Bab 3 : Umpan

1166 Words
"Ahhh ... Ehm ... Uh ... kau terlalu kasar, sayang!" Seorang wanita mendesah nikmat saat kewanitaannya tengah digarap oleh dua buah jari sekaligus oleh si Pria yang tak lain adalah Adrian. "Oh, tidak!" wanita itu memekik, ia merasakan jari lain kembali masuk, memenuhi liang kewanitaannya, bergerak semakin liar di bawah sana. "Hah ... Aaaah ... lebih cepat." mulut si pirang meracau, gelombang demi gelombang yang datang membuat kewarasannya seakan terlempar entah kemana. "Jangan dibuka!" desis Adrian saat wanita di bawahnya hendak membuka dasi yang sengaja diikat untuk menutupi kedua mata wanita itu.  Ya, Adrian tidak mau merusak fantasinya. Merusak imaji tentang gadis manis dengan mata bulat berwarna coklat terang yang membuatnya terangsang hanya dengan sebuah kedipan mata dan senyumannya yang terlihat begitu polos. Bibir wanita ini memang jauh berbeda dengan si kelinci manis, tapi setidaknya Adrian bisa meredam dahaganya saat ini. Adrian meraup bibir sensual wanita di bawahnya dengan rakus, mengulumnya kuat dan meninggalkan gigitan di sana. "Adrian ..." wanita itu merapalkan namanya, kedua lengannya yang tidak diikat menjalar ke belakang lehernya, menyusup ke dalam balik kemeja yang masih melekat di tubuhnya, memeluknya erat, membuat tubuh mereka semakin menempel erat. "b******k!" Adrian mengumpat saat mengingat bagaimana kelinci manisnya bergelayut manja pada lengan seorang pria yang mungkin dia adalah kekasihnya.  Memejamkan mata, Adrian menempatkan miliknya di depan kewanitaan wanita di bawahnya sebelum mendorong dengan satu kali hentakan.  'Bian ... kau akan membawaku ke apartemenmu?' Suara manja gadis bernama Fallen saat memanggil nama si pria membuat Adrian menggigil. Ia sedang membayangkan bagaimana jika gadis itu merapalkan namanya, membayangkan saat ia menjerit saat ia memasukkan kejantanannya pada kewanitaannya yang masih sempit. "Ahn ... oh, Adrian ... ah ... Aku akan ke luar." Shit!  Adrian mengumpat, suara wanita di bawahnya sukses membuyarkan imajinasi Adrian, suara yang tidak diharapkan itu meredam gairah yang hampir mencapai puncak dan wanita ini bisa-bisanya mengatakan kalau dia akan ke luar? Adrian menggeram, ia lekas mengeluarkan miliknya dari liang senggama wanita pirang di bawahnya. Tidak, Adrian tidak akan memberikan kepuasan disaat dirinya tidak merasa puas. "Adrian, apa yang kau lakukan?" wanita pirang tersebut bersungut marah. Ia merasa kesal dengan perlakuan Adrian yang membuatnya terangsang namun kemudian membuatnya merasa kosong, tidak terpuaskan. "Tiba-tiba saja aku tidak bersemangat, Clara." jawab Adrian, dia mengambil tisu di atas meja kemudian mengelap jarinya yang basah karena cairan milik si pirang. "Tenang saja, aku tetap akan membayarmu full." kata Adrian kemudian. "Kau sudah tidak waras?" Clara menarik dasi Adrian yang semula menutupi kedua matanya, "Milikmu bahkan masih terbangun Adrian, jangan mengelak." Adrian mendengus sambil menatap miliknya yang memang masih menegang, tapi mau bagaimana lagi? Adrian sudah kehilangan selera untuk bermain dengan si pirang sialan itu.  Mengambil jas miliknya yang teronggok di atas lantai, Adrian kemudian berkata, "Ya, tapi sayangnya dia bangun bukan karena desahanmu." setelah mengatakan itu Adrian lekas menyelinap keluar, meninggalkan Clara yang masih tertegun di atas ranjang. "b******k!" umpat Clara setelah kesadarannya terkumpul. Melirik ke arah meja, iris pekatnya mendapati sebuah amplop yang lumayan tebal. Bibirnya tersungging miris. "Bahkan tanpa uangmu pun aku akan dengan senang hati memberikan tubuhku padamu, Adrian!" . . . Fallen melirik sosok di sebelahnya —seorang pria yang tengah fokus mengemudi —dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak? Fallen sudah bilang puluhan kali, bahkan ia merengek padanya namun pria itu tetap saja menyeretnya ke dalam mobil dan mengantarkannya pulang. "Kenapa menatapku?" ujar Bian seraya melirik Fallen dari sudut matanya. "Aku tidak mau turun." tukas Fallen sambil menyilangkan tangan didepan d**a. Apa Bian buta? —dumel Fallen dalam hati. Seharusnya dia bisa melihat keadaan rumahku yang begitu gelap sudah pasti tidak ada orang di rumah! —erang Fallen kembali. "Ayo, aku akan mengantarmu sampai depan pintu." Fallen menggeleng, "Tidakkah kau lihat? Mereka pasti belum pulang." ungkapnya kemudian, "aku tidak mau tidur sendirian, bagaimana kalau ada perampok yang masuk ke dalam rumah dan ... dan ...." "Dan?" "Membunuhku?" Bian menarik sudut bibirnya sebelum memberikan jentikan di kening gadis itu. "Jangan terlalu banyak menonton film thriller." ujarnya sebelum membuka dan menutup pintu mobil, kemudian berjalan memutar untuk membuka pintu penumpang. "Keluar." titahnya pada Fallen. "Plis …" Fallen kembali merengek sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah, berharap apa yang ia lakukan bisa mengubah pendirian Bian.  "Harus berapa kali aku mengatakan tidak?" jawab Bian tanpa ekspresi berarti. Fallen mengerucutkan bibirnya, "Kenapa kau begitu keras kepala memintaku pulang? Kau menyembunyikan wanita lain di sana?" tanyanya spontan, iris coklatnya mengamati ekspresi Bian yang entah mengapa terlihat tidak suka atas tuduhannya. "Apa aku terlihat seperti pria tukang selingkuh hanya karena memintamu pulang?" suaranya terdengar serak dan kental akan ketidak sukaan.  Bian berdecak, dia membiarkan pintu penumpang tetap terbuka sedangkan dirinya pergi ke bagian depan mobil, bersandar di sana sambil memikirkan sesuatu.  "Aku tidak bermaksud menuduhmu, aku hanya … ingin menghabiskan waktu bersama denganmu sedikit lebih lama?" ucap Fallen sambil membawa dirinya keluar dari dalam mobil, ia pergi menyusul Bian yang tengah bersandar santai di bagian depan mobil sambil menengadahkan wajahnya ke atas.  "Bian—" panggil Fallen seraya menggenggam tangan besar milik si pria. Hubungan mereka sudah cukup lama, akan tetapi … tidak satupun yang Fallen ketahui atau pun yang Fallen mengerti tentang pria ini. Pertemuan pertama mereka sangat tidak terduga, pria itu menyelamatkannya dari incaran para predator laki-laki saat dirinya mabuk di sebuah kelab malam 6 bulan yang lalu. Sosoknya yang tampan dan hangat, dan baik membuatnya tidak bisa untuk tidak jatuh cinta padanya. Namun … entah di mana bagian yang salahnya, pria hangat dan baik itu berubah seperti ini. Bahkan, Bian tidak pernah sekalipun menceritakan dirinya apalagi keluarganya.  Fallen sering memikirkan hal ini, sebenarnya apa alasan Bian mau berkencan dengannya karena ... entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya kalau pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Bian begitu sulit ditebak, terkadang dia bisa menjadi sosok yang lembut dan perhatian, namun disisi lain dia seperti sosok yang bisa kapan saja membunuhnya. Herannya, Fallen tidak bisa untuk membencinya, tidak pernah bisa untuk meninggalkannya. Fallen berjalan satu langkah ke depan, ujung sepatu mereka sudah saling bersentuhan yang menandakan bahwa jarak mereka hanya dipisahkan sejengkal tangan. "Maafkan aku." ucap Fallen sambil melingkarkan kedua tangannya di tubuh Bian, memeluk pria itu lebih erat sambil menghirup parfumnya yang menenangkan. "Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku … akhir-akhir ini kau sangat sulit dihubungi apalagi untuk bertemu." "Sedang banyak proyek yang harus aku tinjau, jadi tidak setiap saat aku bisa menelponmu." Fallen mengangguk, "Tapi setidaknya kau bisa mengirimiku pesan." "Ya, lain kali aku akan mengirim pesan." jawab Bian, "aku rasa salah satu dari orang tuamu sudah pulang, lihat mobil yang terparkir di garasi?" ucap Bian mengalihkan topik pembicaraan. "Itu mobil Papa." gumam Fallen. "Aku akan terkena masalah kali ini." sambungnya lagi. "Aku akan berbicara dengannya." ucap Bian. "Kau serius?" Tidak ada jawaban, pria itu hanya menarik sedikit sudut bibirnya kemudian segera memimpin jalan menuju rumah dengan papan nama 'Atmaja House' yang terpasang elegan di depan gerbang. Fallen mengekor, saat sampai di depan gerbang, ia segera mengeluarkan pass card untuk membuka gerbang tersebut. Sangat cerdas! —pikir Bian pada siapa pun yang mendesain gerbang rumah tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD