Tamu Tak Diundang

1777 Words
Bram berdiri dengan badan tegap dan rasa percaya diri yang luar biasa. Siang ini—sepulang dari sekolah— ia memutuskan untuk menjenguk Faz di rumah Irva. Namun, Bram tahu kehadirannya tidak akan pernah disambut baik atau bahkan tidak akan dipertemukan dengan Faz jika hanya dengan alasan menjenguk. Ia pun kemudian memikirkan alasan lain agar bisa bertemu Faz dengan berpura-pura membicarakan pembullyan yang menimpanya. Sudah hampir lima menit Bram berdiri di depan pintu utama rumah keluarga Irva, tapi sosok yang ia tunggu belum juga terlihat. Ibunda Irva yang tadi membukakan pintu untuknya memohon izin untuk bertanya dulu pada Faz, apakah dia bersedia menerima tamu untuk saat ini. Bram pun menyetujui itu. Hampir saja Bram menerobos masuk ke dalam ketika Irva tiba-tiba saja datang dan mempersilakan dirinya untuk masuk dan duduk. Dari raut wajah Irva, Bram tahu jika kehadirannya tidak diharapkan di sini, tapi ia tak peduli. Dirinya hanya ingin melihat Faz barang sebentar saja. Perang dingin terjadi di antara Irva dan Bram. Keduanya saling tatap dalam diam. Irva menatap penuh curiga dan kesal, sementara Bram sendiri terlihat lebih tenang dengan sudut bibir sedikit terangkat membentuk senyuman geli yang samar. Di sekolah, mungkin dirinya adalah sosok kepala sekolah yang dihormati dan menjadi teladan kedisiplinan bagi para guru dan karyawan, tapi di luar itu Bram tetaplah laki-laki normal yang mempunyai sisi bandel dalam dirinya. Faz datang didampingi Mama Irva sekalian membawa segelas jus jeruk untuk Pak Bram. Ia duduk di kursi yang agak jauh dari Pak Bram. "Bagaimana kondisimu?" tanya Bram tanpa basa-basi. "Alhamdulillah, baik, Pak." Faz menundukkan kepalanya karena tak ingin bertatapan langsung dengan kepala sekolahnya yang terlihat meneliti seluruh tubuhnya mulai dari atas kepala sampai kaki. "Syukurlah kalau begitu." Bram mengangguk puas melihat Faz baik-baik saja. "Sebenarnya, saya datang untuk membahas tentang kasus pembullyan yang menimpamu. Mungkin Irva sudah bercerita jika pelaku sudah ditemukan dan kau pun pasti juga sudah mendengar bahwa kasus ini tidak jadi kami serahkan kepada pihak berwajib dengan beberapa alasan. Meski begitu, saya tetap merasa perlu untuk menanyakan pendapatmu sebagai korban di sini. Apa yang kamu harapkan pada para pelaku?" Faz mengangkat kepalanya karena terkejut dengan pertanyaan Bram yang tiba-tiba, tapi kemudian ia buru-buru menundukkan wajahnya kembali karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Pak Bram yang terlalu intens padanya. "Sa-saya sudah memaafkan mereka. Jadi, saya mohon jangan diperpanjang lagi masalah ini." Bram sudah menduga akan mendengar jawaban itu dari Faz. Gadisnya memang unik dan berbeda. Selain cantik dan lemah lembut, dia juga baik hati. Bram semakin tak sabar untuk merengkuh Faz ke dalam perlindungannya terhadap kerasnya kehidupan, tapi ia tahu dirinya tidak bisa terburu-buru. Faz harus terbiasa dengan kehadirannya terlebih dulu tanpa perlu merasa takut. "Itu hal baik, memaafkan mereka. Tapi tetap harus ada hukuman yang bisa memberikan efek jera pada mereka supaya ke depannya, tidak ada lagi yang mengalami hal serupa seperti yang kamu alami." Irva mendengus pelan. Ia kesal melihat akting Bram sialan itu. Dalam hatinya ia melontarkan berbagai macam u*****n kasar untuk kepala sekolahnya itu. "Sebenarnya, untuk hukuman atau hal lain tentang penyelesaian masalah ini kan bisa diputuskan sendiri oleh pihak sekolah." Irva sama sekali tidak berusaha menutupi nada jengkel dalam suaranya. "Memang." Bram menganggukkan kepala setuju. "Tapi, Faz tetap memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya di sini. Seandainya, dia berpendapat untuk menyerahkan masalah ini pada pihak berwajib, itu pun tidak masalah." "Tidak, Pak." Faz melebarkan matanya mendengar ucapan Pak Bram. "Saya serahkan saja kepada sekolah untuk memutuskan hukuman yang tepat, tapi tolong jangan melibatkan polisi." Bram tersenyum menenangkan. "Tentu tidak. Itu hanya seandainya, Faz." Faz bergidik mendengar nada intim dalam suara Pak Bram saat menyebut namanya. Ia bergerak gelisah di tempat duduknya. Tatapan Pak Bram terlalu mengintimidasi membuat dirinya mereka seolah tatapan itu menerobos masuk ke dalam dirinya, mengorek sisi rahasia terdalam yang ia simpan rapat-rapat di dalam hati. Anehnya, hal ini tidak lagi membuatnya takut. Apalagi saat Pak Bram tersenyum samar sambil menaikkan kedua alisnya, Faz akhirnya bisa melihat sisi jenaka dari sosok yang sebelum ini selalu membuatnya tidak nyaman. Ia pun akhirnya menyunggingkan senyumnya yang malu-malu. "Maaf, saya kurang fokus." "Tidak masalah." Bram merasa seakan ada jutaan kupu-kupu beterbangan di rongga perutnya. Faz tersenyum padanya dan ini untuk pertama kali gadis itu mau tersenyum langsung ke arahnya. Ini merupakan satu perkembangan yang menggembirakan, tapi tetap saja ia tak boleh gegabah. Senyum Faz bukan merupakan suatu pertanda bahwa gadis itu bersedia menyerahkan hati untuknya. Belum. Bram harus bersabar untuk hasil yang lebih besar. "Kami pihak sekolah sudah memiliki beberapa opsi mengenai hukuman yang akan diberikan, tapi jika kau ada masukan, kami akan mempertimbangkan hal itu. Besok orang tua mereka akan dipanggil ke sekolah. Sirly akan diberikan pilihan untuk pindah ke sekolah lain, sementara Reistya terpaksa harus kami keluarkan dari sekolah." "Jangan!" Faz berteriak tanpa sadar. "Tidak bisakah hukuman mereka diperingan? Apakah harus sampai pindah sekolah dan dikeluarkan?" "Itu sudah jauh lebih ringan dibanding berurusan dengan polisi." "Tapi—" "Menurutku itu sudah keputusan terbaik, Faz." Irva akhirnya ikut berbicara. Meski hatinya masih kesal, tapi mau tak mau dirinya merasa puas dengan keputusan yang diambil oleh kepala sekolahnya itu. "Mereka pantas mendapatkan itu." Bram tersenyum simpul. Sebuah ide gila tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Ia yakin sekali Irva pasti tidak menceritakan hal ini pada Faz, tapi menurutnya sebaiknya Faz tahu. "Kamu seharusnya ada di sekolah besok untuk melepas kepergian mereka mengingat mereka melakukan itu karena Reistya menyimpan perasaan mendalam padamu dan cemburu terhadap Fazluna." "Apa?!" Faz seketika menggerakkan kepalanya ke samping di mana Irva duduk. "Kamu tidak bilang?" Irva mengeratkan rahangnya. Kedua tangannya terkepal erat di pangkuan. Jika saja sedang tidak ada Faz, ohh, mungkin saat ini dirinya sudah menerjang maju untuk menonjok mulut kurang ajar itu. "Faz tidak perlu tahu!" Faz mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa, Irva?" "Kau salah. Dia berhak tahu alasan di balik semua kejadian ini. Seharusnya kau jelaskan saja bahwa kau memang pernah dekat dengan Reistya, memberi harapan pada gadis itu tapi ternyata kau justru meninggalkan dia di saat dia berharap. Yang membuat Reis marah adalah semua itu terjadi setelah kau dekat dengan Faz." Irva memejamkan mata sambil mengatur napas. Ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak menggebrak meja atau menyerang kepala sekolahnya yang super menjengkelkan itu. "Jika Anda sudah selesai, sebaiknya Anda pulang," ujarnya kemudian dengan rahang masih terkatup rapat. "Irva!" Faz menatap Irva tak percaya karena sahabatnya itu sudah berani mengusir kepala sekolahnya. "Itu tidak sopan." Ia berbisik di telinga Irva, tapi sepertinya cowok itu sedang dikuasai oleh amarah sampai tidak mendengar bisikan ya. Mata Irva tetap menyorot tajam pada Pak Bram. "Tentu saja." Bram tetap menjaga sikap tenangnya karena ada Fazluna. Dirinya tidak ingin gadis itu kembali bersikap seolah-olah dirinya adalah penyakit menular yang harus dijauhi. Untuk terakhir kalinya hari itu, ia menatap Faz dan berkata bahwa dirinya mengharap kehadiran Faz esok hari saat kedua orang tua Reis dan Sirly datang ke sekolah. Setelah mengatakan itu, ia pun pamit pulang. Faz membawa masuk gelas minum Pak Bram dan mencucinya di bak cuci piring, sementara Irva mengekor di belakangnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan ketika ia pergi ke kamar untuk melepas jilbabnya pun, Irva masih mengikuti di belakangnya dengan tubuh kaki dan wajah masam. "Kamu kenapa, sih?" Faz bertanya heran. Irva duduk di lantai melihat Fazluna melihat jilbabnya. Mulutnya terlihat membuka dan menutup beberapa kali, bingung dengan apa yang ingin ia katakan. Ohh, semua ini karena mulut ember si Brambang! Irva memaki dalam hati. Irva tahu, Faz tidak akan mempermasalahkan tentang kedekatannya dengan Reistya, tapi dirinya butuh menjelaskan pada Faz agar gadis itu tahu bahwa dirinya dekat hanya sebatas teman satu ekskul, tidak lebih. Meski hubungannya dan Faz sampai detik ini hanyalah sebatas sahabat yang kelewat dekat, tapi tetap saja dirinya tidak ingin Faz percaya bahwa dirinya adalah cowok tukang PHP atau playboy. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Reis. Jangan salah paham." Irva mengembuskan napas.lega setelah berhasil mengucapkan apa yang ada di benaknya. Faz tertawa renyah. "Pernah dekat juga nggak apa-apa, kok." "Bukan seperti itu!" Irva menaikkan nada suaranya setengah oktaf membuat Faz terkejut dan menatapnya bingung. "Tolong percayalah." Faz meletakkan jilbabnya di meja kemudian ikut duduk di lantai bersama Irva. "Irva, aku tidak akan mempermasalahkan—" "Tidak!" Irva memotong ucapan Faz. "Aku tau kau begitu, tapi aku sungguh tidak pernah memberi harapan pada Reis. Dia hanya ingin belajar gitar. Kami sama-sama di ekskul musik, jadi aku mengajarinya beberapa teknik. Itu saja. Tapi rupanya dia menganggapnya berbeda. Aku jadi menyesak pernah menganggapnya adik kelas yang lugu dan manis sampai mau repot-repot mengajarinya begitu." Faz mengulum senyum. "Oke. Aku paham kok. Reis adik kelas yang lugu dan manis, kan?" "Apa?" Irva berdecak kesal karena sadar bahwa dirinya telah salah bicara. "Bukan begitu maksudku. Aku tidak pernah menganggapnya istimewa atau berbeda atau bahkan memiliki rasa sedikit saja pada Reis!" Irva menjelaskan dengan frustrasi. "Jangan senyum-senyum seolah kau tahu segalanya!!!" Irva meledak marah saat melihat Faz terlihat senyum-senyum mendengar penjelasannya. Namun, setelahnya ia menyesal telah berteriak pada gadis itu. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu." Ia meraih tangan Faz dan menarik gadis itu agar mendekat sebelum merengkuhnya ke dalam pelukan. "Aku hanya tidak ingin kau berpikiran buruk tentangku. Kepercayaanmu sangat berarti buatku. Kau yang terpenting melebihi apa pun." Tubuh Faz kaku dalam dekapan Irva. Ia tidak. menolak, tapi juga tidak membalas pelukan Irva. Dua lengannya tetap terkulai di samping tubuhnya, sementara kepalanya menempel di d**a bidang cowok itu. "Aku percaya padamu," bisiknya lirih. Perasaannya kacau. Hatinya melambung gembira mendengar pernyataan Irva bahwa dirinya adalah yang terpenting bagi cowok itu saat ini, tapi di sisi lain ia juga gelisah karena ini berarti akan semakin sulit baginya untuk mengakhiri hubungan ini. "Makasih." Irva menarik tubuh Faz semakin dekat sambil menciumi rambut gadis itu. Jika saja mereka adalah pasangan suami istri, mungkin hal ini akan berlanjut ke hubungan ranjang. Pasti begitu. Tiba-tiba saja ia tergelak oleh pikiran konyol itu. Dirinya dan Faz .... "Apa? Kenapa?" Faz menarik diri dari lelukan Irva. "Rambutku bau ya?" Ia meraih sejumput rambut yang tergerai di pundak dan menciumnya. Ia semakin bingung ketika Irva tidak menjawab, tapi justru tertawa semakin keras. "Irva, kenapa sih?" Irva mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Tidak ada. Aku hanya sedang membayangkan sesuatu." "Soal apa?" "Rahasia." Irva menjulurkan lidahnya dan kembali tergelak melihat Faz merengut kesal sambil melipat dua lengannya di depan d**a. Setelah puas tertawa, ia pun mendekati gadis itu dan kembali memeluknya sambil menciumi rambut Faz. "Rambutmu tidak bau. Aku hanya sedang membayangkan seandainya kita ini suami istri." Faz mengejang kaku dalam dekapan Irva. Tidak ada satu patah kata pun yang sanggup ia ucapkan untuk membalas perkataan Irva karena tiba-tiba saja dirinya juga membayangkan hal yang sama. Namun, itu tidak mungkin terjadi. Selamanya hanya akan menjadi khayalan semata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD