Satu Minggu, waktu yang sangat sebentar. Acara pernikahan yang di hadiri oleh berbagai macam kalangan. Syarat Satya menikah secara diam-diam pun tidak dia dapatkan.
Biar bagaimana pun juga, Chandika adalah putri satu-satunya yang di miliki Bram dan Ayunimas. Acara seperti ini, tidak akan mungkin di rahasiakan seperti keinginan Satya pada detik-detik terakhir ijab Kabul mereka.
Jujur saja, Satya memang selalu menemani Chaca di hampir setiap kesempatan. Bahkan, tidak jarang pula Satya menemani Chaca hingga tidur.
Tapi, suasana hari ini sangat canggung sekali. Bagaimana tidak, gadis yang selalu di pandang sebagai anak kecil itu. Kini menjadi istrinya yang sah.
Di hadapan banyak tamu undangan yang menjadi saksi. Satya mengikrarkan janji suci untuk tetap setia dalam segala keadaan. Senyum dan rasa bahagia Chaca bisa di bilang berbanding terbalik dengan Satya.
Lelaki dua tahun lebih tua darinya itu ternyata cukup ketakutan saat ini.
“Hei, kenapa kamu diam saja di sana? Lepas bajumu dan mandilah,” kata Chaca melihat suami yang baru dia nikahi tadi siang tengah berdiri di dekat pintu.
Wajahnya terlihat sangat tertekan, Chaca tak bodoh untuk tidak melihat hal itu. Tapi gadis itu ingin menggoda suami yang entah kenapa menjadi penurut.
“Bajuku di mana?” tanya Satya seperti seorang anak kecil yang baru pindah rumah.
“Bajumu sudah di kamar mandi.” Chaca mengeringkan rambutnya yang tadi di tata dengan indah oleh penata riasnya.
Satya masuk ke dalam kamar mandi.
Ini bukan rumah, bukan juga apartemen milik Chaca. Tapi, kenapa hatinya merasa risau? Jantungnya berdetak begitu kencang. Dia takut jika dia tidur nanti akan melakukan hal yang tidak seharusnya.
Satya sangat lama di kamar mandi, Chaca yang sudah sangat kelelahan pun tidak bisa menunggu lagi.
Matanya berat, dan dia segera tidur. Meninggalkan Satya dengan pemikirannya yang jauh menerawang.
Malam pertama yang di takutkan Satya, hanya berlalu dengan rasa lelah pada diri mereka masing-masing.
Chaca dan Satya memang sudah dewasa. Tapi kedewasaan mereka memiliki arti lain. Jika Satya dewasa dengan sempurna. Berbeda dengan Chaca yang dewasa hanya karena usia.
Chaca memaknai pernikahan adalah memiliki sepenuhnya seseorang yang dia inginkan. Tapi bagi Satya, menikah adalah menambah tanggung jawabnya.
“Ah, sudah tidur rupanya.” Gumam Satya saat baru keluar dari kamar mandi.
Dirinya tersenyum, sungguh bodoh dirinya. Berpikir terlalu banyak karena rasa yang masih belum bisa dia pastikan.
“Cantik, apa kamu senang sekarang? Kamu sudah menikah denganku, tapi apa kamu pernah tanya? Cintakah aku sama kamu?” Satya membelai rambut halus Chaca seperti biasanya dia lakukan.
Pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban. Itu karena orang yang ia tanya sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. Tanpa mikir panjang, Satya tidur di samping Chaca.
Ini benar, kan? Dia tidur di samping gadis yang selama ini dia jaga? Apa iya, dia harus di lantai? Tidak, pernikahan itu tidak tidur terpisah. Bahkan, jika Satya memeluk Chaca dalam tidur pun. Dia tetap tidak salah.
Malam ini berlalu dengan lelapnya mereka berdua. Saat Chaca bangun pagi ini, dia terkejut.
Wajah tampan yang ada di dalam mimpi ya barusan, ada tepat di depan matanya. Bahkan, jika hidungnya di tempel pada lelaki itu. Sepertinya akan terasa, karena ini nyata.
Chaca tersenyum, pelan-pelan dia mencium kening Satya. Tersenyum sejenak sebelum kembali mencium kelopak mata sang suami. Hingga akhirnya mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir berwarna pink itu.
Chaca tak bisa menahan diri lagi, sampai ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi dia tidak melakukan itu.
Wajahnya sangat panas, Chaca segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Adapun Satya, lelaki normal yang mendapat perlakuan itu pun. Sekuat tenaga menahan segala kemungkinan yang biasa lelaki alami di kala pagi hari.
Sial, salam pagi ini sungguh membangkitkan kejantanannya. Ini tidak benar, dia harus bisa menahan untuk kedamaian dunia.
Satya berusaha menahan diri untuk tidak meledak di sana. Susah payah dia berusaha tenang dan tidak menerjang istrinya.
Setengah jam Satya bisa mengendalikan diri dan kembali berpura-pura tidur. Chaca keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk.
Handuknya cukup pendek, pada saat dia membungkuk mencari baju di dalam koper. Dengan jelas, Satya bisa melihat apa yang di sembunyikan di dalam handuk.
Sial!! Batin Satya.
Kenapa dia membuka mata di saat yang tidak tepat? Mau tidak mau dia harus segera masuk ke dalam kamar mandi. Mengendalikan diri dengan cara yang lebih efisien. Karena ini sudah tidak bisa di tahan lagi.
“Sat, bajumu ada di kasur. Aku mau keluar pesan sarapan, kamu mau makan apa?” tanya Chaca mengetuk pintu.
“Agrh... Nasi goreng saja.” Suara Satya serak, Chaca merasa ada yang tidak benar dengan ini.
“Sat, kamu baik-baik saja, bukan?” Tanya Chaca khawatir.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Satya masih berusaha mengendalikan diri.
“Aku masuk....”
“Jangaaaannn.” Teriak Satya dari dalam kamar mandi. “Aku gak apa-apa, pesankan aku nasi goreng. Aku mandi segera keluar.” Katanya lagi.
“Ok, aku percaya saat ini. Tapi, cepatlah keluar. Papa pesan katanya ada orang yang mau ketemu sama kamu.” Chaca sambil membaca pesan dari ayahnya.
“Ok!”
Tidak punya pilihan lain, Satya hanya harus segera menuntaskan apa yang sudah ia lakukan. Agar Chaca tidak menerobos masuk. Dia cukup hafal dengan kepribadian istrinya.
Gadis itu tidak mudah percaya dengan alasan. Terutama ketika dia merasa aneh atau janggal.
Sebelum Chaca kembali ke kamar, Satya sudah rapi dengan baju santainya. Dia bahkan sudah membuat dirinya kembali tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Wah, gantengnya suamiku. Jadi gemes deh,” Chaca melirik menggoda ke arah Satya.
“Aku sudah lapa, mana sarapan ku? Melihatmu seperti cacing kepanasan pagi-pagi jadi tambah lapar.” Gerutu Satya mereda kegugupannya.
Hei, ini Satya kan? Orang yang selalu mengatakan tidak akan pernah tergoda oleh gadis kecil ini? Tapi, apa ini? Satya bahkan tidak bisa bernapas lega saat menatap Chaca.
Ada semacam rasa tidak nyaman atau rasa yang sulit di jelaskan yang menyerang dirinya. Tiba-tiba dia merasakan ada aliran darah yang terasa sangat kencang menuju otaknya.
Dia juga merasa ada gelombang lain di dalam perutnya. Bukan hanya itu saja, dia merasa ada air yang mendidih dalam perutnya.
Caca melihat senang ke arah saja, wajahnya yang memerah menambah kelucuan baginya. Sungguh. Caca semakin ingin menggoda Satya.
Cacat terus mendekat, melihat reaksi suaminya sungguh sangat lucu. Senyum menggoda Caca mungkin akan menggoda siapa pun yang melihatnya. Tapi untuk Satria? Lelaki ini sedikit berbeda.
Bukannya tergoda tapi takut sendiri. Lucu. Ini memang lucu di mana seorang bodyguard harus menikahi orang yang dijaganya sepenuh hati. Aneh rasanya.