Mas Aksya menatapku sebentar, lalu mengangguk setuju. Suamiku itu ternyata mengizinkan adik sepupunya untuk ikut gabung di meja yang sama dengan kami. Ingin sekali menolak tapi tak ada alasan yang tepat untuk menolaknya, yang ada takutnya suamiku malah curiga karena aku terkesan tidak menyukai Demian. Aku berharap Mas Aksya yang menolaknya dengan alasan ingin duduk berduaan saja denganku karena wajar kami pengantin baru yang butuh waktu berdua, tapi nampaknya suamiku itu tidak peka. Dia malah setuju kami duduk bertiga satu meja dengan sepupunya itu.
"Terima kasih. Aku duduk di sini saja. Tidak apa kan Kakak Ipar?" tanyanya padaku dengan piring berisi makanan yang sudah diletakkannya di atas meja kami. Dia duduk di samping Mas Aksya yang berseberangan denganku.
"Heh?"
Aku terheran.
Kenapa harus bertanya padaku? Pasti disengaja ingin mengajakku bicara.
"Hm," jawabku singkat karena kaget campur gugup. Niat mengabaikan juga tidak mungkin karena sekarang ini suamiku itu sedang memperhatikan kami. Aku hanya menatap Demian sekilas lalu menunduk menatap piring makanku. Moodku ambyar seketika karena kedatangannya.
"Baru sadar menu makan kita sama ya, Kakak ipar? Kalian yang pasangan malah beda. Kalau Kakak ipar bukan istrinya Bang Aksya mungkin aku akan bilang kalau kita berjodoh," kelakarnya tertawa menatap piringku dengannya secara bergantian.
Langsung saja netraku ikut menatap piringnya di mana memang isi makanannya sama dengan yang kupilih.
Iya, isinya sama persis. Mungkin cuma kebetulan atau Demian sudah mengamatiku lebih dulu dan mengikutinya seolah kami satu hati. Seingatku dia memang tahu makanan kesukaanku, tapi yang sekarang kuambil ini bukan yang favorit. Hanya sekedar ingin saja.
"Masih sempat saja ngerayu kakak iparmu. Paling cuma kebetulan. Nggak usah diperbesar." Mas Aksya menepuk bahu Demian seraya menyanggah ucapan laki-laki tersebut.
Demian hanya membalasnya dengan terkekeh kecil. "Iya, mungkin memang kebetulan. Nggak mungkin juga jadi kenyataan. Kan sudah sah jadi istrinya Abang. Nggak mungkinlah jodohku. Kecuali …."
Aku dan Mas Aksya kompak menatap Demian lekat menunggu perkataannya yang sengaja menggantung.
"Kecuali kutunggu jandamu." Baru saja Demian menyelesaikan perkataannya, sebuah pukulan sudah mendarat di bahunya.
"Eh, adik kurang ajar! Kamu mendoakan abangmu lekas mati ya? Enak saja bilang kutunggu jandamu. Aku nggak bakalan ceraikan istriku tapi amit-amit juga kalau mati sekarang. Jadilah adik yang baik, doakan yang baik-baik dan jangan bercanda begini, aku nggak suka, Yan. Naya juga pasti nggak suka kan?" Tatapan lembut Mas Aksya ke arahku. Dengan cepat kuanggukkan kepala mengiakan.
"Iya, Bang, maaf. Cuma bercanda. Cuma mau mencairkan suasana. Tadi sempat kaku."
"Kak ipar, maaf ya? Tadi cuma jokes receh doang. Canda. Biar enak ngobrolnya," tukasnya ke arahku masih dengan senyum mengembang.
Tak ada balasan apapun dariku. Aku sedari awal memang sudah ilfeel dengannya sejak peristiwa itu terjadi. Malas sekali kalau harus ketemu lagi, apalagi satu meja begini. Dia adalah wajah yang paling kubenci di dunia ini.
Tiba-tiba suasana hening lagi seketika. Mas Aksya dan Demian kompak menatap ke piring masing-masing, sama sepertiku. Kami kompak seperti sedang berpikir.
"Kayaknya aku pindah meja lain saja deh Bang, nggak enak juga ganggu pengantin baru, takut ntar jodohnya telat. Aku pindah ke sana ya, Bang." Telunjuknya mengarah ke meja yang kosong yang jaraknya dua buah meja dari kami. Ia bangkit masih dalam posisi berdiri.
"Terserah. Terus jam delapan nanti jadi ketemu? Tinggal setengah jam lagi." Mas Aksya menoleh ke arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan seraya menunggu jawab Demian.
"Oh, iya. Sebentar lagi ya." Demian ikutan melirik arlojinya.
"Memangnya Bang Aksya mau ngomong apa?" Demian malah kembali duduk saat bertanya. Sorot matanya menatap suamiku lekat.
"Hm, nggak penting amat. Justru kamu yang mau ngomong apa, kamu yang buat janji duluan. Eh, tapi kenapa harus berdua saja?" Sekarang giliran Mas Aksya yang bertanya serius. Suamiku itu sekilas menatapku sebentar. Aku yang sedari tadi diam, hanya menyimak tak berniat ikut nimbrung ataupun menimpali obrolan mereka.
"Oh itu. Hehehe, obrolan lelaki, Bang. Enakan kalau berdua saja, sesama lelaki. Iya kan? Seperti sekarang, kakak Ipar diam saja dari tadi, takutnya nggak nyaman dengan obrolan kita."
"Ya, terserah, atur saja. Kamu masih menginap di sini, Yan?" Demian mengangguk.
"Kukira sudah pulang bareng Tante Lily. Soalnya Tante Lily bareng Mama pulangnya."
"Benar Mas? Maaf aku nggak tahu dan nggak sempat pamitan sama mereka." Kaget karena baru tahu dan seharusnya aku mampir sebentar ke kamar mereka buat menyapa sebelum mereka pulang.
"Nggak papa. Mereka ngerti kok. Kan kita pengantin baru suka telat bangunnya." Kedua alis Mas Aksya sengaja naik turun menggodaku.
Paham akan ucapannya, seketika pipinya merona merah mendengarnya. Salah tingkah mendengar ucapan 'nakal' suami sendiri. Tak ada sahutan dariku. Cukup mengulas senyum malu sudah mewakilkan balasan untuknya.
"Ekhem. Bang aku ke sana ya." Tiba-tiba Demian berdeham sekalian izin pindah. Aku yakin apa yang barusan dilihatnya membuatnya tak nyaman. Jika dia memang masih mencintaiku, pasti obrolan berbau suami istri barusan membuatnya kesal.
"Oh, iya. Lain kali saja kita ngobrolnya Yan. Aku mau metime dulu dengan istriku."
Aku mengulum bibir mendengar apa yang barusan dikatakan suamiku. Akhirnya dia peka juga kalau ini adalah waktunya quality time kami. Jangan membawa orang ketiga untuk ikut menikmatinya.
[Jangan membuatku cemburu.]
Bingung. Sebuah pesan chat masuk ke ponselku dan isinya membuat kedua alis ku menyatu.
Dari nomor baru, karena tidak terdaftar di ponselku. Namun apa maksudnya? Apa salah kirim?
[Jangan terlalu mesra dengan suamimu, aku tak suka.]
Pesan lagi dari nomor yang sama. Seketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling memastikan siapa yang mengirim pesan tersebut. Dari pesan ini dia tahu apa yang sedang kulakukan dan dugaanku mengarah ke seseorang yang barusan membuatku tak nyaman.
Demian.
Laki-laki itu sedang memegang ponselnya. Pasti pesan tadi dari nomor dia. Aku memang sudah memblokir nomornya, jadi ada kemungkinan dia menggunakan nomor baru untuk mengirimkan pesan barusan.
Tiba-tiba kedua mataku tak sengaja bersirobok dengan laki-laki itu, dan dia tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku.
"Yang, Sayang."
Tepukan lembut Mas Aksya mengagetkanku.
"Iya, Mas?" jawabku segera memalingkan muka dari Demian.
"Kamu kenapa lihatin Demian segitunya? Aku cemburu loh."
Mataku melebar seketika. Jadi suamiku ini ternyata menangkap basah aku yang menatap lekat Demian. Padahal maksud tatapanku itu bukan seperti yang dipikirkannya.
"T–tidak, Mas. Sepertinya aku sedang melamun dan pandanganku tak sengaja ke sana, tapi karena kebetulan ada dia di sana jadi kesorot seolah-olah ke dia." Aku coba menjelaskan.
Mas Aksya malah tertawa renyah.
"Serius amat? Iya percaya kok. Tadi cuma bercanda Sayang."
Refleks aku melipat tangan ke d**a dengan memanyunkan bibir. Aku dalam mode cemberut dan kesal melebur jadi satu. Bisa-bisa bercanda dengan wajah serius begitu. Aku sampai senam jantung dapatnya. Malah sekarang kalau begini jadi bingung bagaimana membedakan kapan dia serius dan kapan dia bercanda.
"Eh, marah beneran ya? Maaf Sayang, please … maaf ya," pintaku dengan menangkupkan kedua tangan ke arahku.
[Cepat pergilah! Jangan bermesraan di depanku. Jangan sampai foto kita berdua tersebar ke luar.]
Deg! Netraku spontan menoleh ke arah laki-laki yang dengan santai sedang menyuap makanan ke mulutnya. Dia tampak nyaman diperhatikan dan tahu kalau aku sedang melihatnya dengan sengaja menarik kedua sudut bibirnya naik ke atas. Sekarang keyakinanku naik menjadi seratus persen kalau dialah orang yang sedari tadi mengirimkan pesan ancaman tersebut setelah dua buah foto berhasil masuk ke ponselku.
Tanganku sampai bergetar karenanya setelah tahu apa isi pesan foto tersebut dan dengan cepat segera menyembunyikan ponselku takut dilihat Mas Aksya.