Jarum jam menunjukkan angka satu malam saat Krystal melirik jam yang menggantung di kamar yang dia tempati. Dirinya memang belum tidur sejak tadi, dia sibuk menamatkan drama yang dia tonton sejak minggu lalu. Setelah selesai, gadis itu berinisial ke dapur yang terletak di lantai bawah untuk mengambil makanan, tiba-tiba saja perutnya terasa lapar.
Mereka masuk kamar sejak tiga jam yang lalu saat Lais mengeluh mengantuk, diikuti oleh Giiz. Mau tidak mau Krystal ikut masuk ke kamar bersama mereka, merasa canggung jika masih di depan tv bersama Kaezn dan Jaehan yang tampak menikmati tontonan di tv.
Kamar yang mereka tempati terletak di lantai dua, di dalamnya terdapat ranjang king size muat empat orang. Krystal tidur di sebelah kiri, Giiz di tengah, kemudian Lais di sebelah kanan.
Sejenak Krystal menempelkan telapak tangannya di dahi Lais, mengecek suhu tubuhnya yang syukurnya sudah kembali normal, tak sehangat tadi.
Krystal berusaha tak menimbulkan suara saat membuka pintu. Dia turun di lantai satu dan terkesiap saat televisi masih hidup dan ada Jaehan Kaezn yang berbaring, tangannya sebagai bantal. Krystal mendekat untuk mematikan televisi karena dia lihat laki-laki itu telah lelap.
Senyum tipis terbit di bibir Krystal saat membuka lemari. Di sana ada berbagai macam makanan, pilihannya pun jatuh pada roti selai vanila, Krystal mengambil satu toples. Setelahnya dia membuat s**u coklat hangat, kemudian menggendong toples itu dengan cangkir di tangan kanannya.
Krystal tak kembali ke kamar. Dia malah melangkah ke teras saat melihat bayangan seseorang yang tengah duduk.
Dia Jaehan. Laki-laki itu langsung mematikan rokoknya saat melihat kehadiran Krystal di sampingnya. Kening laki-laki itu mengerut dalam kala Krystal duduk di kursi sampingnya.
"Dingin, Krys. Masuk," ucapnya penuh penekanan. Udara malam sangat menusuk kulit yang disertai embusan angin.
Krystal tak mendengarkan. Dia sibuk dengan toples di pangkuannya sambil mengunyah dan sesekali menyesap s**u cokelat hangatnya.
"Mau?" tawar Krystal sambil menyodorkan toplesnya. Dia tak menghiraukan ucapan Jaehan.
Decakan meluncur di bibir Jaehan. Laki-laki itu langsung melangkah masuk. Krystal hanya menatapnya sejenak, lalu mengangkat bahu tak peduli. Ternyata menyenangkan makan roti dan minum s**u hangat saat tengah malam sembari duduk di teras, ya walaupun sangat dingin.
Sepertinya Krystal harus segera masuk setelah makanannya habis.
Gerakan Krystal tengah mengunyah langsung terhenti saat merasakan benda hangat melingkupi punggungnya. Ada tangan besar dan hangat yang memasangkannya dari belakang, bahkan dia menepuk-nepuk selimut itu, kemudian kembali ke tempat duduknya.
Jaehan tak mengatakan apa pun. Dia kembali menatap ke depan sambil menyesap minumannya.
"Terima kasih," ujar Krystal dan kembali menikmati makanannya.
Jaehan menoleh. Bola matanya bergerak memindai wajah Krystal.
"Pipi dan hidungmu memerah," ucap Jaehan.
Krystal langsung memegang wajahnya, lalu tersenyum tipis. "Efek dingin."
"Lalu kenapa masih di sini? Cepat masuk. Lagi pula kenapa kau tidak tidur jam segini?"
"Kau mengusirku, ya?" Krystal mendelik dengan pipi menggembung karena penuh roti. "Kau sendiri, kenapa belum tidur?" balasnya.
"Bisa tidak, sekali saja kita berbicara tanpa emosi?" ketus Jaehan. Tubuhnya bisa saja mengabaikan rasa dingin yang menusuk kulitnya, tapi Krystal? Dia manusia biasa yang kapan saja bisa sakit.
"Kau yang memulai. Aku hanya mau duduk sebentar sambil mengisi perut," ujar Krystal.
Jaehan menatap Krystal dengan ekspresi sangsi. Tidak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya sambil mengembuskan napas panjang.
"Jaehan."
"Hm."
"Apa kau menikmati liburan ini?" tanya Krystal usai menandaskan s**u coklatnya. Ada nada mengejek yang terselip dari nada bicaranya.
"Kau tau sendiri jika villaku jauh lebih mewah dan menarik dari villa ini." Jaehan melipat tangannya di depan d**a. "Dibanding liburan, aku rasa ini hanya pergantian tempat menginap."
Krystal menyetujui dalam hati. Villa Jaehan memang terlihat mewah dan nyaman, mungkin dia tidak akan menolak jika ada orang yang mengajaknya menginap di villa sebagus itu, tapi tidak berlaku jika pemiliknya Jaehan.
"Kenapa kau menerima tawaran Giiz?"
Jaehan menoleh sekilas, ekspresinya menunjukkan raut bosan. "Ganti pertanyaanmu, Krys. Aku bosan mendengarnya."
"Kenapa kau tidak menolak tawaran Giiz?"
Jaehan berdecak. Krystal tersenyum puas.
"Mungkin karena ada kau?" jawab Jaehan dengan nada ragu yang disengaja. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sedang sorot matanya menyiratkan godaan.
Krystal mengernyitkan alisnya. Selanjutnya pertanyaan yang keluar dari bibir Krystal membuat Jaehan langsung menormalkan ekspresinya, datar.
"Kau menyukaiku, ya?" tanya Krystal sambil menatap Jaehan dengan ekspresi ngeri.
Beberapa saat, Jaehan menatap Krystal, seolah-olah mempertanyakan kalimat yang baru saja dia lontarkan. Kenapa gadis ini selalu berbicara pada intinya? Alih-alih tersanjung atau malu-malu atas kesimpulan yang dia buat, Krystal malah menatap Jaehan dengan raut ngeri.
"Aku tidak tertarik dengan anak kecil," balas Jaehan sambil memajukan tubuhnya ke arah Krystal yang sontak mundur dan menjadi toples sebagai tameng, kalau-kalau Jaehan melakukan hal yang tidak seharusnya.
Ada raut tak terima di wajah Krystal yang hanya bertahan beberapa detik. Gadis itu langsung mendorong tubuh Jaehan menggunakan toples.
"Syukurlah. Aku tidak tega melihatmu patah hati," katanya sarkas.
Jaehan acungi jempol kepercayaan diri Krystal.
Patah hati dia bilang? Jaehan menggeleng tak percaya mendengarnya. Sejak kejadian di masa lalu, dia sampai lupa bagaimana rasanya patah hati. Dibanding merasakannya, dialah yang selalu menikmati raut patah hati dari korban-korbannya.
"Sebenarnya kau memiliki niat lain kan? Seperti yang dulu-dulu, kau mengawasiku," ujar Krystal. Menyuarakan kecurigaannya.
"Kenapa? Kenapa kau selalu berpikir jika aku mengawasimu?" tanya Jaehan dengan nada serius. Tidak ada raut tamah yang kerap dia tunjukkan pada Krystal.
"Jika aku mengatakan bahwa keberadaanku di karena Lais, lalu kenapa?" tanya Jaehan lagi.
Krystal bergeming beberapa saat. "Oke, aku mengerti. Ini ada kaitannya saat kau membawa Lais keluar dari rumah itu, kan?" kata Krystal memperjelas. Rumah yang dia maksud ialah tempat Lais ditemukan saat gadis itu hilang.
Jaehan mengangguk. "Apa kau akan terus mencurigaiku setelah ini?" Sudut bibir Jaehan berkedut, nyaris menunjukkan raut kecewa.
"Karena adanya aku di sini yaitu ingin memastikan keselamatan sepupumu, Lais." Usai mengatakan hal tersebut, Jaehan langsing berdiri dari tempatnya. Namun sebelum benar-benar masuk, dia menoleh ke arah Krystal yang bergeming.
"Masuklah. Udara malam bisa membuatmu sakit," ucapnya dingin, lalu meninggalkan Krystal.
Krystal meremas rambutnya dengan ke dua tangan. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah
Jaehan tertarik dengan Lais? Lalu bagaimana dengan Bu Zei, mengenal adegan yang Krystal lihat secara langsung di ruangan gurunya itu.
Sejujurnya, Krystal tak memercayai Jaehan.
*************
"Dia semakin mencurigaimu," ujar Kaezn sambil menyesap teh hijau yang dia buat. Pandangannya mengarah di luar jendela yang menampakkan pemandangan tiga gadis yang tengah melakukan senam.
"Dia gadis yang penuh kecurigaan," ujar Jaehan.
"Jadi sekarang bagaimana? Apakah kau akan mengawasinya dari kejauhan?"
Jaehan menggeleng. Dia harus selalu berada dalam jangkauan gadis itu. Andaikan Krystal seperti gadis yang sering dia temui, maka Jaehan akan mendekati Krystal layaknya orang yang tengah jatuh cinta. Namun hal ini tidak berlaku pada Krystal. Alih-alih merasa tersanjung, Krystal malah menatapnya jijik.
"Cepat atau lambat, Gumiho aura gelap itu segera menunjukkan dirinya secara terang-terangan."
Kaezn melipat ke dua tangannya di atas meja seraya menatap sahabatnya lebih serius. "Waktumu tidak banyak lagi."
Jaehan mengedikkan bahu. "Dibanding manusia, waktuku jauh lebih banyak."
"Tapi kau bukan manusia." Kaezn mengingatkan.
"Apakah kau membantuku karena takut eksistensimu di dunia ini akan hilang?" tanya Kaezn tanpa ekspresi berarti. Dia berujar usai meneguk teh hijau yang dibuatkan Kaezn.
Laki-laki pemilik raut dingin itu menggeleng penuh keyakinan.
"Permisi, kami boleh bergabung tidak?" tanya Giiz.
Lais langsung duduk di samping Jaehan tanpa mendengar persetujuannya.
"Tentu," ujar Jaehan.
Giiz meminta izin terlebih dahulu karena dia pikir dua laki-laki tampan ini tengah membicarakan sesuatu yang sangat penting. Terlihat jelas dari ekspresi ke duanya.
"Kenapa kau berdiri saja?" tanya Lais ke arah Krystal. "Kalau tidak suka, mending pergi saja, Krys," lanjutnya.
Krystal menarik satu kursi di samping Kaezn. Dia duduk bukan karena teguran Lais, melainkan tatapan Jaehan yang terang-terangan menelisiknya.
"Mau aku buatkan sarapan?" tanya Krystal.
Kaezn yang tengah menyesap teh hijaunya hampir tersedak saat Krystal menepuk bahunya.
"Aku?" Kaezn menatap Krystal tak yakin.
Gadis itu mengangguk. "Mau aku buatkan sarapan?" ulang Krystal. Dia khawatir, sejak tadi Kaezn hanya menyesap teh hijau, tanpa menyentuh roti di hadapannya. Apakah laki-laki ini memiliki selera yang tidak biasa?
Kaezn melirik Jaehan sejenak, lalu kembali menatap Krystal. Laki-laki itu menggeleng.
"Syukurlah kau menolak." Lais membuka suara, dia menunjuk Krystal menggunakan pisau yang dia gunakan mengupas apel. "Masakan Krystal tidak enak," lanjutnya.
"Aku sering makan masakan Krystal. Rasanya enak tuh. Yang diperlukan dipertanyakan itu masakanmu," kata Giiz.
Krystal tak menanggapi.
"Aku tidak bisa memasak. Alih-alih memasak, aku malah membakar dapur di rumahku."
"Aku suka kejujuranmu," timpal Jaehan sambil tersenyum tipis.
Senyum Lais semakin lebar.
"Mari lupakan soal masak-memasak. Ada hal lain yang ingin kutanya padamu," kata Lais ke arah Jaehan.
Satu alis Jaehan menukik ke atas. Menyadari isi kepala Lais yang ingin dia pertanyakan. Sepertinya akan menarik, pikir Jaehan.
"Saat aku hilang ... emm, kau pasti paham maksudku, Karan aku pun hampir lupa kejadian jelasnya." Lais melirik Krystal yang menyorotnya tajam. "Krystal bilang, kau yang menyelamatkan aku dan membawaku samapta rumah," lanjutnya sambil menatap Jaehan.
Giiz langsung menatap Krystal, menuntut perjelasan.
"Memangnya kenapa?" Bukan Jaehan yang bertanya, melainkan Kaezn.
Lais mengedikkan bahu. "Aku hanya ingin tau alasan Jaehan melakukannya. Walaupun aku tidak ingat apa pun, tapi bukan berarti aku tidak tau Jaehan yang sempat menghebohkan MSS. Saat itu aku tidak pernah berinteraksi dengan Jaehan, sebelum aku tau kalau Krystal saling berteman dengan dia."
"Jawaban apa yang ingin kau dengar, Lais?" tanya Jaehan dengan nada rendah.
"Emm, kenapa kau bisa menemukan di rumah itu? Apakah Krystal yang memberitahumu?" tanya Giiz. Dia sempat mendelik ke arah Krystal yang menyorotnya malas.