Aku menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian untuk membicarakan hal yang selama ini mengganjal di hati. Di hadapanku, Gading duduk santai di sofa ruang tamuku, menyandarkan tubuh tegapnya dengan mata terpejam. Wajahnya tampak tenang, tetapi aku tahu, di balik ketenangan itu ada kegelisahan yang sama besar denganku. Sejak tadi pagi, Gading duduk di tempat yang sama. "Gading, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyaku pelan, nyaris berbisik. Dia membuka matanya perlahan, menatapku dengan pandangan lembut yang selalu membuatku merasa nyaman. "Apa saja, Aya," jawabnya sambil tersenyum tipis. 'Mengapa harus tersenyum seperti itu? Jantungku tidak bisa diajak kerja sama,' kataku di dalam hati tanpa berani mengatakan langsung pada Gading. Aku merasakan debar jantungku semakin kera

