Matahari masih terbit dari timur

1039 Words
“Tenang saja, Satya tidak akan mencarimu sampai ke sini. Percaya sama aku, Cha. Kita senang-senang saja sekarang.” Justin, lelaki yang mengajak Chaca ke tempat para pencari kesenangan. Club’ malam. “Yakin ya...?” Chaca benar-benar takut akan murkanya Satya, lelaki kepercayaan sang ayah. “Huum, sudah minum dulu.” Chaca tau itu minuman beralkohol tinggi, tapi di hanya ingin menikmati mamak ini saja pun tidak memikirkan toleransi tubuhnya terhadap alkohol. Chaca baru menenggak dua gelas wishki sudah mengalami perubahan sikap. Hari ini adalah ulang tahun Justin, dia juga menargetkan Chaca. Gadis yang bisa di bilang mata keranjang itu sangat mudah di taklukan. Apalagi Justin cowok tampan dan memiliki tubuh yang bisa di katakan sempurna bagi seorang lelaki. Otot lengan yang terlihat kokoh pun membuat otak traveling kemana-mana. Apalagi Chaca. “Singkirkan tangan mu!!” Justin meraung ketika melihat seorang lelaki meraih tangan Chaca dari sampingnya. Seperti orang yang tidak memiliki pendengaran yang bagus. Lelaki itu tidak menghiraukan Auman dari Justin. Dia tetap membawa pergi Chaca menjauh dari Justin dan keluar dari tempat maksiat itu. Bruk Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali, Satya melempar Chaca ke atas tempat tidurnya. Ya, benar. Abisatya lah yang membawa pergi Chaca dari club’ malam. Jangankan masuk ke tempat seperti itu, jika Satya tau lebih awal, sudah pasti tidak pernah mengizinkan gadis itu keluar. Byur “Kamu mau masuk ke dalam kamar mandi sendiri apa aku yang menyeretmu dan menenggelamkan dalam bak mandi?” Mata Satya merah karena terlalu emosi. Chaca takut melihat lelaki itu dalam keadaan seperti ini. Ucapannya memang tidak meninggi, tapi tegas. Chaca yang sudah basah akibat satu ember air siraman dari Satya pun langsung bangkit. Kesadaran gadis itu langsung datang seperti di tarik langsung dari peraduan malam. Takut, Chaca sangat ketakutan kali ini. Dia tau kalau salah, tapi dia tidak pernah membayangkan kemarahan Satya sampai seperti ini. Di dalam renungan nya di bawah guyuran shower, Chaca berpikir. Bukankah dia bos-nya, kenapa Satya yang jauh lebih galak? Tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Chaca keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk dengan rambut yang masih masah. Dia melihat Satya merapikan tempat tidur, yang sepertinya baru saja dia mengganti seprai nya. “Kenapa kamu jauh lebih galak dari pada aku? Sepertinya memang aku terlalu lunak sama kamu.” Chaca duduk di tepi tempat tidur yang baru saja di rapikan oleh Satya. “Kalau orang salah, tidak membedakan dia tua atau muda, tinggi atau rendah jabatannya. Ya harus kena marah, kenapa? Kamu gak suka? Hidup di hutan saja.” Sungguh, itu mulut paling setiap hari di kasih makan beling sama silet deh. Tajam sekali. Bahkan jauh lebih tajam dari penciuman anjing polisi. “Apa sih yang buat kamu arogan seperti ini?” Chaca tidak bisa menahan diri lagi kali ini. “Aku akan bersikap manis kalau kamu sudah bisa membawa perusahaan tanpa bantuan ku lagi.” Senyum manis yang selalu menggoda Chaca pun kembali tersungging di bibir tipis Satya. “Gak usah senyum-senyum, kalau gak mau aku gigit.” Mendengar apa yang di katakan Chaca, Satya hanya memutar bola matanya jengah. “Sekarang kamu tidur, aku akan menjemputmu besok jam tujuh. Ingat jam tujuh, tidak kurang tidak lebih!” Satya meninggalkan kamar Chaca dan segera pulang ke rumahnya sendiri. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari apartemen Chaca. Itu semua di lakukan karena dia tidak ingin membiarkan gadis itu terlalu bebas. Entah kapan Chaca akan sadar, jika posisi dia saat ini sungguh banyak di inginkan orang. Terutama para tuan muda yang ingin panjat sosial menjadi lebih tinggi lagi. Yang ada di mata gadis itu hanya Satya, Satya, dan Satya. Hanya lelaki itu yang selalu ingin di miliki olehnya. Entah itu cinta atau memang karena sudah terbiasa saja, dia juga tidak pernah tau namanya pacaran. Chaca bersiap sebelum jam tujuh sudah menunggu di lobi apartemen. Dia menggerutu pada Satya yang baru datang jam setengah delapan. Itu artinya dia telat, tidak tepat janji. “Semalem kamu yang cerewet padaku agar tidak telat. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu sudah telat setengah jam.” Chaca benar-benar di bikin mati kebosanan gara-gara menunggu Satya. Tapi lihatlah dia, dia bahkan tidak menjawab apa yang di katakan Chaca. Senyum-senyum sendiri, seakan menggoda Chaca untuk menggigit bibir tipis yang terlihat merah setiap harinya itu. “Terus aja kau senyum-senyum begitu kalau minta di gigit bibirnya.” Plak. “Entah ngidam apa Nyonya dulu pas hamil kamu. Kenapa anaknya bisa m***m begini, sumpah kalau kamu laki-laki. Sudah berapa banyak wanita yang kamu hamili.” Dengus Satya karena ucapan m***m Chaca. “Seharusnya kamu bersyukur, aku gadis muda nan cantik jelita ini hanya m***m pada mu saja. Sudah aku belum sarapan, kita sarapan di kantor saja.” Kata Chaca kepedean. “Ya aku bersyukur kamu masih punya otak untuk tidak m***m pada semua lelaki. Kalau tidak, aku akan meragukan siapa bapak dari anak-anak mu nanti.” Jimin, kenapa filter gak kamu kembalikan? Lihatlah Satya, wajahnya yang tampan ternyata tidak bisa membuat filter untuk tidak mengatakan kata-kata yang tidak pantas dan menyakitkan. Sepertinya memang dia kerasukan oleh jiwa Suga deh, sumpah savage banget. Di tengah perjalanan pun tidak ada pembicaraan yang berarti. Keduanya memilih untuk diam dan mempersilakan keheningan masuk di antara mereka berdua. Tidak lama, perjalanan dari apartemen Chaca ke kantor hanya memakan waktu sepuluh menit saja. Di depan pintu gedung, Satya dan Chaca sudah di sambut oleh Jira. Dia gadis seusia Satya yang juga di tugaskan menjaga Chaca. Bedanya, Jira sudah memiliki suami. Jadi dia tidak bisa sepenuhnya menjaga seperti Satya. “Kenapa bengong? Ayo masuk,” ujar Satya. “Maaf, aku hanya mau memastikan saja. Matahari hati ini terbit dari timur. Bukan dari barat,” jawab Jira. “Maksud kamu apa Jira?” sepertinya Chaca tidak suka dengan peryataan asistennya. “Ah, tidak nona. Saya hanya sadar akan dosa.” Satya yang mendengar hal itu hanya tersenyum simpul. Dia tau apa yang di maksud oleh rekan kerjanya. Hanya dia tak ingin menghancurkan hari Chaca yang sepertinya sudah hancur karena dirinya. Jelas dia bangun telat, jam setengah tiga dia baru keluar dari apartemen Chaca. Satya menunggu gadis itu di lobi sampai tidak ada pergerakan yang berarti lagi. Dia juga memastikan kalau tidak ada yang akan menjemput gadis itu lagi setelah dia pamit, tadi. Eh, Satya gak pamit. Dia langsung pulang begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD