Kesalahan Chaca adalah kegagalan Satya

1069 Words
Hari itu Satya benar-benar meninggalkan Chaca. Bahkan selama tiga hari dia tidak masuk kantor atau menemui Chaca. Ini adalah hukuman. Chaca sedikit setres dengan pekerjaan yang begitu banyak tanpa bantuan. Biasanya dia akan mengerjakan sepuluh atau dua puluh persen dari apa yang ia kerjakan selama tiga hari ini. Chaca benar-benar bisa di buat gila dengan apa yang di lakukan ini. Tapi dia tidak bisa mangkir terus menerus karena adanya Satya. Chaca stres, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan, dia berhasil menyelesaikan semuanya. Tapi, otaknya seakan mau meledak karena terlalu di paksakan. Duduk sendirian di meja bundar, dengan dua botol minuman yang bisa di katakan harganya tidak murah. Itu bukan wine atau champagnne. Tapi itu whiskey dan Vodka. Gadis ini memang mencari mati, sepertinya. Dia bahkan tidak makan secara teratur beberapa hari ini. Itu karena dia tidak ada yang memperhatikan dirinya. Matanya merah, penglihatannya sudah kabur. Selain itu juga kesadarannya sudah berangsur-angsur memudar. Ini santapan empuk bagi pria penjajah wanita, penikmat keindahan. Hanya dengan mengenakan dress di atas lutut tanpa lengan warna hitam. Kontras dengan warna kulitnya yang putih dan terlihat kenyal. Persis seperti pangsit yang baru mateng. Hot. Chaca tak sadarkan diri, Satya lengah. Gadis itu di bawa oleh seorang lelaki tampan yang bisa di bilang kaya raya. Dia baru saja mendarat di Indonesia untuk urusan bisnis. Dia adalah seorang taipan asal Kamboja. Seorang pelaku bisnis yang mulai berkembang di berbagai negara. Termasuk Indonesia. Satya benar-benar kecolongan, dan itu juga karena kesalahan Chaca yang membuatnya tak peduli seperti saat ini. Lelaki tampan bernama Deril itu membawa Chaca keluar dari club’. Lelaki itu melihat betapa mulusnya kulit Chaca, sudah tergoda semenjak kedatangan gadis itu. Lelaki itu sudah tak terbatas berapa wanita yang sudah dinikmatinya. Dan kali ini ada mangsa yang terlihat sangat empuk. Mata lebar Chaca berbinar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Persis seperti rusa kecil yang tengah bermain di hamparan hutan. “Satya, akhirnya kamu mau menyentuh ku. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mencumbumu.” Benar-benar frontal sekali ucapan gadis kecil ini. Apa yang di pikirkan tidak terjadi dalam kenyataan. Lelaki yang ada di atasnya itu bukan Satya. Brak Satu tendangan di pintu kamar hotel membuat keduanya sadar seketika. Chaca kaget melihat seluet orang yang sepertinya tengah berusaha memisahkan dirinya dengan orang yang di anggapnya sebagai Satya. Tak lama terdengar—namun samar—orang berkelahi. Badanya sudah tidak memakai sehelai benang pun. Dengan terpaksa di tutupi dengan selimut. Orang yang mendobrak paksa pintu hotel pun mendekati Chaca dan membungkus dirinya dengan selimut seperti lontong. “Hebat!! Baru beberapa hari tak dalam kendaliku, kamu sudah bermain-main dengan lelaki asing.” Ini suara Satya, terus yang tadi siapa? Chaca yakin kalau orang yang membawanya tidur di tempat tidur itu adalah Satya. Tapi dalam keadaan setengah sadar seperti ini pun dia masih hafal suara Satya. Yang menendang pintu lah, Satya yang asli. Itu artinya, orang yang menciumi dirinya sejak tadi itu bukan Satya? Otak Chaca berdenyut kencang, membuatnya sakit kepala. Aaarrggg Chaca berteriak sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Kepalanya sakit tiba-tiba, dia bukan gadis penyakitan. Tapi, dia kebanyakan minum. “Apa dia baik-baik saja?” tanya Satya pada selaku dokter yang menangani Chaca sejak awal. “Kalau sekarang, dia butuh penanganan yang lebih serius. Dia di pastikan belum makan sebelum mengonsumsi minuman keras. Kalau di lihat, dia sepertinya tidak makan dengan baik. Aku takutnya, kalau dia seperti ini terus, dia akan mengidap penyakit anoreksia. Di mana dia merasa badanya tidak proporsional jika mengonsumsi makanan.” Itu pula yang di takutkan oleh Satya sebenarnya. Dia juga tidak akan pernah bisa menghadapi Bram, jika Chaca tidak dalam keadaan baik-baik saja. Lelaki itu memijat keningnya karena kelakuan gadis ini semakin mencekiknya. “Santai saja, aku akan memberikan perawatan yang terbaik. Menurut ku, jangan melawannya. Bahaya,” Ilham tau apa yang selalu di minta gadis itu pada sahabatnya. Menikah, menjamah dan menikmati lelaki itu. Sebenarnya Satya sudah tidak memiliki batasan pada gadis itu. Seperti saat ini, Satya dengan sabar dan telaten memakaikan baju untuk gadis itu. Kurang sabar apa Satya pada Chaca, bayangkan saja. Gadis itu tengah tidak sadarkan diri, dalam keadaan telanjang bulat. Tapi Satya? Memakaikan baju padanya. Dari baju dalam hingga baju hangat untuk tubuh yang sedikit terasa dingin itu. Mungkin jika Satya itu orang lain, Chaca sudah harus melambaikan tangan pada kesuciannya yang hampir di renggut oleh orang asing. Sejauh ini, Satya masih berpegang teguh pada sumpahnya. Dia di sumpah oleh Bram, untuk tidak memiliki perasaan apa-apa pada Chaca. Itulah alasan Satya sangat menjaga batasannya pada gadis itu. Dia hampir melanggar sumpahnya, dengan membiarkan Chaca seperti ini. Satya menunggui Chaca dari malam itu. Sudah terhitung tiga malam dari kejadian itu, Satya sama sekali tidak meninggalkan Chaca walah hanya selangkah dari ruangan itu. Jera, adalah orang yang selalu membantu Satya. Membawakan makanan dan pekerjaan ke rumah sakit, setiap harinya. Chaca tau jika lelaki itu tidak meninggalkan dirinya. Tapi, apa yang terjadi saat itu, bukanlah kesalahan dia. Tapi, kesalahan Satya. Dia menghilang. Jujur saja, Chaca tidak tau di mana tempat tinggal Satya. Meskipun katanya sangat dekat dengan apartemen yang di tinggalinya. Brak Bram menendang sekuat tenaga. Satya yang ada di dalamnya terlonjak karena kaget. “Bapak,” kagetnya. “Kenapa? Kaget aku bisa tau betapa tidak becusnya kamu menjaga putri ku satu-satunya? Ternyata aku salah menyerahkan Chaca pada mu. b******n kamu!” Pukulan demi pukulan di layangkan pada Satya. Tetapi lelaki itu tidak sama sekali membalas, dia tau ini kesalahannya. Namun yang menjadi pertanyaannya dalam hati adalah siapa orang yang mengadukan kondisi Chaca saat ini pada orang tuanya? Mengingat kembali, di Indonesia hanya ada dirinya, Jera dan.... Ah, pasti ini ulah gadisnya. Satya menerima pukulan demi pukulan sebagai rasa bersalahnya. Di sisi lain Chaca hanya menonton tanpa membela Satya yang sudah bersimbah darah. Gadis itu seakan menikmati apa yang tengah orang tuanya lakukan pada Satya. Ada apa ini? Ada dia tidak lagi menyukai lelaki yang selalu di godanya? “Ayah, sudah. Satya bisa mati karenamu.” Satu kalimat datar yang di lontarkan Chaca sudah menyelamatkan hidup Satya. Haruskah Satya berlutut mengucapkan terima kasih pada gadis itu? Tidak, Satya bahkan tidak bisa membuka matanya. Lelaki bernama Bram itu memukuli Satya menggunakan kekuatan penuhnya karena membuat putrinya mengalami pelecehan. Syukur-syukur kalau anak angkatnya itu meninggal saat itu juga. Tidak ada yang bisa di ambil darinya setelah Bram menyekolahkan setinggi langit. Karena membiarkan anak gadisnya dalam lingkaran hitam. Bram kecewa, setelah membuat Satya pantas untuk duduk di samping Chaca. Lelaki itu malah melepaskan gadisnya begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD