Bab 17 - Berniat Pergi Liburan

2182 Words
Haii, Mom. Apa kabar? Pas nulis ini rasanya mataku kayak ada lemnya wkwkw. Happy reading yaa. Silakan kritik dan saran juga. Terimakasih ya^^ ••••••• Jaehan tiba-tiba berdiri dari duduknya sambil menepuk-nepuk bokongnya, menepis sampah yang menempel. Kemudian dia meregangkan tubuhnya, lalu menatap Krystal. "Kenapa?" tanya Krystal heran. "Pulanglah. Sekarang hampir tengah malam, kurasa ibu kalian sudah menunggu," ucapnya. Kemudian melangkah begitu saja tanpa mendengar balasan Krystal. "Jasmu!" kata Krystal hampir memekik sambil menghampiri Jaehan yang membalikkan tubuh. Jaehan menatap jas yang disodorkan Krystal itu beberapa saat, lalu mengangguk dan menerimanya. Jika dia membiarkan Krystal menggunakan jasnya sampai rumah, pasti sepupu gadis itu akan curiga. Sedangkan alasannya duduk berjam-jam di samping Krystal ialah untuk menghindari Lais di rumahnya. Sebenarnya mudah saja bagi Jaehan untuk mengusir Lais dengan caranya sendiri dan membuat gadis itu merasa tak pernah berhubungan, bahkan mengenalinya, tapi Jaehan enggan melakukannya. Entahlah, dia lebih suka duduk di bawah pohon ini sambil menikmati pemandangan sederhana kolam ikan tenang di depannya. Sepeninggal Jaehan yang melangkah ke villanya, Krystal pun kembali ke tempatnya semula. Tidak lama kemudian ada Lais yang bersungut-sungut dengan wajah masam.  Gadis itu bahkan ingin melempar sling baginya ke kolam. Krystal sama sekali tak berniat menahannya, dia sudah terlalu hapal dengan tabiat sepupunya ini. "Sebenarnya dia ke mana sih? Kenapa jam segini belum pulang?" sungut Lais, dia berjalan satu langkah di belakang Krystal yang tengah memesan taksi online, yang untungnya masih ada. Krystal tak menanggapi sedikit pun. Dia membiarkan Lais mengeluarkan semua emosinya. "Aku sudah meminta dua laki-laki di rumahnya itu agar menelpon Jaehan. Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka pikir menunggu itu enak?" cecar Lais sambil menendang asal. "Kalau tau menunggu itu tidak mengenakkan, lalu kenapa kau menunggunya sampai jam segini?" balas Krystal dengan nada malas. Karena tingkah Lais, dia pun harus merasakan hal menyebalkan itu, yaitu menunggu. Lais bersin-bersin, lalu merengek, hampir menangis. "Krystal, kau selalu begitu ya. Tak pernah mendukungku, seharusnya kau menenangkanku!"  Krystal menatap Lais dengan ekspresi gondok, lalu mendengkus sambil membuka pintu mobil yang dia pesan itu telah tiba. "Sebenarnya dia ke mana, Krys?" rengek Lais sambil mengguncang bahu Krystal.  "Mana aku tau!" decak Krystal sambil mendorong tubuh Lais.  Sebenarnya dia sedikit merasa bersalah karena telah berbohong pada sepupunya. Karena jika dia tidak menuruti keinginan Lais, pasti gadis itu tak akan semenyedihkan sekarang. Selain itu, Krystal juga merasa bersalah, karena Jaehan selalu bersamanya sejak tadi. Hanya saja laki-laki itu yang menghindari Lais, kan? Krystal berdeham. "Memangnya kau tidak bertanya ke mana perginya Jaehan?" Tubuh Lais langsung melemah dan bersandar. Kepalanya dia miringkan ke arah jendela. "Mereka bilang Jaehan pergi berkencan." Krystal hampir saja tertawa mendengarnya. Berkencan? Maksudnya duduk di bawah pohon dengan udara dingin yang menggigit? Krystal rasa setelah ini dia akan masuk angin. "Krystal," panggil Lais. Krystal menoleh sambil menaikkan satu alisnya saat melihat wajah Lais yang memerah, menahan tangis. "Baru kali ini ada laki-laki yang menolakku." Krystal menghela napas panjang. Kenapa suasananya jadi patah hati begini? Menggelikan sekali. "Dia tidak menolakmu ...." Krystal mengerjap beberapa saat, mencoba mencari kalimat yang pas untuk mengobati rasa kecewa Lais. "Dia sedang sibuk." "Sibuk berkencan maksudmu?" pekik Lais. Bahkan supir sampai melirik mereka. "Kalau sudah tau dia berkencan, lalu kenapa kau semelow ini? Laki-laki tidak hanya dia, lagi pula banyak yang mendekatimu, kan?" ujar Krystal sangsi. Kesal Lais memekik di sampingnya.  