Bab 20 - p*********n

2025 Words
Jaehan mengangguk. "Krystal menghubungiku agar datang ke rumah itu. Tempat yang sempat disinggung Lais sebelum diculik," katanya sambil menatap Krystal. Ada nada geli di ucapannya saat menyebut diculik. Karena yang sebenarnya terjadi waktu itu ialah Lais yang menyerahkan diri karena termakan tipu muslihat si pelaku. Bibir Giiz menganga sambil mengangguk pelan. "Ternyata kalian bekerja sama, ya," ucap Giiz seraya melirik Krystal. Jaehan tersenyum kecil sambil membalas tatapan Krystal yang menghunus. Satu alisnya terangkat, "Apa aku salah?" ucapnya tanpa suara, hanya gerakan bibir saja. Krystal mengangkat kepalan tangannya mengisyaratkan bahwa dia sedang marah karena Jaehan mengarang cerita. Menghubunginya dia bilang? Apa-apaan! Krystal saja tidak tau alasan Jaehan berada di tempat itu. Mustahil jika alasannya ke sana hanya karena menolong Lais. Ada raut kecewa di wajah Lais. Namun, dia berusaha untuk menyunggingkan senyum manis. "Terima kasih, Jaehan. Pasti Krystal sangat merepotkanmu," katanya. "Yang sebenarnya merepotkan itu kau," timpal Giiz. "Loh, aku juga tidak pernah meminta pertolongan Krystal." Lais melirik Krystal yang bodoh amat dengan perseteruannya bersama Giiz. Giiz menatap Lais dengan ekspresi tak percaya. "Pas pembagian otak kau ke mana saja, Lais? Seharusnya kau bersyukur ada Krystal yang mengkhawatirkanmu. Untung kau tidak dibiarkannya begitu saja, mengingat sifat jelekmu ini," dengkus Giiz. Perdebatan ke duanya tidak luput dari perhatian Jaehan dan Kaezn. Ke duanya menonton sambil bersidekap d**a. Cukup menarik. Wajah Lais memerah, menahan kesal dan malu. Dia melirik Jaehan yang kemudian dibalas dengan senyum tipis basa-basi, kemudian beralih ke Kaezn, laki-laki itu tak menunjukkan ekspresi apa pun. "Silakan pindah lokasi jika kalian ingin meneruskan perdebatan ini." Akhirnya Krystal membuka suara usai mengambil satu pack roti tawar beserta satu toples selai strawberry. Lais mendengkus sembari mengambil roti yang sudah diolesi selai oleh Krystal. Gadis itu memakannya dengan ekspresi dongkol. Tidak berbeda jauh dengan Giiz, gadis itu pun mengambil selembar roti tanpa selai dan memakannya, masih dalam suasana sebal. "Kalian mau apa melakukan setelah ini?" tanya Giiz ke arah Jaehan dan Kaezn. "Memancing." Kaezn yang menjawab dan diangguki oleh Jaehan. "Kulihat tak jauh dari sini ada sungai," kata Jaehan. "Aku ikut!" ujar Lais bersemangat. Giiz mencebik. "Coba saja, lagi pula di sana ada banyak buaya yang siap menerkam." Mendengarnya, Lais langsung merengut, antara takut dan kesal karena keinginannya langsung dipatahkan Giiz. "Jadi tujuannya kita ke sini tuh apa?" sungut Lais. "Menikmati udara segar," jawab Krystal seadanya. Karena niatnya pun memang seperti itu. Giiz menggeleng tak setuju. "Nanti malam kita harus mengadakan acara bakar-bakar, berhubung Jaehan dan Kaezn ingin pergi memancing." Kening Jaehan mengerut. "Tidak ada jaminan kami akan membawa hasil pancingan," kata Jaehan. Karena pergi memancing hanya alibinya saja. Giiz tersenyum lebar. "Kami mengandalkanmu Tuan," katanya sambil menatap dua laki-laki itu secara bergantian. "Tempat ini tidak aman," kata Kaezn usai tiga gadis itu beranjak pergi mandi. "Tidak ada tempat yang aman." Jaehan berkata santai, dia memang sudah tau sejak awal. "Kau tau apa yang aku maksud, Jaehan," kata Kaezn serius. Resiko hukuman yang didapat Jaehan memang begitu adanya. Makhluk-makhluk berhati iblis yang dia taklukan tak serta-merta hangus begitu saja. Tidak sedikit di antaranya melanggar sumpah dan malah berbalik untuk menyerang Jaehan di setiap kesempatan. Makhluk yang telah dipengaruhi oleh iblis akan melakukan apa pun, salah satunya menyerang titik lemah targetnya. Membunuh orang terdekat Jaehan, misal. Demi membalas dendam. *********** "Krystal, kau tidak berpikir liburan kita kali ini sangat membosankan?" keluh Giiz sambil berguling-guling di ranjang sembari memeluk boneka pinguin Lais. Krystal melirik sahabatnya sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di luar sana. Sekitar villa ini dikelilingi oleh tanaman setinggi satu meter, terlihat jelas bahwa tanaman itu rutin dipangkas dan dibentuk agar terlihat seperti pagar. Alih-alih mengagumi tanaman pagar itu, Krystal malah salah fokus. Di sudut kanan, tampak ada potongan persegi di tanaman pagar itu, terlihat sebuah pintu. "Krys, kau mendengarku, kan?" tegur Giiz. "Apa yang terdapat di balik pagar itu?" tanya Krystal, tak mengindahkan ucapan Giiz. Giiz bangun dari tidurannya dan melangkah malas ke samping Krystal. "Pohon apel," jawab Giiz cuek. Dari lantai dua terlihat jelas pohon-pohon apel yang tumbuh teratur di luar pagar itu. Krystal menggeleng. Bukan itu yang dia maksud. Ada sesuatu di luar pagar ini. "Aku turun sebentar," kata Krystal buru-buru. Gadis itu berlari kecil menuju lantai satu. Ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya di cetakan pintu di pagar tanaman itu. "Kau mau ke mana?" tegur Jaehan. Dia melangkah mendekati Krystal yang berhenti melangkah. "Bukannya kau pergi memancing?" Jaehan mengedikkan bahu. Keringat menetes dari dahinya dengan rambut acak-acakannya. "Di luar sangat panas." Tangannya melingkar di bahu Krystal dan menariknya agar kembali ke dalam. Namun Krystal langsung melepas tangan Jaehan dan menyorotnya aneh. "Aku ada urusan. Kau masuk saja," kata Krystal dan kembali melanjutkan langkah. "Kau akan menyesal jika tetap pergi ke sana, Krystal." Krystal langsung bergeming. Beberapa saat kemudian dia memutar tubuhnya menghadap Jaehan. "Jadi kau pun tau? Ada yang aneh di balik tanaman pagar itu," kata Krystal sambil menunjuknya. Jaehan menghampiri Krystal, lalu menggenggam tangan gadis itu. "Jangan ke sana," ucapnya penuh peringatan. Krystal menggeleng, dia menepis tangan Jaehan lalu berlari ke arah samping. "Ah, s**l!" bisik Jaehan. Matanya terpejam erat, sedangkan ke dua tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya menonjol. Sekilas, bola mata Jaehan berubah berwana merah api. Sebelum dia melesat cepat menyusul Krystal. Lampu di villa itu serentak mati. "Krystal!" geram Jaehan sambil menggenggam tangan Krystal yang hampir menyentuh garis berbentuk pintu di pagar itu. "Semakin kau menahanku, semakin aku curigai, Jaehan," kata Krystal. Jaehan menghela napas lelah. Dia langsung melepas genggamannya di tangan Krystal dengan perasaan tak rela. Kakinya perlahan mundur, memberikan ruang bagi Krystal. Sepertinya, cepat atau lambat, sesuatu yang dia sembunyikan bersama Kaezn akan terungkap karena gadis ini. Saat telapak tangan Krystal menyentuh tanaman itu dan mendorongnya. Saat itulah Krystal merasa menyesal karena telah melakukannya. Garis berbentuk pintu nyatanya memang pintu. Bergerak layaknya pintu normal. Krystal mematung saat pintu itu terbuka sepenuhnya, menampakkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya. "Akh ...." Krystal langsung mundur saat melihat keberadaan laki-laki terkapar di samping kakinya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang laki-laki yang meraung dan menyerang Kaezn. Kaezn mengelak dan membalas dengan tangkas, meski yang menyerangnya bergerak ganas dan mengerikan. "A-apa yang terjadi?" gugup Krystal. Jantungnya berdetak kencang bersamaan dengan tubuhnya yang gemetaran. Jaehan tak menjawab. Raut wajahnya berubah dingin dan bengis. Tak ada Jaehan yang selalu tersenyum dan menampilkan raut nakal. "JAEHAN!" pekik Krystal saat tangan laki-laki yang tergeletak itu menggenggam pergelangan kakinya. Mata laki-laki itu terbuka sempurna, berwarna merah darah. Tangan itu menarik pergelangan Krystal hingga gadis itu tertarik dan terhempas. Krystal berteriak ketakutan. Laki-laki itu bangun dan merangkak ke arah Krystal. "To-tolonggg," ucap Krystal dengan suara bergetar. Tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri. Krystal mendengar suara retakan yang disusul teriakan laki-laki menyeramkan itu. Dia langsung menatap Jaehan yang berdiri di sampingnya, pandangan laki-laki itu mengarah ke depan, tak melakukan apa pun. Sedangkan laki-laki yang tadi merangkak itu sudah terkapar tak sadarkan diri. "Lihat aku," bisik Jaehan. Ke dua tangannya menyentuh wajah Krystal dan menuntunnya agar balas menatapnya. "Tarik napas panjang ...." Jaehan memeragakannya dan diikuti oleh Krystal. "Lepaskan secara perlahan," lanjut Jaehan. Ke dua tangan Krystal menggenggam baju Jaehan dengan erat. "Apa yang terjadi ...." Bola mata Krystal membulat sempurna saat melihat keberadaan seseorang di belakang Jaehan. Laki-laki yang tadi menyerang Kaezn itu, kini berlari ke arah mereka sambil membawa benda tajam di tangannya. Krystal panik luar biasa. Bibirnya bergetar, matanya bergantian memindai laki-laki itu dan mata Jaehan yang tak lepas dari wajahnya. "Di belakangmu, Jaehan!" pekik Krystal. Tanpa pikir panjang, dia melingkarkan tangannya di perut Jaehan dan menariknya ke belakang, menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Krystal tidak tau apa yang telah dia lakukan. Pergerakan laki-laki itu yang cepat serta jaraknya yang dekat, membuat Krystal tak mampu berpikir panjang. Yang dia lakukan sekarang hanya memejamkan mata penuh kekhawatiran. Berselang beberapa detik, Krystal tak merasakan apa pun. Dia lantas memberanikan diri membuka mata, tapi alangkah terkejutnya saat melihat darah menetes di depannya. Krystal langsung menoleh ke samping dan mendapati wajah Jaehan yang berjarak beberapa centi dari wajahnya. "Jaehan ....," lirih Krystal. Benda tajam yang dibawa laki-laki mengerikan itu ada dalam genggaman Jaehan. Darah segar mengalir  dan membasahi lengan bajunya. "Lepaskan," bisik Krystal. Suaranya bergetar. Jaehan tak menggubris. Wajahnya mengeras dengan tatapan tertuju pada laki-laki yang menodongkan pisau itu. "Pejamkan matamu, Krys," kata Jaehan dengan nada rendah. Meski takut, Krystal tetap menurutinya. Jaehan menyeringai lebar, tangannya yang bebas langsung menangkap pergelangan laki-laki itu. Sedangkan tangannya yang tengah menggenggam benda tajam itu dia putar, seolah-olah laki-laki itu tengah menodong dirinya sendiri. Di sisi lain, ada Kaezn yang tertatih menghampiri Jaehan. Pandangan laki-laki itu mengarah ke tangan Jaehan yang bersimbah darah, lalu beralih ke laki-laki yang telah terperangkap pengaruh iblis itu. Sekali dorongan, laki-laki itu langsung terlempar ke belakang dan menabrak pohon. Hanya hitungan detik, ke dua tubuh itu kembali normal, tak terlihat urat merah menonjol di leher dan kulit wajahnya. "Bawa mereka ke tempat asalnya," kata Jaehan dan diangguki oleh Kaezn. Pandangan Jaehan turun ke bawah, tempat Krystal memeluknya erat sambil memejamkan mata erat-erat. Kini satu hal yang harus dipikirkan Jaehan, yaitu bagaimana menjelaskan semua ini pada Krystal. Genggaman Krystal semakin erat saat merasakan tangan Jaehan melingkar di tubuhnya, lalu melayang dan menempel di d**a laki-laki itu. Tanpa melihat pun, Krystal tau jika dirinya dalam gendongan Jaehan. ******** "Kenapa kita harus buru-buru pulang?" tanya Lais sambil mengemasi barang-barangnya. Gadis itu bangun dengan paksa saat Giiz mengguncang tubuhnya. Giiz pun sebenarnya tidak tau apa yang sedang terjadi. Tadi dia tengah mengenakan masker wajah saat pintu kamar diketuk dan menampakkan Jaehan, dan Krystal yang digendong laki-laki itu. Tadinya Giiz ingin bertanya, tapi urung saat melihat wajah Krystal yang memucat serta keringat dingin mengucur di dahinya. Maka yang dilakukan Giiz ialah membantu Krystal duduk di sofa yang terdapat di sudut kamar, dia ikut duduk di sampingnya sambil merapikan anak rambut Krystal. Tidak lama kemudian Jaehan datang dengan segelas air putih. "Giiz," panggil Lais sambil melempar bantal ke arah Giiz, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Jadi kenapa kita harus pulang hari ini? Bukannya besok?" Giiz melirik Krystal yang tengah mengemasi barang-barangnya juga, lalu beralih pada Lais. "Aku ada urusan mendadak," alibi Giiz. "Kalau begitu kau saja yang pulang," balas Lais enteng. "Ya sudah. Kau boleh tinggal di sini sampai besok. Yang jelas, aku dan lainnya akan pulang hari ini juga," balas Giiz sambil menarik tasnya. Setelah semuanya selesai, ketiga gadis itu membawa barangnya masing-masing ke lantai bawah. Di sana sudah ada Jaehan dan Kaezn menunggu. Laki-laki pemilik raut dingin itu dengan sigap mengambil alih barang Krystal, Lais, dan Giiz, memasukkannya ke bagasi. "Serius kita harus pulang hari ini?" ujar Lais ke arah Jaehan. "Maksudku, kenapa mendadak sekali? Bukannya kita mau melakukan acara barbeque?" lanjutnya sambil menatap Jaehan, Krystal, Giiz, bergantian. Meminta kejelasan. Krystal sejak tadi terus bungkam. Pandangan gadis itu kosong, tak jarang dia tiba-tiba tersentak. Seperti tadi, saat Giiz menyentuh bahunya, Krystal spontan memelintir tangan Giiz. Jaehan mengangguk. "Sebagai gantinya, aku akan mengundang kalian makan malam di rumahku." Bibir Lais yang tadinya membentuk garis lurus, kini langsung melengkung, membentuk senyum lebar. "Serius? Baiklah, mari kita pulang guys," katanya sambil melangkah ke arah mobil. "Minus kau," sinis Giiz dan mendahului langkah Giiz. "Kau tidak diajak," lanjutnya. Dua gadis itu terus bersiteru. Tidak sadar jika Krystal belum bergerak dari tempatnya. "Ayo," ajak Jaehan sambil melingkarkan tangannya di bahu Krystal. Tidak ada percakapan di antara mereka hingga masuk ke mobil. "Sekarang giliran kau, ya, yang sakit," tegur Lais saat Krystal duduk di sampingnya. "Aku mengantuk," ujar Krystal sambil merebahkan kepalanya di jendela mobil. Lais mendengkus. Dia melempar boneka pinguinnya ke atas paha Krystal. "Pakai. Aku tidak mau kau patah leher sampai rumah. Ujung-ujungnya kau merepotkanku," katanya dengan nada ketus. "Terbalik. Kau yang selalu merepotkan orang," timpal Giiz. Lais mendelik. "Bisa tidak sekali saja kau tidak campur!" "Masalahnya yang kukatakan itu benar," balas Giiz enteng. "Entah ini cuman perasaanku atau memang benar, kau terlihat selalu kesal saat berbicara denganku," sungut Lais. "Ya karena semua yang kau lakukan itu menyebalkan." Hampir saja Lais menarik rambut Giiz, untungnya ada Kaezn menengahi. Laki-laki itu menyodorkan minuman. "Terima kasih," ucap Lais sambil tersenyum lebar. Kaezn menggeleng. "Untuk Krystal," katanya dan kembali menghadap ke depan. Jaehan di sampingnya tengah fokus menyetir, laki-laki itu menawarkan diri untuk menggantikan tugas Kaezn. Lais mencebik, Giiz tertawa mengejek. "Untukmu!" katanya dan mengangsurkannya ke Krystal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD