Sekali lagi, Krystal mengecek pesan yang dikirim ibunya, merasa jika alamatnya sesuai, Krystal pun langsung menuju ke sebuah villa yang terletak sebelah kiri. Sepanjang jalan menuju villa itu terdapat pohon-pohon berukuran sedang di setiap pinggirnya. Di sisi lain, ada sebuah bangunan villa yang menarik perhatian Krystal. Villa itu memiliki desain modern dengan arsitektur tradisional, terlihat sesuai karena pemilihan pemandangan alam yang indah dan menyejukkan, menyatu dengan suasana kolam renang serta taman yang tertata rapi.
"Krystal pakai apa ke sini?" tanya ibu sambil menghapus keringat yang menetes di dahi putrinya.
"Taksi," jawab Krystal sambil menyodorkan barang titipan ibu.
"Ibu pasti ngerepotin dan ganggu hari libur kamu, ya," ringis Ibu dengan raut bersalah sambil merapikan anak rambut Krystal.
Sejujurnya iya. Tapi Krystal sama sekali tak keberatan.
Gadis itu menggeleng pelan.
"Maaf, ya, mama nggak pulang-pulang dari kemarin." Wanita cantik yang telah dimakan usia itu menoleh ke arah villa, lalu berujar, "Inti acaranya nanti malam, jadi kemungkinan besok pagi Ibu sudah bisa pulang."
"Lais ada di rumahkan?" tanya Ibu.
"Lais ngasih tau Ibu?" tebak Krystal dan dibalas anggukan disertai seulas senyum tipis.
"Lais chat Ibu, dia kasian lihat kamu sendirian di rumah, jadi dia menggagalkan acara liburannya dan pulang dari sana demi menemani kamu di rumah," jelas Ibu, dari bicaranya terselip nada bangga.
Lain halnya dengan Krystal. Gadis itu menahan diri agar tidak mendengkus di depan Ibu, bagaimana pun juga dia sangat menjunjung tinggi sopan-santun pada ibunya.
"Dia perhatian sama kamu, jadi bisa, ya, jangan terlalu dingin ke Lais?" pinta Ibu. "Dia baik, Krys."
"Iya ...." Ada jeda beberapa saat. "Dia baik."
Tidak. Dia menjengkelkan dan pencari perhatian, batin Krystal.
Mengenai Lais berbohong tentang keberadaannya di rumah Krystal, alih-alih menjelaskan yang sebenarnya, Krystal malah memilih diam dan mengiyakan saja demi terhindar dari masalah yang lebih pelik. Lagi pula Ibu tidak akan percaya jika Krystal mengatakan bahwa keponakannya itu berbohong.
"Oke, sekarang Krystal mau kemana? Mau masuk dulu, tidak? Di dalam ada teman-teman Ibu. Nanti Krystal bisa kenalan sama mereka."
Krystal menggeleng dan menarik tangannya dari genggaman sang Ibu. Jika dia masuk, Krystal akan kesulitan keluar karena dia harus meladeni curhatan, omong kosong, dan semua huru-hara para wanita karir kesepian itu.
"Lais sendirian di rumah, Bu."
Mendengarnya, Ibu langsung mengangguk paham. Usai berbasa-basi sejenak, Krystal izin pulang dari sana, tentunya dia melewati villa yang sedari tadi menarik perhatiannya. Jalan menuju area villa itu tidak berbeda jauh dengan yang tadi, hanya saja yang satu ini dikelilingi oleh bunga mawar hitam.
Saat asik memandangi villa itu usai memesan taksi online, Krystal tidak sadar jika di belakangnya ada orang yang tengah berjuang menaiki sepeda.
Krystal baru sadar kala orang itu terjerembab dan mengaduh kesakitan.
"Baru kali ini, ya, kau melihat orang jatuh?" kekehnya.
Dia laki-laki aneh, pikir Krystal. Membuatnya ingin meninggalkan laki-laki itu dan cepat-cepat pergi dari sini.
"Tunggu-tunggu ... oke, aku minta tolong."
Langkah Krystal Langsung terjeda.
"Bisa bantu aku berdiri? Maksudku, bantu aku berjalan sampai sana," ucapnya sambil menunjuk villa berdesain modern-tradisional itu.
Pandangan Krystal mengarah pada lutut laki-laki itu yang berdarah karena bertubrukan dengan tekstur aspal kasar. Laki-laki itu juga memegang pergelangan kakinya seraya meringis sakit.
Kemudian Krystal beralih ke villa itu, sepertinya bukan ide yang buruk.
Tanpa banyak bicara, Krystal membantu laki-laki gondrong itu—memapahnya dan meninggalkan sepedanya begitu saja.
"Siapa namamu?" tanya laki-laki itu sambil mengalungkan tangannya di pundak Krystal, sedang tangan satunya memegang lengan Krystal.
Karena perbedaan tinggi dan ukuran tubuh mereka, tampak Krystal yang tengah dipapah. Tapi masa bodohlah. Krystal pun tidak tau kenapa dia mau-mau saja membantu orang asing ini.
"Kau tinggal dengan siapa di villa ini?" tanya Krystal, mengabaikan pertanyaan laki-laki itu.
"Namaku Edgar. Terimakasih, ya." Edgar tersenyum lebar, pun mengabaikan pertanyaan Krystal.
Krystal mengangguk dan kembali menatap luka laki-laki itu yang darahnya tampak mengering.
Menyadari arah pandang Krystal, Edgar langsung berdeham sambil membuka pintu dengan kaki pincang.
"Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau menjadi tamuku," ucap Edgar sambil tersenyum simpul.
********
"Sepertinya aku harus mencari villa baru," gumam Jaehan sambil duduk di hadapan Kaezn, kemudian meneguk minuman alkohol di tangannya.
Kaezn mengerutkan kening. "Lagi?"
Jaehan mengangguk dengan santai.
"Tetangga kita terlalu berisik," kata Jaehan.
Kaezn langsung melangkah ke dekat jendela dan menatap villa tetangga yang dimaksud Jaehan. Cukup jauh.
Saat ingin berbalik, dia mendengar suara Edgar yang tengah berbicara dengan perempuan. Membuat Kaezn langsung melangkah cepat ke arah Jaehan.
"Edgar membawa pacarnya kemari."
Jaehan langsung menegakkan tubuhnya. "Lagi?" desisnya. "Anak itu benar-benar tidak menyerah, ya, setelah merusak mobilku!"
Suara Edgar semakin dekat, Jaehan langsung berdiri dan bersiap untuk ke belakang, sangat tidak tertarik dengan wanita-wanita Gumiho muda itu.
"Kau tidak pincang lagi, ya ...."
Akan tetapi, Jaehan langsung memutar tubuhnya saat mendengar suara yang dikenalinya itu, pun ketika pandangan mereka bertemu, Jaehan semakin yakin jika Edgar melakukan kesalahan lagi.
Di sisi lain, Edgar langsung meringis sakit penuh kebohongan sambil tertatih dibantu oleh Kaezn.
"Kenapa berdiri saja? Silakan duduk Krystal," ujar Edgar.
"Kau tau namaku?"
Edgar gelagapan sambil menatap Jaehan dan Kaezn bergantian, lalu tersenyum senatural mungkin. "Tadi kau ada menyebut namamu, kok."
"Seingatku tidak ada," balas Krystal.
Sebenarnya Krystal sama terkejutnya dengan Jaehan. Kenapa di antara banyaknya tempat, dia harus bertemu dengan laki-laki itu? Lalu siapa dua laki-laki tampan ini?
"Tempat liburan yang bagus," puji Krystal usai mendaratkan bokongnya di sofa samping Edgar.
Edgar mengangguk membenarkan. "Tapi di sini kami tidak liburan."
Krystal menoleh.
"Ini rumah, maksudku tempat tinggal kami, dan dia pemiliknya," ucap Edgar seraya menunjuk Jaehan yang berdiri di dekat jendela, membelakangi mereka.
Satu hal terlintas di kepala Krystal, apakah villa semewah ini hasil dari tindakan kriminal Jaehan?