik hidung mungil Faz gemas. "Iya, deh. Ayok!" Ia merangkul pundak Faz dan menggiring gadis itu menuju kantin. Senyum misterius terkembang di wajahnya karena ada hal yang Faz tidak tahu dan dirinya tidak cukup bodoh untuk memberi tahu siapa pun. Di beberapa kesempatan, dirinya memang membiarkan Faz yang membayar, tapi beberapa kali juga, dirinya mentransfer uang ke rekening Faz—membagi jatah uang saku mingguan yang diberikan orang tuanya. Tidak langsung dalam jumlah besar karena hal itu akan membuat Faz curiga. Sedikit-sedikit tetapi sering.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Faz yang kebetulan menoleh tanpa sengaja melihat Irva tersenyum sendiri seperti orang sinting.
"Nggak ada, siapa yang senyum sendiri."
"Nah, itu tadi?"
"Ohh, aku lagi membayangkan masa depan bersamamu."
Faz menggerutu tak jelas kemudian melepaskan diri dari rangkulan Irva dan berlari ke kantin. "Dasar tukang gombal!"
"Siapa yang gombal?" Irva pun mengejar Faz. "Liat aja nanti ya! Kau tak akan pernah bisa jauh dariku!"
***