Menyangkut kamu, aku serakah

1258 Words
“Cha, bukain pintunya dong. Iya aku ngaku salah, tidak seharusnya begitu. Tapi kita sudah menikah sekarang, masa harus pisah kamar?” Satya sendiri yang mengusulkan pisah kamar, dia juga yang membujuk untuk tidak pisah. Sedangkan Chaca yang tidur sejak tadi siang pun merasa diamnya sudah cukup. Ceklek “Aku lapar.” Kata Chaca keluar dengan mata yang sudah Segede bawang putih. “Kamu nangis lama sekali, tadi?” Tanya Satya yang sebenarnya bisa melihat apa yang sudah terjadi di dalam kamar. “Menurutmu?” Rasanya Chaca ingin kembali memuntahkan air matanya di depan Satya. Tapi air mata itu sudah mengering dan perutnya sangat lapar. “Maaf,” ini adalah kata maaf Satya yang mungkin sudah yang ke seratus atau seribu kali dalam sehari. “Memangnya kenapa kalau kita pisah kamar? Bukannya kamu yang minta tadi?” tanya Chaca yang kembali meneteskan air mata. “Kita sudah nikah Cha, jangan nangis lagi dong.” Satya langsung mengambil tisu dan menyeka air matanya. “Sakit, Ya. Mataku sakit, aku tau kamu gak cinta sama aku....” “Siapa bilang?” kata Satya cepat memotong ucapan Chaca sambil melembutkan menghapus air mata di pipi. “Emang, cinta?” tanya Chaca tiba-tiba membuat Satya berhenti menghapus air matanya. “Makan dulu, baru pulang ke rumah.” Satya membawa Chaca ke meja makan yang sudah tertata makanan kesukaannya. “Kamu masak buat aku? Hmmm, so sweet banget sih.” Air mata yang tadinya jatuh karena kecewa, kini jatuh karena terharu. Satya yang melihat air mata kembali jatuh pun menjadi panik. “Sudah dong.” “Suapin..” ucap Chaca manja. Senyum manis terpancar dari Satya membuat Chaca panik. “Janji, kamu jangan senyum di depan cewek lain.” “Kenapa?” “Aku takut kamu di ambil orang.” Kata Chaca masih sesenggukan. Kembali senyum, Satya membuat Chaca tak tahan lama-lama marah padanya. “Iya, dasar posesif.” “Ya’, untuk harta aku mungkin bisa di katakan masa bodo. Tapi kalau menyangkut kamu, aku serakah!” “Iya, miliki aku semaumu.” Kata Satya menyuapi Chaca makan. Makan malam setelah tragedi, ini terasa sangat nikmat. Masalah hati dan cinta, mungkin kah Chaca salah pilih? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Siapa yang tau apa yang di rasakan oleh Satya? Selama ini, dia tidak pernah mengatakan cinta pada Chaca. Sebaliknya, gadis itu jauh lebih sering mengatakan kalau dirinya sangat mencintai Satya. Jelas sekali, bahkan Chaca tak sungkan mengklaim Satya miliknya. “Satya, aku mau tidur di sini saja malam ini. Boleh?” tanya Chaca saat menikmati waktu berdua dengan Satya. “Boleh, sudah jangan mikir terlalu keras. Makan buahnya,” Satya kembali menyuapi buah pada wanita yang terus bersandar pada dirinya sejak tadi. “Terbaik, deh.” “Oh iya, tumben kamu tadi pagi mandi sebelum aku?” tanya Satya memulai perbincangan. “Malu Ya’, masa di rumah mertua aku gak mandi pagi.” Cicit Chaca. “Dasar, sudah tidur lagi.” “Kelon.” “Manja banget sih?” “Katanya pengantin baru Ya’ masa gak boleh manja?” Chaca mengeratkan pelukan pada suaminya. Bukan tidak mau, tapi ternyata Satya juga merasa jantungnya tidak baik-baik saja. Semakin erat pelukan Chaca, jantungnya berdetak semakin tidak beraturan. Ini jelas tidak aman untuk kesehatan. Tapi, kalau karena rasa bahagia. Apa iya dia akan seperti mamanya kemarin? Pingsan tiba-tiba. Tidak, Satya lebih kuat. Menikmati film yang di putar dengan wanita di pelukannya. Satya merasa waktunya berhenti berputar. Bahagia itu simpel ternyata. Menikmati waktu tanpa kerjaan bersama istri manjanya dan mengecup sesekali rambut wanginya adalah kebahagiaan Satya saat ini. Waktu sudah terlewat begitu saja, kini sudah tengah malam. Hujan lebat di luar sana, cukup membuat udara dalam ruangan semakin dingin. Satya mengangkat Chaca yang sudah tidur. Menidurkan di salah satu sisi ranjang. “Manja mu hanya boleh padaku.” Ucap Satya setelah mengecup kening dan kedua kelopak mata Chaca. Kali ini Chaca benar-benar sudah terlelap, sampai dia tidak merasakan apa-apa. Sedangkan Satya, dia ke kamar mandi melakukan aktivitas sebelum tidur. Malam berlalu dengan Satya yang memeluk Chaca hangat. Pagi-pagi biasanya Satya sudah bangun, tapi kali ini dia masih lelap. Chaca sebagai istri, ingin sekali menjadi idaman bagi suaminya. Dia ke dapur, berniat membuat sarapan dan kopi untuk suaminya. Mengambil beberapa roti dan telur yang ingin di masak olehnya. Di dapur, selain mengambil telur dan roti. Chaca laga fokus pada bumbu-bumbu Yang ada di dalam kulkas suaminya. Di sana juga ada berbagai macam sayur dan juga bahan lauk lainnya. “Apa aku bikin sarapan makanan berat aja ya? Ah, aku kan gak bisa masak. Nanti deh aku minta di ajarin Satya.” Chaca kembali memfokuskan diri pada roti dan telurnya. Chaca memanasi teflon untuk membuat roti bakar dan telur mata sapi. Chaca tetaplah Chaca, seorang anak manja yang tidak pernah masuk dapur selain mengambil makanan atau minuman. Dapur Satya penuh dengan asap putih. Satya yang baru bangun pun langsung mengambil Apar yang berada tak jauh dari sana. “Kamu ngapain?” Tanya Satya setelah asap tebal menghilang dan mematikan kompor. “Mau bakar apartemen?” “Bukan, aku mau bikin sarapan.” Roti hitam dan telur yang serupa warnanya. Sarapan? Sarapan Charcoal? Astaga Chaca, terharu tapi jengkel juga. “Chaca, gak usah bikin sarapan buat aku. Kalau kamu mau nyiapin buat aku, kamu bisa beli.” Kata Satya membawa Chaca keluar dari dapur dan meninggalkan piring di dapur. “Maaf.” Satya memang sangat sabar menghadapi Chaca, sampai saat ini pun dia tidak marah. Dia tau karakter Chaca, wanita yang tidak bisa mendapat perlakuan keras atau kata-kata dengan nada tinggi. “Kamu mau buat sarapan roti mata sapi?” Chaca mengangguk malu. Dia perempuan, tapi selalu Satya yang menyiapkan sarapan selama ini. Satya yang selalu menyiapkan makan, bukan dirinya. Delina pernah mengatakan khayalannya. Dia menikah dengan seorang CEO tampan. Membuatkan sarapan dan mendapat ciuman pagi, itu adalah hal yang paling romantis. Benar, itu romantis. Bahkan bisa menjadi istri idaman bagi suaminya. “Kamu mikir apa?” tanya Satya yang melihat Chaca menundukkan kepala. “Kapan aku bisa menjadi istri idaman buat kamu?” Tanya Chaca seperti anak kecil yang menanyakan kapan dia bisa mendapat mainan baru. “Mau jadi istri idaman buat ku?” Chaca mengangguk lemas. “Ikuti apa kataku, nurut sama aku dan jangan sekali-kali kamu masuk dapur untuk masak.” “Tapi Ya’, bukannya itu tugas utama seorang istri?” apa sih yang di pelajari Chaca? Dari mana dia mendengar hal mengerikan itu? “Cha, tugas utama seorang istri bukan itu. Entah kamu dengar dari mana kalau memasak adalah tugas utama seorang istri. Apa kamu tidak tau memasak bisa di berikan pada pelayan? Apa semua pelayan dan pembantu itu seorang istri idaman?” Chaca kembali mengangguk. “Tidak Cha, siapa tau mereka sudah punya suami?” “Tapi kata Delina begitu. Pertama membuat suami betah di rumah itu dari perutnya.” Jawab Chaca tak bersemangat. “Aku tidak peduli dengan rumah tangga orang lain, atau standar istri idaman para suami di luar sana. Tapi, kalau kamu tanya sama aku. Apa yang buat aku betah di rumah? Asal kamu gak buat ulah, aku bakalan betah di rumah. Dan aku bisa menyenangkan kamu dengan masakan ku, buat apa aku minta kamu masak?” “Apa yang di katakan Delina tidak ada yang salah. Tapi standar ku dengan standar dia berbeda. Aku mencari istri untuk menemani menghabiskan sisa usia ku, bukan menjadinya dia pembantu. Jadi, bisa masak atau enggak. Tidak masalah buatku.” Kata Satya membelai lembut rambut sepunggung milik Chaca. “Satya, so sweet...” mata Chaca berbinar haru. “So sweet, so sweet. Makan tu priwitan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD