Setelah Malam itu

1090 Words
"Mas, kenapa? Kok kalau Nay tidak salah dengar tadi ada nyebut nama Nay, ada apa? Siapa yang Mas, telpon barusan?" cecarku menanyakan langsung pada suamiku itu. "Oh, itu Demian. Aku kemarin kan mencarinya karena pas di pesta resepsi dia tidak hadir. Tante Lily juga nggak ada." Mas Aksya meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Iya ya, aku pun kemarin mencari sosok tersebut, tapi memang dia tidak terlihat dimana-mana. Bukan karena perhatian, justru sedang sikap waspada saja karena aku takut dia membuat masalah. Kemarin itu dia seolah menghilang saat dicari. Walaupun sebenarnya aku malah bersyukur dia tidak datang. Rasanya jantungku selalu mau copot kalau bertemu dengannya. Namun untuk ibunya, sepertinya aku tak masalah. Tante Lily terlihat baik. Wajahnya pun meneduhkan, enak dipandang. Aku hanya bermasalah dengan anaknya saja. Bukan pada ibunya. "Buat apa Mas?" tanyaku lagi semakin penasaran. Kuikuti langkahnya yang berjalan ke arah lemari pakaian. Aku sendiri sudah mengenakan kimono tidur yang tergeletak di lantai akibat aktivitas panas kami semalam, karena tidak mungkin juga turun dari tempat tidur dengan hanya menggunakan selimut. "Tidak ada yang penting. Hanya ngobrol biasa. Sekalian aku masih penasaran sama kejadian kemarin pagi saat dia membuat keributan dengan pacarnya itu. Dia berutang penjelasan padaku. Hm, siapa nama pacarnya itu, Nay, hm … Aditi. Iya bukan? Aku kurang ingat. Apa iya dia temanmu?" Deg! Bagaimana menjelaskannya. Aditi memang sahabatku, tapi dulu sebelum ia berkhianat. Apa pantas masih disebut sahabat lagi saat ini? "Hanya teman satu kampus, Mas," jawabku seraya menjauhkan diri dari Mas Aksya. Aku tak ingin dicecarnya tentang mantan sahabatku itu. "Oh, bukan teman dekat. Syukurlah. Aku juga kurang suka kalau kamu berteman dengan wanita seperti itu. Bukan aku membatasimu atau mengkotakkan temanmu, bukan Nay. Kamu ngertilah. Kita bebas berteman dengan siapa saja, tapi pilah-pilih juga mana yang memang bisa diajak berteman atau tidak. Entah apapun masalahnya sama Demian kemarin, tidak seharusnya ia membuat keributan di acara orang lain. Itu sama saja tidak menghargai orang yang punya hajatan." "Iya, Mas. Maaf ya atas kejadian kemarin. Sepertinya aku yang mengundangnya datang kemari karena undangan pernikahan itu kusebar juga untuk teman kuliah dulu. Namun aku tidak mengira kalau dia akan membuat keributan di acara kita." "Nggak papa, Sayang. Seperti yang kubilang barusan. Hati-hati. Pilih teman yang membawamu ke dalam kebaikan, bukan teman yang menjerumuskanmu ke dalam keburukan." Aku mengangguk setuju. "Aku mandi dulu ya Mas." Mas Aksya mengangguk. "Hm, tapi Mas nggak pergi kemana-mana kan? Masih di kamar kan?" tanyaku memastikan. Aku teringat dengan perkataannya yang ingin temu janji dengan Demian pukul delapan." "Iya, ini masih pagi Sayang, memangnya mau kemana aku jam segini?" Senyumnya kembali merekah untukku. "Kamu cepetan mandinya biar kita solat berjamaah bareng. Masih keburu kok." Hah? Solat? Aku bahkan sudah lama tidak menjalankannya. Subuhku selalu kesiangan karena malam kugunakan untuk begadang. Jadi malu saat diajak suami sendiri untuk solat bareng. Aku takut salah bacaan atau gerakannya. "Halo Sayang? Kenapa suka ngelamun sih?" Jentikan tangan Mas Aksya berhasil membuyarkan lamunanku. Aku terkesiap karena wajah suamiku itu tiba-tiba berada di depan mata dalam jarak yang sangat dekat. "I–iya, aku mandi dulu ya Mas. Tunggu sebentar, aku tidak akan lama," ujarku memintanya menungguku sebentar agar bisa solat bareng dengannya. Ia hanya membalas dengan anggukkan. Aku segera masuk kamar mandi untuk aktivitas mandi. Aku juga baru sadar kalau suamiku itu ternyata mengenakan baju koko dan sarung. Ya Tuhan, kenapa sekarang aku malah semakin berdosa karena belum mampu jujur padanya tentang keadaanku yang sebenarnya. Dia suami yang baik, aku sangat beruntung mendapatkannya. Aku semakin menciut jika bersanding dengannya. Harusnya dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Bukan wanita sepertiku. *** "Mas, kita nanti tinggal dimana?" Sambil menikmati sarapan pagi di restoran hotel, aku menanyakan hal tersebut pada Mas Aksya. Sebelumnya kami tidak ada obrolan apapun akan tinggal dimana setelah menikah, dan ini kesempatanku untuk menanyakannya. Persiapan pernikahan yang sangat cepat membuatku dan Mas Aksya tidak mempunyai waktu untuk saling mengenal lebih dulu. Bisa dihitung dengan jari pertemuan kami dan itupun didampingi keluarga. Mas Aksya tampak berpikir. "Sepertinya kita akan tinggal di rumah orang tuaku dulu. Nggak papa kan?" Oh, tinggal bersama keluarga Mas Aksya, baiklah akan kucoba, semoga tidak akan lama. Bukan aku tidak mau atau tidak suka, hanya saja aku belum tahu seperti apa keluarga Mas Aksya yang sebenarnya. Sejauh ini mereka sangat baik, terutama Mama Aya. Sedangkan Ayah Ghunadi orangnya sedikit dingin dan kaku. Ia juga terlihat tegas dari garis wajah dan pembawaannya. Sbenarnya aku berharap kami tinggal di rumah orangtuaku dulu karena di sana adalah tempat ternyaman untukku. Aku belum terbiasa tinggal dengan orang lain. Keluarga baruku. Keluarga Ghunadi Wijaya adalah keluarga konglomerat. Keluarga cukup terpandang di kota ini. Cukup terkenal juga sebagai keluarga yang sukses di bidang bisnis. Mempunyai beberapa perusahaan besar dan terpencar di beberapa kota besar. Kekayaan keluargaku juga belum ada apa-apanya dibandingkan keluarga Mas Aksya. Makanya karena berteman baik, Ayah berinisiatif meminta bantuan ke keluarga Mas Aksya. Berharap dibantu oleh ayah Ghunadi. Namun aku tak mengerti kenapa mereka menginginkan syarat harus menjodohkan aku dengan anaknya–Aksya. Tanpa hal itu pun mereka sebenarnya bisa dengan mudah mencari calon mantu yang jauh lebih baik dariku. Ayah Ghunadi hanya mempunyai dua anak yaitu Mbak Elsa Ghunadi Wijaya sebagai anak tertua dan Mas Aksya Ghunadi Wijaya sebagai anak bungsu. Mirip dengan keluargaku yang hanya mempunyai dua anak juga, yaitu aku, dan Mas Fadil. Setahuku Mbak Elsa tidak tinggal di rumah orang tuanya karena ikut suaminya. Mereka menetap di luar kota. Aku baru beberapa kali juga ketemu dengannya dan sejauh ini penilaianku tentangnya baik. Dia sangat ramah padaku mirip seperti ibunya. Jika nanti aku tinggal di rumah mertua, aku berharap perlakuan mereka sebelum dan sesudah kami menikah tetap sama. Aku sedikit takut membayangkan di umur yang masih tergolong muda sudah menikah dan mempunyai keluarga baru. Namun demi bakti pada orangtua, harus kulewati hal tersebut. "Iya, Mas nggak papa. Ehm, tapi nanti aku masih boleh kan nginap di rumah orang tuaku? Hanya sesekali saja," pintaku berharap diizinkan. "Tentu, masa' nggak boleh. Nanti kita atur jadwalnya saja." Alhamdulillah, senang mendengarnya. Sedari awal aku sudah yakin kalau Mas Aksya pasti akan mengizinkan. Lagi pula tidak ada alasan untuk menolak permintaanku tersebut. "Bang, boleh gabung?" Suara itu? Gerakan tanganku di atas piring berhenti mendadak. Diikuti dengan debar dadaku yang semakin cepat berdetak. Refleks aku mendongak ke asal suara yang seketika membuatku tak nyaman. Demian. Lelaki itu melempar senyum ke arahku. Tangannya merangkul pundak Mas Aksya dengan santainya. Dia … kenapa tiba-tiba bisa muncul di sini, dan mengganggu waktu sarapan berdua kami? Bukankah dia menolak kehadiranku seperti yang dibilangnya di pesan tersebut? Lalu sekarang kenapa malah menghampiri kami?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD