Hubungan Ayu dan Ridho sudah tak sama lagi seperti dulu. Mereka berdua saling bertengkar dan menyalahkan satu dengan yang lain.
“Kamu selingkuh yaa Mas!” teriak Ayu frustasi.
“Hahaha… kamu lucu sekali Ayu. Bukannya kamu yang selingkuh sama si Doni itu dan aku hanya mengikuti alur yang kamu buat aja. Memangnya cuman kamu yang bisa,” ejek Ridho.
Ayu melayangkan tangannya dan mendaratkannya di pipi Ridho. Ridho tidak membalas tamparan yang dilakukan Ayu padanya. Walaupun, ia tahu kelakuan Ayu, tapi pantang baginya menampar wanita.
“Kita bercerai saja yaa Yu,” ucap Ridho sambil keluar dari kamar.
Ayu terperangah mendengar perkataan Ridho. Ia tidak bisa membiarkan Ridho menceraikannya, ia sangat menyesali perselingkuhannya dengan Doni, tapi tak ingin berpisah dari suaminya. Ia masih menyayangi Ridho.
“Mas… Mas… aku mohon jangan ceraikan aku, Mas,” ucap Ayu sambil memohon pada Ridho. “Aku… aku akan melakukan apapun asal kamu jangan menceraikan aku.”
“Ayu hubungan kita sudah tak bisa dipertahankan lagi. Aku ingin kamu bahagia dengan pilihan kamu si Doni.”
“Pasti Tika yang memberitahukan kamu kalau aku berhubungan sama Doni. Itu semua bohong Mas. Tika, dia sengaja memfitnah aku.”
“Jadi Tika tau kalau kamu selingkuh sama Doni.”
Ridho tak percaya kalau Tika mengetahui tentang perselingkuhan Ayu dan Doni. Kenapa selama ini Tika tidak pernah memberitahukannya?
“Di mana Tika?” tanya Ridho sambil masuk ke dalam kamar Tika.
“Kenapa Mas?” tanya Tika yang terkejut Ridho masuk ke dalam kamarnya dan makin tak percaya Ridho menarik tangannya keluar kamar dengan kasar.
“Kamu kurang ajar Tika!” seru Ridho dengan marah.
“Aduh lepasin! Sakit Mas.” Mata Tika melihat Ridho tak percaya, kenapa lakdan melihat Ayu menangis di ruang keluarga.
“Mbak, Mas ada apa ini? Kalau kalian punya masalah jangan bawa-bawa aku dong!” Tika berteriak kesal menatap Ridho dan Ayu secara bersamaan.
“Dasar kamu kurang ajar! Kenapa gak bilang tentang kelakuan binal, liar mbakmu yang murahan itu selingkuh dibelakangku sama si Doni!”
Tika memilih untuk mengatakan apapun. Apapun masalah rumah tangga mereka, yaa urusan mereka sendiri. Meskipun ada sedikit rasa bersalah ke Ridho dan marah Ayu secara bersamaan.
“Dasar yak kelakuan kalian kakak dan adik sama aja! Satu keluarga yaa jadinya saling support dan saling menjaga kelakuan b***t masing-masing.” Suara Ridho terdengar keras dan menatap marah wajah Ayu dan Tika secara bergantian.
Ayu terkejut mendengar perkataan suaminya. Berarti bukan adiknya yang membongkar semua rahasia perselingkuhannya dengan Doni. Jika bukan Tika lalu siapa yang mengatakan semuanya ke Ridho.
“Mas jangan salahkan adekku, Mas. Tika sudah memperingatkan aku, bahkan melarang hubungan aku dengan Doni. Ta–tapi aku gak mau mendengarkan siapapun dan menyuruhnya tau diri dan diam jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain.”
“Tika, kamu tau di mana Ayu selingkuh?” cerca Ridho.
“Di rumah ini Mas. Aku memergoki Mbak Ayu dan laki-laki itu lagi bercinta di kamarmu.” Tika menunjuk kesal ke arah dalam kamar sepasang suami istri tersebut.
Ridho menatap Tika dengan marah. Ia sebenarnya tidak memperdulikan Ayu berselingkuh, tapi ia marah pada Tika kenapa dari awal tidak memberitahukan perselingkuhan Ayu dan malah bersekongkol. Ia merasa dibohongi oleh dua orang wanita yang disayanginya.
“Mas… aku mohon maafkan aku. Aku mohon jangan ceraikan aku.” Ayu kembali memohon sampai berlutut di depan Ridho.
“Aku jijik sama kamu, Ayu. Kamu tega-teganya berbuat serong di tempat tidur kita. Dasar kamu, p*****r!”
“Mas… Aku sudah berpisah dari Doni, Mas. Dia bukan laki-laki yang baik. Dia ga seperti kamu, Mas. Kamu lah laki-laki paling baik untukku.”
“Semua sudah terlambat Ayu. Aku memutuskan kita mentalak kamu.” Ridho masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil koper dan memasukan semua baju-bajunya.
Setelah membereskan semua barang-barangnya. Ridho menarik koper besar ke luar kamar dan melihat Tika sedang mengusap-usap punggung Ayu yang menangis sesenggukan.
“Mas… aku mohon sama kamu jangan ceraikan aku. Aku berjanji aku berubah dan menerima semua konsekuensinya asalkan jangan ceraikan aku, Mas.” Ayu kembali memohon pada Ridho sambil memegang tangannya.
Ridho menghempaskan secara kasar tangan Ayu. “Ayu, aku sudah mentalak cerai kamu dan sampai jumpa di Pengadilan Agama.” Ridho untuk pergi dari rumahnya meninggalkan tatapan kedua wanita yang pernah ditidurinya.
Ridho merasakan begitu bebas tanpa Ayu lagi. Ia memang sudah jijik dengan istrinya tersebut walaupun kelakuannya kurang lebih sama seperti Ayu, tapi begitulah ego-ny seorang pria yang merasa tak bersalah. Tak lama ponselnya berdering dan melihat nama Tika tertera di sana.
“Apa!” jawab Ridho ketus.
“Kamu mau ke mana Mas?” tanya Tika.
“Aku pergi dari rumah itu dan tak akan pernah mau kembali dengan Ayu.”
“Apa!” jawab Ridho ketus.
“Kamu mau ke mana Mas?” tanya Tika.
“Aku pergi dari rumah itu dan tak akan pernah mau kembali dengan Ayu.”
“Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita juga harus..." Tika tidak rela harus melepaskan Ridho.
“Kita? Kamu jangan bercanda dan menuntut sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Hubungan kita itu just for fun, Tika. Tidak ada ikatan, tidak ada rasa cinta hanya napsu saling memuaskan. Kamu juga yang bilang sendiri dari awal dan kita sepakat."
"Mas bukan itu maksudku. Aku sudah terbiasa terpuaskan sama junior mu dan aku ketagihan genjotanmu, Mas. Kamu mampu memuaskan napsu liar ku, Mas.”
“Semuanya bisa kita atur dan kalau kamu masih membutuhkan genjotanku sih ga masalah, tapi jangan berharap aku mau menikahimu yaa.”
“Santai aja Mas. Mana mau juga aku menikah sama laki-laki pas-pasan kayak kamu, Mas. Cowokku, Andi kan anak orang kaya, kalau mau nikah sih sama Andi, tapi kalau kepuasan dan genjotan kamu memang juara Mas.”
“Hahaha... Baguslah. Jangan meniru kelakuan bodoh Mbak mu itu. Kamu hubungi Mas aja yaa kalau butuh genjotan dan kepuasan."
"Makasih yaa Mas.”
Ridho tak ingin terlibat hubungan apapun dengan kakak beradik itu selain tentang kepuasan biologisnya. Selama Tika masih mau dijadikan alat pelampiasannya, ia akan siap sedia menggempur liang senggama wanita itu sampai puas.