Mimpi Buruk Itu Jadi Kenyataan

1292 Words
"Mana darahnya? Kok nggak ada? Kamu nggak perawan ya, Nay?" "Nay." "Anaya?" "Tidak! Aku perawan!" Refleks tak sengaja aku teriak saat Mas Aksya memanggil namaku. Astaga, ternyata aku ngelamun. Bagaimana ini? Tanpa kusadari aku bicara seperti itu. kenapa juga aku bisa seceroboh ini mengatakan hal tersebut. "Perawan? K–kamu kenapa Nay?" Mas Aksya tampak kebingungan. "Nay, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya lagi memastikan. "Eh, I–iya Mas. Aku baik-baik saja," jawabku gugup. Aku meremas kedua tangan dengan kuat berharap rasa gugup ini secepatnya hilang. Aku takut Mas Aksya curiga. Semoga lelaki yang baru sah pagi tadi menjadi suamiku itu tak bertanya lebih lanjut karena aku tak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang barusan kukatakan padanya. "Mas sudah selesai mandi, ayuk, mandi sana. Biar seger," ucapnya memberi saran. Bahuku direngkuhnya lembut. "Iya, Mas." Lega, Mas Aksya ternyata tak bertanya lagi. Aku bergegas segera menuju kamar mandi buat mandi dan juga untuk menghindari pertanyaan darinya tentang hal yang tak sengaja terucap itu. *** Baru saja keluar dari kamar mandi dan tidak tampak Mas Aksya di dalam kamar ini. Kemana perginya? Kenapa tidak pamit? Batinku bertanya bingung. Bergegas aku keluar dari kamar tidur mencari sosoknya. Memastikan suamiku itu masih ada di dalam kamar hotel ini atau tidak. "Sayang, ada apa?" tanya suara bariton yang sangat kukenal saat aku berada di area ruang tengah. Mas Aksya. Ternyata ada di luar kamar tidur tepatnya di area tengah ini sedang duduk di sofa yang ada di sana. Dia sepertinya sedang membaca buku karena buku tersebut berada di tangannya dalam keadaan terbuka. "Aku cari Mas. Kukira Mas pergi tanpa pamit. Terus meninggalkanku sendirian di kamar ini." Mas Aksya tersenyum lebar hingga menampakkan giginya yang putih rapi berbaris dan menambah ketampanannya dua kali lipat bagiku. "Nggak mungkin lah Sayang Mas pergi tanpa pamit. Ini kebetulan lagi baca buku. Sekalian nunggu kamu yang lagi mandi. Jadi mandinya sudah selesai kan?" Aku mengangguk mengiakan. "Lapar tidak? Mau makan dulu? Kebetulan dapat dessert dari hotel." Tanganku ditariknya. Mas Aksya menuntunku menuju meja makan. Di sana tampak berjejer rapi beberapa makanan dalam wadah yang cantik tertutup tudung kaca. Jadi dari luar dapat terlihat apa saja isinya. "Mau?" tawarnya lagi karena sedari tadi aku diam saja. Aku berpikir sejenak menimbang haruskah makan atau tidak karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 menit. Lagipula di pesta tadi juga sudah makan malam meskipun hanya sedikit dan biasanya aku sudah stop untuk makan apapun di jam tersebut. "Mas mau makan?" tanyaku balik karena kalau suamiku itu ingin makan lagi maka otomatis aku pun akan ikut makan untuk menemaninya. "Iya, perutku keroncongan minta diisi. Mungkin kecapekan habis dari resepsi tadi. Kamu sendiri gimana? Mau atau kita tidur saja?" "Mau kok." Tawarannya kujawab cepat dengan tersenyum semringah. Akan lebih baik aku ikut makan agar Mas Aksya senang denganku. Desert-nya enak. Aku yang awalnya malas untuk makan malah paling lahap menyantapnya. Mas Aksya bahkan tak menyangka aku bisa makan sebanyak itu karena dalam bayangannya aku adalah wanita anggun yang pasti makannya hanya sedikit saja. Seperti yang dilihatnya di pesta resepsi kami. Ternyata suamiku itu memperhatikanku makan. Aku dan Mas Aksya sudah dalam kamar tidur dalam posisi duduk di atas tempat tidur setelah sebelumnya sama-sama menyempatkan ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri. Canggung, itu yang terjadi pada kami. Kami duduk dalam diam, lalu sedikit ngobrol membahas apapun yang bisa dibahas. Nanti diam lagi dan lalu saling lirik meski nanti berakhir saling membuang muka. Lucu. Hal ini baru pertama terjadi dalam hidupku. Kenapa suasana jadi sekaku ini ya? Saat makan tadi kami sangat lancar bicara. Sesekali saling bercanda dengan gampangnya. Lalu sekarang apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba mendadak jaim? "Ehm, anu. Kita tidur saja atau …." Mas Aksya seolah sengaja menjeda kalimatnya. Aku berdecak sendiri dalam hati kenapa kalimatnya harus terpotong begitu? Kenapa tidak jujur saja kalau maunya itu. Ini malam pertama kami dan wajar kalau lelaki di sampingku ini meminta hal tersebut. "Terserah Mas, aku ikut saja." Tak ingin terlihat 'nakal' aku memilih aman dengan jawaban sok diplomatis begitu. Biar seperti istri yang baik dengan mengembalikan jawabannya ke dia. Mas Aksya menggeser badannya lebih dekat ke arahku. Dipegangnya tanganku untuk dielusnya kemudian. "Mas boleh nanya?" "Hah?" Aku terkejut dengan pertanyaannya barusan. Kenapa malah mengajak bicara. Kukira setelah memegang tanganku, dia akan memulai hal yang sudah kubayangkan bakal terjadi di tempat tidur. Aku mengangguk tanda setuju. "Kenapa mau menerima perjodohan ini? Murni untuk memperbaiki perusahaan kalian atau karena kamu memang menyukaiku?" Keningku mengernyit mendengarnya. Apa maksud pertanyaannya barusan? Kenapa juga mempertanyakan hal tersebut? Bukankah waktu itu sudah kujawab? "Aku tahunya dulu kamu mau menikah denganku karena permintaan ayahmu, tapi setelah beberapa kali bersama, kita jalan, dan sebagainya, apakah masih sebatas itu atau ada perasaan yang sama sepertiku?" "Perasaan sama?" Giliranku bertanya memastikannya. Mas Aksya menatapku lekat. "Aku menyukaimu, Nay. Saat ayahku menawari hal ini, tentang perjodohan kita, aku langsung mengiakan. Aku setuju," jawabnya membuatku mengulum senyum. "Benarkah Mas?" Tak ingin besar kepala. Aku ingin memastikan sekali lagi. Sanksi kalau itu alasannya. Mas Aksya itu tampan, aneh kalau mau dijodohkan sepertiku tanpa ada unsur keterpaksaan. Seharusnya orang sepertinya sangat gampang mendapatkan pendamping di usianya sekarang ini. Sebuah penelitian membuktikan kalau laki-laki kaya, mapan dan tampan sangat mudah menarik wanita. Tak perlu lewat perjodohan seperti ini. Aku sebenarnya juga tidak tahu kenapa orangtuanya Mas Aksya menginginkanku jadi menantunya? Apalagi setelah hal buruk yang menimpaku, apakah mereka akan mampu menerimanya? "Iya. Dari dulu selalu mendengar hal baik tentangmu, Nay. Tidak ada alasan aku menolak wanita sepertimu. Justru heran kenapa kamu mau menerima perjodohan ini. Aku takut karena masih terpaksa sedang aku sudah benar-benar menyukaimu. Aku jatuh cinta sejak pertama bertemu." Aku speechless, baru tahu kebenarannya. Kami dulu hanya teman masa kecil karena ayah kami bersahabat baik. Bertemu hanya sesekali itupun karena ada acara. Jadi tidak menyangka akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini. Dijodohkan. "Awalnya memang demi Ayah, Mas. Demi menyelamatkan perusahaan kami yang hampir di ujung tanduk, tapi setelah bertemu Mas. Kita juga sudah banyak ngobrol meski tidak seintens ini, rasanya tidak ada alasan juga untuk menolaknya. Mas orangnya baik, dari keluarga baik pula, tampan. Pasti digilai banyak wanita. Hm … banyak nilai plusnya. Sayang kalau ditolak," ungkapku jujur. Mas Aksya tersenyum, genggaman tangannya jadi semakin erat. Lalu ia berpaling menghadapku. Melepas genggamannya. Kami saling tatap sebentar hingga badan Mas Aksya tiba-tiba lebih maju dari sebelumnya, lebih condong ke arahku. Ia juga mendekatkan wajahnya hingga hidung runcingnya menyentuh hidungku. Lalu tanpa dikomando, bagian lain dari wajahnya ikut mendekat. Hingga tak ada lagi jarak diantara kami. Kami menyatu dalam deru napas yang sama. Peluh yang sama untuk menikmati surga dunia yang sering orang dewasa katakan. *** Aku terbangun kaget mendapati Mas Aksya tertunduk duduk di tepi ranjang. Badannya masih polos hanya tertutupi selimut dari pinggang ke bawah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kucoba mengamati sekelilingku. Memastikan ini mimpi atau kenyataan. "Mas, kenapa?" tanyaku penasaran setelah yakin ini adalah nyata. Sedikit menarik selimut, mengangkatnya sampai batas leher untuk menutupi badanku yang polos juga tanpa pakaian. Sisa pertempuran malam tadi masih terlihat jelas dari pakaian kami yang tergeletak sembarang di lantai kamar. "Oh, tidak apa. Sudah bangun ya? Mas mau mandi," ucapnya terdengar gugup membuatku semakin heran. Ada apa dengan suamiku? Kenapa pagi-pagi begini sikapnya terasa janggal? "I–iya," jawabku singkat tak berani bertanya lebih dalam. "Nay, malam tadi sakit tidak? Eh, anu, apa di bagian bawah kamu ada rasa tak nyaman?" Tangannya bahkan menunjukkan ke bagian sensitifku saat menanyakannya. "Maaf, harusnya kutanyakan malam tadi tapi keburu tidur." Mas Aksya menghentikan langkahnya yang ingin ke kamar mandi. Aku tercengang, tak percaya dengan pertanyaan yang baru dilontarkannya. Kenapa menanyakan hal itu. Apa jangan-jangan Mas Aksya curiga kalau aku …. "Kenapa Mas? Bicara yang jelas," pintaku lirih tak ingin menerka sendiri. "Anu, Mas tidak menemukan d–darah di seprei kasur kita, Mas takut semalam …."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD