Atmaja memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut sakit. Sudah hampir 3 jam ia mencari informasi namun tidak juga ia dapatkan. Tentang seorang pria yang dikenalkan oleh putrinya beberapa jam yang lalu, Atma sedang coba menggali informasi tentang pria itu. Bukan, Atma bukan tipikal orang yang seperti itu, dia bisa menerima siapa saja untuk menjadi pasangan putrinya entah itu laki-laki yang bisa atau laki-laki sukses sekalipun asalkan dia dapat membahagiakan sang putri semata wayang-nya.
Ya, siapa saja asalkan bukan Bian!
Atmaja tahu ada ratusan orang yang memakai nama Bian, atau bahkan jutaan orang di dunia ini memiliki nama itu. Akan tetapi, Atmaja merasa khawatir kalau Bian yang dikenalkan oleh anak gadisnya adalah Bian yang sama dengan yang dikenalnya.
Bagaimana cara anak muda itu menatapnya, bagaimana dia menarik sudut bibirnya saat melihatnya marah, ya, itu hanya dilakukan oleh orang yang menaruh setumpuk kebencian padanya. Akan tetapi, Atma tidak memiliki bukti apapun untuk membenarkan dugaannya saat ini.
Lima belas tahun, selama itu ia tidak sekalipun pernah bertemu dengan anak itu, anak yang ia tinggalkan karena kebencian yang menumpuk pada wanita yang melahirkannya.
Hubungan mereka memang tidak baik-baik saja sejak awal, hutang budi membuatnya menikahi wanita yang tidak ia cintai. Atma sudah mencoba untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarganya namun sialnya dia tidak bisa. Rasa cintanya pada Lidya tidak mudah digantikan dengan wanita lain, dan karena hal itu pula ia memutuskan untuk menikah diam-diam dibelakang wanita itu dengan Lidya. Kehidupan keluarga impiannya bersama Lidya sangat harmonis, namun tidak dengan yang satunya, Atma tidak bisa membohongi perasaannya, tidak bisa terus-menerus bermain peran dengan wanita itu.
“Bagaimana kalau dia benar-benar anak itu? Apa yang dia lakukan di sini?” gumam Atma seraya menerawang jauh, “dan setelah bertahun-tahun lamanya kenapa baru sekarang? Apa yang sedang anak itu rencanakan? Apa yang sedang coba dia lakukan dengan mendekati Fallen? Kenapa dia tidak menjelaskan siapa dirinya pada Fallen dan malah membuat kerumitan seperti ini?”
Atmaja menghela napas, pria paruh baya ini meremas rambutnya cukup keras berharap apa yang ia lakukan dapat meredakan rasa sakit yang menghujam kepalanya. “Tidak, aku tidak akan membiarkan sesuatu menimpa keluargaku. Aku akan menghentikan apapun yang anak itu rencanakan.” Atma kemudian mengambil ponsel miliknya di atas meja kemudian menekan beberapa digit nomor.
“Atma, kau tau ini jam berapa?” suara seseorang di seberang saluran terdengar jengkel.
Melirik jam yang menggantung di atas dinding ruang kerjanya, Atma mendesah saat melihat jarum jam berada di angka 12, ini memang gila menghubungi seseorang pada jam selarut ini. Akan tetapi kalau Atma tidak melakukannya sekarang maka dia akan menjadi semakin gila. “Pram, aku butuh bantuanmu.” ia menghubungi salah satu temannya yang bekerja sebagai detektif swasta.
Dengkusan terdengar jelas, “Apa tidak bisa besok pagi saja?”
“Tidak bisa! Aku ingin kau menyelidiki seseorang untukku. Bian, aku ingin semua data tentang anak itu. Dua hari, kau bisa melakukannya?"
Mendengar suara Atma yang terdengar gamang membuat Pram tidak bisa untuk menolak permintaan sahabatnya tersebut. “Baiklah.”
.
.
.
"Sial, aku tidak bisa tidur!"
Sudah pukul 02.00 pagi namun Fallen masih belum bisa memejamkan matanya. Kata-kata Bian sebelum pria itu benar-benar pergi pada sang Ayah entah mengapa begitu mengusik pikirannya.
"Saran dariku Tuan Atmaja, perlakukan lah keluargamu dengan baik kalau Anda tidak mau kehilangan mereka selamanya."
Kenapa Bian mengatakan hal itu seolah-olah dia mengetahui sesuatu tentang Ayahnya. Dan alasan yang membuat Fallen penasaran karena perkataan Bian membuat sang Ayah terlihat terkejut kemudian marah.
"Aaargh … aku pusing, aku tidak mengerti dan tidak menemukan satupun jawaban!" erang Fallen setelah menggunakan otaknya bekerja keras selama satu setengah jam.
Gadis itu menyingkap selimut, ia akan pergi ke dapur untuk membuat sesuatu. Coklat hangat selalu menjadi minuman yang cocok dan ampuh untuk membuatnya tenang dan tidur dengan nyenyak tanpa banyak pikiran.
Membungkus kedua kakinya dengan sandal bulu berkepala panda, Fallen kemudian berjalan dengan bimbang melewati lorong kamar yang begitu sepi dan dingin. Huft … rumah besar nan mewah ini entah mengapa sama sekali tidak membuat perasaannya bahagia. Andai saja Frike masih ada, mungkin Fallen tidak akan merasa kesepian walau Ayah dan Mamanya sibuk bekerja di luar.
"Aku butuh bantuanmu, Pram."
Fallen mendengar suara sang Ayah dari arah ruang kerjanya yang terletak tak jauh dari tangga.
"Papa belum tidur juga?" gadis itu menggumam. Seulas senyum terbit di bibirnya. Fallen tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa tidur dengan nyenyak walau tanpa harus mengkonsumsi coklat hangat. Yap, bacaan dongeng sang Ayah lebih baik dari coklat hangat sejak bertahun-tahun lalu.
Fallen berjalan mengendap-endap untuk mengejutkan sang ayah namun—
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang untukku. Bian, aku ingin semua data tentang anak itu. Dua hari, kau bisa melakukannya?"
—apa yang ia dengar atas pembicaraan sang Ayah dengan seseorang di saluran telepon membuat Fallen mematung di tempatnya.
Apa yang sedang coba Papa lakukan? Kenapa Papa menyuruh Om Pram untuk menyelidiki Bian?
.
.
.
“Bu, aku baru saja bertemu dengan pria itu.”
Bian berdiri di dekat jendela, tatapannya sarat akan kesedihan dan kebencian. Rasa sesak begitu menumpuk sampai rasanya ia muak dan ingin melampiaskannya pada seseorang agar orang itu merasakan apa yang selama ini ia rasakan.
“Aku sudah berjanji pada Ibu kalau aku akan membuat dia kembali ke asalnya,” ucap Bian sambil memandang potret ibunya di layar ponsel. “Aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia disaat kita merasakan sakit yang begitu dalam.”
Bian menengadahkan wajahnya ke atas, iris kelamnya melihat gugusan bintang-bintang yang berpendar indah di atas sana. “Ini baru permulaan, kalian akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang amat kalian cintai seperti yang kami rasakan.”