Ini Malam Pertama atau kedua?

1278 Words
"Takut kenapa Mas?" Dadaku berdebar lebih kencang saat menunggu jawabnya. Sakit. Aku sampai menekannya, menahan rasa tersebut. Akhirnya apa yang kutakutkan telah terjadi. Apa yang kubayangkan kini jadi kenyataan. Mas Aksya mempertanyakan hal tersebut. Lalu aku harus bagaimana? Harus menjawab apa? Kalau harus jujur apakah dia bisa menerimanya? "Aku takut hanya aku yang menikmatinya semalam, sedang kamu tidak." Hah? Sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakan suamiku ini. Tidak menikmati apanya? Apa tentang malam itu? "Maksud Mas?" Kucoba bertanya lebih dalam untuk memastikan. Tidak ingin nantinya salah memberi jawaban. "Semalam aku merasa jadi lelaki beruntung karena bisa tidur denganmu sebagai suami istri dan menjalankan kewajiban sebagai pasangan yang sah. 'Permainan' semalam adalah untuk pertama kalinya untukku. Mungkin terdengar lucu, tapi itu sungguhan Nay. Aku belum pernah melakukannya dengan siapa pun selain kamu. Maka itu aku tidak pengalaman apakah semalam berhasil 'membobolmu' atau tidak. Cuma melihat tidak adanya darah di seprei kasur ini, sepertinya aku belum berhasil," jelasnya terdengar sendu. Tangannya mengusap pelan atas kasur. Aku sungguh terkesiap tak menyangka dengan apa yang barusan kudengar darinya. Apa iya lelaki seperti Mas Aksya yang kuanggap sempurna belum berpengalaman soal itu. Belum pernah melakukannya pada wanita lain? Terdengar aneh kalau dilihat dari penampilan dan pergaulannya sebagai pengusaha muda yang sukses, yang pasti dikelilingi banyak wanita cantik. Iya, aku sendiri sedikit tahu kalau keluarga Mas Aksya itu termasuk keluarga yang agamis. Berbeda jauh dengan keluargaku yang lebih membebaskan kami dalam banyak hal. Kami dibebaskan tapi masih dalam batas kewajaran. Setidaknya Ayah dan Mas Fadil masih sangat protektif padaku karena katanya aku anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Eijaz. Itu juga yang membuatku mengambil kuliah jauh dari mereka. Ingin meneguk kebebasan dan bisa mandiri. Jadi teringat dengan pertemuan dua keluarga untuk pertama kalinya dimana Mama Soraya menekankan semua yang berbau ketimuran padaku. Dia juga mengeluarkan persepsinya kalau wanita baik itu adalah wanita yang bisa menjaga kesucian untuk suaminya kelak dan wanita yang menurut pada suaminya. Aku yang tidak sesempurna itu sangat ketakutan mendengarnya, bahkan meminta Ayah untuk jujur dan membatalkan perjodohan kami karena aku takut kalau akhirnya ketahuan, pasti akan lebih fatal lagi akibatnya bagiku, tapi Ayah bilang semua itu sudah terlambat, bantuan mereka sudah diterima dan berita penyatuan dua keluarga ini sudah tersebar luas keluar. Akan memalukan kalau sampai batal. "Tidak kok, Mas salah, aku menikmatinya. Bahkan rasa ngilu di sini masih terasa." Dengan malu seraya menunjuk ke bagian bawah sensitifku, kukatakan hal itu untuk meredam kekhawatirannya. Syukurlah kalau memang suamiku ini kurang update tentang begituan. Artinya aku bisa berbohong dulu. Astagfirullah, maaf Mas. Ini terpaksa kulakukan. Mas Surya tersenyum. "Benar, Nay? Kamu tidak bohong kan?" Aku mengangguk lemah. Aku tahu, satu kebohongan akan menutupi kebohongan lainnya. Namun hanya cara ini yang tersisa yang dapat kulakukan sekarang. "Masih sakit ya? Apa aku menyakitimu? Aku tak sadar Nay, aku terlalu menikmatinya hingga lupa untuk bertanya. Maaf ya?" Ia menggaruk kepalanya dengan raut wajah yang lucu. Ya Tuhan, suamiku ini terlalu polos atau pura-pura polos? Di zaman begini, dia tidak tahu menahu soal beginian. Setahuku para lelaki sering bercerita tentang hal ini, saling bercanda atau hanya untuk menunjukkan keunggulan mereka, karena dulu aku pernah tak sengaja mendengarkan mereka membahas hal tersebut. Aku sendiri pun tahu teorinya tapi belum pernah mempraktekkannya kecuali saat peristiwa naas itu terjadi. Saat aku dirudapaksa Demian. Aku tidak tahu rasa nikmatnya, hanya sakitnya saja yang kentara kerasa setelah tersadar. Lagi-lagi bayangan buruk itu muncul, membuatku sesak napas ingin mati saja. "Nay, Naya!" "I–iya, Mas." "Kamu mikirin apa? Apa soal …." "Mas mau mandi atau kita ngobrol saja sampai matahari terbit?" Sambil tersenyum aku bertanya. Kalau tidak ditanya begini, obrolan ini semakin panjang dan bakal melebar ke hal lainnya. "Iya, aku mau mandi. Maaf ya membuatmu ikutan khawatir karenaku." Aku tersenyum menanggapinya. "Mas mandi dulu. Soal ini jangan diceritakan ke siapa-siapa ya, Mas malu," tukasnya sebelum menutup pintu kamar mandi. Aku mengangguk mengiakan. Sama dengannya juga aku malu membahas hal beginian, meskipun itu dengan ibu sendiri. Aku kembali merebahkan badan selagi menunggu Mas Aksya selesai mandi. Di saat menunggu, terdengar suara ponsel berdenting dan itu bukan dari ponselku karena aku kenal betul seperti apa bunyi nada suaranya. Ada dua ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Salah satunya ponsel milik Mas Aksya. Awalnya tak kuhiraukan, tapi muncul rasa penasaran siapa yang mengirimnya pesan sepagi ini? Ingin menuntaskan rasa penasaran tersebut, akhirnya kuraih ponsel Mas Aksya untuk mencari tahu siapa yang mengirim pesan padanya. Untung saja gelembung pesan itu terlihat di layar depan, jadi tidak harus masuk ke aplikasi pesan tersebut untuk membacanya. Itu sangat memudahkan mengetahuinya diam-diam tanpa ketahuan telah lancang membuka ponselnya. [Bang, kamu masih di hotel? Kata Renald, Abang cari aku? Kalau penting temui aku di bawah pukul delapan, tanpa istrimu ya, kutunggu.] Mataku terbelalak lebar setelah tahu siapa pengirimannya. Demian. Laki-laki itulah yang mengirimkan pesan tersebut ke ponsel Mas Aksya dan memperingatkannya untuk tidak datang bersamaku. Kenapa? Ini mencurigakan. Aku takut dia ingin menceritakan hubungan kami dulu dan apa yang terjadi padaku saat ini karena perbuatannya. Aku harus mencegah hal tersebut terjadi, tapi bagaimana caranya? Apa sebaiknya kuhapus saja pesan tersebut sebelum diketahui Mas Aksya? Jadi suamiku itu tidak akan tahu ada pesan darinya dan dia tidak perlu juga pergi menemui Demian. Ya Tuhan, laki-laki ini memang sangat meresahkan. Semua serba salah di matanya dan imbasnya ke diriku. Aku yang sudah memegang kembali ponsel Mas Aksya dilanda bingung. Akan menjadi kesia-siaan menghapus pesan tersebut karena pasti ada riwayat penghapusan terlihat di sana. Itu lebih dicurigai suamiku karena akulah yang berada di kamar ini dan satu-satunya jadi tersangka yang bisa dituduh demikian. Ting! Aku terkejut. Denting suara itu berasal dari ponselku yang menandakan ada pesan masuk. Aku membukanya dengan cepat. [Dunia ini yang terlalu sempit atau penduduknya yang semakin berkurang?] Pesan dari Demian. Dia mengirimkan pesan padaku setelah mengirimkan pesan lebih dulu ke Mas Aksya. Apa maksudnya? Untuk apa menyapaku lagi setelah berhasil membuatku menderita dan sangat membencinya? Apalagi yang dicarinya dariku? [Kita bertemu kembali dan dalam hubungan keluarga yang lebih dekat lagi. Sekarang kita saudaraan. Lucu, tak menyangka hubungan kita berakhir jadi seperti ini.] balas laki-laki itu lewat pesan lagi. [Tetap jadi anak yang baik ya, karena aku tidak tahu kapan akan membuka hubungan kita ke publik terutama ke suamimu dan apa yang terjadi padamu saat ini. Diam itu emas, bukan?] Ting! Pesan lagi. Sebuah gambar dikirim Laki-laki tersebut untukku. Isinya berupa foto gambarku bersama laki-laki yang tidak lain adalah dirinya dalam keadaan tak sadarkan diri. foto yang kemarin sempat dikirimkannua padaku sebagai bentuk ancaman. Demian kembali mengancamku! Dia sengaja melakukan itu untuk membungkam mulutku. Laki-laki itu pintar juga. Sekarang aku benar-benar tidak dapat berbuat apapun. Jadi apa yang seharusnya kulakukan? Kalau memilih diam sama saja sedang menunggu bom kematianku yang tiap waktu bisa saja meledak karena remote kontrolnya berada di tangannya. "Nay, kenapa? Apa ada yang telpon atau pesan masuk ke ponsel Mas?" Mas Aksya, dia rupanya sudah keluar dari kamar mandi tanpa kusadari dan dia menanyakan kenapa ponselnya berada di tanganku. Aish, ketahuan! "Iya, Mas. Ada pesan masuk," jawabku gugup dengan meletakkan kembali ponsel itu ke atas nakas. Syukurlah tanganku tidak gatal ingin membuka isi pesan itu secara langsung di aplikasinya karena pesan itu bisa terbaca sendiri di depan layarnya. Kalau ketahuan Mas Aksya, ia pasti marah atau bisa jadi suamiku itu akan ilfeel padaku. "Iya, Yan, kita memang harus bertemu." Hah? Aku berusaha melebarkan pendengaranku karena Mas Aksya tiba-tiba menghubungi seseorang setelah ponselnya berpindah ke tangannya dengan cepat. Ia sebelumnya pasti sudah membuka pesan dari Demian tersebut lalu setelahnya baru menelpon. Dilihat dari pembicaraannya barusan, aku yakin itu Demian. "Tentang apa? Anaya?" Tatapan bingung Mas Aksya ke arahku seketika. Deg! Namaku disebut. Itu artinya …. Apa lagi itu? Apakah ini waktunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD