Suasana tegang ini …
Fallen menatap kedua orang di ruang tamu itu bergantian. Bian terlihat tenang namun dari ekspresi pria itu ada sesuatu hal yang membuatnya terlihat puas. Sedangkan sang Ayah, dia lebih menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada Bian, semua emosi tergambar begitu jelas dari raut wajahnya dan juga kedua tangan yang terkepal.
"Minuman sudah siap." Fallen berusaha menginterupsi kegiatan kegiatan mereka. "Teh hangat untuk Papa dan kopi untukmu." ocehnya kembali seraya menyodorkan minuman itu bergantian pada mereka.
Sial! Umpat Fallen dalam benaknya karena triknya sama sekali tidak mempan. Sosok Ayahnya masih menunjukkan konfrontasi pada kekasihnya.
Oh, Tuhan … padahal ini adalah pertemuan pertama mereka tapi kenapa berakhir seperti ini? Lagi pula, apa alasan Ayah tidak menyukai Bian sih? Kalau karena masalah dirinya pulang larut … Fallen yakin kok ini bukan pertama kalinya ia pulang larut begini tapi Ayahnya tidak begitu membesar-besarkan sampai sebegininya.
Fallen sangat tahu kalau Ayahnya itu tipikal orang yang mudah marah apalagi kalau sudah menyangkut tentang dirinya, terlebih lagi dia pulang diantarkan seorang pria di jam selarut ini. Akan tetapi … bukankah ini terlalu berlebihan?
Fallen masih ingat saat dirinya membuka pintu rumah 15 menit yang lalu, sosok itu sudah menunggunya di ruang tamu seperti biasanya, duduk sambil bersedekap d**a tipikal Bapak-bapak protektif.
"Dari mana saja jam segini baru pulang?!" suara Atmaja tidak meninggi namun Fallen cukup peka kalau dalam setiap ucapan itu ada kemarahan.
Fallen memberikan cengiran andalannya untuk meluluhkan kemarahan sang Ayah. "Oh, Papa!" Ia berpura-pura kaget, "jantungku hampir saja melorot ke perut karena kaget!"
Atmaja menghela napas sambil menggeleng kepala, dia bangkit dari tempatnya semula untuk pergi ke kamarnya. Masalah menceramahi anak gadisnya bisa ia lakukan besok pagi yang terpenting saat ini dia sudah pulang. Akan tetapi ... sosok di ambang pintu tepat di belakang tubuh anak gadisnya membuat pria berumur setengah abad itu mengurungkan niatnya.
Dia … terlihat familiar.
"Kau—" Atma mencoba mengulik identitas pria yang bersama dengan anak gadisnya tersebut.
Fallen tersenyum, ia lekas mengapit lengan sang Ayah kemudian membawanya mendekat ke arah pintu. "Dia penolong Fallen, Papa. itu lho … yang waktu itu mengantar Fallen pulang saat Fallen mabuk beberapa bulan yang lalu."
Atma menaikkan satu alisnya sambil berpikir. 'Oh … yang waktu itu.'
"Ayah, kenalkan, dia Bian." ucap Fallen penuh semangat, "dan Bian, dia ayahku yang super hebat."
Bian?
Atmaja tersentak bukan main saat nama itu mengalun di telinganya setelah bertahun-tahun lamanya. Sekali lagi, Atma sekali lagi menatap sosok itu hanya untuk memastikan kalau dia—
Namun sialnya Atma tertangkap basah. Tatapan mereka saling bertubrukan. Tatapan itu … ya, Atma mengenal tatapan itu dengan jelas. Tatapan penuh kebencian yang jelas-jelas ditujukan untuk dirinya.
—tidak, dia tidak mungkin anak itu kan?
"Selamat malam, Tuan Atma, maaf sudah membuat Anda khawatir tentang putri Anda."
Dan suara yang mengalun itu mengingatkan Atma pada masa silam.
"Papa, ummm … sebenarnya ini bukan salah Bian. Aku yang sengaja mengulur-ulur waktu saat Bian memintaku untuk pulang."
Atmaja tidak berkomentar, tidak juga menangkap dengan jelas apa yang dikatakan oleh putrinya saat ini. Pikirannya terlalu penuh, terlalu dipaksakan bekerja dengan keras, terlalu banyak pertanyaan dan dugaan tentang lelaki yang saat ini duduk diseberangnya, lelaki yang terlihat puas tetang pencapaiannya.
"Papa, Bian benar-benar laki-laki yang cerdas seperti Papa. Dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri sampai mendapatkan gelar magisternya. Dan saat dia kembali kesini, dia membuat perusahaannya sendiri, di usianya yang masih muda—" Suara sang Putri menarik kembali Atmaja pada situasi saat ini.
"Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam." titah Atmaja pada pria muda di depannya.
Bian tersenyum, bukan senyum yang menyenangkan untuk dilihat. Hal itu membuat Atma semakin berang bukan main. Kalau tidak ada Fallen, mungkin pria muda bernama Bian itu akan ia tarik kerah bajunya kemudian ia seret keluar rumah.
"Bukankah itu terlalu kasar untuk mengusir seseorang, Tuan Atmaja?" kekeh Bian.
Tidak, Atmaja menggeleng. Dirinya tidak boleh marah pada seseorang yang belum tentu benar kalau dia adalah 'Dia' yang dipikirkannya. Di dunia ini yang bernama Bian bukan cuma anak itu. Mungkin saja yang di hadapannya adalah Bian yang lain.
"Pa—"
"Dan kau, masuk ke kamar!" titahnya pada anak gadisnya yang coba untuk mendebatnya.
Fallen mengulum bibirnya, "Setidaknya biarkan Bian meminum minumannya dulu." cicitnya kemudian.
Atmaja tidak menunjukkan bahwa dia berubah pikiran dari apa yang dititahkannya tadi. "Apa yang kau tunggu, anak muda?" ia bertanya karena pria itu belum juga berdiri dari tempatnya duduk.
Bian menghela napas, dia meraih cangkir berisi cairan pekat di atas meja kemudian membawanya ke mulut. Dengan santai pria itu menyesap isi cairan itu sambil menatap Atmaja dengan tatapan yang sulit Fallen artikan, seolah dia tengah menyampaikan teka-teki yang hanya mereka berdua saja yang paham.
"Kopinya manis, namun aku merasakan pahit yang pekat di ujung tenggorokanku." ucap Bian setelah meletakkan kembali cangkir itu ke tempat semula. "Senang bertemu dengan Anda tuan Atma, dan terima kasih untuk kopinya Fallen." katanya setelah beranjak dari tempatnya duduk kemudian berjalan ke arah pintu keluar.
"Sama-sama." jawab Fallen, gadis itu hendak mengantar kekasihnya tersebut sampai pintu keluar namun sang Ayah lebih dulu menghentikannya. "Papa—" Fallen hendak memprotes untuk yang kesekian kalinya namun saat melihat raut wajah sang ayah yang terlihat murka membuatnya menelan kembali apa yang ingin dikatakannya.
"Masuk!"
Bian yang hampir sampai di ambang pintu keluar lekas menghentikan langkahnya sejenak. Hatinya selalu kebas setiap kali melihat perlakuan seperti itu, membuatnya teringat pada kenangan bertahun-tahun lalu.
"Saran dariku Tuan Atmaja, perlakukanlah keluargamu dengan baik kalau Anda tidak mau kehilangan mereka untuk selamanya."