Lucas tersenyum lebar ketika Hilara muncul di ambang pintu. Gusarnya menunggu seketika terobati. Kedatangan Hilara membuat keributan dalam kelas kontan senyap. Hilara dibuat tak bisa mengangkat kepala. Langkahnya pelan sambil menatap ubin. Ia takut dengan sorot mata tajam orang-orang yang seperti ingin mencabik-cabik tubuhnya. "Gimana?" Berjam-jam Lucas duduk tak tenang menunggu, akhirnya Hilara kembali ke kelas. Dia antusias ingin mendengarkan hasil wawancara gadis itu. Hilara memaksakan senyum. "Gampang-gampang kok soalnya." "Tuh, kan, apa aku bilang? Nggak akan sesulit soal-soal matematika." Tapi wawancara tadi lebih seram dari ujian matematika. Hilara menyungging senyum sedih. "Iya." "Eh iya, Hil. Ini kisi-kisi ulangan Biologi minggu depan." Lucas menggeser buku catatan milik