Lais tak menjawab. Dia malah membuang muka sambil bersidekap d**a. Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Krystal sibuk dengan ponselnya, saat pesan-pesan menyebalkan kembali dia dapatkan. Tanpa berpikir panjang, Krystal langsung memblokir nomor-nomor itu, kemudian menonaktifkan ponselnya. Tidak berapa lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampai. Lais turun lebih dahulu sambil membanting pintu dengan kasar, diikuti Krystal di belakangnya sambil menatap punggung sepupunya dengan raut dongkol. Seperti dugaannya, Ibu sudah menunggu di ruang tamu. Wanita paruh baya itu masih berkutat di depan laptop. Saat menyadari kehadiran Krystal dan Lais, dia langsung mengangkat kepala dan menghampiri mereka. "Kalian dari mana saja?" tanya Ibu. Kemudian menatap Lais sepenuhnya. "Ada apa dengan denganmu, La?" tanyanya, menyadari raut masam Lais. Krystal berdecak pelan. Firasatnya langsung merasakan hal buruk saat Lais tiba-tiba merengek sambil menunjuk Krystal. "Aku menemani Krystal bertemu temannya. Tapi sampai sekarang, tidak ada informasi tentang temannya itu." Kening Ibu langsung mengerut dalam. "Maksudmu?" "Laki-laki yang mau ditemui Krystal itu tak menampakkan diri. Dia membuat kami menunggu seperti orang bodoh. Sebenarnya aku dari tadi ingin pulang, tapi Krystal terus menahanku, katanya sebentar lagi, begitu saja terus, sampai perutku mulas," adunya berlebihan. Krystal tertawa kecil di tempatnya saat Ibu langsung menatapnya tajam. Di belakang Ibu ada Lais yang tersenyum penuh kemenangan sambil menjulurkan lidah, kemudian melenggang masuk tanpa beban. SIALANNNNN! Umpat Krystal dalam hati. "Benar begitu, Krystal?" tanya Ibu, mulai mengintrogasi. Krystal menghela napas lelah. "Kalau aku menjelaskan yang sebenarnya, memangnya ibu akan percaya?" "Jadi benar kalau kamu berniat bertemu dengan laki-laki yang dimaksud Lais?" Krystal mengangguk membenarkan. "Niatnya kami akan bertemu dengan temanku ... maksudku teman sekolahku ... tapi ini tidak seperti yang dijelaskan Laisialan itu—" "Laisialan?" Krystal menyembuhkan napas panjang. "Yang sebenarnya ingin bertemu dengan laki-laki—maksudku temanku itu ya Lais, Bu. Bukan aku." "Apakah ucapanmu bisa Ibu percaya?" tanya Ibu memperjelas sambil menutup laptopnya. Krystal mengedikkan bahu sembari mencomot satu roti yang tersaji di atas meja. "Aku hanya menemani Lais. Tidak lebih." Ibu mengangguk, entah apa maksudnya. Wanita itu menghela napas berat, sebelum menatap Krystal dengan raut serius. "Jadi, siapa laki-laki itu? Ibu ingin berkenalan dengannya." Bahu Krystal langsung merosot. Apakah ini bisa disebut kesialan baru? Mengenalkan Jaehan dengan ibunya? Yang benar saja. Bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Jaehan? Lagi pula, untuk apa Ibu berkenalan dengan Jaehan? Padahal pada dasarnya dia dan Jaehan tidak sedekat itu. "Tapi Krystal ...." Krystal langsung menoleh saat namanya disebut.  "Atau jangan-jangan yang dikatakan Lais itu benar?" ucapnya sambil mengulum senyum. Oh No! ******* "Aurora ...." Krystal mengerjap bingung saat seseorang berjongkok di depannya, memungut ponsel Krystal yang tak sengaja dia jatuhkan. Saat ponselnya itu dikembalikan pun Krystal masih mengerjap. Aurora dia bilang? Mata laki-laki itu menyorotnya dalam. Sudut bibirnya berkedut samar menyadari raut bingung Krystal. "Kau tidak ingin mengambil ponselmu?" tanyanya sambil menggoyang-goyangkan ponsel Krystal. "Eh ... terima kasih," ucap Krystal. Laki-laki itu mengangguk. Lalu melangkah pergi. "Tunggu!" Laki-laki itu menoleh, bibirnya tersenyum, tapi tidak dengan matanya yang terlihat sendu. "Tadi kau menyebut Aurora ... tapi namaku bukan Aurora," kata Krystal. Senyum tipis di bibir laki-laki itu perlahan hilang, digantikan raut dingin dengan pandangan dalam. "Krystal!" panggil seseorang. Krystal langsung menoleh, mendapati Giiz yang berlari kecil ke arahnya. "Kau sedang apa?" tanya Giiz sambil m******t es krimnya. Krystal langsung menoleh ke arah laki-laki itu berada sambil menunjuknya. "Aku bicara dengan ...." ucapan Krystal berhenti begitu saja saat dia tak melihat keberadaan laki-laki itu. Dia lantas mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan laki-laki itu. Giiz ikut celingak-celinguk. "Kau bicara dengan siapa?" Tangan Krystal bergerak menggaruk pipinya. Cepat sekali laki-laki itu pergi, padahal dia belum sempat menanyakan alasan dia memanggil Krystal dengan sebutan Aurora. "Tadi ada laki-laki ... ah, tidak penting." Giiz kembali mengedarkan pandangannya, lalu beralih pada Krystal yang masih diliputi kebingungan. "Aku tidak melihat kau berbicara dengan siapa pun," ucap Giiz. Makanya dia memanggil Krystal saat melihat gadis itu tengah berbicara sendiri di depan tangga. "Benarkah?" tanya Krystal semakin bingung. Giiz mengangguk, tidak lama kemudian dia menggeleng. "Tadi aku bicara apa, ya? Lupakan Krys, sepertinya aku salah lihat," katanya tiba-tiba lalu menggandeng Krystal menuju kelas. Meski di sisi lain dia pun bingung dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Di tempat lain, ada sepasang mata yang mengikuti setiap pergerakan Krystal.  ****** "Krys." "Hm." "Besok tanggal merah, lusa hari minggu," kata Giiz. Krystal sedang menopang kepala, tangannya yang bebas tengah menscroll sosial medianya. "Jadi kenapa?" "LIBUR, KRYS. KITA HARUS MERAYAKANNYA!" ucap Giiz bersemangat sambil mengepalkan tangannya di udara. Krystal hanya meliriknya, lalu kembali fokus ke layar ponselnya.  "Aku sedang malas ke bioskop." Krystal berucap dengan nada tenang, pasalnya dia sudah hapal kebiasaan Giiz yang terus mengajaknya ke bioskop di hari libur. Giiz menggeleng sambil tersenyum misterius. "Ada tempat yang jauh lebih menarik untuk melepas setres." "Shopping?" Giiz menggeleng. "Bermalam di villa pamanku. Dia memberiku akses selama dua hari, tapi karena kita hanya libur dua hari, jadi ayo kita gunakan hari itu sebaik-baiknya," ucap Giiz bersemangat sambil tersenyum senang. Kemudian dia mengambil secarik kertas dan pulpen dari tasnya, lalu mulai menuliskan hal-hal apa saja yang perlu dia persiapkan. Krystal berpikir sejenak. Bermalam di villa? Sepertinya bukan ide yang buruk, karena dia pun bosan selalu di rumah, sedangkan ibunya selalu sibuk, jarang menghabiskan waktu di rumah karena tuntutan pekerjaannya. "Kau setuju kan?" tanya Giiz penuh harap. Krystal mengangguk. "Tapi aku tidak janji. Aku harus minta izin terlebih dahulu pada Ibu." "Apa perlu aku membantumu meminta izin?" tanya Giiz. Krystal menggeleng. Kemudian ke duanya larut dengan kegiatan masing-masing di tengah huru-hara kelas. Tidak lama kemudian, suasana kelas mendadak sunyi, tak terdengar apa pun selain dari suara ponsel Krystal yang tengah menonton acara aktor kesukaannya. Penasaran, Krystal dan Giiz langsung mengangkat kepala—mengedarkan pandangannya, kemudian langsung terpaku dengan sosok yang duduk di depan mereka sambil menopang dagu. "Hai," sapanya. Senyum Giiz langsung merekah begitu saja. Diam-diam dia mencubit oaha Krystal di bawah meja, sedangkan yang dicubit langsung mendelik sambil menepis tangan Giiz. "Hai, Jaehan. Sedang apa di sini?" tanya Giiz, mendadak melupakan kegiatannya. Jaehan menatap Krystal yang tak menanggapinya, tampak biasa saja, bahkan kembali berkutat pada ponselnya. Kemudian beralih pada Giiz yang menatapnya penuh harap. "Mengantar ini," ucap Jaehan sambil meletakkan sebotol minuman di atas meja, dia menyodorkannya ke arah Krystal. "Aku tidak haus," ujar Krystal jujur.  Jaehan mengangkat bahu. "Minum tak harus disaat kau sedang haus saja," ucapnya. Di sisi lain, ada Giiz yang menatap interaksi ke duanya dengan raut terpukau. Tidak hanya itu, hampir semua isi kelas yang melihat hal itu pun melakukan hal serupa, lebih tepatnya penasaran dengan hubungan Jaehan dan Krystal. Krystal menatap sekelilingnya, lalu berdeham saat sadar jika dia menjadi pusat perhatian. "Baiklah, aku terima. Terima kasih, ya." Jaehan mengangguk sambil mengulum senyum. Kemudian mengambil satu botol minuman lagi dari keresek yang dia bawa. Minuman itu dia sodorkan ke arah Giiz. "Untukmu." "Untukku? Ahahaha, serius? Terima kasih, ya!" ujar Giiz hiperbola. "Tapi kenapa minumannya berbeda dengan milik Krystal?" tanya Giiz sambil meneguk isinya. "Krystal tidak suka rasa jambu," ucap Jaehan apa adanya. Benar. Jaehan mengetahui hal itu saat dia menanyakannya pada Krystal tadi malam.  Giiz membeo beberapa saat. Dia langsung mengecek minuman Krystal, lalu mengangguk paham.  "Jadi, sudah sampai tahap mana hubungan kalian?" tanya Giiz sambil menatap Krystal dan Jaehan bergantian. Alisnya dia naik-turunkan seraya tersenyum lebar. Tak ada menjawab pertanyaan Giiz. Krystal menanggapinya dengan raut aneh, sedangkan Jaehan hanya mengulum senyum. Niatnya ke kelas Krystal ialah untuk menyelidiki sesuatu, berkaitan dengan Gumiho yang akhir-akhir ini selalu mengamati Krystal. Kaezn bilang tadi dia melihat Krystal tengah berbicara dengan seseorang. Tapi dia hanya melihat punggungnya. Laki-laki itu pun sempat merusak ingatan Giiz saat dia melihatnya tengah berbicara dengan Krystal. "Kenapa aku merasa kau sedang mengawasiku," ucap Krystal sambil meneguk minuman yang diberikan Jaehan. Kini mereka sedang di roof top sekolah, duduk lesehan dengan alas kotak seadanya. "Alasannya?" Krystal mengangkat bahu. "Terlihat dengan jelas." ********* Hari ini cukup melelahkan. Tadi Jaehan ingin mengantarnya pulang lagi, tapi langsung Krystal tolak mentah-mentah.  Bukan sekali dua kali ada laki-laki mendekati Krystal meski sikapnya terkesan dingin dan kaku. Namun semuanya pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekati Krystal karena tertarik dan ingin menjalin suatu hubungan. Namun, lain halnya dengan Jaehan. Krystal tak melihat hal tersebut pada diri laki-laki itu. Dia tidak mendekati Krystal dalam artian ada keinginan terselubung yang menyangkut hubungan, tapi apa? "Tumben ibu cepat pulang," ujar Krystal sambil mendaratkan bokongnya di kursi makan. Sedangkan ibu tengah menata makanan hasil masakannya. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Pekerjaan ibu cepat selesai. Jadi bisa pulang lebih cepat." Krystal mengangguk saja sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. "Besok kamu libur. Ada acara atau rencana ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Ibu. Teringat, Krystal langsung menaruh sendoknya dan menatap Ibu dengan raut serius. "Giiz mengajakku ke villa pamannya untuk bermalam, Bu." "Sekadar bermalam atau bagaimana? Jika hanya menumpang tidur, di villa teman ibu juga bisa." Krystal menggeleng. Tidak terlalu peduli sebenarnya. Jika ibu mengizinkannya, maka dia akan pergi. Jika tidak, ya dia akan tinggal di rumah saja sambil mengisi liburnya dengan menonton film. "Ibu izinkan," kata Ibu sambil menuangkan sayur ke piring Krystal. "Terima kasih, Bu," kata Krystal sambil tersenyum. "Tapi Lais harus ikut." Senyum di bibir gadis itu langsung mereda dan menatap Ibunya dengan raut tak setuju. "Ini hanya acaraku dengan Giiz, Bu." "Tidak ada salahnya, kan? Lagi pula Giiz dan Lais kan berteman. Apa salahnya Lais ikut bergabung dengan kalian? Hitung-hitung liburan bersama," kata Ibu dengan ekspresi santai, berbanding jauh dengan ekspresi Krystal yang masam. "Bu, Lais merepotkan ...." "Kata siapa?" "Lais banyak maunya, Bu. Dia cerewet." "Ya, ibu tau. Tapi bukan berarti dia tidak bisa ikut pergi liburan bersama kalian," kata Ibu. "Kalau gitu, aku nggak jadi pergi, Bu." Ibu langsung menaruh sendok dan garpunya hingga menimbulkan suara nyaring. Lalu melipat tangannya di atas meja dengan pandangan mengarah pada Krystal. "Kalau gitu, ibu akan menelpon Giiz. Pasti dia setuju kalau Lais ikut." Poinnya, Giiz tak akan berani menolak. Krystal yakin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD