Bab 11 - Kecurigaan Krystal

1549 Words
"Kau ingin pergi begitu saja?" tanya Kaezn, mencegah Jaehan yang ingin melesat cepat ke lokasi yang dia curigai tempat siswi yang hilang itu berada. "Ya, lalu bagaimana lagi?" "Gunakan mobilmu." Jaehan mengembuskan napas lelah. "Jika menggunakan mobil maka membutuhkan waktu lebih lama lagi. Aku harus segera sampai ke sana dan menyelesaikan buruan ini secepatnya," tegas Jaehan meski sebenarnya dia tidak peduli dengan nasib siswi yang hilang itu. Kaezn menunjuk tempat cctv berada, Jaehan mengikuti arah pandang laki-laki itu lalu menghela napas. "Kita tidak bisa bergerak seperti biasa lagi. Ada banyak mata yang siap menguliti kita." Kaezn lantas membukakan Jaehan pintu mobil yang dibalas laki-laki itu dengan desisan kesal. "Padahal aku bisa menghanguskan cctv itu seenaknya," kata Jaehan. Namun langsung terdiam saat melihat keberadaan Krystal, tersadar jika kekuatannya tindak mempan untuk gadis itu itu, maka tidak menutup kemungkinan dia akan melihatnya. "Menyebalkan!" geram Jaehan, lalu membanting pintu mobilnya dan meninggalkan Kaezn yang bersiap untuk mengikuti Jaehan. Di tempat lain, Krystal tengah terburu-buru menyetop taksi untuk membawanya ke suatu tempat—tempat yang dia curigai, karena sepupunya sempat menyebutkan alamat tersebut, yakni rumah calon kekasihnya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jaehan untuk sampai ke lokasi tersebut. Sesampai di sana, dia lantas menggulung lengan kemejanya seraya melonggarkan dasi. Rumah bernuansa putih itu terlihat sepi, di sekitarnya pun tak ada tanda-tanda kehidupan. Jaehan melangkah santai seraya menatap kiri kanan yang tidak terlihat keberadaan rumah lain selain rumah itu. Sesaat Jaehan menjeda langkahnya kala melihat setetes darah. Dia langsung berjongkok dan menyentuh darah itu seraya mengendusnya. "Menyedihkan," gumam Jaehan yang ditujukan pada seseorang. Pintu utama langsung terbuka dengan sendirinya saat jarak Jaehan sekitar satu meter dari daun pintu, tentu sangat membantu Jaehan yang enggan mengotori tangannya. Seperti biasa, pelaku yang memang telah mengetahui dan mengenal Jaehan, pasti langsung menghilang tanpa jejak, hanya meninggalkan korbannya sendirian yang tentunya telah kehilangan ingatan. Jaehan menyebutnya pengecut bodoh. "Pasti akan sangat merepotkan," keluh Jaehan saat melihat keberadaan seorang gadis yang bersandar di pilar, kentara tak berdaya. "Aku membenci melakukan hal ini, jadi berterima kasihlah pada hukumanku yang mengharuskanku menyentuh kulit kalian," geram Jaehan meski gadis itu tak akan merespon. Usai menggendong gadis itu ala bridal style, Jaehan lantas menuju pintu utama tanpa repot-repot untuk mencari tau lebih lanjut pelakunya. Karena dipastikan si pelaku tidak berbeda jauh dengannya, hanya berbeda tabiat dan tujuan saja. Tentunya Jaehan ingin mengetahui lebih jauh, meski dia pikir ini ada kaitannya dengan Krystal. Saat pintu utama terbuka, Jaehan hampir menjatuhkan gadis di gendongannya saat Krystal berdiri tepat di hadapannya sambil menyorotnya dengan ekspresi terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?" decak Jaehan. "Minggir! Kau menghalangi jalanku." Karena gadis itu tak kunjung minggir, maka Jaehan mengalah dan menabrak bahu gadis itu sebagai bentuk kekesalannya. Alih-alih menurut karena melihat sepupunya tak sadarkan diri, Krystal malah berlari dan menghadang Jaehan yang ingin membawa gadis di gendongannya masuk ke mobil. "Katakan, sebenarnya apa yang terjadi di dalam rumah itu? Apa hubunganmu dengan sepupuku? Dan kenapa dia bisa bersamamu?" tanya Krystal dengan satu tarikan napas. Jaehan menengadahkan kepalanya sambil mengigit bibir bawah, menahan kesal dan geram atas kelakuan Krystal. Maka demi memutus perkara tak penting ini, Jaehan memilih menurunkan hujan hingga gadis itu menyingkir untuk menyelamatkan dirinya. Setelah mendudukkan gadis bernama Lais itu di kursi belakang, Jaehan melangkah ke arah Krystal yang tengah berteduh di bawah pohon, kemudian menariknya secara paksa untuk masuk ke mobil. "Setelah menculik sepupuku, sekarang kau mau menculikku, huh?" ketus Krystal. "Bahkan kau sama sekali tidak menarik untuk diculik," balas Jaehan dengan nada datar. Jaehan tidak tau bagaimana Krystal bisa sampai ke mari terlebih melihatnya membawa Lais. Jaehan tidak terlalu mengenalnya, namun dipastikan ada banyak pertanyaan di kepala gadis itu yang siap dilayangkan dan Jaehan muak untuk menghadapinya. Buang-buang waktu, sungguh. "Pakai!" titah Jaehan sambil menyodorkan handuk ke arah Krystal. "Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Krystal sambil mengelap rambutnya. "Apa pun jawabanku, kau tetap percaya dengan apa yang kau pikirkan itu," balas Jaehan dengan nada rendah. Krystal mengangguk membenarkan. "Cukup aneh. Apakah ini ada kaitannya dengan statusmu sebagai kriminal?" Sudut bibir Jaehan berkedut. Sudah dia duga jika Krystal akan berpikir demikian. Maka demi menyudahi pembicaraan tak berbobot ini, Jaehan mengangguk saja seraya tersenyum simpul. "Tidak sulit untukku mendapat informasi tentang gadis yang hilang karena diculik." Krystal menatap Jaehan beberapa saat, lalu berucap, "Tapi dia tidak diculik ... dia mengikuti pacarnya." Jaehan tersenyum simpul. Sekali pandang pun gadis itu tampak baru saja diculik dan disekap. Tujuannya pun Jaehan belum mengetahuinya secara pasti selain untuk menyedot energi gadis itu demi keberlangsungan hidup si pelaku alias Gumiho. Sebenarnya ini bukan rahasia umum lagi di kalangan Gumiho mengenai menggaet manusia dengan cara mendekatinya seolah-olah sedang tertarik bahkan jatuh cinta, meski hanya akting semata demi mendapatkan yang diinginkan dari tubuh manusia. Pada dasarnya Gumiho tetaplah Gumiho, memiliki paras menarik, tapi bertabiat licik dan penuh tipu muslihat. "Ngomong-ngomong, jika aku tidak ada, Lais akan kau bawa ke mana?" tanya Krystal. "Ke rumahnya. Lalu ke mana lagi?" "Kau anak baru di MSS, tentu tidak semudah itu untuk mengetahui alamat penghuninya. Kecuali ...." Krystal memicing, menatap Jaehan penuh kecurigaan. " .... Kecuali kau memang merencanakan semua ini dan mencari tau seluk-beluk targetmu yang selanjutnya, dan yahh, ini hanya bermain peran belaka." Sekali lagi Jaehan dibuat terpukau dengan cara berpikir Krystal tentang dirinya yang terlalu lucu dan unik, tapi terdengar bodoh baginya. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Jaehan sambil menatap Krystal bertepatan dengan lampu merah. "Di mana kau mengetahui alamat sepupuku?" "Aku tidak tau di mana alamat sepupumu." Itu bohong. Seperti yang telah disebutkan, tabiat bawaan Gumiho selain licik dan penuh muslihat, Gumiho juga pandai bermain kata dan berkelit alias berbohong. Sekali pandang, Jaehan tau asal dan setiap sudut tempat tinggal sepupu Krystal. Kening Krystal berkedut, tapi tidak berlangsung lama saat perhatiannya teralihkan ketika mobil Jaehan melewati jalan menuju rumahnya. "Kalau pun aku harus mengantar Lais ke rumahnya, itu bukanlah hal sulit. Aku hanya perlu menghubungi Zei." Senyum miring terbit di bibir Jaehan kala Krystal mendengkus. Pandangan gadis itu tentang dirinya dan Zei sudah terbentuk buruk, maka sekalian saja. "Up to you. Tapi kenapa kau membawanya ke rumahku?" tanya Krystal saat mobil Jaehan telah memasuki pekarangan rumahnya. Sekali lagi Jaehan menyinggungkan senyum natural. "Dia sepupumu dan aku tidak mau repot-repot menampungnya di rumahku, atau mungkin lebih baik dia kuturunkan di pinggir jalan?" Krystal terdiam beberapa saat, lalu langsung keluar dan memapah Lais yang setengah sadar. Mulut gadis itu terus bergumam tidak jelas, seperti tengah menyebut nama seseorang. "Aku tidak akan berterima kasih padamu. Selain itu kau memiliki hutang penjelasan padaku, tentang semua yang terjadi hari ini," jelas Krystal di jendela mobil Jaehan, kemudian melangkah masuk. Untuk pertama kalinya di hidup Jaehan— selama menjalani masa hukuman dan perburuan, baru kali ini dia merasa tengah dipermainkan. ***** "Harus berapa kali aku bilang, aku tidak ingat apa pun!" decak Lais sambil menopang dagu di meja makan seraya mengaduk-aduk serealnya. "Sedikit pun?" tanya Krystal lagi. Lais diam sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kurasa beberapa hari ini aku berkenalan dengan cowok, masih anak MSS, tapi aku lupa dia siapa," keluh Lais. Krystal ikut memijit pelipisnya. Meski telah bersikap bodoh amat semalaman hingga pagi hari, tapi tetap saja dia penasaran, minus tentang Jaehan yang belum disinggung Lais atau mungkin gadis itu tidak mengetahuinya. "Ada sedikit kenangan yang aku ingat, semuanya manis dan menyenangkan." Lais tersenyum lebar. "Tapi aku lupa sebab-akibatnya, juga alasan kenapa aku bisa merasakan hal itu." "Pasti berhubungan dengan siswa MSS yang kau kenal itu," tebak Krystal. Lais menatap sepupunya dengan pandangan mencemooh. Beberapa saat kemudian dia mengecek ponselnya, mencari petunjuk, namun hasilnya nihil. Tak ada riwayat telpon atau pesan dari seseorang yang ... entahlah, Lais merasa beberapa hari ini dia selalu mengecek ponselnya dan membalas pesan seseorang. Tapi siapa? Apakah dia tengah bermimpi? "Ngomong-ngomong, jangan beritahu Nenek soal ini. Katakan saja aku habis liburan dengan teman-temanku," peringat Lais. Krystal mengedikkan bahu tak peduli. Toh tidak ada gunanya dia mengadu, meski dia kerap menjadi orang yang diadukan. "Kau bilang, aku ditemukan tak sadarkan diri di sebuah rumah. Bagaimana kau bisa tau rumah itu dan menemukanku di sana?" "Kau pernah menyebut alamat itu saat meminjam ponselku untuk memesan taksi," kata Krystal. Lais mengerutkan kening. "Kurasa aku tak pernah meminjam ponselmu untuk memesan taksi," ledeknya. Giliran Krystal yang terdiam dan menyorot sepupunya tanpa minat. Kini gadis itu terlihat tak mengingat apa pun selain ingatan bayang-bayang yang dia sendiri pun tidak yakin. Hal ini membuat Krystal penasaran dan bertanya-tanya, apakah hal tersebut ada kaitannya dengan Jaehan? Bahkan kehadiran Jaehan di rumah itu pun mengherankan. "Lais." "Hem." "Kau kenal anak baru di MSS? Yang kedatangannya sempat mencuri perhatian." "Jaehan. Laki-laki tampan itu, ya." Lais mengulum senyum. "Kau tertarik dengannya? Ayolah Krys, silakan bercermin," ucapnya sambil menggeleng dengan raut tak percaya. "Kenapa diam saja? Kau tersinggung?" "Kau pernah berhubungan dengannya?" tanya Krystal mengabaikan pertanyaan sampah Lais. Lais menengadahkan kepalanya dengan ekspresi dongkol. "Serius kau tertarik dengannya, Krys? Ah, atau gara-gara dia menggendongmu pas jatuh di tangga? Oh ayolah, jangan menambah sakit hatimu, cukup ayahmu saja yang ...." Lais langsung merapatkan bibirnya sambil mengerjap polos kala Krystal menatapnya tajam. "Ups, aku sengaja." "Tidak ada kaitannya denganku." "Lalu?" "Sebenarnya dia yang menemukanmu membawamu dari rumah itu, dia pula yang mengantarmu ke mari!" jelas Krystal. Usai mendengar penuturan Krystal, Lais langsung bungkam seribu bahasa. "Aku harus menemuinya," tekad Lais dengan wajah memerah. Di sisi lain, perhatian Krystal teralihkan saat sebuah pesan masuk di ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD