Satya kelepasan

1079 Words
Kerja boleh cuti, tapi selama tidak kemana-mana Chaca masih harus kuliah. Tapi, selama mata kuliah berlangsung. Chaca tidak fokus sama sekali. “Chaca, apa yang kamu pikirkan dari tadi? Indahnya malam pertama? Atau sambutan pagi yang penuh cinta? Kalau kamu tidak bisa fokus, lebih baik keluar dari kelas saya selama satu semester!” Dosen itu sungguh kejam. Dia memang salah satu tamu undangan di acara pernikahannya. Tapi dosen itu tidak tau apa yang ada di pikiran Chaca. Yang di pikir dosen itu hanya setiap mahasiswa harus fokus mendengarkan mata kuliah yang dia ajarkan. “Bapak suka ngadi-ngadi deh kalo ngomong. Aku tulis semua kok yang bapak terangkan. Tapi fokus saya memang kurang. Itu karena ibu mertua sama saudara ipar saya terus membahas masalah keramas pagi hari sama pengantin baru.” Jawab Chaca jujur. Bukan amarah yang dia dapat, tapi malah sorak tawa dari teman-temannya dan juga dosennya. “Hahahaha, memangnya kamu tidak tau hubungannya sama sekali?” Chaca hanya menggeleng kepala menjawab pertanyaan dosennya. “Suamimu tanya kalau begitu.” “Suamiku saja bingung.” Jawab Chaca tambah bingung. “kamu masih perawan?” tanya Delina penasaran. Bukan menggeleng atau mengangguk, Chaca hanya diam saja. Dia tau arah pembicaraan Delina ke mana, tapi apa ada hubungan dengan keramas dan pengantin baru? “Jangan bilang kamu sama laki mu belum pernah...” “Masa iya aku buka di sini? Malu lah. Lagian bapak kan dosen, pasti tau lebih banyak dariku. Bisa kasih tau apa hubungannya? Kan Chaca gak mau malu di hadapan mertua sama saudara yang lain.” Kata Chaca polos. “Chaca, kalau orang habis melakukan hubungan itu pasti keramas....” “Sudah pak, saya paham. Jangan di lanjutin lagi.” Potong Chaca karena malu. “Hahaha, lagian setau aku. Satya suami kamu itu kan sebatang kara. Jadi dari mana kamu punya mertua?” tanya dosen yang merasa kenal dengan Satya suami Chaca. “Kemarin baru tau pak. Setelah melakukan tes DNA dan segala macamnya. Ternyata benar, suami saya itu salah satu putra mereka yang hilang sejak bayi.” Chaca cerita sedikit kronologinya. “Tunggu, siapa nama keluarga suami kamu?” ekspresi dosen itu berubah serius, kembali seperti saat mengajar. “Husain. Abimana Husain sama Gia anggaresta Husain.” Terlihat rasa lega dari ekspresi dosen galak itu. “Bapak mengenalnya?” semua mata tertuju pada keduanya. Bahkan bel tanda berakhirnya mata kuliah pun tidak mereka hiraukan. Karena semua tau siapa Abimana Husain. Pemilik perusahaan raksasa di negara ini dan beberapa perusahaan besar di beberapa negara tetangga. “Ya, dia paman saya.” Thomas Hilman, putra pertama dari Ricky Hilman dan Nova. Setelah mendapatkan jawaban yang meresahkan dirinya. Chaca melihat suaminya yang berada di parkiran pun menjadi horor sendiri. Dia juga berpikir sekarang, apa iya, suaminya tidak memiliki hasrat padanya? Sudah dua malam tidur bersama, tapi mereka tidak melakukan apa-apa sama sekali. “Ya, kamu kan sudah menikah sama aku. Apa kamu gak ada keinginan buat nyentuh aku, gitu?” tanya Chaca tiba-tiba dengan sorot mata serius. “Aku... Aku... Ehem...” rasanya susah sekali mengeluarkan sebuah kata yang benar. Seperti ada batu yang menghadang di tenggorokannya untuk mengeluarkan suara. “Sudahlah Ya’, aku tau kamu menikahi ku karena terpaksa. Mungkin dengan menjaga jarak, kita bisa hidup bersama. Oh iya, aku mau kita pulang ke apartemen masing-masing aja. Aku gak mau tinggal di rumah orang tuamu lagi.” Kecewa. Jelas Chaca kecewa, tapi dengan status yang dia miliki sekarang. Setidaknya, dia bisa mengatakan “Jangan ganggu Satya, dia milikku.” Pernikahan yang di miliki oleh Chaca dan Satya, seakan hanya keinginan sepihak dari Chaca. “Cha, jangan mulai lagi. Kita baru menikah, apa kata orang dengan perpisahan ini?” ucap Satya membuat Chaca bingung. “Satya, aku cinta sama kamu. Aku juga tau kalau kamu tidak cinta sama aku. Status nyonya Satya sudah cukup buat ku. Aku tidak mau jadi serakah.” Kali ini Chaca benar-benar tidak memikirkan Satya yang mulai membuka hati untuk dirinya. Satya tidak mengatakan apa-apa, dia langsung tancap gas kembali ke apartemennya. Apartemen miliknya, bukan milik Chaca yang kecil itu. Satya menarik Chaca secara paksa masuk ke dalam apartemen. Sepanjang jalan menuju apartemen di lantai lima, Satya tak mempedulikan Chaca yang terus memberontak. Sesampainya di dalam apartemen, Satya langsung menendang pintu kamar dan melempar Chaca ke atas tempat tidur. Membuka bajunya dengan cepat, Satya tidak lagi melihat Chaca sebagai gadis yang harus dia lindungi. Satya merobek baju Chaca dengan kasar. “Apa ini yang kamu mau!” “Hanya ini yang ada di otak kamu?” Chaca menangis, dia tidak pernah melihat Satya seperti ini sebelumnya. Ini mengerikan. “Hanya karena ini kamu bahkan sampai pergi ke bar dan mau melakukan dengan orang lain? Apa kamu tidak memiliki harga diri?” Satya menyantak dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Chaca menangis ketakutan, dia tidak tau harus apa sekarang. Satya tidak seperti suaminya yang semalam dan tadi pagi. Hari ini, dia terlihat seperti iblis. Chaca meraba baju yang di robek oleh Satya, dia ketakutan. Perlahan dia turun dari tempat tidur besar yang identik dengan warna hitam itu. Chaca melihat keganasan Satya hari ini, apa di dalam rumah tangganya ke depan akan lebih parah? Chaca takut, tapi dia tidak berani mengatakan pada siapa pun. Dia bersembunyi di pojokkan kamar dengan memegangi bajunya yang sobek. Menangis tersedu karena tidak bisa membuka pintu kamar untuk keluar. Bagaimana ini? Chaca mendengar pintu kamar mandi di terbuka. Menampilkan sosok yang tadi ingin menghancurkan dirinya. Sosoknya berbeda, terlihat penuh penyesalan. Satya mendekati Chaca. “Maafkan aku, aku lepas kendali. Aku tidak ingin menyakitimu atau menakutimu.” Satya menunduk di hadapan Chaca yang sudah penuh dengan air mata ketakutan. “Jangan takut, please. Cha, sini pakai bajuku. Maafkan aku.” Chaca takut, tapi dia berusaha untuk tidak melawan Satya setelah ini. Dia setan. Bukan, dia iblis berwajah malaikat. Menyesal sungguh menyesal Chaca sudah buta akan ketampanan lelaki satu ini. “Cha, katakan sesuatu.” Kata Satya memegang wajah Chaca setelah sudah di atas tempat tidur. “Aku takut, Ya’.” Suara bergetar Chaca memang terdengar sangat sedih. Satya langsung memeluk Chaca dan merasa bersalah. Dia tau apa yang dia lakukan itu sudah kelewatan. Tapi, pernyataan Chaca untuk pisah rumah membuatnya kehilangan akal. “Maaf. Kalau kamu mau pisah tempat tinggal aku tidak setuju. Atau kita pisah kamar saja, aku tidak apa-apa. Tapi kamu di sini ya, sama aku. Biar aku bisa mengawasi kamu.” Satya benar-benar menyesal dengan apa yang di lakukan ya. Dia tau, setelah kejadian ini Chaca pasti sangat takut padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD