1.6

1428 Words

"Ken?” Alis Lucas menyatu. Lantas mulut Hilara terkatup rapat. Bodoh memang, akal sehat dia suka datang terlambat. Harusnya jangan terlalu jujur. Siapa yang tahu bahwa hal dikira punya efek kecil ternyata adalah bumerang masa depan. “Em ... senior kita. Selain keluargaku, Kak Ken, dan kamu, hari ini aku nggak ketemu orang lain. Dan soal Kak Ken, kamu nggak marah, ‘kan?” Beberapa lama tatapan Lucas sukar diartikan. Namun, diam-diam Lucas mengetahui sebuah rahasia. Dia mendengar dentuman hebat jantung Hilara. “Marah,” ucap Lucas menambah kecamuk di benak Hilara. Ketegangan di wajah Lucas berangsur mengendur. “Tapi, ya mau gimana lagi? Aku, kan, nggak ada hak larang-larang kamu pergi sama siapa aja.” “Oh, iya."  Hilara mencelos. Dirinya pun tidak punya hak atas Lucas. Dia hanya berha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD