Bab 18 - Hari pertama di villa

2050 Words
Usai membeli perlengkapan yang sekiranya perlu dibawa, Krystal pun mengemasi barang-barangnya kemudian menunggu jemputan Giiz. Krystal menunggu di teras rumahnya, di sampingnya ada Lais yang terus merengut sejak tiba di rumah. Alasannya pun masih tetap sama, yaitu karena dia tak bisa menemui Jaehan, bahkan di sekolah. "Kau yakin mau ikut?" tanya Krystal. Agak prihatin dengan kondisi tubuh Lais yang terlihat kurang sehat. Hidung gadis itu memerah karena flu, kantung matanya pun terlihat jelas, bibirnya pun tampak kering dan pucat. Lais menoleh lalu mengangguk. "Ini hanya flu biasa," katanya. Krystal kembali menatap sepupunya itu dengan ekspresi tak yakin. Niatnya ke villa paman Giiz untuk berlibur, bukan merawat orang sakit. "Kenapa melihatku seperti itu? Aku tidak selemah yang kau pikirkan," ketus Lais. Krystal menghela napas panjang. Tidak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam masuk ke pekarangan rumah Krystal. Itu bukan mobil Ibu, karena sejam yang lalu ibunya telah berangkat ke tempat kerja. Seingat Krystal pun, mobil yang selalu digunakan Giiz berwarna merah. Lalu ini mobil siapa? "Mobil Giiz?" tanya Lais sambil menunjuk mobil itu. Krystal mengedikkan bahu. Beberapa saat, salah satu kaca jendela mobil itu terbuka disusul kepala Giiz yang menyembul keluar. Gadis itu melambaikan tangannya penuh semangat sambil tersenyum lebar. "Ayo masuk," katanya. Usai mengunci pintu dan memastikan semuanya aman, Krystal pun menghampiri mobil itu diikuti Lais di belakangnya yang tengah menarik kopernya. Saat sampai di samping mobil itu, kala Krystal ingin memasukkan barang-barangnya ke bagasi, dia dikejutkan oleh laki-laki yang baru saja keluar dari pintu depan mobil, lalu mengangkat tas Krystal dan koper Lais dan memasukkannya ke bagasi. "Sepertinya aku mengenalnya," bisik Lais. Krystal tak menjawab. Dia pun mengenal laki-laki itu meski tak mengetahui namanya. Dia beberapa kali bertemu dengannya. Perasaan Krystal semakin tak enak saat Lais masuk lebih dahulu, lalu memekik keras. Dugaan Krystal tak meleset. Ini bukan mobil Giiz. Karena saat dia masuk, dia mendapati seorang laki-laki yang dikenalinya di balik setir, di sebelahnya laki-laki yang membantu Krystal memasukkan barang ke bagasi. "Surprise," ujar Giiz sambil berbisik. Gadis itu duduk di sebelah kiri Krystal, sedangkan Lais duduk di sebelah kanan Krystal. "Sedang apa dia di sini?" tanya Krystal sambil menatap lurus ke depan. Giiz tertawa kecil sambil mencubit pipi Krystal. "Aku mengajaknya liburan bersama kita." Tidak lama kemudian, sebuah cubitan mendarat di pinggang Giiz hingga gadis itu meringis. "Kenapa kau mengajaknya, Giiz?" geram Krystal. "Loh, memangnya nggak boleh, ya? Biar ramai Krys. Aku tadi cuma iseng kok, aku juga tidak menyangka dia akan menerima tawaranku." Krystal mengembuskan napas panjang. Sepertinya liburannya akan berat. Di sisinya ada Lais yang tersenyum senang. "Jadi ini alasan kau menyuruh kakak agar mengajakku liburan bersama?" bisik Lais dengan nada senang. Kakak yang dia maksud ialah ibu Krystal. Mengajaknya dia bilang? Krystal langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan mata. Itu hanya akal-akalan Ibu, pasti alasannya pun agar hubungan Krystal dan Lais berjalan dengan baik. Meski nyatanya tidak akan pernah. "Aku mau turun," kata Krystal ke arah sopir. Giiz langsung menggeleng. "Jangan tertipu. Dia pasti mau kabur," decak Giiz. Krystal mendengkus samar. ••••••••• Di depan, Jaehan menikmati perjalanan ini sambil memainkan ponselnya. Di sampingnya ada Kaezn yang tengah berubah profesi menjadi sopir. Kemarin, saat jam istirahat sekolah, ada Giiz menghampirinya dan mengajak Jaehan untuk berlibur di sebuah villa yang lokasinya cukup jauh. Giiz terang-terangan mengatakan bahwa dia akan pergi bersama Krystal. Tanpa berpikir pun Jaehan langsung menyetujuinya, alasannya pun untuk mengawasi Krystal. Kaezn menawarkan diri untuk ikut. Saat melihat keterkejutan di wajah Krystal tadi, Jaehan yakin jika Giiz tidak memberitahu gadis itu bahwa dirinya ikut. Berbanding jauh dengan sepupu Krystal. Gadis yang sejak kemarin terus berusaha menemuinya itu tak henti tersenyum lebar. "Aku tidak terlalu yakin dengan keputusanmu ini," ujar Kaezn dengan pandangan lurus ke depan. Jaehan menoleh sekilas. "Aku harus mengawasinya. Gumiho itu tak segan menunjukkan diri di depan Krystal." "Pasti ada alasan kuat membuatnya terus mengawasi Krystal dan menganggap gadis itu dengan sebutan Aurora," kata Kaezn. Jaehan membenarkan dalam hati. Walaupun dia belum mengetahui dengan jelas alasannya, tapi Jaehan yakin jika hal ini berkaitan dengan masa lalu atau fox rob. "Kau harus lebih berhati-hati," ujar Kaezn, menyadari tindakan Lais yang sering kali mencuri pandang. Jaehan berdeham. Mengenai mereka yang mengobrol itu tak akan didengar oleh Krystal, Giiz, dan Lais. Setidaknya kemampuan mereka yang satu ini berpengaruh pada Krystal. Di sisi lain, Krystal menyadari gerak-gerik mencurigakan Jaehan dan Kaezn. Mereka terlihat seperti mengobrol. "Kau yakin mau mengajak mereka menginap di villa pamanmu?" tanya Krystal kesekian kalinya. Giiz mengangguk sambil membuka sebungkus camilan. "Biar makin seru." "Kita tidak mengenalnya, Giiz. Mereka anak baru di MSS, bahkan kita sangat jarang berinteraksi dengannya. Bagaimana kau bisa mempercayai orang baru menginap satu rumah denganmu?" bisik Krystal dengan suara tertahan. Giiz menyipitkan mata, memerhatikan punggung dua laki-laki di depannya. Kemudian menggeleng sambil menyumpal mulut Krystal dengan roti. "Ck. Dasar gadis overthinking!" ••••••••••• Perjalanan ditempuh selama kurang lebih empat jam. Tidak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan. Masing-masing sibuk dengan kesibukannya, terutama Krystal. Gadis itu bahkan tertidur pulas sambil menutupi wajahnya menggunakan topi sambil memeluk boneka pinguin yang dibawa Lais. Sedangkan Lais, dia terus bersin, ingusnya terus meleleh dengan wajah memerah. Dia sempat mengeluh sakit kepala pada Krystal, untungnya Krystal berinisiatif memijit kening gadis itu sambil menggosokkan minyak angin di tengkuk, leher, dan pelipisnya. "Krystal, ayo bangun." Giiz menepuk-nepuk pipi sahabatnya, lalu beralih pada Lais yang sibuk mengemasi isi tas punggungnya. "Kenapa?" tanyanya saat Giiz terus menatapnya. "Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Giiz prihatin. Walaupun Lais sangat menyebalkan, tapi dia tidak setega itu melihat kondisi Lais yang menyedihkan. Wajahnya memerah dengan sorot layu. Raut Lais langsung merengut, hampir menangis. "Kepalaku sakit," ucapnya parau. Krystal langsung memegang kepala Lais, kemudian berdecak. "Badanmu hangat. Kau membawa jaket kan?" tanya Krystal karena udara di luar sangat dingin. Lais mengangguk. "Ada di bagasi." Embusan napas berat keluar dari bibir Krystal. Dia pun langsung melepas hoodie-nya dan menyuruh Lais agar mengenakannya. Sedangkan dia hanya menggunakan dalaman kaos berwarna biru muda bermotif telur pecah. "Aku tidak suka bau parfummu," rutuk Lais sambil memasang hoodie Krystal. "Syukur dia mau meminjamkannya," decak Giiz. •••••••••• Jaehan dan Kaezn sibuk memindahkan barang-barang bawaan ke dalam villa, lebih tepatnya barang-barang para gadis itu. Saat melihat villa itu, Jaehan sempat berceletuk bahwa Villanya jauh lebih bagus dan menarik. Tapi kembali lagi ke niatnya datang ke sini. "Jika tau begini, aku akan menawarkan mereka menginap di villa kita," ujar Jaehan sambil menaruh koper Lais. Kaezn langsung menatapnya. "Kita punya beberapa villa." Jaehan mengedikkan bahu. "Dengan begitu kita tidak terlalu repot saat mengawasi mereka," lanjutnya sambil melangkah ke arah mobil tempat para gadis itu berada. Selama perjalanan tadi, Jaehan merasakan aura lain yang mengikuti mobil mereka, tepat seperti dugaannya. Namun saat sudah sampai, aura itu tiba-tiba menghilang. "Kau terlihat tidak sehat La," kata Giiz sambil membantu Lais turun dari mobil sambil memegang lengannya. Gadis itu hampir saja oleng, untungnya Krystal cepat menahan Lais. "Ada yang bisa dibantu?" tanya Jaehan. Melihat kehadiran Jaehan, Lais sontak memegang kepalanya sambil mengaduh kesakitan. "Kepalaku tambah sakit," keluhnya. Krystal langsung melepas genggamannya. "Jangan lebay deh La." "Sepupumu sakit, Krys. Badannya panas banget. Em, Jaehan, bisa bantu Lais masuk ke dalam?" tanya Giiz. Jaehan mengerjap, lalu menatap Lais yang tengah mengeluh sambil memegang kepalanya. Sudut bibir Jaehan berkedut tipis saat menyadari sesuatu. Gadis itu memang sakit, tapi hanya flu dan masuk angin biasa. "Baiklah." Jaehan tersenyum, lalu memegang Lais. Tanpa disangka-sangka, dia menyelipkan tangannya di bawah lutut Lais, lalu mengangkat gadis itu dan menggendongnya ala bridal style. Semua orang di tempat itu langsung melotot. Begitu pun dengan Kaezn yang baru saja keluar, tapi hanya bertahan beberapa detik. Kaezn sudah hapal dengan tabiat Jaehan. Di sisi lain, Giiz membekap mulutnya dengan ekspresi berlebihan. "Maksudku, cukup dipapah saja." Jaehan tersenyum tipis. "Tubuh Lais lemah. Dia butuh istirahat, jadi bisa tunjukkan kamarnya?" Lais tersenyum tertahan di gendongan Jaehan. Ke dua tangannya dia lingkarkan di leher laki-laki itu. Sedangkan Krystal hanya menatap mereka tanpa minat sambil menjinjing tas punggung Lais. Hal itu tidak luput dari perhatian Jaehan. ••••••• Usai merebahkan Lais di kamarnya, Jaehan langsung keluar begitu saja dan pergi mengecek setiap sudut villa itu. Dirasa aman, dia pun duduk di sebuah kursi yang terdapat samping villa. Jaehan merogoh saku jaketnya, lalu mengambil sebuah kotak dan pemantik api. Laki-laki itu menyelipkan sebatang rokok di bibirnya, kemudian menghidupkannya. Asap mengepul keluar dari bibir Jaehan sambil bersandar dengan tenang. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sini di saat telinganya berdengung mendengar permohonan orang-orang di luar sana? Mengawasi gadis itu? Jaehan mendengkus. Dia tidak boleh terbawa oleh sesuatu seperti di masa lalu yang membuatnya seperti sekarang, menjalani sisa hidupnya dengan hukuman. "Polusi," decak Krystal sambil menghampiri Jaehan dan merebut rokok itu dari bibir Jaehan, lalu menginjaknya. Jaehan langsung menegakkan duduknya saat rokok yang tengah dia hisap kini sudah tak berbentuk di bawah alas kaki gadis di hadapannya. "Baru tiga kali hisapan," gumam Jaehan tanpa menatap Krystal. Lalu mengambil satu rokok lagi dan menghidupkannya. Krystal mengerutkan kening tak terima. Jaehan menghisap rokok itu penuh nikmat. Tak peduli jika gadis di hadapannya terganggu. Lagi, Krystal merebut rokok itu dari bibir Jaehan, lalu menginjaknya. "Merokoklah di tempat lain," kata Krystal. Pandangan Jaehan mengarah pada Krystal. Menyorot gadis itu tanpa ekspresi yang berarti. Jaehan tidak menurut. Dia kembali merogoh saku jaketnya dan mengambil satu batang rokok lagi. Belum sempat api pemantik menyentuh ujung rokoknya, tangan Krystal sudah terulur ingin merebutnya lagi. Namun Jaehan langsung memegang rokoknya. Krystal dan Jaehan saling tatap beberapa saat, kemudian Krystal dengan gesit merebut rokok itu. Namun bukannya berhasil, tangannya malah masuk genggaman Jaehan. Tidak hanya itu, tubuhnya tertarik ke depan, bersamaan dengan melingkarnya tangan Jaehan di pinggangnya lalu menariknya duduk di atas pangkuan laki-laki itu. Krystal melotot tak terima. Dia ingin menarik diri, tapi rangkulan dan pegangan Jaehan terlalu kuat. Satu alis Jaehan menukik ke atas seraya menyunggingkan senyum miring. "Mau apa kau?" tanya Krystal takut-takut sambil memundurkan kepalanya. "Kau mau memusnahkan ini, kan?" Jaehan melepas genggamannya pada tangan Krystal. Dia mengambil bungkusan rokoknya dan melemparnya ke tempat sampah terdekat. "Selesai," ujar Jaehan seraya tersenyum simpul. Krystal duduk tak nyaman di pangkuan Jaehan. "Bisa lepaskan tanganmu dari pinggangku?" sungut Krystal. Jaehan tak mengindahkan. Fokusnya terpecah saat menyadari ada sesuatu yang tengah mengamati mereka. "Jangan bersuara," bisik Jaehan. "Ck. Lepaskan!" rutuk Krystal. Jaehan langsung membekap bibir Krystal menggunakan tangannya. Angin tiba-tiba berembus sangat kencang. Membuat siapa pun menggigil ditambah cuaca malam dingin. Jaehan melepas Krystal dan memintanya berdiri, disusul olehnya. Jaehan memposisikan Krystal tepat di belakang punggungnya sambil menggenggam tangan gadis itu. "Kenapa?" tanya Krystal dengan suara pelan. Krystal langsung mencengkeram jaket Jaehan saat lampu tiba-tiba padam disertai dengan angin kencang yang menciptakan suara patahan ranting. Di tempatnya, Jaehan menghela napas. Aura itu kembali hadir, aura yang sama dengan di MSS. Tapi Jaehan belum mengetahui jelas latar belakang dan alasan Gumiho itu mendekati Krystal. Tidak lama kemudian, cahaya putih terang menyilaukan datang dari arah depan. Menyorot Jaehan dan Krystal. Cahaya itu semakin dekat, Krystal lantas mencengkeram jaket Jaehan lebih erat sambil  menyembunyikan wajahnya di punggung laki-laki itu. Sedangkan Jaehan, menunggu dengan tenang. "Ayo masuk," ucap Kaezn. Pemilik senter yang menyorot Jaehan dan Krystal. Jaehan terkekeh geli saat Krystal melepas genggamannya lalu menyentak jaket Jaehan. Gadis itu masih sempat melempar pandangan dongkol sebelum melangkah lebih dulu. "Gumiho itu sudah pergi," kata Kaezn. Tidak lama kemudian listrik kembali normal. "Apa kau membawa rokok?" tanya Jaehan tak menggubris ucapan Kaezn. Laki-laki dengan raut dingin khasnya itu menggeleng. "Aku hanya membawa wine," ucapnya berhasil membuat Jaehan tersenyum lebar. Usai berbasa-basi sejenak, ke duanya memutuskan masuk ke villa. Sebelum benar-benar melangkah ke dalam, Jaehan masih sempat melirik sebuah tempat—tempat seseorang tengah bersembunyi. Dia belum benar-benar pergi. ••••••••• "Jadi, kau sudah memiliki kekasih, ya?" tanya Lais ke arah Jaehan. Lais, Krystal, dan Giiz duduk di sebuah sofa. Di depan mereka ada Jaehan dan Kaezn yang duduk lesehan di depan tv. "Menurutmu?" Lais mengangkat bahu. "Entahlah. Karena sejujurnya aku pun tak memiliki pacar." Giiz mencebik. "Tidak ada yang peduli kau punya pacar atau tidak." Lais langsung menoleh, untungnya di tengah-tengah ada Krystal yang sedang mengunyah roti. Gadis itu sebagai penengah antara Lais dan Giiz yang bersiteru. Tampaknya sahabatnya itu bertambah sangsi pada Lais saat Jaehan menggendongnya beberapa waktu lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD