Siang ini berlalu begitu saja, dengan segudang berkas yang harus di tanda tangani oleh Chaca. Dalam hal ini Satya tidak bisa membantunya.
“Rajin sekali bos ku. Sudah jam dua siang, apa tidak lapar?”
Memang hanya Satya saja yang mengerti dirinya. Tanpa di minta, lelaki itu sudah membawakan makanan dan minuman yang di sukai olehnya. Ini bukan kali pertama, tapi Chaca masih saja baper dengan apa yang di lakukan pria itu.
“Hanya kamu yang mengerti ku, peluk aku Satya.” Dalam hal seperti ini pun Chaca tidak melewatkan untuk menggoda lelaki itu.
“Bayangan mu pun aku tak pernah bermimpi untuk memeluknya. Makan makananmu sebelum aku berubah pikiran dan membuangnya ke tempat sampah.” Tajam sekali kata-kata yang di lontarkan oleh Satya.
Tidak ingin makanannya di buang oleh Satya, dengan patuh Chaca makan makanan yang di bawakan olehnya. Chaca itu terkesan menurut pada Satya, hanya saja jika lelaki itu ada di dekatnya. Apalagi jika berurusan dengan yang namanya makan.
Chaca punya perhatian khusus pada tubuh dan juga wajahnya. Dia tidak segan menggelontorkan sejumlah uangnya untuk perawatan. Dan dia juga lebih memilih berpuasa malah dari pada memberikan makanan pada perutnya yang sudah keroncongan.
Satya tau itu, karena gadis itu sering keluar masuk rumah sakit hanya karena diet ketatnya. Hampir seminggu sekali gadis itu tumbang karena kekurangan cairan jika tidak dalam pengawasan Satya.
Oleh karena itu, Satya selalu berada di sisinya setiap saat. Memastikan gadis itu baik-baik saja adalah prioritas utama baginya. Berlian saja kalah berharga dari gadis ini, bagi seorang Satya.
“Makan pelan-pelan, tidak ada yang meminta makanan mu.” Satya memberinya minum saat mulut Chaca penuh dengan makanan.
“Kalau aku gemuk dan tidak ada yang mau menikah dengan ku. Kau harus tanggung jawab untuk menikahi ku.” Kata Chaca dengan mulut penuh makanan.
“Telan dulu makanan mu.” Kata Satya memutar bola matanya jengah.
Entah kenapa gadis itu selalu saja mengatakan hal itu setiap saat. Apa dia tidak bosan dengan mengatakan hal yang sama? Satya saja sampai mual terus mendengarkan pernikahan itu.
Makan siang sudah selesai, dan saatnya kembali beraktivitas. Satya secara naluri, kembali ke ruangannya. Hari masih panjang hari ini, di tambah dengan pekerjaan yang menumpuk juga. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan pekerjaan, hanya karena ingin bersantai sejenak.
Berbeda dengan Chaca. Dia lebih memilih untuk mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ini memang sangat tidak baik, tapi Chaca hanya ingin bentuk tubuh yang ideal. Dia jelas tidak ingin di tinggalkan oleh semua orang, terutama Satya. Jika dirinya membiarkan tubuhnya mengembang.
Jera tau hal itu tanpa sengaja, karena dia hendak menemui bos-nya untuk mendiskusikan proyek yang di dapat kemarin.
Jera mendengar suara seseorang muntah di dalam kamar mandi yang ada di ruangannya. Awalnya dia mengira jika Chaca keracunan makanan. Dengan cepat wanita hamil tiga bulan itu mencari Satya dan mengatakan apa yang sudah di lihatnya.
“Apa kamu yakin? Tadi aku yang membawakan makanan untuk Chaca.” Merasa aneh, Satya pun segera berlari menuju ruangan yang ada di samping berjarak tiga ruangan dari tempat dia bekerja.
Benar, Satya masih mendengar suara sama dengan yang di dengar Jera. Tidak salah lagi, itu suara Chaca. Apa yang salah dengan makanannya? Satya tidak sama sekali memikirkan hal yang baik saat ini untuk Chaca.
“kamu kenapa?” Satya mendobrak pintu kamar mandi pribadi yang ada di ruangan wanita itu.
“Tidak... Ti... Tidak.” Terbata-bata Chaca menjawab. Dia terlalu takut untuk berkata jujur, hanya bisa menunduk dan berharap ada sebuah lubang menganga di dekatnya untuk mengubur diri hidup-hidup.
Satya melihat apa yang baru saja di muntahkan oleh gadis itu. Chaca tengah sakit, dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Tidak bertanya apa-apa lagi, Satya langsung menyeret Chaca untuk ikut dengannya.
Pemandangan antara Satya dan Chaca memang tidak sekali saja terjadi. Tapi itu tetap mencuri perhatian para karyawan yang ada di lobi. Paling tidak mereka selalu berjalan saling bergandengan setiap kesempatan.
Tapi tidak ada yang tau aja kenapa mereka melakukan itu karena Chaca susah di atur. Dan alasan seperti itu tidaklah penting bagi para penikmat drama gratis setiap hari. Yang ada di pikiran mereka adalah, keduanya memiliki hubungan lebih dari atasan dan bawahan.
Duh, Chaca pasti senang jika itu benar, tapi tidak dengan satya.
“Eh, lihat. Mau di bawa ke mana itu Bu Chaca di jam kantor begini?”
“Paling ke sebelah.” – sebelah adalah hotel bintang lima.
“Hust, jangan ngawur. Apartemen kosong, Bu.”
Hahahaha
Kejam sekali penebar gosip murahan itu. Dia tidak pernah berpikir, betapa khawatirnya Satya saat ini. Dia sudah seperti seorang ayah yang mendapati putri tercintanya mengalami hal buruk dalam hidupnya.
Tapi, gosip yang di sebar oleh mereka adalah hal yang menyakitkan, omong kosong.
Di rumah sakit, Chaca kaget, dia di bawa ke ahli gizi seperti biasanya. Dan, cukup hafal pula dokter di sana dengan kedua orang ini.
“Kenapa lagi, pak Satya?” dokter Ilham bertanya sesaat setelah Satya dan Chaca duduk.
“Ini anak, dok. Tadi siang makan enak, tapi gak lama malah muntah-muntah. Apa ada yang salah dengan perutnya?” Satya terlihat sangat khawatir sekali kali ini.
“Chaca, apa kamu senang melihat hal ini setiap hari? Satya itu sangat mengkhawatirkan kamu, tapi kenapa kamu melakukan hal itu terus dan terus?” dokter Ilham adalah sahabat Satya sejak sekolah menengah, hingga saat ini. Masih terjalin sangat baik.
“Dokter,” tak kuasa Chaca ingin menangis rasanya
“Tidak untuk saat ini Cha, kamu sudah sangat keterlaluan.satya itu sayang sama kamu, tapi...”
“Kalau sayang itu di nikahi.” Chaca memotong ucapan dokter.
Keduanya memijat kening dekat alis masing-masing. Apa yang ada di pikiran gadis ini?
“Cha, sayang yang Satya berikan ke kamu itu bukan yang seperti kamu pikirkan. Tapi...”
“Memang dokter tau yang saya pikirkan?”
“Nyerah.” Dokter Ilham mengangkat kedua tangannya sebelum kembali berbicara. “Jangan mengulangi lagi kamu memuntahkan makanan sesaat setelah memakannya. Lebih baik tidak makan dan akan menjaga tenggorokan kamu.”
Satya kaget mendengar apa yang sudah di katakan Ilham selaku dokternya. Dia bahkan tidak berpikir akan mendapati gadis itu melakukan hal tersebut. Hanya untuk menjaga bentuk badannya.
Satya meninggalkan Chaca di belakang. Dia berjalan cepat tanpa mempedulikan gadis itu lagi. Hatinya sangat sakit dengan apa yang sudah di lakukan oleh Chaca.
Dia bahkan tidak menyuruh orang untuk membelikan setiap makanan yang di berikan padanya. Dia sendiri yang membeli, menyesuaikan dengan apa yang di sukai oleh gadis kecil itu. Tampaknya, Chaca sudah tidak butuh dirinya sekarang.
Lebih sering berdebat dari pada berbincang. Lebih sering membuat masalah dari pada menurut. Ini benar-benar bukan yang di harapkan Satya.