"Kau sudah terlalu jauh."
Jaehan menoleh ke arah Kaezn, lalu menimpali, "Aku hanya bermain."
"Tidak seperti biasanya, kurasa kau tidak sekadar bermain, tapi mencari sesuatu darinya atau ... tertarik?"
Jaehan tersenyum tipis. Tertarik dengan manusia? Tidak pernah terpikirkan olehnya usai kejadian masa lalu yang membuatnya harus berakhir di sini dengan hukuman menyebalkan. Dia tidak ingin mengulang kesalahan serupa meski dahaga itu kian menipis dan hampir tak pernah datang. Untuk saat ini biarlah dia menikmati masa hukumannya tanpa mengikutsertakan keinginan pribadi yang berkaitan pada manusia. Karena jika dia mulai berurusan lebih jauh dengan manusia, maka akan sulit untuk berhenti. Ini hanya dugaan, Jaehan takut bila hukumannya kian bertambah dan mengharuskan tinggal di lingkungan manusia lebih lama lagi. Dia takut bila 'keinginan' itu hadir dan kembali menjebaknya.
"Ada yang aneh dengan gadis itu," kata Jaehan. Matanya memandang lurus di antara gemerlap lampu yang memenuhi kota dari atas villanya.
"Kau tidak boleh bermain lebih jauh. Karena ...." Kaezn menoleh, raut wajahnya menunjukkan keraguan.
"Karena pak Tua itu terus mengawasiku," dengkus Jaehan.
"Selalu." Kaezn menambahkan.
Jaehan berdecak dan meninggalkan Kaezn masuk. Beberapa langkah kemudian dia berhenti dengan mata terpejam serta kening mengerut dalam. Teriakan dan raungan selalu memekakkan pendengarannya, akan tetapi kali ini lebih menyeruak dan mengganggu.
"Si*al! Selalu saja begitu, dia tak memberiku kesempatan untuk menikmati malam!" kesal Jaehan.
Dia langsung mengganti piyama tidurnya dengan celana Levis yang dipadukan atasan jaket kulit dengan dalaman kaus hitam senada. Setelahnya dia mengambil topi—yang disebut Edgar dengan sebutan topi mangkok—berwarna senada pula. Dilihat dari depan, mata Jaehan tertutupi oleh bagian depan topi itu hingga yang tampak hanya hidung dan bibirnya. Cukup memuaskan. Kali ini dia lebih berhati-hati agar kejadian kemarin tak terulang.
"Kalian mau apa?" tanya Jaehan saat Kaezn dan Edgar mengekorinya. Bahkan Edgar—laki-laki rambut gondrong itu tampak baru bangun tidur dan tergopoh-gopoh memasang jaketnya.
Edgar langsung menatap Kaezn—yang seolah menahannya mengatakan sesuatu—kemudian beralih ke Jaehan dan menjawab, "Ikut denganmu. Seperti biasa," ucapnya dan mendahului Jaehan ke garasi.
Jaehan menghela napas lelah, dia menatap Kaezn yang sengaja menghindari tatapannya.
"Aku bisa sendiri."
Edgar yang tengah memanaskan mobil, langsung melongokan kepalanya ke jendela dan berkata, "Kata Kaezn, terakhir kali kau menjalankan hukuman, aksimu dilihat oleh seorang gadis," ucapnya sambil tersenyum miring.
Jaehan langsung menatap Kaezn yang lagi-lagi menghindari tatapannya.
"Parahnya lagi, ingatan gadis itu tak bisa kau hapus," lanjut Edgar.
Tanpa berkata-kata, Jaehan membuka pintu mobil dan menarik jaket Edgar hingga laki-laki tampan itu tertarik ke luar dengan raut mengaduh.
"Kau ini kenapa?" keluh Edgar, meski begitu dia tetap menuruti Jaehan.
"Kau yang kenapa!" ketus Jaehan sambil mengacak rambut Gumiho muda itu, lalu berdecak pelan. "Lanjutkan tidurmu."
"Aha, terima kasih banyak!" seru Edgar sambil menundukkan kepalanya ke arah Jaehan, lalu melenggang masuk sambil bersiul. Meninggalkan Jaehan dan Kaezn— yang menurut Edgar, tidak lama lagi akan adu bicara.
"Kali ini aku ingin pergi sendiri," putus Jaehan, tak mengindahkan raut tak terima Kaezn.
"Aku ikut."
"Kau lupa, ya, kalau aku jauh lebih tua darimu?" Jaehan tidak menyukai sikap otoriter dan kekanakannya ini, tapi hal ini kadangkala harus dia lakukan demi menghadapi dua Gumiho yang menjadi tanggung jawabnya itu.
"Jadi jangan membantahku lagi," lanjutnya penuh penekanan.
••••••
Sejenak dia memastikan penampilannya, setelah merasa semuanya telah aman, Jaehan lantas mendorong pintu mobil dan menjejakkan kakinya di aspal lembab. Matanya menyapu setiap penjuru tempat itu yang lebih mirip disebut lorong kumuh.
Hari belum terlalu larut, masih ada orang-orang yang lewat, mungkin para pekerja yang baru selesai menuntaskan tanggung jawab mereka di tempat kerja.
Jaehan melangkah dengan tenang seraya memasukkan ke dua tangannya ke saku jaket, bibirnya membentuk garis lurus saat tujuannya semakin dekat.
Buruannya kali ini tinggal sepuluh meter yang terletak di samping sebuah minimarket yang tak digunakan lagi. Namun saat dia ingin berbelok, seseorang tiba-tiba menabrak bahu Jaehan, gerakannya sangat cepat, membuat Jaehan langsung menghentikan langkahnya. Tabrakan itu sama sekali tak memiliki efek untuknya, hanya saja ada sesuatu yang aneh pada orang itu.
Karena hal itu pun membuat Jaehan langsung menoleh dan menatap punggung si pelaku yang melesat cepat dan hilang di antara lorong.
Mata tajam laki-laki itu sempat menyipit curiga, lalu setelahnya dia kembali menatap ke depan dan melangkah percaya diri, tak peduli selain tujuannya menjejakkan kaki di tempat ini.
Setelah sampai, Jaehan terdiam saat melihat perlakuan orang-orang itu pada seorang wanita—yang kini tersudutkan dengan bibir meraung minta tolong terlebih saat menyadari keberadaan Jaehan, akan tetapi wanita itu langsung terdiam saat matanya bersitatap dengan tatapan Jaehan. Sedangkan laki-laki yang mengganggunya itu memutar tubuh dan menatap Jaehan dengan pandangan sinis dan kesal setengah mati.
"Ada apa?" tanya laki-laki yang mengenakan kemeja hitam itu.
Jaehan memiringkan kepalanya untuk melihat keadaan wanita yang tampak ketakutan itu, sudut bibirnya melengkungkan senyum tipis, bola matanya bergulir ke laki-laki itu.
"Kau pasti sangat kesal dengannya."
Kening laki-laki itu sempat mengerut dalam, sebelum menepuk tangan di depan wajah. "Kau paham ternyata. Ini benar-benar menjengkelkan karena k*******n kepalanya. Tapi bisa kau pergi dari sini? Aku harus menyelesaikan ini secepatnya."
Jaehan mengerjap, lalu menatap wanita itu. Lutut, wajah, leher, dan lengannya penuh lebam. Sekali lihat pun orang-orang akan tau jika itu luka lama yang belum sempat sembuh, tapi kembali diperparah.
"Dia membuatmu kesal?" tanya Jaehan.
Laki-laki itu langsung mengangguk. "Dia perempuan bodoh yang pernah ada—"
"Ti-tidak, kau terus memaksaku agar kembali denganmu!" ringis perempuan itu dengan suara bergetar ketakutan.
"DIAMLAH! Turuti perkataanku atau video-video itu aku sebarkan dan kau akan kehilangan harga diri!" bentak laki-laki itu dan kembali ingin melakukan k*******n ke si perempuan.
Namun, Jaehan langsung menahan lengannya sambil mendorong laki-laki itu hingga menabrak tembok gedung minimarket ini.
"KAU ...! Apa yang kau lakukan? Aku kira kita ...," pandangan laki-laki itu menelisik Jaehan dari atas hingga ujung kaki. "Kukira kita satu pemikiran," decihnya.
"Aku tidak menyangka diberi hukuman seperti ini," keluh Jaehan sambil melepas topi mangkoknya, lalu melemparnya ke wajah laki-laki itu.
"BRENG*SEK! Kau—"
"Manusia breng*seng sebenarnya ialah manusia yang melukai wanitanya," kata Jaehan dengan nada datar. Ucapannya seolah menampar dirinya sendiri perihal kesalahan di masa lalu.
Kini Jaehan kembali sadar, inilah alasan Pak Tua itu memberinya hukuman dan mendengungkan pendengarannya—menariknya ke tempat ini.
"Bahkan set*an pun malu dengan perbuatanmu," lanjut Jaehan, berhasil menyulut emosi laki-laki itu.
"Jangan melihat ke arah sini," kata Jaehan saat perempuan itu tersentak melihat cara Jaehan memperlakukan laki-laki bre*ngsek itu.
"Kau ini siapa hah? Kau bahkan tak memiliki hak untuk ikut campur!" cecar laki-laki itu sambil menyeka ujung bibirnya.
"Aku? Perantara untuk mengantarmu ke neraka." Setelah mengatakan kalimat itu, Jaehan mence*kik laki-laki itu hingga ke dua kakinya tak menyentuh tanah. Bola mata laki-laki itu memerah dengan mulut menganga sambil mencakar, mencengkram—berusaha melepas ceki*kan Jaehan di lehernya.
"Bersumpahlah untuk menjadi laki-laki baik," peringat Jaehan sambil melepas cengkeramannya. Laki-laki itu langsung meraup napas sepuasnya.
"Dia pantas mendapatkannya," kata Jaehan ke arah wanita itu—yang tengah membekap mulutnya dengan wajah ketakutan.
"Kalian hanya saling menyakiti."Jaehan berujar setelah dia menyuruh pasangan atau mantan pasangan itu untuk duduk, sedangkan dia berdiri tepat di depan mereka. "Hubungan tidak sehat, tak akan pernah berhasil."
Pasangan itu menunduk dengan ke dua tangan mencengkram pakaian masing-masing, terlebih si laki-laki. Kentara sedang menahan takut.
"Semuanya selesai tepat detik ini. Anggap kalian tidak pernah saling mengenal." Jaehan memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang, kemudian tersenyum tipis. "Anggap kejadian malam ini hanya mimpi buruk kalian," lanjutnya.
•••••
"Kau menghapus semua ingatan tentang hubungan mereka."
Tangan Jaehan menggantung di udara saat mendengar kalimat itu, setelahnya dia menarik pintu mobilnya, tak langsung masuk, laki-laki itu memutar tubuhnya tuk melihat pemilik suara itu.
"Sudah kuduga kau akan mengikutiku," kata Jaehan saat melihat Kaezn yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Kau menghapus semua ingatan tentang mereka berdua." Kaezn kembali memperjelas ucapannya.
"Itu lebih baik." Jaehan menunduk sejenak, menatap sepasang sepatunya, lalu menoleh ke arah Kaezn dengan sudut bibir berkedut. "Menghapus ingatan tentang keduanya jauh lebih baik, dibanding hari-hari mereka akan dihantui oleh kenangan ... kenangan yang lebih didominasi oleh hal-hal menyakitkan."
Kaezn mengerjap, merasakan nada pahit dari kalimat Jaehan.
"Terkadang, melupakan semuanya jauh lebih baik daripada menyimpannya dalam ingatan." Jaehan melanjutkan tanpa nada emosi. Dia melangkah ke arah Kaezn yang mematung—serba salah, merasa telah membawa Jaehan ke ingatan masa lalunya sendiri.
"Bawa mobilku," kata Jaehan sambil menepuk pundak Kaezn, lalu melangkah pergi.
"Lalu bagaimana denganmu?"
Jaehan membalikkan badannya sambil melangkah mundur. "Aku mau melepas penat, seperti biasa," teriaknya dengan senyum miring, lalu melesat bak angin, menyisakan Kaezn dengan mobil mewahnya Jaehan.
••••••
Kompleks perumahannya jam segini tampak tak ada kehidupan lagi. Hanya ada suara jangkrik, anjing menggonggong, serta sayup-sayup suara kendaraan di luar komplek. Semua pintu rumah orang-orang telah terkunci dengan rapat, lampu dimatikan, berbeda jauh dengan rumah lantai dua yang berada di tengah-tengah. Semua lampu masih menyala, begitu pun penghuninya.
Krystal, menumpu dagunya di pagar balkon rumahnya, menikmati angin malam yang kapan saja bisa membuatnya masuk angin dan flu.
Sesekali dia menghela napas panjang saat sang Ibu tak ada tanda-tanda akan pulang. Seperti biasa, bukan hal baru lagi.
Bosan menunggu, gadis itu berinisiatif turun ke lantai bawah dan mengambil sepedanya di garasi dan mengayuhnya keluar pagar.
"Dingin sekali," cicitnya sambil menarik lengan hoodie-nya agar lebih memanjang. Setelahnya dia kembali mengayuh sepeda, tanpa tujuan.
Sekitar tiga puluh meter Krystal mengayuh sepedanya, dia melihat ada anak anjing yang melintas di depannya. Anak anjing itu sempat berhenti melihatnya, sebelum kembali berlari hingga masuk ke sebuah semak-semak.
Krystal mengerjap beberapa saat, lalu memutar sepedanya untuk kembali ke rumah. Namun kakinya tak kunjung mengayuh sepeda, malah dia turun dan menyambangi tempat anak anjing itu masuk ke semak-semak.
Krystal tidak tau tindakannya benar atau tidak, yang pasti dia merasa ada tarikan dalam dirinya untuk membawanya ke balik semak-semak itu.