Bab 9 - Menjadi Teman?

1520 Words
Semak-semak yang terdiri dari tumbuhan-tumbuhan liar itu sedikit menyulitkan Krystal saat melewatinya. Untungnya dia tidak lupa membawa ponsel, sekarang dia gunakan untuk membantunya melihat jalan. Tidak ada hal lain yang dipikirkan oleh Krystal saat menuju suara anak anjing tadi—yang sekarang terdengar semakin menggonggong. Biasanya Krystal terlalu bodoh amat untuk memikirkan hal seperti ini, tapi kali ini dia bahkan rela melewati semak-semak meski dia tidak tau apa yang akan ditemuinya. "Ah, sh!t!" umpat Krystal saat celananya tersangkut kayu, untungnya keseimbangan tubuhnya cukup baik. "Kenapa aku melakukan ini?" gumam Krystal setelah sampai di tengah-tengah semak yang bahkan dia tidak ketahui ujungnya.  Gadis itu langsung mengarahkan senter ponselnya ke sekitarnya yang gelap, lalu menyorot ke arah suara anak anjing menggonggong, tidak terlihat apa pun selain tumbuhan liar. Krystal menimang-nimang sejenak, lalu melengos. "Aku penasaran, ck," decaknya dan kembali melanjutkan langkah. Sekitar lima menit berjalan susah payah melewati rumput dan tanaman liar, akhirnya Krystal sampai di sebuah tanah lapang yang sekelilingnya ditumbuhi tanaman liar hingga tak tampak ada lapangan di tengah-tengahnya. Sedangkan anjing yang dia lihat tadi tampak duduk dengan tenang sambil menjulurkan lidahnya. Dia menggonggong saat melihat Krystal, seolah menyambut kedatangannya.  Krystal terdiam dengan napas tak beraturan. Bahkan ponselnya hampir jatuh saat melihat sosok di samping anak anjing itu. Sosok itu tengah berjongkok—membelakangi posisi Krystal, tangannya sibuk mengelus pucuk kepala anak anjing itu yang merengek sambil menggoyang-goyangkan ekornya. "Hai, teman." Krystal mengerjap tak percaya mendengar suara orang itu. Sapaan itu jelas tidak ditujukan padanya. Namun melihat sosok itu membuatnya melengos sambil mengacak rambutnya asal. Apakah ini serius? ••••• Angin malam semakin berembus, meski begitu orang-orang tak memedulikannya, tetap melanglang di luar ruangan. Layaknya Jaehan, laki-laki yang setiap malamnya diisi dengan perburuan itu menikmati malamnya sambil melewati setiap sudut kota seraya mendengarkan segala kebisingan kota. Meski sebentar lagi tengah malam, Jaehan tak berniat pulang, dia tetap melangkah tanpa tujuan. Hingga sampai di detik—kala kakinya langsung berhenti melangkah dengan pandangan lurus ke depan. Ada sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang menjadi sasaran tugas yang diberikan oleh Pak Tua itu. Tanpa menundanya, Jaehan langsung melesat ke tempat itu. Sesampainya dia di sana, Jaehan langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, mencari sumber aura yang kentara tercium olehnya.  "Guk ... Guk ... Guk!" Pandangan Jaehan turun ke bawah, saat celananya bersentuhan dengan bulu dari pemilik gonggongan itu-—tengah menggesek-gesekkan tubuhnya. Jaehan lantas berjongkok dan mengelusnya. "Dia telah pergi," bisik Jaehan dan dibalas anak anjing itu dengan rengekan, ekornya dia goyang-goyangkan sambil menatap Jaehan yang tengah menerawang jauh. Jaehan dapat merasakan aura itu, terasa seperti pancingan untuk seseorang. Namun tampaknya perburuannya kali ini cukup menyulitkan dan menyebalkan, karena terbukti seberapa cepat dia menyadari kedatangan Jaehan, membuatnya langsung pergi, kentara identitasnya tak ingin diketahui meski jati diri mereka sama. "Pengecut," bisik Jaehan. Anak anjing itu langsung mundur dan menatap Jaehan takut. "Apa kau melihatnya?" tanya Jaehan sambil meraih anak anjing itu dan kembali mengelusnya. "Guk ... Guk ... Guk." Jaehan tak memedulikan gonggongan anak anjing itu lagi, dia lebih tertarik saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Tak ayal senyum miring langsung tercetak di bibirnya. "Hai teman." ••••• Krystal dapat mengenalinya. Dia Jaehan, anak baru di MSS. Laki-laki aneh yang Krystal pikir seorang otak pencopet. Merasa usahanya menghampiri anak anjing itu sia-sia, Krystal berinisiatif pergi dari sana sebelum laki-laki itu menyadari kehadirannya, meski banyak pertanyaan yang terlintas di kepalanya mengenai kehadiran laki-laki itu di mari. Saat Krystal berbalik dan mulai melangkah, dia terkesiap saat benda hangat melingkar di tubuhnya. Pandangannya langsung tertuju ke jaket yang baru saja menempel di punggungnya, lalu menoleh ke belakang—ke pelaku yang kembali berjongkok di sisi anak anjing itu. "Cuacanya dingin." Jaehan mengangkat kepalanya, menatap Krystal dengan pandangan tak tertarik. "Tubuhmu yang lemah itu bisa mati sebelum sampai di rumah," lanjutnya dan mengalihkan fokus sepenuhnya ke anak anjing itu. Krystal terpaku, yang dikatakan Jaehan ada benarnya. Bahkan hoodie-nya tak mampu menghalau rasa dingin yang menusuk kulit. Namun, apakah ini caranya untuk mengalihkan perhatian Krystal? Karena keberadaannya di sini sangat aneh, atau dia berniat melakukan tindakan kriminal? "Aku tidak butuh jaketmu." Krystal melempar jaket itu ke samping Jaehan. "Apa lagi dari seorang kriminal," lanjutnya dan bersiap melanjutkan langkah. "Kriminal ya?" Jaehan terkekeh. "Kamu ada benarnya. Tapi aku tidak menyangka bahwa kapasitas otakmu sekecil itu, bahkan jika aku kriminal sekali pun, kau orang pertama yang akan mati."  Krystal bergeming dengan wajah pias.  "Lalu apa yang kau lakukan ke sini huh? Kurasa tidak sembarang orang dapat masuk ke kompleks kami." Krystal tersenyum remeh, kembali mendapatkan keberaniannya yang sempat menciut. "Kecuali kau berniat melakukan kriminal." Jaehan langsung berdiri, menepuk-nepuk jaketnya dari sampah menempel, lalu menatap Krystal dengan raut serius. "Kenapa kau terus berpikir jika aku pelaku kriminal?"  Krystal mengangkat bahu acuh. "Karena kau melihatku di lorong kumuh itu." Jaehan menyimpulkan meski sudah mengetahui jawabannya. "Lalu di sini ... kau mengikutiku?" sentak Krystal. "Aku tidak memiliki banyak waktu luang hanya untuk mengikuti gadis  sepertimu ...." Pandangan Jaehan menyusuri tubuh Krystal, lalu menatap tepat di bola matanya. "Kau bukan tipeku, gadis kecil." "Gadis kecil?" Bola mata Krystal membola sempurna. "Sia*lan, laki-laki tua!" umpatnya.  "Cih." Jaehan terkekeh setelahnya, merasa takdir tengah mempermainkan mereka yang kembali bertemu dalam situasi yang sangat tidak terbaca. "Pakai ini! Sebelum tubuhmu membeku," ucapnya sambil melempar jaketnya ke wajah Krystal. Meski mengumpat karena jaket itu mengenai wajahnya dan itu sedikit menyakitkan, Krystal tetap menuruti ucapan laki-laki itu dan mengekorinya saat keluar dari semak-semak, diikuti oleh anak anjing itu yang terus merengek.  "Jadi, sedang apa di sini?" tanya Jaehan saat mereka telah keluar dan berhenti di bawah pohon salah satu rumah.  Krystal menatap ke belakang, sebelum menjawab pertanyaan Jaehan. "Dia terus menggonggong," ucapnya sambil menunjuk anak anjing yang menempel pada Jaehan. "Selain itu?" pancing Jaehan. Pasalnya dia tau bahwa anak anjing itu melihat sesuatu. Tidak menutup kemungkinan Krystal pun demikian. "Entahlah. Lagi pula apakah itu penting bagimu? Ah, atau jangan-jangan sebenarnya kaulah yang tengah diciduk oleh anjing ini?" Angin malam yang berembus sama sekali tak mampu meredakan aura panas di sekitar mereka. Rasa-rasanya Krystal ingin mencekik Jaehan saat laki-laki itu terkekeh alih-alih menampik ucapannya. "Kita baru saling mengenal dan interaksi kita sangat sedikit, tapi kenapa aku merasa kau sangat membenciku?" tanya Jaehan sambil bersidekap d**a. "Bahkan kau terus memekik saat berbicara denganku." Krystal diam membenarkan, semua yang dikatakan Jaehan ada benarnya. Rasa-rasanya dia selalu kesal sejak mengenal Jaehan, terlebih cara laki-laki itu memperlakukannya dengan santai, seolah mereka telah berteman lama. Hingga pada akhirnya mereka duduk di atas rumput beralaskan sepatu masing-masing sambil menatap hamparan langit yang terpampang luas.  "Kau tidak berniat pulang?" tanya Jaehan memecah hening. Krystal menoleh sekilas, lalu menggeleng. Tempat mereka duduk ini tidak jauh dari jalanan masuk, tapi sedari tadi dia tidak melihat mobil ibunya lewat, atau ibunya telah pulang saat dia di balik semak-semak tadi? Entahlah. Walaupun cuacanya dingin, tapi cukup menyenangkan duduk di sini. "Jadi sebenarnya kau sedang apa di sini?" tanya Krystal. Pandangannya sempat terpaku pada kaos tipis Jaehan, laki-laki itu terlihat tidak kedinginan sedikit pun. Jaehan menatap Krystal dengan senyum miring. "Hanya sekadar lewat, setelah bersenang-senang dengan teman wanita tentunya," ucapnya sambil m******t bibir bawahnya, membuat otak Krystal berpikir aneh pada Jaehan.  Krystal langsung menatap jaket Jaehan di tubuhnya. Apakah jaket ini bekas atau juga pernah melingkar di tubuh wanita-wanita Jaehan? Memikirkannya membuat Krystal mengernyit jijik. "Jaket itu baru kubeli dan kau gadis pertama yang menggunakannya," celetuk Jaehan, membaca raut geli Krystal saat melihat jaketnya. Tanpa safart Krystal menghela napas lega. "Bagaimana rasanya menjadi anak sekolah?" Krystal mengernyit heran, kenapa hal itu perlu dipertanyakan lagi saat Jaehan pun statusnya pelajar? Namun alih-alih menyangkal, Krystal memilih untuk menjawabnya, hitung-hitung melakukan sesi curhat pada orang yang dianggap kriminal. "Membosankan." "Karena?" Krystal berdecak. "Tidak ada yang menarik di sekolah." Jaehan mengulum senyum, hapal tipikal anak sekolah inferior dan hanya melakukan kewajibannya sebagai pelajar, tidak lebih. "Ingin melakukan hal-hal menantang di sekolah, bersamaku?" Jaehan menatap Krystal dengan bibir yang masih mengulum senyum. Melihat kernyitan aneh Krystal, Jaehan sadar jika gadis ini sulit untuk dijadikan 'umpan'. "Selain kriminal, kau juga breng*sek, ya?" ketus Krystal, mengartikan ke arah lain penawaran Jaehan yang memang terdengar ambigu. Alih-alih meralat pemahaman gadis ini, Jaehan malah mengangguk sambil tersenyum miring. "Mau ikut denganku?" "Di mimpimu!" "Pasti akan menjadi mimpi indah," balas Jaehan sambil terkekeh. Krystal berdecak kesal sambil mengeratkan jaket Jaehan di tubuhnya. Angin malam benar-benar menguji nyalinya. Tapi rasanya dia terlalu malas untuk pulang. Hening menyelimuti mereka. Hanya suara anak anjing itu yang merengek sambil menggosok-gosokkan tubuhnya di sisi Jaehan, tak jarang dia menghampiri Krystal lalu mundur takut melihat respon tak bersahabat gadis itu. Suara jangkrik dan makhluk-makhluk nokturnal juga menemani mereka yang dilanda kesunyian. "Dibanding terus bersitegang, kenapa kita tak menjadi teman saja?" Jaehan membuka suara. Krystal menatap Jaehan tanpa ragu lalu menghela napas panjang. "Aku duduk di sini bukan berarti memiliki ketertarikan denganmu, jadi jangan mengharapkan lebih." Jaehan mendecih, tipikal gadis yang sulit ditangguhkan.  "Sudah larut. Aku akan pulang."  "Aku antar."  Gerakan Krystal melepas jaket Jaehan langsung terhenti, dia langsung menatap Jaehan dengan alis terangkat. Krystal rasa mereka tidak sedekat itu. "Kurasa itu sia-sia jika niatmu untuk mendekatiku." Detik itu juga tawa Jaehan menyembur tanpa ditahan-tahan. "Percaya diri sekali," ucapnya dan mendahului Krystal yang bersungut-sungut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD