Bab 6 - Hujan saat tidak diinginkan

1875 Words
Seorang laki-laki berdiri tegap di atas gedung bagian pinggir dengan sorot tak terbaca, jumlah puluhan lantai tempatnya berpijak tak membuat laki-laki itu gentar sedikit pun. Baginya ini bukanlah apa-apa. Sedang sorot matanya menatap satu objek sejak beberapa waktu lalu, selain itu sekelilingnya dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan kota serta kemerlap lampu tanpa ujung. Rambutnya yang memang acak-acakan semakin tak terbentuk kala angin membel*ainya tanpa batas. Dinginnya angin malam sama sekali tak terasa di kulitnya yang hanya ditutupi kain tipis kemeja biru tua. Di sisi lain, tepatnya di belakang gedung yang hampir tak terjamah oleh manusia, terdapat seorang gadis yang terus mengumpat saat mengingat hari-hari buruknya. Tiga puluh menit yang lalu dia mendapat telepon atas nama 'ayah' yang kemudian membuatnya menyesal saat mengangkat panggilan itu. Di kontak teleponnya memang tertulis nama 'ayah', namun itu bukanlah yang sebenarnya. Karena saat mendengar suara dan ucapan si 'penelepon', Krystal merasa ingin membanting ponselnya jika saja dia memiliki banyak uang untuk membeli ponsel baru. "Kau anak laki-laki tua ini, ya!"  Bukan sapaan hangat yang dia dapat—seperti yang dia harapkan saat mendapat panggilan dari ayahnya. Telepon hari ini tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya, bedanya hari ini dia mendengar suara yang berbeda, namun makna dan tujuannya pun memiliki kesamaan, sama-sama menyebalkan. "Kau siapa? Jangan menelponku lagi!" Begitu jawabannya. Tadinya gadis itu ingin mematikan telepon itu, namun urung saat sebuah kalimat menyentaknya. "Jika kau mematikannya lagi, jangan harap kau dapat melihat ayahmu lagi Krystal." Hening menyelimuti. Hanya suara sayup-sayup kendaraan. "Datang ke alamat yang kukirim atau kau akan menyesalinya jika terus menghiraukanku."  Ancaman bede*bah! Pergi dan tidak pun sama-sama tak menguntungkan, sama-sama mengandung penyesalan. Hingga tiga puluh menit berlalu, di sinilah dia sekarang dengan seragam sekolah yang masih melekat. Wajahnya yang kusam dan kusut karena belum sempat pulang ke rumah sembari berbenah, kini semakin tak mengenakkan saat melihat lima orang laki-laki dengan pakaian urakan.  Dia Krystal dengan tas punggung yang tersampir di pundak kanannya. Bibirnya sontak menghela napas lelah saat tatapannya terkunci pada seorang laki-laki paruh baya yang kini tampak tak berdaya, hanya terduduk di aspal dengan kondisi tubuh babak belur.  Bukan pemandangan biasa. Membuat Krystal tertawa tanpa sadar dengan ekspresi nanar.  "Jadi kau, ya, yang bernama Krystal." Salah satu dari mereka menghampiri Krystal sambil menatap Krystal dengan pandangan intimidasi. "Ya, kenapa?" "Kenapa lama sekali huh?" Laki-laki itu meludah asal. "Dia ...." Tangannya menunjuk ayah Krystal, lalu melanjutkan, "Tidak bisa membayar hutang-hutangnya." Krystal berdecak pelan. "Lalu apa urusannya denganku?" "Anak s**l ... CK!" Laki-laki itu menggaruk rambutnya, terlihat frustasi.  Krystal menghela napas berat.  "Sebagai anak, kau harus berbakti pada orang tuamu." Laki-laki lainnya ikut menambahkan. "Ayahmu sampai terlilit hutang pun pasti demi menghidupimu, tapi kau ... Ck, kau pasti anak yang nakal." Krystal menatap laki-laki itu sekilas, lalu menghampiri ayahnya, kemudian berjongkok di hadapan laki-laki paruh baya itu. "Yah, jangan mempersulitku terus," bisiknya dengan suara bergetar. Kemudian merentangkan jaketnya di kepala ayahnya yang dia ambil dari tas.  Laki-laki yang disebut ayah oleh Krystal itu hanya menatap putrinya dengan tatapan kosong, ekspresinya pun tak menyiratkan rasa bersalah atau pun sejenisnya. Hal yang kerap membuat Krystal kesal dan merasa sia-sia kala membantu ayahnya menyelesaikan masalah yang dia perbuat. "Ternyata kau sekolah di MSS, ya." Senyum mereka merekah kala menyadari lambang sekolah Krystal. "Sekolah bergensi. Pasti Ibumu berasal dari kalangan kaya," jeda sejenak saat mereka saling bertukar pandang, "Pasti sangat mudah untuk membayar hutang-hutang ... ehem, suaminya." "Jangan menyangkut-pautkan hal ini dengan ibuku." "Kenapa? Apa karena—" "Akhhh!" Krystal langsung membelalakkan matanya saat ayahnya dipukuli di depan matanya. Tanpa berpikir panjang dia menarik laki-laki yang memukuli ayahnya dan menyentak tangan laki-laki itu dengan ekspresi kesal setengah mati. "AKU AKAN MEMBAYAR KALIAN, TAPI BERIKAN AKU WAKTU!" Bahkan Krystal muak mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya sendiri. Karena pada dasarnya lima laki-laki di sekelilingnya ini meminjamkan uang ke ayahnya untuk berjudi bersama mereka, lalu meraup uang itu kembali, sedangkan ayahnya dililit hutang atas kebodohannya sendiri. Laki-laki yang sejak tadi berbicara itu langsung menahan temannya agar berhenti. Kemudian dengan gerakan cepat dia menarik kalung Krystal di lehernya hingga terlepas. "Aku akan membayar hutang-hutang ayahku ...." Krystal memijit pelipisnya. "Bukan berarti kalian bisa berlaku seenaknya!" "Jaminan," cengirnya sambil mengayunkan kalung dengan gantungan butir salju itu. "Waktumu 12 jam." Dia menatap jam tangan usangnya. "Artinya besok jam 12 siang kita bertemu di sini lagi." Setelahnya mereka pergi begitu saja, tidak lupa merangkul ayah Krystal yang menyunggingkan senyum tipis. "BED*EBAH s****n!" teriak Krystal sambil berlutut di tengah lengangnya malam. •••••• Bibirnya mengembuskan napas pelan usai menghirup asap rokok yang terselip di antara dua jarinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis kala mobil—yang di matanya lebih mirip dengan rongsokan itu—melaju membelah jalanan sempit di antara lorong belakang bangunan-bangunan pencakar langit. Kemudian bola matanya bergulir pada gadis yang berlutut di tengah remang-remangnya malam, tidak lama kemudian rintik gerimis membelah kota, membuat laki-laki itu merentangkan tangannya dan merasakan tetes demi tetes. "Kebetulan?" gumamnya tidak yakin. Lalu menatap lurus seolah tengah menembus kegelapan tanpa batas. "Ck, melelahkan," keluhnya sambil meremuk rokok yang tinggal setengah itu. Dibanding melesat dengan cepat, laki-laki itu memilih melangkah ogah-ogahan sambil memasukkan ke dua tangannya ke saku celana.  Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyambangi titik yang sedari tadi menjadi incarannya. Sepanjang menuju sana, lampu yang bersinar dengan terangnya sontak langsung meredup dan mati usai dilewati oleh Jaehan. Menyenangkan, itulah yang dia rasakan saat melakukannya. Sama halnya saat berdiri di tengah persimpangan saat sebuah mobil—yang baginya rongsokan itu—melaju dengan kencang. Suara gesekan antara ban dan aspal mengisi kesunyian simpang lorong itu saat pemilik kendaraan menginjak rem secara tiba-tiba. Tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat penumpang mobil mirip rongsokan itu, karena setelahnya mereka langsung keluar dan membanting pintu sambil menyorot Jaehan dengan ekspresi marah. "Mau apa si bodoh itu?" tanya salah satunya sambil menghampiri Jaehan yang tengah menekan-nekan ujung jarinya, seolah tidak terjadi apa-apa. "Kau ini mau cari mati heh?" tegur yang memiliki perut buncit. Tangannya melayang menampar tengkuk Jaehan. "Dari penampilan terlihat bukan orang biasa." Pemilik rambut gondrong menimpali, "Tapi gerak-geriknya seperti anak bodoh." "Nak, kalau kau mau mati, ya mati saja. Jangan manfaatkan orang lain, kami tidak sudi menjadi alasan kematianmu. Cuh!" ucap laki-laki yang menampar tengkuk Jaehan, setelahnya dia menepuk-nepuk pipi Jaehan kemudian mendorongnya secara kasar. Mendapat perlakuan seperti itu menciptakan seringai tipis di bibir laki-laki itu. "Anak bodoh, ya?" Jaehan mengangkat kepalanya sambil menggaruk pangkal hidung. "Aku terlihat seperti anak-anak? Ah, ralat, masih terlihat muda, ya?" Lima orang itu saling pandang. Namun Jaehan tak menghiraukannya, dia lebih tertarik dengan laki-laki tua yang tengah memejamkan mata di dalam mobil dan tak terusik dengan kegaduhan para bede*bah ini. "Benar-benar bodoh ternyata," cetus salah satunya. "Minggirlah, Nak. Jangan menghalangi jalan kami, kalau mau mati, carilah tempat lain," tuturnya sambil menarik kerah Jaehan dan berniat menyeretnya.  Akan tetapi, Jaehan tak bergerak dari tempatnya membuat laki-laki itu mengernyit dan semakin menarik kerah Jaehan sekuat tenaga.  "Sudah berapa banyak yang disakiti tangan ini?" tanya Jaehan dengan suara rendah sembari menepis tangan laki-laki itu dengan gerakan elegan. "Huh, sepertinya aku perlu mandi," bisik Jaehan sambil menepuk-nepuk bekas cengkraman laki-laki itu. "Banyak bicara sekali!" kesalnya sambil melayangkan pukulan ke wajah Jaehan. "Aku benci ini," keluh Jaehan, sedetik kemudian dia menangkap pergelangan laki-laki itu lalu memelintirnya ke belakang hingga dia memekik keras. "Jauhkan tangan kotormu dari wajahku, Nak," bisik Jaehan sambil mendorongnya hingga tersungkur. "D-dia kurang ajar. Dia menyebutku nak ... haishhh, sia*lan! Dia bocah bodoh yang kurang ajar!" racau laki-laki yang tersungkur. "Kaki itu pernah menghilangkan nyawa seseorang," kata Jaehan enteng saat laki-laki berambut gondrong berniat melangkah menyerangnya.  "Kenapa?" tanya Jaehan saat laki-laki itu bergeming dengan ekspresi terkejut. "Dan itu ...." Jaehan mengedikkan dagunya ke laki-laki perut buncit. "Merebut sesuatu yang bukan haknya ... hmm, cukup menarik, karenanya banyak manusia mati kelaparan. Ckckck, kau baik sekali," sarkas Jaehan. Hal itu sontak membuat laki-laki itu berkeringat dingin, tak urung dia tetap menyerang Jaehan meski harus berakhir dengan teriakan kesakitan. Dua di antaranya mulai melangkah mundur dan siap melarikan diri. Jaehan menepuk-nepuk ke dua tangannya sambil tersenyum miring. "Satu ... dua ... tiga ...." "Akhhhh!" teriak mereka bersamaan saat tersungkur di aspal.  "DIA BUKAN MANUSIA!" Salah satu dari mereka berteriak dan langsung dibalas wajah pias oleh teman-temannya. "Ke-kenapa kakiku terasa sakit sekali ... arghh!" Jaehan berjalan memutari mereka sambil melipat ke dua tangannya di belakang tubuh. "Patah ... sebelah kiri," gumam Jaehan disusul teriakan. "Itulah yang dirasakan mereka saat kau menginjaknya tanpa belas kasih," bisik Jaehan sambil berjongkok di samping laki-laki yang baru saja berteriak kesakitan itu. "Ampunnn, ampunnn, maafkan kami, maaaf!" "Maaf dan ampun?" Jaehan berdiri dan kembali mengelilingi mereka. "Bahkan aku tidak menyentuh kalian," ucapnya dengan ekspresi polos dibuat-buat. "Siapa pun kau, tolonggg ampuni kami. Maaf ... maaf ... maaf, kami siap melakukan apa pun untukmu!" ucap salah satu di antara lima laki-laki itu sambil berlutut dengan ke dua tangan membentuk permohonan. "Pengampunan, ya?" lirih Jaehan sambil menatap langit yang masih menitikkan air. "Bahkan aku tak mendapatkannya," lanjutnya sambil menghela napas berat. "Sebenarnya aku malas menggunakan kemampuan bicaraku terlalu banyak ...." Jaehan menunduk sejenak. "Sayangnya kalian mengganggu malamku ...." "Ampunnn ... tolong ampuni kami ... bahkan kalau kau mau, kau bisa mengambil semua uang kami." "Jangan bertingkah bodoh, kita membutuhkan uang-uang itu!" "Uang atau nyawamu hah?" bentak lainnya. Jaehan menguap melihat perdebatan tak bermutu itu.  "Lumayan," gumamnya saat sebuah tas berukuran besar dia dapat dari bagasi mobil. Senyum tipis terukir di bibirnya sambil menjinjing tas berisi uang tersebut. Mari kita sudahi permainan ini." Jaehan menatap langit sekali lagi, lalu melanjutkan, "Lupakan semua kejadian hari ini dan anggap hutang pria tua itu tak pernah ada." Setelah mengatakan kalimat itu, semua orang yang tengah menahan sakit itu langsung terdiam dengan ekspresi kosong, kemudian jatuh tak sadarkan diri, begitu pun dengan Ayah Krystal yang sedari tadi diam-diam mengamati Jaehan. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Jaehan masih sempat merogoh saku celana salah satu dari mereka dan mengambil sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. "Kalung dengan gantungan butiran salju," gumamnya tanpa minat, lalu menggenggam kalung itu.  "Apakah ini bagian dari menjalani hukuman?" tegur laki-laki yang sedari tadi mengikuti Jaehan dari kejauhan. "Dia merusak pemandanganku," balas Jaehan sambil melempar tasnya yang ditangkap dengan mudah oleh asistennya, Kaezn. "Lalu ini?" tanya Kaezn dengan ekspresi datar. "Kertas." Satu tangan Jaehan bertumpu pada pinggang, lalu satunya lagi memijit pelipisnya. "Lagi pula itu uang hasil curian." "Hasil curian yang kemudian kau curi." Jaehan mengedikkan bahu tak peduli. Terpenting dia tau maksud dan tujuannya mengambil uang hasil rampasan itu. "Seperti biasa," ucapnya. "Kau menyakiti mereka." Ada nada tak terima  di ucapan Kaezn sambil menunjuk orang-orang yang terkapar di aspal. Jaehan mengikuti arah pandang asistennya, lalu berdecak pelan. "Ini bukan pertama kalinya, seharusnya kau sudah terbiasa. Lagi pula kenapa kau suka sekali ikut campur dan mengikutiku sampai sejauh ini?"  "Kami tidak ingin kau melewati batas." "Aku hanya ingin mereka merasakan apa yang dirasakan korban-korbannya." Jaehan berkata enteng. "Lagi pula besok pagi mereka akan kembali sehat ...." Diam sejenak, Jaehan tersenyum ragu, "Mungkin," lanjutnya dan meninggalkan Kaezn yang menatap punggung sahabatnya dengan ekspresi datar. Apa yang terjadi malam ini seolah-olah tak akan pernah terjadi pada mereka, hanya saja rasa sakit dan penyesalan akan terus mengikuti manusia-manusia itu di sepanjang hidupnya. Itulah tujuan dan cara Jaehan menjalani hukumannya untuk manusia tak memiliki hati nurani. "Hujan, di saat aku tidak menginginkannya?" gumamnya dengan raut bengis. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD