Tika jadi penasaran apakah Ridho sebenarnya tahu kalau Ayu selingkuh. Ia menatap Ridho yang sedang mendekap tubuhnya. Mereka baru saja makan malam dan membicarakan perselingkuhan Ayu.
“Masa sih Mbak Ayu selingkuh Mas? Mbakku itu kayaknya tipe setia, tapi kayaknya yak aku juga gak tau pasti.” Tika berpura-pura tidak mengetahui semuanya.
“Yaa secara penampilan Mbakmu itu kan berhijab dan bertutur kata sopan santun sekali, tapi kelakuannya binal.”
“Ooh yaa. Mas tau dari mana kalau Mbak Ayu selingkuh? Emang pernah lihat sendiri. Jangan asal loh Mas nanti jadinya fitnah.”
“Ya tau lah. Mas aja lihat dengan mata kepala sendiri.”
Tika terkejut mendengarnya. “Heh! Serius Mas?”
“Serius sekali pemuas nafsuku.”
“Kasih tau dong Mas gimana ceritanya Mas bisa tau semuanya.”
“Mas pernah gak sengaja lihat Ayu sama temannya si Doni keluar dari hotel pas Mas mau booking kamar buat kita tektung dulu itu. Mas duduk di kursi taman belakang nunggu kamu pulang kuliah. Eeh… Si Doni sama Ayu turun tangga sambil gandengan tangan mesra kayak orang habis tektung lah.”
“Wow… seru dong!”
“Hahaha ga usah mikirin Ayu mending kita aja tektung abis ini. Mas gatel banget udah 7 hari gak memporak-porandakan pasar bubrah yang banyak buat semak-semak belukarnya nih.”
Tike tertawa geli mendengar perkataan kakak iparnya. “Sabar Mas, kan aku datang bulan. Nah abis itu di bantai habis-habisan sampe kendor ya Mas.”
“Dengan senang hati Mas akan membuat kendur sampai sekendurnya-kendurnya dan kalau ada batang singkong yang lain masuk kamu gak akan terpuaskan karena diameter lingkaran dan panjangnya beda. Hanya batang singkong made in Ridho dengan kepala helm bogo ini yang buat kamu merem melek.”
“Hahaha idiih Mas ini. Tapi bener loh Mas. Si Andy bilang kok punya aku sekarang beda kayak lebih longgar sampe nanya aku ada tektung sama laki-laki mana selain dia.”
“Hahaha gimana dia gak ngerasa beda. Junirnya si Andi kan lebih kecil terus yang masukin kamu terus menerus tiap hari kan batang singkong punya Mas ini. Malah kalau rumah sepi genjotin kamu terus dari pagi sampe malam. Saking legitnya empot-empot cewek asli Semarang yang liar banget ditaklukan.”
“Aaaahhh Mas…” Tika mengerek manja. “Kalau ngeledekin terus aku bekap pake s**u nih terus aku hukum jilmet 2x dan gak boleh menggempur pasar bubrah!” Dia mencibirkan bibirnya.
“Aduh jangan dong b***k seksku. Mas itu udah kena jampe-jampe lapis legit kamu yang memiliki sedotan empot-empot bikin Mas ketagihan. Please jangan hukum Mas gak boleh memporak-porandakan pasar bubrah.”
“Emang gue pikirin!” Tika berpura-pura ngambek padahal dalam hatinya memang sengaja membuat kakak iparnya mengemis untuk menggempur organ intimnya.
Ridho menghela napasnya. Kalau wanita sudah ngambek begini caranya hanya satu. Dia mengambil ponselnya dan mengirim sejumlah uang ke rekening Tika agar urusan perburungan lancar jaya. Apalah artinya uang jika tidak dapat membuat bahagia dunia dan akhirat.
“Lepis legit sayang cek mbankingnya deh.”
Tika mengernyitkan dahinya dan memeriksa rekeningnya. “Astaga Mas Ridho kok kirim uang lagi sih. Baru juga Minggu lalu kirim 2 juta sekarang malah 2 juta lagi. Jangan boros-boros Mas, aku masih ada uang kemarin juga dikirim ibu di Semarang, Mbak Ayu juga kasih uang jajan.” Sambil di dalam Tika berkata uang sogokan tutup mulut lebih tepatnya.
“Mas, aku itu bukan ngambek minta uang, tapi cuma pura-pura aja biar Mas memohon-mohon buat serangan militer di medan perang dengan bonus sedotan empot-empot.”
“Gak apa-apalah lapis legitku yang penting Mas kasih ke kamu karena Mas sayang dan ketagihan sama kamu.”
“Lain kali jangan begitu ya Mas. Tanpa uang empot-empot aku ini gratis dan selalu siap dihajar, digempur sampai kendor, di hajar sampai gak bisa jalan, di porak-porandakan sampai sehancur-hancurnya kalau itu semua yang melakukan Mas aku ikhlas.”
Ridho memeluk Tika erat. Seandainya dulu dia menikah dengan Tika bukan Ayu tentu rumah tangganya bahagia dengan ekonomi yang cukup, napsu terpenuhi, bahagia dunia dan akhirat lah.
“Seandainya saja waktu bisa diputar kembali Mas ingin kamu yang jadi istri Mas, Tika.” Wajah Ridho terlihat sedih.
“Mas kalau kamu lamar aku dulu, aku itu masih SMP hahaha…”
“Nah maka dari SMP itu Mas yang membobol perawan kamu. Aduh gak bisa Mas bayangkan kalau kamu perawan sedotan empot-empotmu pasti luar biasa banget.” Ridho membayangkan bercinta dengan Tika saat gadis itu masih belia.
“Hahaha maka dari itu Mas semua mantan-mantan aku yang pernah menikmati sedotan empot-empot aku pasti ingin kembali. Susah cari uang bisa nyedot walau udah gak perawan dan banyak yang make, hahaha.” Tika tersenyum bangga dengan aset yang dimilikinya.
“Kamu memang wanita yang luar biasa. Nah… nah… ini batang singkong mulai mengeras bikin risih aja.” Ridho membenahi celana resleting celana panjangnya.
“Yaa udah Mas ke hotel yuks. Aku juga ingin di hajar habis-habisan sama Mas. Udah seminggu ini gak ada yang gempur dan menyerang kasar.”
“Niat baik janganlah ditunda-tunda.” Ridho dan Tike tertawa bersama. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra dan saling mencumbu.
***
Ridho dan Tika sudah tidak tiba di kamar hotel melati untuk saling melepaskan hasrat dan gairah. Tanpa tunggu aba-aba Ridho langsung menyerang Tika kasar. Merobek baju Tika dan malah membuat Tika menjadi semakin b*******h.
“Mas main kasar ya dan perkosa aku, Mas. Aku pengen diperkosa dengan brutal tanpa ampun sampai empot-empotku sakit buat jalan,” ujar Tika yang kecanduan seks.
“Perintah nyonya akan saya lakukan, jangan mengeluh, jangan marah, jangan nangis kalau perih, tapi pasti dijamin perih nagih keenakan.”
“Buktikan semuanya kamu si tukang kebun. Siksa aku, perkosa aku nyonya yang membayar gajimu.’
Ridho semakin semangat dan b*******h menghajar Tika habis-habisan tanpa ampun. Entah berapa kali Tika mendapatkan klimaksnya sampai dia lemas tak bertenaga, tapi kakak iparnya membuktikan semua yang diucapkannya menghajar, menggempur, memporak-porandakan tubuhnya sampai tak tersisa.
“Kamu memang luar biasa Mas.” Tika tersenyum dengan tubuh lemas dan paha terbuka lebar membiarkan laki-laki itu terus menerus menghujam intinya sambil menggeram, menjerit keras merasakan kenikmatan. Dia sudah tak tahu lagi akhir percintaan mereka malam ini karena sudah pingsan tak sanggup melayani napsu liar kakak iparnya tersebut.
***
Pagi harinya
Ridho terbangun oleh harum sabun dan rasa geli di telinganya. Bibir yang hangat dan harum pasta gigi itu telah menciumnya pada mata, pipi, hidung dan bibirnya.
"Bangun Mas, sudah pagi,” ucap Rika gadis itu sambil terus menciumnya.
Tubuh Ridho menggeliat dan merasa seperti bermimpi. Ia mendengar Tika berkata entah kepada siapa, "Eh.. kamu juga ikut bangun.” Untuk sesaat ia tidak mengerti dan baru sadar ketika celananya ditarik dan dilepaskan oleh adik iparnya.
"Uuuu, singkong kesukaanku yang perkasa pagi-pagi udah bangun aja sih minta di emut ya?" ucap Tika sambil memegang kejantanan Ridho.
Ridho mengerang perlahan saat mulut Tika menggelomoh dan mengulum b***************n. Gadis itu menjilati dari kepala sampai ke pangkalnya membuat Ridho mengerang lembut, “aaah Tika… aaah.”
Tika hanya tersenyum tipis saat mendengar erangan Ridho. Ia membuka handuk yang melilit tubuhnya dan melemparkannya ke kursi. Ia menduduki paha Ridho dan memegang kejantanannya memukul-mukul di luar belahan intinya.
“Aku masuk ya. Aduh Mas enak banget eih.. aaah.” Tika mendesah sendiri saat memasukan kejantanan Ridho ke dalam tubuhnya.
Ridho dan Tika saling meringis-ringis keenakan. Awalnya Tika mengoyangan perlahan dan serirama, lalu sedang dan kemudian cepat.
Ridho terus mengerang-erang dan akhirnya mengejan kuat. Tubuh Tika menggelinjang bersamaan dengan Ridho yang merasakan kenikmatan yang sama. Ia tersenyum tipis dengan bangga berhasil memuaskan suami kakaknya sampai membuat pria itu ketagihan. Tika sangat bangga dengan prestasinya membuat pria-pria mengemis untuk menggempur intinya.
"Akhhkhkh... Tika sayang, kamu, kamu nakal,” ujar Ridho sambil mencubit hidung Tika.
"Biarin,” ucap Tika dengan senyuman menghiasi wajahnya. “Tapi enakkan, Mas.”
“Heum, enak banget. Kamu pintar banget memuaskan laki-laki.”
“Iya dong siapa suruh punya batang singkong enak begitu.”
“Dan kamu juga buat Mas kecanduan. Aduuh ini empot-empot bikin pengen dimasukin tiap hari tanpa henti aja sih.”
“Aaahhh Mas sukanya ngeledek terus. Nih lihat muncratnya banyak banget." Tika melepaskan persatuan mereka.
“Yaelah sayang. Kan itu hasil seminggu gak dapat jatah. Maaf ya tadi malam Mas di luar kendali genjotin kamu sampai lemas dan pingsan gitu.”
“Gak apa-apa Mas ini jadi pengalaman bercintaku yang luar biasa dan gak mungkin bisa terjadi kalau dengan laki-laki lain.” Tika walaupun tubuhnya remuk redam, tapi dia sangat menyukai penyiksaan napsu yang tak terkendali.
“Nanti sebulan sekali kita menggila begitu lagi yak. Mau gak cinta?”
“Sangat… sangat mau Mas. Aku akan menantikan berbagai macam siksaan yang Mas berikan dan jangan kasih ampun yaa Mas.”
“Iya lapis legit empot-empot dengan sedotan rucika.”
Ridho dan Tika tertawa bahagia bersama, makan siang, dan saling bercanda seperti orang yang lagi kasmaran dan dimabuk cinta. Setelah puas mereka pulang ke rumah sendiri-sendiri agar tidak ketahuan Ayu.