Pertemuan singkat

1163 Words
“Mama.” Ketiganya melihat sisi Gia pada diri Satya. Dia tidak pernah mengakui sesuatu yang indah dari pasangannya secara langsung. Namun, itu jelas terlihat dari sorot mata dan perlakuan. Mamanya juga mengatakan, jika mengakui itu adalah hal yang tidak dibutuhkan. Ok jika orang itu laki-laki, tapi Chaca kan perempuan. Dia menunggu pengakuan keindahan itu dalam dirinya. “Kak Satya benar-benar duplikat mama.” Kata Hyra terperangah. “Iya.” Andra membenarkan apa yang di ucapkan adiknya. Mereka bertiga mengikuti Chaca dan Satya yang sudah lebih dulu jalan ke parkiran rumah sakit. Sesampainya di parkiran, Zein mengambil kendali untuk perjalanan mereka. *** “Astaga Satya, kamu sudah dewasa.” Peluk dan cium mendarat pada Satya dari seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik. “Nyonya, perhatikan tingkahmu. Dia suamiku, baru nikah kemarin. Aku saja belum di cium, masa udah nyolong start duluan anda ini.” Chaca, gadis ini sangat cemburuan. Secara posesif dia kembali membawa Satya di sampingnya. Dia tidak ingin seorang wanita pun mengambil keuntungan yang belum pernah di lakukan olehnya. “Oh, kamu istrinya? Pengantin baru? Waduh, maaf. Panggil aku bunda, aku ibu kedua dari suami kamu dan tiga cecunguk ini juga.” Kata Nova beralih memeluk dan menghujani wajah Chaca dengan ciuman. “Ck, sudah.” Kali ini Satya dengan santainya menarik Chaca ke belakang badannya yang tinggi dan tegap itu. “Ck, kalian berdua ini. Ya sudah masuk, ada yang menunggu kalian di dalam.” Nova langsung menggandeng Satya dan Chaca masuk ke dalam restoran mewahnya. “Bunda melupakan ku,” wanita yang tengah berbadan dua itu merajuk. “Maaf sayang, ya sudah sini.” Semuanya masuk ke dalam ruang pribadi. Di sana sudah ada dua orang yang menunggu mereka. Wanita yang sangat cantik dengan balutan baju hangat dan seorang lelaki yang memeluknya mesra. “Papa, kenapa Mama di ajak keluar?” Zein mencium tangan Gia dan Abim. “Mama mau melihat wajah tampan putra yang selama ini ku impikan.” Kata Gia dengan alunan suara yang bergetar menahan segalanya. Satya mendekat, mencium kedua pipi wanita cantik yang tengah menangis untuknya. Dan bersujud di kakinya untuk pertama kali dia lakukan pada orang yang belum pernah dia kenal. “Kalian lama sekali? Dari mana?” tanya Abim kesal. “Dari rumah sakit pa.” Jawab Andra yang melakukan hal sama dengan Zein. “Tidak perlu, aku bisa menunjukkan apa yang membuat kalian ragu.” Gia menjeda ucapannya saat Hyra mencium pipinya. “Kenapa kamu keluar juga? Egi tidak melihatmu tadi? Bisa-bisa mama sama papa yang di omelin anak itu.” “Biar Hyra yang lawan. Siapa dia memangnya? Ngelarang Hyra ketemu Abang tercinta ini.” Kata Hyra tidak ingin merusak kebahagiaan. “Dia suami kamu dek, sahabat Abang juga. Pasti Abang yang kena marah juga.” Andra mengingatkan. “Udah ah, Hyra mau makan di suapi bunda aja.” Hyra mengambil duduk di samping Nova dan Ricky. “Satya, kalau kamu masih ragu. Mama bakal kasih tau apa yang bisa di lihat saja. Kamu punya tanda lahir di punggung seperti bekas pukulan warna hitam. Dan golongan darah kamu Rhnul. Sama seperti papamu dan kedua abangmu.” Jelas Gia. “Iya, saya memiliki itu. Hanya saja, aku tidak ingin terlalu berharap dengan kalian.” “Saya di besarkan oleh orang tua yang bisa di bilang jauh dari kata kaya. Dan di umur saya yang masih remaja, harus kehilangan kedua orang tua.” “Saya bisa hidup dan kuliah, berkat pak Bram. Orang tua yang ingin menjaga putrinya sebagai ganti semua yang mereka lakukan.” “Aku sudah mendengar itu semua. Aku sudah menyelidiki pak Bram dan perusahaan yang kalian jalankan sekarang. Aku heran saja, kenapa kalian menolak kerja sama dengan kami beberapa kali?” kali ini Abim yang melancarkan segudang pertanyaan. “Maaf, kami berpikir tidak memiliki kualifikasi untuk bekerja sama dengan perusahaan raksasa anda.” Jawab Satya santai. “Perusahaan itu, seperempatnya adalah milikmu. Ada nama kamu di sana sebagai ahli waris.” Zein mengatakan dengan gamblang seperti yang di katakan oleh papanya sejak awal. “Pulang lah, bangun kerajaan bisnismu sendiri.” Andra menimpali. “Tapi mama masih mau Satya untuk ada di sisi mama beberapa saat sebelum mama pergi.” Kata-kata Gia membuat semua hati tersentak. “Mama, apa mama tega melihat kak Satya mengantar kepergian mu?” Hyra yang sedari tadi bermanja pun langsung angkat bicara. “Hyra, mama sudah melihat kakak kamu. Mama sudah bahagia.” Pelukan Abim semakin meningkat kala Gia menutup matanya. “Mama!” Satya melihat sendiri betapa berharganya sang mama. Mereka bertiga yang tadinya terlihat sangat kuat, kini menangis dan merengek seperti bayi. Apakah itu yang di sebut kasih sayang seutuhnya dalam keluarga? Secara refleks Satya mendekat dan mencium punggung tangan wanita yang kini tak sadarkan diri. Chaca melihat keempat putra dan putri itu sangat menyayangi ibunya, teringat akan mamanya yang hampir tidak pernah dia lihat sepanjang tahun. Akankah mama jatuh sakit juga, jika dirinya menghilang? Chaca cemburu, bukan karena Satya yang kini memeluk wanita hamil yang mengaku adiknya. Tapi kehangatan keluarga yang tidak dia dapatkan selama ini. “Mama, bangun. Kasihan kak Satya ingin melihat senyumanmu yang manis tapi kau tinggal tidur.” Hyra meraung dalam pelukan Satya. Egi, lelaki yang sangat protektif pada sang istri pun terkejut saat membuka pintu ruangan. “Apa yang terjadi? Mama?” Egi masih memakai baju dinas pun langsung mengangkat ibu mertuanya dan segera memeriksanya. “Tenanglah semua, mama tidak apa-apa. Perasaan yang berlebihan tidak bisa di tahan oleh jantungnya. Tapi bersyukur, mama hanya beristirahat sejenak. Mama hanya pingsan dan tidak mempengaruhi kesehatannya. Pa, bawa pulang saja.” Kata Egi panjang lebar. Selain panik, Egi ternyata merasa hatinya panas. Bagaimana tidak? Dia melihat istrinya di peluk lelaki selain dia, papa mertua dan para sahabat yang merupakan Abang dari istrinya. “Ehem, istri saya.” Kata Egi lagi menarik paksa istrinya dari pelukan Satya. “Hati-hati, dia lagi hamil.” “Aku jauh lebih tau, lebih baik anda perhatikan wanita anda yang ada di samping.” Kata Egi dingin. “Jangan banyak bicara lagi, aku dapat panggilan dari rumah sakit. Kalian makan dulu di sini, Egi, temani aku ngambil laporan.” Zein melerai percekcokan antara adiknya dengan adik ipar sekaligus sahabatnya. “Kak Egi jangan cemburu, dia ini kakak ku yang ke dua. Bang Satya.” Hyra bicara dengan naga centilnya. “Hem,” Egi hanya mengangguk mengerti. Rupanya pencarian selama puluhan tahun mereka sudah membuahkan hasil. Keluarga Husain akhirnya berkumpul dengan personil lengkap. Egi memikirkan cara untuk membantu ibu mertuanya bertahan lebih lama lagi. “Segera kasih mama cucu, itu pasti membuat semangat hidupnya meningkat.” Kata Egi sebelum meninggalkan ruangan. Chaca, gadis yang baru saja menyandang status nyonya Satya pun langsung memerah wajahnya. Dia dengan jelas mendengar apa yang di katakan Egi. Satya tidak menjawab, tapi dia tau apa yang seharusnya. Memiliki anak dari Chaca? Mungkin dia harus berpikir sedikit lebih banyak lagi. Gadis ceroboh dan malas mandi itu menjadi ibu dari anaknya? Aduh, harus di benahi dulu otaknya juga. Pikir Satya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD