Bab 21 - Pulang

1034 Words
Mengenai kejadian beberapa jam yang lalu, Krystal belum mampu mencerna apa yang terjadi. Dua laki-laki itu terlihat seperti bukan manusia. Urat tubuh mereka menonjol dengan bola mata memerah seperti darah. Apakah mereka gila? Bahkan tak ada orang gila yang semengerikan itu, pikir Krystal. "Tidak perlu dipikirkan," kata Jaehan. Laki-laki itu membuka pintu di samping Krystal lalu duduk di tempat Giiz. "Minumlah," katanya sambil menyodorkan sebotol minuman manis. Lais, Giiz, dan Kaezn tengah ke minimarket. Mereka singgah sebentar karena Giiz terus mengeluh lapar, begitu pun dengan Lais yang terus merengek dan menyalahkan Krystal, berpikir jika alasan mereka pulang lebih cepat dikarenakan mood Krystal yang jelek serta melebih-lebihkan sesuatu. "Bagaimana aku bisa tak memikirkannya? Sedangkan aku tak tau apa yang sedang terjadi," decak Krystal usai meneguk minuman pemberian Jaehan. Jaehan menghela napas panjang. Entah dia harus memulai dari mana. Jika seandainya Krystal tak berbeda dari manusia lainnya, tentu Jaehan langsung menghapus ingatan gadis ini. Namun, kali ini berbeda. "Apa kau sudah melaporkan orang-orang itu ke kantor polisi?" tanya Krystal. Jaehan mengangguk saja. Anggap saja polisi yang dimaksudnya itu Kaezn. Krystal diam beberapa saat. Sesekali keningnya mengerut dalam dengan pandangan lurus. "Aku penasaran ...." Krystal memberi jeda. Dia menoleh—menatap Jaehan dengan ekspresi tanda tanya. "Kenapa kalian bisa ada di sana?" Jaehan mengedikkan bahu. "Sama sepertimu. Kami melihat sesuatu yang aneh di belakang tanaman pagar itu," alibinya. Mata Krystal memicing. "Lalu, tadi kau dan Kaezn melawan dua laki-laki itu dengan ... Ehem ... gerakan yang tangkas dan cepat ...." "Itulah gunanya belajar bela diri," kata Jaehan seadanya. Dia menoleh ke arah minimarket yang tak menunjukkan tanda-tanda mereka akan kembali. Sebenarnya mereka tengah membeli makanan atau membantu pegawai toko berjualan? Geram Jaehan. Haruskah dia melakukan sesuatu agar fokus Krystal teralihkan? "Lukamu!" pekik Krystal sambil melebarkan matanya terkejut. Dia baru ingat tangan Jaehan terluka saat menahan pisau salah satu laki-laki yang ingin melukainya. Sudut bibir Jaehan berkedut. Setidaknya fokus Krystal teralihkan. Hanya saja, dia bukan Manusia, lukanya dapat sembuh dengan cepat, hanya meninggalkan luka kecil, lalu hilang begitu saja. Dengan berat hati dan tak ikhlas, Jaehan melukai tangannya sendiri yang dia sembunyikan di samping tubuhnya. "Sini aku lihat!" ujar Krystal sambil menarik tangan Jaehan. Perlahan, genggaman Jaehan terbuka, menampakkan luka gores di tengah-tengah telapak tangannya. "Kau tidak mengobatinya?" decak Krystal. Sorot matanya menunjukkan kengerian. "Kau mau ke mana?" tegur Jaehan saat Krystal mendorong pintu. Gadis itu menoleh. "Membelikanmu obat. Lalu apa lagi?" "Tidak perlu." Kaezn masuk sambil membawa kantong kresek dan menyodorkannya ke arah Krystal. "Silakan cek. Aku beli beberapa obat yang dibutuhkan," ucapnya sambil melirik Jaehan. Jaehan mengulum senyum. Setidaknya kebohongan mereka aman. Jika Krystal tau luka Jaehan dapat sembuh dengan cepat, maka permasalahan akan semakin rumit lagi. "Bagaimana denganmu? Kau tidak apa-apa?" Krystal beralih ke arah Kaezn usai membalut tangan Jaehan menggunakan perban. "Aku baik-baik saja," kata Kaezn. Tidak lama kemudian, Lais dan Giiz kembali ke mobil sambil membawa belanjaan mereka yang jumlahnya terlalu banyak jika hanya untuk camilan perjalanan pulang. Melihatnya, Jaehan langsung berpindah ke depan, tempat duduknya yang semula. ******** Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah tiba dan terparkir di depan rumah Krystal. Saat sampai, keadaan rumah terkunci rapat. Krystal menelpon ibu untuk menanyakan keberadaan kunci karena dia lupa membawanya. Namun, panggilan tak kunjung dijawab, hanya pesan singkat yang dikirim ibu. "Ibu sedang rapat." Begitu katanya. "Mungkin kita bisa lewat jendela," kata Lais enteng. Krystal menggeleng. Ibu tidak akan keluar rumah sebelum mengunci semua akses masuk rumah ini. Akhirnya mereka menunggu di teras. "Bagaimana?" tanya Giiz. "Ibu sedang rapat." Usai mengatakan hal itu, Krystal melangkah ke samping rumah, tempat ayunan gantungnya berada. Namun ada orang yang lebih dulu menempatinya. "Kenapa masih di sini?" tanya Krystal. Jaehan mengalihkan perhatiannya dari ponsel, dia mengangkat kepala untuk bersitatap dengan Krystal. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Jaehan, tak menggubris pertanyaan Krystal. Gadis itu mengedikkan bahu. Dia bersandar di pohon tanaman hias ibunya sambil bersidekap d**a. "Tidak terlalu buruk. Aku hanya penasaran, kenapa orang-orang gila itu menggila? Mereka terlihat ingin membunuh," kata Krystal. "Sama sepertimu yang bertanya-tanya, aku pun begitu." Krystal diam sejenak, tengah memikirkan sesuatu. "Mengenai kejadian di villa tadi, kuharap kau bisa menyembunyikannya, tak menceritakannya pada orang lain," kata Jaehan. Dia malas repot-repot mengurus hal-hal yang tidak berkaitan dengan buruannya. Kening Krystal mengerut, pertanda tak terima. "Kenapa aku harus diam saja ketika di luar sana ada orang-orang gila yang berkeliaran?" sungut Krystal. "Kau pikir mereka akan percaya dengan ceritamu?" Krystal memejamkan mata sejenak. "Mau tau apa yang aku pikirkan tentang orang-orang gila itu?" Krystal tersenyum miris. "Mereka terlihat bukan manusia, begitu pun denganmu." Jaehan tak membalas. Dia hanya menyimak dengan santai. "Aku akan merahasiakan semua kejadian di villa tadi. Tapi kau harus memberitahuku alasan mereka menjadi seperti itu." Krystal mengembuskan napas panjang. Mata Jaehan mengerjap saat merasakan langka seseorang menuju tempatnya. "Jika aku tidak mengecek langsung tempat itu, apa kau akan terus merahasiakannya bersama Kaezn? Aku tau, kalian sudah mengetahuinya lebih awal. Kalian secara tak langsung membahayakan nyawa kami," lanjut Krystal dengan napas memburu. Jaehan berdecak. Krystal benar-benar di luar dugaannya. Dari sikapnya yang terlihat bodoh amatan, ternyata dia selalu penasaran dan mencari inti masalah sampai akarnya. "Seharusnya kau mengatakannya lebih awal. Agar aku tidak melihat kejadian mengerikan itu!" kesal Krystal. Perlahan air mata mengalir di pipinya. Jaehan melihat itu dalam diam. Di sisi lain, langit seolah mewakili perasaan Krystal dengan menurunkan hujan. "Kita harus berteduh," kata Jaehan. Krystal menggeleng. Dia menghentak tangannya di genggaman Jaehan. "Kau saja. Aku ingin di sini," kata Krystal. Hujan yang tadinya gerimis, kini berubah sangat deras. Jaehan yang melakukannya. Sedang awal mula hujan sore ini dikarenakan tangisan Krystal. Ada sesuatu di dalam tubuh Krystal yang membuatnya terhubung dengan hujan serta alasan Gumiho aura gelap itu mengincarnya. "Kenapa masih di sini? Cepat masuk!" teriak Krystal agar suaranya tidak teredam oleh derasnya hujan. Jaehan bergeming, tak melepas tatapannya dari Kristal. Memindai gadis itu untuk mencari-cari sesuatu di dalam tubuhnya yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Krystal berdecak. Kesal sendiri. Tadinya dia pikir hanya gerimis. Dia pun menarik Jaehan agar mengikutinya masuk ke rumah. Alih-alih menurut, Jaehan malah menarik Krystal agar tetap di depannya. Kakinya perlahan melangkah, memupus jarak di antara mereka. "Ada apa?" tanya Krystal. Kemudian matanya membola saat Jaehan menariknya dalam pelukan. Ini aneh. Tapi rasanya hangat meski mereka di bawah terpaan hujan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD