Bab 22 - Kotak titipan Lais

1548 Words
Hari ini Krystal masuk sekolah seperti biasanya. Kejadian kemarin di villa pun tak lagi dia ungkit meski masih penasaran. Hanya Giiz yang pernah bertanya mengenai Jaehan yang menggendong Krystal tempo lalu, saat Krystal tampak tak baik-baik saja. Krystal terpaksa berbohong. Dia mengatakan bahwa dirinya tiba-tiba lemas dan hampir pingsan, untungnya ada Jaehan menolongnya waktu itu. Giiz pun tak bertanya lebih lanjut. "Krys, ayo ke kantin. Aku mau makan roti bakar lapis," kata Giiz sambil mengelus perutnya. Krystal menggeleng dengan raut tak enak. "Kau pergi sendiri saja, ya, Giiz. Aku ada kegiatan sebentar. "Sejak kapan sih kau jadi sok sibuk begini, Krys?" decak Giiz. Dia mengalungkan tangannya di bahu Krystal. "Ayo ke kantin! Tidak ada yang lebih penting dari pada mengisi perut," katanya. "Oke-oke. Nanti aku akan menyusul," kata Krystal sambil melepaskan diri dari kungkungan Giiz. "Sebenarnya kau mau ke mana? Ayo aku temani." Krystal menggeleng. "Hanya sebentar. Aku duluan Giiz. Nanti aku akan menyusulmu," kata Krystal sambil berlari keluar sebelum Giiz bertanya lebih lanjut. Sepanjang koridor, Krystal berusaha agar Jaehan tidak melihat keberadaannya. Dia melangkah hati-hati di antara ramainya siswa-siswi yang berlalu lalang. Hingga sampailah Krystal di tempat tujuannya, yaitu belakang sekolah. Krystal mengecek setiap sudut belakang sekolah yang dikelilingi tembok tinggi. Tak ada yang mencurigakan. Pasalnya Jaehan pernah melarangnya ke mari, Krystal pikir ada alasan tertentu kenapa Jaehan melarangnya ke tempat ini. Di tempat lain. Seorang laki-laki tengah duduk santai di sebuah kursi sambil menaikkan ke dua kakinya di atas meja. Tangannya sibuk memainkan pulpen dengan pandangan menyorot ke layar komputer. "Sampai kapan kau mau menyimak gadis itu huh?" tanya Zei sambil bersidekap d**a. Dia kesal karena Jaehan tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa permisi dan duduk seenaknya di kursi kesayangannya ini. "Kau punya mata," kata Jaehan tanpa menatap lawan bicaranya. Zei memutar bola mata malas. "Cepatlah keluar sebelum ada yang curiga," tegas Zei sambil merebut pulpennya dari tangan Jaehan. Bukannya melepasnya, Jaehan malah mengeratkan genggamannya pada pulpen itu, kulit tangannya dan kulit tangan Zei saling bersentuhan. Ke duanya tak ada yang ingin mengalah. Bola mata mereka saling bertubrukan, seolah tengah menembus iris masing-masing. "Sejak kapan kau jadi takut dengan spekulasi Manusia?" ucap Jaehan usai melepas pulpen itu. Zei menarik diri sambil bersandar di mejanya, tepat samping Jaehan. Ke dua tangannya dia lipat depan d**a. "Saat aku sadar bahwa aku akan terus hidup berdampingan dengan manusia." "Kau memiliki keinginan untuk menjadi manusia." Jaehan menyimpulkan sambil tersenyum miris. Zei menoleh dengan raut tak terima. Meski begitu dia tak menampik ucapan Jaehan. "Tidak semudah itu." Zei menoleh. "Kau sangat ahli dalam hal ini," ucapnya. Ada nada mengejek yang terselip dari ucapannya. Jaehan bergeming dengan pandangan ke layar komputer yang terhubung dengan cctv yang telah dipasang Zei, sesuai dengan permintaannya. Di sana menampakkan sosok Krystal yang melangkah di setiap sudut area belakang sekolah. Entah apa yang tengah dicari gadis itu. "Masih tentang gadis itu ternyata," sinis Zei. Jaehan terkekeh. "Aku tidak menyangka wanita sentimental sepertimu bisa menjadi guru." "Percayalah, dia tidak ada istimewanya sama sekali. Dia hanya manusia lemah dan tak bisa kau manfaatkan," kata Zei. "Kau cemburu?" goda Jaehan. Zei mendelik sinis. "Aku hanya mengingatkanmu agar kejadian di masa lalu tak terulang kembali. Jangan salah paham Jaehan, aku tidak peduli padamu, tapi aku peduli dengan gadis itu. Bayangkan jika dia jatuh dalam perangkapmu ...." Zei menyunggingkan senyum tipis. "Dia akan berakhir." "Seharusnya kau menyimpan kalimat itu untuk dirimu sendiri," kata Jaehan tanpa emosi berarti. "Percuma, hatiku telah beku," kata Zei santai. Jaehan lantas mengulum senyum sambil menarik lengan Zei agar menghadap ke arahnya. "Benarkah?" tanyanya. Zei melepas genggaman Jaehan sambil berdeham pelan. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau punya banyak tugas yang harus diselesaikan, termasuk keinginan tahuan gadis itu," ujar Zei sambil mengedikkan dagu ke arah komputer yang menampakkan Krystal. Gadis itu tengah duduk bersandar sambil menutup matanya menggunakan lengan. "Dia tertidur?" gumam Jaehan. "Kau peduli?" tanya Zei. Jaehan diam. Tak memiliki jawaban yang berarti. Dia tak mampu memikirkan hal lain mengenai Krystal. Dibanding peduli, mungkin Jaehan hanya penasaran dengan gadis itu. Tidak lebih. "Cukup lakukan hukumanmu dengan baik Jaehan," ujar Zei sambil menepuk pundak Jaehan, lalu melangkah keluar. Dia butuh udara segar dan minuman hangat. Di tempat lain, Krystal mengembuskan napas  lelah. Dia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ya walaupun tempat ini terlihat lebih tertata rapi. "Oh, jadi ini alasan kenapa kau menolak ajakanku?" Krystal langsung menoleh ke sumber suara. Bahunya terkulai begitu saja saat melihat siapa yang datang. "Terciduk kau," kata Giiz sambil menyipitkan mata. "Kau mengikutiku, ya," ujar Krystal sedikit jengkel. "Tentu. Kau sangat mencurigakan. Biasanya kau paling malas ke mana-mana selain ke kantin, perpustakaan, atau ke belakang sekolah. Dan lihat, ternyata tingkah anehmu itu hanya karena ingin ke tempat ini. Apa bagusnya sih?" ujar Giiz sambil mengedarkan pandangannya. Giiz pernah beberapa kali ke tempat ini saat dia enggan mengikuti pelajaran bersama Krystal, tapi itu sudah lama. "Ya sudah, ayo ke kantin," ujar Krystal sambil merangkul Giiz. "Eum, Giiz, sejak kapan ada cctv?" tanya Giiz sudut matanya tak sengaja menangkap keberadaan kamera itu. Krystal mengikuti arah pandang Giiz. Ekspresinya berubah datar saat mendapati benda kecil itu. ********** Ke dua gadis itu melangkah santai menuju kelasnya usia mengisi perut di kantin. Mereka bercerita banyak hal, membicarakan orang lain misal, tentu hal ini Giiz lah yang lebih mendominasi. Krystal hanya berperan sebagai pendengar dan merespon seperlunya. Inilah yang kadang membuat Krystal bertanya-tanya, kenapa mereka bisa menjadi teman dekat, sedangkan jika dilihat mereka memiliki kepribadian yang bertolak belakang. "Krystal!" Krystal yang dipanggil, tapi Giiz yang langsung menoleh. Mereka mendapati seorang gadis berpita hitam di kepalanya. "Apakah kalian melihat Jaehan?" tanyanya. "Ayo ke kelas," ajak Giiz sambil menarik Krystal. "Pergi sana hush. Aku mau bicara dengan Krystal," kata Lais. Giiz mencebikkan bibir. Tak urung dia tetap berdiri di samping Krystal sambil menguap lebar. "Tolong berikan ini pada Jaehan," kata Lais sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna silver. Giiz memiringkan tubuhnya, penasaran dengan benda itu. "Ini apa?" tanya Giiz. Lais mendelik. "Bukan urusanmu kok." Giiz menggeram. "Pokoknya kau harus memberikan ini pada Jaehan tanpa cacat sedikit pun!" "Kalau begitu berikan saja sendiri. Kenapa harus Krystal," sungut Giiz. "Kalau aku bisa menemukan keberadaan Jaehan, aku tidak mungkin meminta Jaehan untuk memberikannya," balas Lais dengan nada dongkol. "Kalau begitu, tunggu saja sampai kau menemukan keberadaan Jaehan," timpal Giiz lagi. Spontan, Lais mengangkat tangannya, sepertinya ingin mencakar Giiz. Sedangkan Giiz dengan sengaja menantang seraya memajukan dadanya. "Aku sibuk!" rutuk Lais. "Kau bisa memberikannya sendiri," kata Krystal sambil menyodorkan kotak itu. Lais langsung menggeleng kuat. "Kau harus memberikannya, Krys. Aku membuatnya penuh perjuangan. Jadi tolong berikan dengan Jaehan, ya. Oke bye!" ucapnya sambil berlari begitu saja. Giiz mendengkus. "Kekesalanku dengannya semakin bertambah!" rutuk Giiz. Krystal menggoyang-goyangkan kotak berukuran sedang itu. Bagaimana caranya dia memberikan kotak ini pada Jaehan di saat dia enggan bertemu dengan laki-laki itu. Pasalnya Krystal masih canggung kala mengingat kejadian kemarin di bawah derasnya hujan saat Jaehan tiba-tiba memeluknya tanpa sebab. Untung saat itu Krystal cepat tersadar dan mendorong Jaehan agar menjauh. "Giiz." "Iyaaa?" "Bisa berikan ini—" Giiz langsung menaruh telunjuknya di bibir Krystal sambil menggeleng dramatis. "Walaupun dia tampan dan sesuai dengan tipeku, tapi aku tidak akan mengambil kesempatan dari ini. Silakan berikan sendiri padanya, Krys," kekeh Giiz. Krystal menggaruk pipinya. Sepertinya dia harus menemui Kaezn. "Krys ...." "Hemm." "Apa kau mengenal laki-laki itu?" tanya Giiz. Krystal mengerjap. "Maksudmu?" Giiz tak sengaja menangkap sosok yang sejak tadi memerhatikan Krystal. "Laki-laki yang duduk di bangku itu Krys," kata Giiz sambil menatap Krystal sekilas. Krystal mengikuti arah tunjuk Giiz sambil mengerutkan kening. "Dia perempuan Giiz." "Eh!" Giiz mengerjap bingung. Tadi dia memang melihat seorang laki-laki tampan tengah memerhatikan Krystal. Tapi kenapa saat dia mengalihkan pandangan sejenak, tempat duduk itu sudah ditempati oleh orang lain? "Dia tampan," ucap Giiz sambil menyenggol bahu Krystal. "Dan aku tidak peduli," tutur Krystal tanpa minat. Giiz tertawa di sampingnya. ********** Krystal menghela napas lega saat menemukan keberadaan Kaezn di perpustakaan. Gadis itu langsung duduk di kursi yang terletak di hadapan laki-laki itu. Kaezn hanya melirik Krystal sekilas dan kembali berkutat dengan buku yang dia baca. "Tolong berikan ini pada Jaehan," kata Krystal tanpa basa-basi seraya menyodorkan kotak yang dititipkan Lais. Kaezn menatap kotak itu sekilas. "Untuk apa?" "Kotak ini bukan dari aku. Ini milik sepupuku, Lais. Dia menitipkannya padaku agar diberikan pada Jaehan," kata Krystal menjelaskan. Tangan Kaezn bergerak untuk mendorong kotak itu. "Kalau begitu berikan langsung pada orangnya." Kaezn berucap tanpa menatap lawan bicaranya. Buku yang tengah dia baca sangat menarik. "Kalian selalu pulang bersama, kan? Jadi tolong berikan ini padanya." Kaezn menggeleng. "Dia suka pulang sesukanya." "Kau bisa memberikannya jika sudah di rumah." "Aku berencana menghabiskan waktuku di sini," kata Kaezn sambil menatap sekelilingnya. Selama menyamar di MSS, jiwa hobi membacanya semakin meningkat pesat. Karena jika bosan, Kaezn langsung melangkah ke perpustakaan. "Tidak apa-apa. Terpenting kau memberikan kotak ini padanya." "Aku sibuk." "Pasti nanti kau akan pulang," kata Krystal, masih berusaha. Kaezn menatap Krystal sejenak dengan raut datar. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" "Aku akan memaksamu!" Hilang sudah kesabaran dan sikap friendly yang sekuat tenaga Krystal bangun. Sialan kau Lais. "Kau menghindari Jaehan karena kejadian di bawah hujan?" gumam Kaezn sambil membuka lembaran baru. Krystal mengepalkan tangannya di bawah meja. Apa-apaan dia ini? "Hm, tidak perlu repot-repot. Aku datang untuk menjemput pemberian ini." Akhirnya orang yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan itu datang—entah dari mana— dan duduk di samping Krystal sambil membuka kotak pemberian Lais.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD