Musibah pembawa berkah

1063 Words
Chaca dalam keadaan tidak berdaya, turun dari brankar dan menghampiri Satya. Chaca melepas begitu saja selang infus yang mengakibatkan darah segar mengucur dari tangannya. “Satya! Apa kau gila? Seharusnya kamu melawan. Kamu bisa mati kalau mengalah terus seperti ini!!” Chaca menangis sejadi-jadinya. Chaca memang mengadu pada orang tuanya, tapi dia tidak menginginkan hal ini terjadi. Dia menyesali apa yang sudah di lakukan olehnya. Dia sendiri masih kurang begitu sehat, tapi melihat Satya di pukuli oleh ayahnya. Chaca tidak bisa tinggal diam. “Chaca! Dia yang sudah membuat kamu hampir di perkosa. Tapi kenapa kamu masih membela orang tidak tau diri ini!!” amarah Bram tidak bisa di bendung lagi. Dia menyaksikan putrinya kecilnya menangis untuk seorang lelaki. Tampaknya Chaca sudah dewasa sekarang. Bram tersenyum getir melihat putrinya seperti itu. Bram tidak bisa menutup mata akan hal ini, mereka sudah melakukan kesepakatan di awal. Tapi sekarang? Apa yang seharusnya di lakukan sekarang? Satya sudah tidak sadarkan diri di atas pangkuan Chaca. Bram tidak bisa berpikir sekarang, selain memanggil pihak medis untuk menangani Satya. “Pa, Chaca meminta Papa pulang hanya untuk menanyakan. Perjanjian apa yang sudah Papa dan Satya buat? Batalkan, atau Chaca akan nekat buat Satya menikahi ku dengan cara yang tidak benar.” Ucapan Chaca tidak terdengar kuat. Namun apa yang keluar dari mulut gadis manja itu mampu membuat bulu Roma berdiri karena terlalu kejam. “Tapi Cha, ini semua demi kebaikan kamu...” “Kebaikan Papa apa Chaca? Kebaikan Chaca hanya bersama Satya, sekarang terserah Papa.” Chaca memotong ucapan Bram penuh emosi. “Cha... Dengarkan Papa, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya kenapa-kenapa. Jadi Papa mohon sekali ini saja, tolong ikuti cara Papa. Ok?!” Chaca tidak menjawab apa yang sudah di katakan Papa nya. Dia berlalu begitu melepas selang infusnya. Keadaannya masih sangat lemas, seharusnya. Tapi Chaca menolak untuk beristirahat dan memasang kembali infus di tangannya. Yang di lakukan Chaca sekarang hanya menunggui Satya untuk siuman. “Pak Bram?” Satya sudah siuman dari sepuluh menit yang lalu. Tapi dia tidak membangunkan Chaca yang tengah tertidur di samping brangkar dengan posisi duduk di kursi. “Jangan bicara banyak, aku mengaku kalah pada kalian. Aku anggap perjanjian kita tidak berlaku lagi. Bahagiakan putri ku satu-satunya.” Kata Bram menyuruh Satya diam dan tidak menjawab apa yang di bicarakan. “Aku anggap ini tugas baru kamu. Aku akan kembali lagi sekarang juga, aku harap kamu berlaku manis pada kekasih keduaku.” Ayah satu anak itu meninggalkan rung rawat dengan langkah kaki yang berat setelah melihat jawaban sebuah anggukan kepala dari Satya. Senyum Satya mengembang, apa yang di amanat kan padanya. Tidak sama sekali dia melanggar, dan sekarang? Apa yang sudah di lakukan gadis kecilnya ini untuk meluluhkan hati yang terbuat dari baja milik Bram? “Aku memang sudah tidak terikat perjanjian itu dengan orang tuamu. Tapi tugasku adalah menjagamu dan memastikan dirimu baik-baik saja.” Gumam Satya membelai rambut Chaca. Gadis keras kepala itu mengalahkan keangkuhan Bram. Membuat lelaki tua itu mengaku kalah, bukanlah hal yang mudah. Tapi lihatlah Chaca, dengan mudahnya dia mengalahkan Bram. “Aku akan menikahimu, kalau kamu bangun. Segera!” Bisik Satya membangunkan Chaca yang dia tau tengah berpura-pura tidur. “Segera itu kapan?” senyum Chaca mengembang. “Kapan kamu siap?” “Sekarang.” Hanya harapan kecil yang di berikan Satya, mampu membuat si keras kepala Chaca luluh dan menurut. ‘Aku memang akan menikahimu dalam waktu dekat. Tapi maaf, hatiku belum bisa menerimamu. Setidaknya aku bisa menjagamu sampai kapan pun.’ Cinta? Apa itu? Bagi hidup Satya, cinta itu hanya sebuah kebohongan dan tidak ada artinya baginya. Menikah tanpa cinta, bukan hal yang buruk. Meski tanpa kesepakatan, hal yang harus di lakukan Satya adalah membalas Budi pada Bram. Orang yang paling berjasa baginya, bayangkan jika seorang yatim piatu sepertinya tidak di tolong oleh Bram saat itu. Sudah bisa di pastikan jika dia akan menjadi seorang gelandangan tak bermartabat. Chaca dan Satya keluar dari rumah sakit setelah tiga hari di rawat. Orang tua Chaca datang ke Indonesia setelah mendengar kabar pernikahan mereka. Pernikahan Chaca dan Satya bukan pernikahan Akbar seperti para nona kaya pada umumnya. Bahkan sekarang, pernikahan kurang dua Minggu pun. Satya dan Chaca malah sibuk bekerja. Pesta pernikahan, tidak pernah terlintas di benak keduanya. Bagi Satya, pesta pernikahan hanya membuang-buang waktu dan uang saja. Namun bagi Chaca, pesta pernikahan itu tidak penting. Yang terpenting baginya adalah pengantin prianya harus Satya. “Kalian ini calon pengantin. Apa tidak ingin beli gaun pengantin atau apa begitu? Buat persiapan,” tanya Ayunimas, ibu dari Chaca. “Ma, biar Jira saja yang menyiapkan. Perusahaan di tinggal seminggu sudah membuat gunung anakan ini. Aku sudah lembur selama dua hari ini juga tidak habis-habis pekerjaannya.” Keluh Chaca yang mulai muncul manjanya. “Kamu ini, sudah jangan mengeluh lagi. Cepat selesaikan, mau nikah sama Satya apa enggak?” cara Ayunimas membujuk Chaca, sudah seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya rajin belajar dan memberi iming-imingi jika berhasil. Di usia dua puluh tahun, Chaca yang sudah terbiasa tanpa ibu pun hanya ingin bermanja pada sosok ibu yang tak pernah bersama dengan dirinya. “Makanya Mama jangan menggoda ku terus. Masalah gaun, Mama saja yang buatkan. Percuma punya Mama seorang desainer terkenal kalau gaun pengantin saja masih bingung.” Gerutu Chaca. “Ya sudah, Mama pulang kalau begitu. Ingat, jangan lembur lebih dari jam sepuluh malam.” Ayunimas pun pergi meninggalkan ruangan. Sebelum meninggalkan gedung, Ayunimas menyempatkan diri mampir menjenguk calon menantunya. “Satya, Tante nitip Chaca ya. Jangan buat dia sedih, selama ini Tante sudah lalai menjadi ibu yang baik buat dia. Tante harap, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Tante dan Om. Chaca sungguh mengalami kehidupan yang berat di tahun ini. Dia kehilangan nenek tercintanya yang menjaganya sejak kecil. Kamu satu-satunya orang yang bisa mengatur Chaca.” Tidak ada seorang ibu yang tidak merasa sedih saat mendekati pernikahan putrinya. Laki-laki yang akan menikahi putrinya ini memang sudah ia kenal lama. Tapi, siapa yang tau bagaimana hatinya pada putrinya? Setidaknya, Ayunimas mendapatkan orang yang bisa di percaya untuk menjaga putrinya. Rasa bersalah selalu bersemayam di hati Ayunimas selama ini. Tapi dia tidak bisa memutar waktu, dialah orang tua yang tidak baik. Ayunimas meninggalkan kantor dan mengunjungi butiknya yang ada di pusat kota. Waktu dua Minggu, sangat cukup baginya untuk membuat gaun pengantin untuk putrinya. Dia bersungguh-sungguh membuat gaun tercantik untuk putrinya. Tidak bisa melakukan hal lain selain ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD