Hari ini sungguh melelahkan bagi Satya dan Chaca. Senyum Satya tiba-tiba mengembang kala mengingat apa yang di katakan istrinya pada dirinya saat menunggu hasil tes DNA.
Wanita yang biasanya merepotkan dirinya, kini dia berkata sangat dewasa. “Apa pun hasilnya, aku tetap istri kamu. Kamu adalah suami yang aku nikahi yang tak memandang siapa dirimu sebenarnya.”
Satya membelai rambut wanita yang tidur di sampingnya. Mengecup dengan lembut, namun tidak meninggalkan seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya.
Satya melepas penat dengan memandang wajah cantik istrinya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
“Gak kuat, dasar Satya sialan. Meleleh hatiku.” Kata Chaca setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup.
Wajahnya yang putih, kini berubah kemerahan karena bahagia. Dia malu, dia suka dan dia juga salah tingkah.
Ini kali pertama Chaca merasa di cium oleh Satya. Rasanya seperti dia melayang di awang-awang. Tidur di atas awan dan berselimut dengan sinar mentari.
Oh, indahnya.
Chaca tidak bisa tidur setelah itu, bayangan dia sudah entah ke mana. Sampai akhirnya Satya keluar dengan menggunakan handuk saja.
Satya memakai baju tidur yang sudah di siapkan oleh Chaca, tadi. Awalnya dia kaget melihat istrinya terbangun. Tapi setelah itu dia biasa saja.
Benar, dia memang harus biasa saja dengan keadaan seperti ini. Mereka sudah menikah, dan wajar melakukan hal seperti ini.
Perlahan dan santai, Satya mengenakan bajunya. Manik matanya tak terputus dari netra yang tadi sudah terpejam.
Setelah selesai mengganti bajunya, Satya menuju ke tempat tidur. Telapak tangan besar menutup paksa wajah imut milik Chaca yang saat ini tersenyum menggoda Satya.
“Tidur.” Kata Satya membawa kepala wanita itu bersandar di lengannya.
“Satya, aku sesak napas.” Satu kalimat yang membuat Satya langsung terlonjak bangun.
“Asma kamu kambuh? Sejak kapan kamu punya asma?” kata Satya panik.
“Sejak menikah dengan kamu.” Jawaban Chaca masih santai seperti dia mengatakan sesak napas.
“Jangan macem-macem, jujur. Kenapa kamu sesak napas?” tanya Satya masih duduk di atas ranjang mengatur emosinya.
“Karena jantungku enggak kuat di peluk kamu.” Kata Chaca malu-malu.
Ingin rasanya Satya tertawa terbahak-bahak, tapi ini sudah tengah malam. Mengingat kini mereka tinggal di rumah besar keluarga Husain.
“Kamu nggak mau?” tanya Satya sedikit dingin.
“Mau, kok. Tapi aku siapin jantung dulu. Aku... Aku... Mau di peluk, di cium di.....”
“Sudah malem, jangan brisik!” kata Satya memotong ucapan Chaca dan kembali membawa wanita itu dalam pelukannya.
“Satya,” panggil Chaca.
“Hmm.” Masih menutup mata, tapi Satya tidak sedikit pun merasa terganggu.
“Baumu kenapa harum banget sih? Perasaan sabun kita sama. Tapi kok bauku enggak seharian kamu?” tanya Chaca polos.
“Makanya rajin mandi, jangan males.” Kata Satya semakin memeluk erat Chaca dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Deg deg deg
Keterlaluan, dasar jantung tak bisa di ajak kerja sama. Bagaimana bisa jantungnya berdetak begitu kencang? Sedangkan lelaki tak bertanggung jawab itu terus menelusup kan kepalanya di leher Chaca?
Alamat ini, alamat insomnia gara-gara jantungnya tak stabil. Atau, jantung Chaca bisa saja meledak kapan saja, jika Satya menambah sebuah ciuman di tulang selangka miliknya.
Ini tidak bagus untuk kesehatan. Chaca kali ini salah perhitungan. Dia menikahi Satya, kan untuk bahagia. Bukan mencari penyakit begini.
Tanpa di sadari, Satya yang mendengar detak jantung Chaca itu hanya tersenyum. Telapak tangannya yang besar, kembali menutup mata Chaca. Yang kali ini terasa lebih lembut dari pada yang tadi.
“Tidur, Chaca sayang.” Bisik Satya.
Bukannya tidur, Chaca malah di bawah melayang. Tapi ini sudah tengah malam, mau tidak mau, Chaca harus tidur .
Pagi-pagi buta Satya sudah berada di dapur. Dia menyiapkan sarapan untuk istrinya dan keluarga yang lain. Di bantu oleh beberapa pelayan.
“Orang di rumah ini, memang biasa sarapan berat begini?” tanya Satya.
“Iya, bapak terutama. Kalau aden-aden sih lebih ke sereal atau roti. Kalau non Hyra sama seperti bapak, hanya saja jangan di kasih sayur. Gak akan mau, Den.” Kata pelayan mengenalkan menu anggota keluarga.
“Oh, ok kalau begitu. Ini sudah siap, mbok ada buah tidak?” tanya Satya mengingat istrinya yang akan sarapan dengan buah setiap harinya.
“Ada, ini Den.”
Pelayan memberikan beberapa buah untuk Satya.
Pagi sekitar jam tujuh, Chaca bangun di ruangan yang sungguh asing baginya. Dia melihat ke seluruh kamar dan tidak mendapati tanda-tanda suaminya.
Chaca ingat, ini di rumah mertuanya. Dengan cepat dia bangun dari tempat tidur dan segera mandi. Siapa yang ingin punya citra buruk di depan keluarganya? Hanya kadang rasa kurang bersyukur saja yang membuat menantu dan mertua tidak akur.
Setelah menyiapkan sarapan, Satya hendak membangunkan istri manjanya. Chaca bisa di bilang orang yang susah bangun pagi, apalagi mandi pagi. Tapi sekarang dia berada di lingkungan baru, mau tidak mau.
Satya harus bisa mendidik istrinya untuk membersihkan diri.
Senyum Satya mengembang melihat istrinya tengah menyisir rambut basahnya.
Cup
“Wangi.”
Siapa yang tidak meleleh dengan apa yang di lakukan Satya?
Chaca memang tergila-gila pada Satya sejak dulu. Tapi, mendapat perlakuan semanis ini di pagi hari? Sungguh di luar ekspektasi Chaca.
Satya, pelaku itu. Dia santai saja melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Senyum Chaca mengembang dan menunjukkan kebahagiaan yang tak salah pilih suami.
Selama Satya di kamar mandi, Chaca menyiapkan baju untuk suaminya. Dia juga sudah menata kamar sebisanya.
“Kamu yang merapikan kamar?” tanya Satya kaget melihat betapa rapi tempat tidur dan keadaan kamar saat ini.
“Iya, aku sudah menikah sekarang. Kata Delina, aku harus bisa poin dasar seperti ini.” Jawab jujur seorang Chaca.
“Tumben Delina bener?” Satya memakai bajunya dengan bantuan Chaca mengancingkan kemejanya.
Keduanya turun setelah rapi dan tanpa sengaja ketemu Hyra dan suaminya yang menginap untuk malam ini.
“Wah, pengantin baru... Pagi-pagi rambut sudah basah.” Goda Hyra.
“Hyra, jangan godain kakak kamu. Sudah kak, jangan di dengar ini anak.” Kata Egi merasa sedikit sungkan pada kakak iparnya.
“Bener kan? Dulu kita baru nikah juga langsung tancap gass.... Mppt.” Mulut Hyra langsung di bekap oleh suaminya yang langsung memerah karena malu.
Satya dan Chaca yang masih belum paham maksud mereka berdua pun hanya tersenyum canggung.
Keempat orang itu sudah berada di meja makan bersama yang lainnya. Gia, ibunya yang kemarin sempat di rawat. Ternyata sudah ada di rumah, menyambut mereka dengan senyum manisnya.
“Wah, kalian sudah segar ya pagi-pagi.” Kali ini godaan dari Gia.
Meski tidak mengatakan hal yang sama dengan Hyra, tapi maksud Gia tetap sama. Chaca dan Satya masih belum paham juga hingga saat ini. Mereka berdua tampak bingung, namun tidak ada yang menyadari. Selain senyum canggung yang di lontarkan keduanya seakan menunjukkan rasa malu.
“Memangnya ada hubungan apa, pengantin baru sama keramas?” tanya Chaca polos.
“Iya, bukankah itu suatu kewajaran?” Satya tampak juga tak paham.
Namun Egi dan Abim tersedak makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Uhuk..
“Minum makanya, jangan mikir lebih.” Hyra memberikan air pada Egi.
Andra dan Zein hanya tersenyum penuh arti.
“Kalian berdua, jangan senyum-senyum! Atau kalian juga sudah pernah?” Gia langsung melototi kedua putranya. “Nikah makanya, biar gak karatan.”
“Astaga mama, doanya jelek bener sih? Andra belum pernah ma, gak tau kalau mas Zein.” Andra seakan melempar kesalahan pada sang kakak.
“Sialan, gak pernah ma. Jangan dengar omongan anak ini. Minta di tampol sambel kayaknya ni anak.” Zein pun terbakar emosi.
“Sudah, makan yang tenang.” Abim melerai kedua anaknya.
Suasana kembali tenang, namun hati Chaca masih tidak tenang. Dia tidak ingin melakukan kesalahan di pertemuan pagi pertama mereka.
“Ma, sebenarnya ada hubungan apa?” tanya Chaca pelan pada ibu mertuanya.
Suasana kembali riuh dengan tawa seluruh keluarga.