“Coba kau lihat wanita itu,”
“Ia wanita kemarin,” Mereka yang berada dikantor saling melemparkan bisikan, bisikan yang membicarakan Ana.
Ana sendiri melempar tatapan kengerian pada Mereka.
“Cath,” Bisik Ana, kemudian memegang lengan Cathy dengan kuat-kuat.
“Ck! Mereka manusia An.” Kata Cathy mulai lelah, dengan semua ocehan Ana yang sedari tadi hanya mengeluarkan 3 Kata, Cath, Zombie, takut.
“Ia siapa Cath?” Tanya wanita bertubuh gemuk yang sejenak menghadang jalan mereka.
“Pearl, Dia Ana." Ternyata Wanita gemuk kemarin bernama Pearl.
“Kau,”
“Kau baik-baik saja bukan? Kau tidak tertular---“ Dengan Sergap Cathy membungkam mulut Ana.
“Sssttt, diamlah.” Bisik Cathy.
“Jadi sahabat yang kemarin ia bilang adalah kau”
“Ia sehat kan?” Tanya Pearl penuh harap.
Cathy menatap sejenak kearah Ana. Lalu menatap kembali Pearl.
“Ya, sepertinya..” Kata Cathy setengah yakin.
“Dia terus mengatakan Virus Zombie. Lalu memaksaku untuk mencarimu.”
Ana yang sudah tidak sabar untuk menjelaskan, segera menyingkirkan tangan Cathy dari depan bibirnya.
“Kau baik-baik saja bukan?”
“Dan mereka, asal kau tau, mereka ini sudah terkena virus zombie” Cerocos Ana.
Cathy menghela nafasnya kasar, sebegitu parnonya-kah dirinya terhadap hal-hal seperti itu?
“Cathy, dari mana saja kau?” Ucap Pria bertubuh kekar dan bermata abu-abu itu
Cathy menggigit bibir bawahnya. Ia takut terkenal omelan sadis dari atasannya itu.
“Maaf Sir, kami berdua terlambat karena jalan begitu padat” Dusta Cathy sedikit.
Pandangan mata pria bermata abu-abu ini menelusuri setiap inchi dari tubuh Ana.
“Wanita ini?” Tanyanya dengan telunjuk mengarah pada tubuh Ana.
Cathy mengangguk, tentu saja siapa lagi kalau bukan Ana, Pearl? Memangnya dia pegawai baru yang ingin dipekerjakan di perusahaan ini?
Pria bermata abu-abu ini mengulurkan tangannya “Jhonson Dason, atasan yang bertugas membuka lowongan atas persetujuan dari Boss.”
Ana membalas uluran tangan Dari John “Alodie Zetana Allighiero, Ana saja” Diakhiri denga senyuman tipis dibibirnya.
Tak lama Ana melepaskan genggaman itu, genggaman yang terasa erat.
“Mr. Sudah menunggu.”
Ana melempar pandangan pada Cathy, begitupun Cathy.
Ini bukan suatu kabar yang baik untuk Cathy. Pasti akan ada amukan darinya, setelah Ana masuk kedalam ruangannya itu.
“Mari, ikut denganku.” Ajak John.
“Aku harap baik-baik saja.” Do’a Cathy untuk Ana.
“Ya, dan semoga kau keluar dengan sela----“ Sekali bekapan pada bibirnya, Pearl tidak dapat berkutik kembali.
Ana tidak boleh sampai tau sikap Bossnya itu, bisa-bisa ia mengurungkan niatnya untuk bekerja.
Ana melemparkan senyuman pada Cathy dan juga Pearl, setelah itu ia mengikuti langkah kaki Jhon.
------------
Hanya sebuah benturan dari heels yang Ana kenakan, yang menemani dirinya berada didalam ruangan besar ini.
Jhon hanya mengantarnya sampai depan pintu saja, karena tugasnya hanyalah mengantar Ana sampai depan pintu ruangan Bossnya itu.
“25 minutes, That’s right.” Ucapnya, tubuhnya membelakangi meja kerjanya, jadi Ana hanya menatap punggungnya saja.
Ana menggaruk tengkuknya, ia tidak mengerti maksud dari apa yang diucapkan pria yang berjabat sebagai CEO itu.
“Masih berniat untuk melamar pekerjaan?” Katanya Lagi, diiringi dengan putaran kursi yang memperlihatkan wajahnya.
Ana membulatkan matanya, ia terkejut melihat sosok dihadapannya.
“Kau,”
Boss dihadapannya adalah pria kemarin yang Ana lempar dengan sebuah heels peninggalan Momnya itu. David Jeff Wilton. Seorang Billionaire yang tampan.
“Kembalikan Heels-ku itu!” Ucap Ana dengan nada sedikit meninggi.
David bangkit, ia meninggalkan singgasananya diruangan ini, kemudian menghampiri Ana.
“Jadi kau,” Ucapnya dengan sedikit ulasan manis dibibirnya.
“Kau tau, Karena ulah Heels-mu itu perutku yang kekar ini menjadi memar.” Katanya dengan nada penuh penderitaan.
“Bukan urusanku, kembalikan Heelsku itu” Sungguh Ana tidak peduli dengan pesakitannya itu.
“Bukannya kau sudah membuangnya? Dengan cara melemparkannya padaku?” Katanya, dengan mata menatap mata Ana dalam-dalam.
“Aku, tidak. Maksudku, aku tidak membuangnya.” Kata Ana mulai gugup. Siapapun yang menatap pria setampan David detik itu juga atmosfer di tempat itu seketika berubah.
“Lalu?” Tanyanya dengan melangkahkan kakinya selangkah lebih dekat kepada Ana.
“Aku,”
David semakin melangkahkan kakinya lebih maju, membuat kaki Ana sedikit gemetar. Tanpa sadar Ana sudah meremas baju dressnya dengan kuat-kuat. Hanya tinggal selangkah lagi, tubuhnya dengan tubuh Ana tidak berjarak, langkahnya justru ia belokkan menuju arah Pintu yang sedikit terbuka, untuk merapatkannya.
“Kau datang kesini untuk bekerja bukan?” Katanya, seraya kembali lagi pada Kursinya.
“Jawabannya adalah Iya, aku tau itu.”
Ana terpaku, ia fikir Boss menyebalkan itu akan? Astaga!
“Kau kecewa?”
Ana mengerutkan Dahinya “Kecewa?”
David mengulas sedikit senyuman di bibirnya, “Karena kau fikir aku---“
“Kau gila?!” Teriak Ana. Ana takut fikirannya mengenai David yang akan menciumnya, akan terbongkar olehnya.
Ya, Ana yang bodoh ini, sudah berfikiran yang melenceng dari fikiran biasanya.
“Ada yang salah?” Tanya David dengan alis terangkat sebelah.
“Ya, karena kau tidak mau mengembalikan heelsku itu!”
Tangan kekarnya itu sejenak menyusup pada laci meja miliknya, ia mengambil heels milik Ana dan memperlihatkan pada Ana bahwa Heelsnya itu masih terawat dengan baik.
Ana yang melihat Heelsnya sontak ingin mengambil alih heels itu agar berpindah tangan pada tangannya, tapi David yang memiliki insting yang kuat segera mengapitkan heels itu diantar 2 kakinya, lebih tepatnya mengenai kejantanannya.
“Kau--“Geram Ana, matanya melotot tak percaya.
“Rrghh... Ini sangat menggairahkan.” Kata David dengan mata yang terpejam, seolah-olah ia sangat menikmati tekanan dari heels yang ia buat sendiri.
Ana membulatkan matanya dengan sangat shock, baru kali ini ia melihat seorang pria b*******h dengan benda mati.
“Kau menyukainya?” Tanya Ana shock
David membuka matanya, kemudian mengangguk pelan. Dan lagi-lagi ia kembali memperagakan lagi dan sekarang ia sedikit mengerang dan itu sangat jelas sekali untuk telinga Ana.
Lutut Ana benar-benar lemas. Ia shock dengan keadaan yang baru saja terjadi.
“Bagaimana mungkin?” Tanya Ana tidak percaya.
“Iya karena ia---“
“Aku tidak menyangka, kau menyukai benda mati? Kau---“ Ana tercekat.
“Menyukainya?” Lanjutnya lagi.
David mengerutkan dahinya, ya ia menyukainya, karena ia membayangkan kalau didalam Heels itu terdapat kaki Ana yang sedang menyentuh lembut kejantanannya dengan heels itu.
Ana memejamkan matanya, kemudian bergerak perlahan kearah David. Setelah itu matanya sedikit ia buka, agar tangannya tidak salah menyentuh saat rencananya untuk mengambil heels miliknya itu.
Hap! Ana berhasil mendapatkan heels miliknya. Setelah itu ia menjauh dari hadapan David.
“Aku tidak mau bekerja disini, aku tidak mau gila seperti kau!” Ana segera keluar dari ruangan kerja David.
David diam sejenak, ia berfikir dengan apa yang sudah terjadi.
Shit! David mengumpat. Ia baru tersadar, niatnya untuk mengerjai Ana berbuah pada fikiran konyol Ana.
David bangkit dari kursinya, kemudian meninggalkan ruangannya itu.