Jaehan berdiri tak jauh dari tempat seorang gadis tengah memeluk lututnya di pinggir jalan lengang. Kepalanya dia tenggelamkan di lipatan tangan, sedang wajahnya tak terlihat—tertutupi rambut acak-acakannya.
Sekilas Jaehan ingin memutar balik, merasa tidak ada gunanya menghampiri gadis yang bahkan tidak dia kenali. Bahkan jika dipikir-pikir gadis itu tidak ada pengaruh apa pun bagi Gumiho sepertinya. Sangat tidak berguna dan tak bisa dimanfaatkan. Lantas apa untungnya berlaku baik?
Akan tetapi langkah dan pikirannya saling bertolak belakang, karena kini dia telah melesat di depan gadis itu. Jaehan menatap sekeliling sejenak dengan ekspresi malas, kemudian menendang ujung sepatu Krystal dengan keras hingga gadis itu tersentak dan mendongak—menampakkan mata sembabnya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Krystal usai sadar dari keterkejutan kala melihat keberadaan Jaehan.
Jaehan tak menjawab, memilih mengamati gadis itu yang tengah mengusap wajahnya.
"Kau mengikutiku, ya?"
Mengikuti? Jaehan mendengkus samar. Mengikuti gadis sepertinya sangatlah tak berarti, dilihat dari sisi mana pun—hingga detik ini—Jaehan tak menemukan sesuatu yang dapat dimanfaatkan dari gadis itu. Lalu mengikutinya? Yang benar saja, di saat telinganya mendengarkan rin*tihan, teriakan, permintaan, dan sebagainya memenuhi Indra pendengarannya, jika boleh memilih, Jaehan lebih baik menghampiri manusia-manusia nihil nurani itu dan menyelesaikan buruannya. Namun di sinilah dia sekarang.
Rintik hujan gerimis yang sedari tadi jatuh membasahi bumi, kini tak menampakkan wujudnya lagi. Kening Jaehan mengerut samar saat menyadarinya, tak lama kemudian dia menghela napas berat seraya menatap Krystal yang tengah menepuk-nepuk rok bagian belakang.
"Jadi, rumahmu di sekitar sini?" tanya Krystal. Menurutnya sangat kebetulan dia bertemu Jaehan di sini, jika laki-laki itu memang tidak mengikuti atau mengawasinya.
Jaehan mengedikkan bahu.
Sejenak Krystal terkesiap saat menatap Jaehan yang tengah memasukkan ke dua tangannya ke saku celana. Laki-laki itu terlihat jauh berbeda saat di sekolah. Tampak lebih dewasa, tidak terlihat jejak anak sekolah yang melekat di dirinya.
"Aku memang tampan. Tapi aku tidak tertarik dengan anak sekolahan." Jaehan mengernyit tak nyaman sambil menatap Krystal yang langsung mengatupkan bibir dengan kelopak mata mengendur.
"Jadi kau benar-benar mengikutiku, ya?" sungut Krystal sambil menuding Jaehan yang memundurkan tubuhnya.
"Memangnya kau siapa sehingga aku harus mengikutimu selarut ini?"
Giliran Krystal yang terdiam dengan ekspresi aneh memandang Jaehan. Kenapa tingkah laki-laki itu berbeda saat di sekolah dan di luar sekolah?
"Aku harap kau tidak mencari gara-gara padaku," peringat Krystal dengan raut datar, lalu menatap jam di ponselnya, kemudian menggerutu dan melangkah meninggalkan Jaehan yang menatapnya dalam diam.
Lima langkah sudah gadis itu menjauh dari Jaehan, barulah dia teringat akan sesuatu, sontak menimbulkan kedutan samar di sudut bibirnya.
"Apa kalung itu sangat berarti bagimu?" Jaehan mengatakannya dengan volume biasa, tapi dia yakin jika Krystal mendengarnya, terbukti saat gadis itu menghentikan langkah.
"Kau benar-benar mengikutiku, ya!" kesal Krystal sambil memutar tubuhnya menghadap Jaehan yang tengah mengedikkan bahu.
"Ini ...." Jaehan menj*ilat bibir bawahnya sejenak sambil mengangkat kalung dengan gantungan butir salju itu, menampakkan seluruh wujudnya ke depan wajah. " ... sangat berarti?"
Meski hanya disinari cahaya temaram, Jaehan dapat melihat keterkejutan di wajah Krystal. Namun, tidak seperti dugaan, gadis itu tak langsung menghampiri Jaehan. Dia hanya menekuk satu tangannya di pinggang, sedang satunya mengacak rambut secara asal.
"Sejauh mana kau mengikuti dan mengamatiku, heh?" tanya Krystal. Nada suaranya penuh penekanan.
Jaehan mengangkat ke dua bahunya, sambil menatap sekeliling secara random. Raut wajahnya tak menampakkan ekspresi berarti.
Melihat tak ada jawaban dari laki-laki dengan perawakan tinggi itu, membuat Krystal yang memang tengah diliputi kekesalan itu lantas kehabisan kesabaran. Tanpa ragu-ragu dia menghampiri Jaehan dengan sorot tertuju di mata laki-laki itu yang menyorotnya dengan pandangan menantang.
"Sejauh mana kau mengikuti dan mengamatiku huh?" tekan Krystal sambil mencengkram kemeja Jaehan sambil menatap laki-laki itu dari bawah. Karena proporsi tubuhnya yang lumayan tinggi tidak menyulitkan Krystal jika hanya untuk mencekik laki-laki yang berjarak beberapa centi dari tubuhnya itu.
"Wow agresif," ujar Jaehan sambil mengerjap sok polos. "Ck, kau terlalu menempel," decaknya sambil mendorong kening Krystal.
Bukannya melepas cengkeramannya, Krystal malah semakin menarik kemeja Jaehan hingga mencekik laki-laki itu dan menepis kasar tangan Jaehan di keningnya.
"Apa saja yang kau lihat?"
Jaehan terbatuk kecil, meski begitu dia menikmati raut kesal gadis di depannya ini. Dia pun ingin melihat sejauh mana Krystal berani bertindak.
"Hanya sedikit ...." Jaehan tersenyum tipis yang menyerupai seringain. "Hanya sedikit ... saat ayahmu—"
Ucapan Jaehan terhenti saat Krystal tiba-tiba melepas cengkeramannya dengan kasar. Kemudian mundur beberapa langkah dan menatap Jaehan dengan napas tak beraturan, ke dua bola mata gadis itu menyiratkan kekesalan dan kesedihan mendalam.
"Anggaplah kau tidak pernah melihatnya," ujar Krystal dengan nada datar. Lalu melangkah meninggalkan Jaehan yang terdiam usai menyelami iris bening Krystal.
"Kalungmu masih ada padaku."
Tidak ada jawaban. Gadis itu terus melangkah.
"Aku akan membuangnya."
Krystal mengangkat tangannya dan menunjukkan jari tengah tanpa menoleh.
Dua kata meluncur begitu saja di bibir Jaehan.
"Kurang ajar."
Di dalam diamnya Krystal, ada pertanyaan-pertanyaan yang melintas di kepalanya.
Kenapa kalungnya ada pada Jaehan? Apakah selain otak pencopet, Jaehan juga termasuk bagian para bede*bah itu?
Satu hal yang pasti, Krystal bertekad untuk menghindari Jaehan.
Sepeninggal mengawasi Krystal dari kejauhan hingga memastikan gadis itu memasuki kawasan tempat tinggalnya, barulah Jaehan menjauh dari sana.
Di bawah lampu jalanan yang berkedip-kedip dan menimbulkan percikan api—tampak tidak baik-baik saja—ada Jaehan menatap galung Krystal, lalu melempar benda itu ke jok belakang. Kenapa saat bede*bah itu merebut kalung tersebut Krystal tampak marah dan terkejut, akan tetapi kenapa tidak berlaku saat kalungnya ada pada Jaehan? Seolah-olah kalung itu tidak berharga.
"Dia membuatku penasaran," gumam Jaehan dengan pandangan tertuju ke depan. Tadi dia sempat mencoba menghapus ingatan gadis itu, namun tidak terjadi apa pun.
Akan tetapi, dibanding dengan rasa penasarannya dengan Krystal, urusannya mengenai menjalani hukuman jauh lebih penting. Baginya gadis seperti Krystal hanya teka-teki yang siap dipecahkan dan alat untuk bersenang-senang. Tidak lebih.
••••
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jaehan untuk sampai di kediamannya. Segala daftar kegiatan yang ingin dia lakukan usai mandi tersusun rapi di kepalanya. Namun baru saja dia menginjakkan kaki di ruang tamu, dia langsung menghela napas lelah saat mendapati seseorang yang ... entahlah. Jaehan tidak memiliki hubungan apa pun dengannya selain partner 'kerja' itu pun beberapa hari yang lalu.
"Jaehan ...." adunya. Wanita itu langsung menghampiri Jaehan sambil memegang lengan laki-laki itu.
"Kau—"
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" rengeknya.
Jaehan menatap wanita itu sejenak, lalu bergulir pada Kaezn yang tengah meneguk minumannya dengan tenang.
Menyadari jika tengah dipandang, Kaezn langsung menaruh gelasnya sambil membalas tatapan Jaehan.
"Dia menunggumu sejak tadi."
Satu alis Jaehan menukik ke atas pertanda bukan itu jawaban yang diinginkannya.
"Kurasa kita bukan—"
"Setelah apa yang pernah kita lakukan, kau mau meninggalkan aku begitu saja?" tanya wanita itu dengan wajah memerah, jelas tengah menahan kekesalan, di sisi lain dia tengah menahan air matanya.
Batukan Edgar mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu usai hening beberapa saat. Namun Jaehan masih dapat mendengar bisikan Edgar ke Kaezn—yang andaikan tidak ada wanita aneh ini, dia akan memelintir kepala Gumiho muda itu.
"Dia mengencani sembarang wanita, ya?" Itulah bisikan Edgar ke Kaezn yang dibalas laki-laki itu dengan dehaman.
"Sepertinya kau salah orang."
"Salah orang?" pekik wanita itu tiba-tiba, sontak membuat tiga laki-laki di ruangan itu langsung menoleh terkejut ke arahnya. "Kau membuatku kehilangan sesuatu yang sangat berharga!" lanjut wanita itu sambil memukul Jaehan membabi-buta. Sedangkan yang dipukul hanya mengernyit aneh sambil menggaruk pangkal hidungnya.
"Kita melakukannya sama-sama mau," ujar Jaehan tanpa ekspresi berarti yang membuat wanita itu semakin murka.
"Wow sama-sama mau," ulang Edgar hiperbola sambil menatap Jaehan dan wanita itu secara bergantian, di sisi lain tangannya meraih gelas Kaezn dan meneguk winenya.
"Aku mau kau bertanggung jawab!"
"Wohh, sejauh itu?" sambut Edgar berdecak dan menatap Jaehan dengan raut menyesal yang dibuat-buat.
"Diamlah!" geram Jaehan.
"Kau menyuruhku diam setelah menunggumu seharian di sini bersama dua teman gilamu itu?" raung wanita itu sambil menuding Edgar dan Kaezn yang mengerjap polos.
Jaehan menghela napas lelah. Pupus sudah keinginannya untuk memeluk guling karena kecerobohan dua temannya itu.
"Kau mau aku bertanggung jawab seperti apa? Kau sudah mendapatkan semuanya. Mobil, uang, tas, lalu apa lagi?"
"Kau—"
Sebelum wanita itu terus mengoceh, Jaehan dengan sigap memegang wajahnya hingga wanita itu terdiam, kemudian jatuh tak sadarkan diri di pelukannya.
"Kenapa kalian diam saja?" geram Jaehan.
Edgar menatap Kaezn yang tak berniat membuka suara. "Aku kira dia memang ... ehem, teman perempuanmu, jadi kami membiarkannya menunggumu di sini. Iyakan, Kae?" ujar Edgar sambil menyikut Kaezn.
"Iya."
"Kita sempat menyuruhnya pergi, kan, Kae?"
"Iya."
"Tapi, dia tidak berniat pergi, malah membentak kami. Jadi kami kira kalian memang ada sesuatu, terlepas dia hanya partner kerjamu. Iya, kan, Kae?"
Kaezn menoleh—menyorot teman seperjuangannya itu dengan pandangan menghunus, membuat Edgar meringis seraya mengangkat tangannya.
"Kenapa kalian tidak melakukan tindakan seperti biasa?" ketus Jaehan sambil menggendong wanita itu ke kursi single. "Itulah gunanya keistimewaan kalian, bukan hanya memendamnya dan semakin tidak berguna!" omel Jaehan sambil melepas satu kancing teratas kemejanya.
"Masalahnya dia terlihat yakin dan sangat mengenalmu. Emm, jadi haruskah aku mengantarnya pulang?" tanya Edgar sambil menyandarkan tubuhnya.
"Setelah sadar, dia akan pulang sendiri," putus Jaehan sambil meregangkan otot.
"Dia menggunakan jasa mobil online." Kaezn memberitahu, membuat Jaehan memejamkan matanya sejenak, menetralisir kekesalannya.
"Kau ...." Jaehan menatap Edgar yang langsung berdiri tegak. "Antar dia sebelumnya kesadarannya pulih."
"Tapi—"
"Dia tidak akan mengingat apa pun," potong Jaehan yang langsung dijawab helaan napas lega.
"Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana hubungan kalian?" Edgar tersenyum menggoda sambil menatap Jaehan dengan raut menuntut jawaban.
Di sampingnya, Kaezn ikut menatap Jaehan, laki-laki berwajah dingin itu meski tampak tak peduli dengan sekitar, namun dia memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, walaupun terkadang tak berarti seperti sekarang ini.
Jaehan menatap Edgar dan Kaezn bergantian, lalu memijit pelipisnya pelan. "Aku bisa gila jika terus-menerus bersama mereka," gumamnya.
"Kau benar-benar mengencaninya?"
"Tentu saja tidak!" jawab Jaehan cepat.
Merasa tidak puas atas jawaban yang dia dapat, Edgar kembali melayangkan pertanyaan. "Tapi ucapan-ucapan wanita itu terdengar janggal, seperti melakukan sesuatu yang sama-sama mau, perihal bertanggung jawab, ... ya pokoknya yang itulah. Aku, sih, tidak peduli sebenarnya ... hanya heran, apakah kau benar-benar tidur dengannya atau ...." Edgar melirik Kaezn yang tengah menatapnya, seolah mengingatkan sesuatu, hanya saja temannya itu terlalu bodoh untuk menyadari kode dari Kaezn.
"Dia hanya alatku untuk menjalankan hukuman pada bosnya," kata Jaehan pelan, tidak sanggup untuk berdebat atau menjelaskan lebih panjang.
"Hanya itu?"
"Dia menipu bosnya sendiri, lalu bisnis sia*lannya itu hancur."
"Dan dia juga terkena imbasnya." Kaezn ikut menambahkan.
"Hanya itu?"
"Ya. Sebelum aku mengirimu ke Pak Tua," geram Jaehan, berhasil membungkam Edgar.