Pesta Pernikahan

1430 Words
Aku memalingkan wajah lebih dulu saat tak sengaja terpaut pandang dengan Mas Aksya. Malu. Pipiku merona merah seketika saat ia tak berhenti menatapku. Sesekali aku menegurnya. "Mas …," tegurku lembut seolah tak suka, padahal sebaliknya. Aku merasa tersanjung saat sepasang mata legamnya tak berhenti menatapku. Namun dia hanya berpaling sebentar lalu kembali menatapku lekat. Lalu tersenyum semringah yang membuatku ikutan tersenyum juga. Tampan. Saat tersenyum lekukan sudut bibirnya membuatku terpesona. Indah dipandang membuatku heran kenapa kami baru dipertemukan lagi setelah sekian lama tak bersua? Andai saja perjodohan ini datang lebih cepat sebelum aku mengenal Demian, mungkin peristiwa naas itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang kami berada di ruangan yang sama dimana sedang berpakaian untuk acara pesta resepsi yang sebentar lagi akan berlangsung. Dia sudah selesai berpakaian karena tidak seribet diriku, dan jujur aku malu saat berpakaian di depannya. Meski sudah resmi jadi suami-istri rasanya masih malu kalau setengah badan kita dilihat oleh lawan jenis. Namun kalau teringat peristiwa bersama Demian, rasa malu-ku memuncak lebih besar dan membuatku seakan sesak napas. Aku ketakutan. Takut rahasia besarku diketahui Aksya. Lelaki baik itu masih belum tahu dan semoga tidak akan pernah tahu. Satu-satunya cara rahasia ini tetap aman adalah membuat Demian diam. Namun bagaimana caranya? Sekarang saja aku malas bertemu dengannya apalagi meminta hal yang belum tentu dikabulkannya, bahkan tergolong mustahil. "Cantik, iya kan Mas Aksya," tukas Astrid, perias yang mendandaniku saat ini. Lelaki tampan yang mengenakan jas senada dengan gaun pengantinku tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala. "Istriku selalu cantik. Aku beruntung bisa menikahinya." Deg! Senyumku pudar seketika. Kalimat pujiannya barusan membuatku semakin tertunduk malu. Bagaimana caranya bisa mengangkat wajah yang sudah tercoreng abu di hadapan suamiku saat ini? Kenapa aku terlalu bodoh mau bertemu mantan terlaknat itu? Lagi-lagi aku merutuki kecerobohan diri ini. Ingin mengulang kembali ke masa lalu sudah tidak bisa. Waktu terus berjalan maju, bukan mundur. Tak mampu menjawab, aku hanya memberikan senyuman tipis yang dipaksakan padanya. Tenggorokanku terasa tercekat untuk bilang terima kasih sekalipun padanya. "Bagaimana, sudah siap? Duh, cantiknya menantu mama." Ibu mertua mengusap pipiku dengan sangat lembut. Di sebelahnya juga ada ibuku. Wajahnya berbinar saat menatapku. Lalu Ibu mertua bertanya, "Sudah siap, Nak?" Aku mengangguk lemah. "Ayo kita siap-siap. Para tamu juga sudah berdatangan," imbuhnya lagi. Aku dan Mas Aksya saling menganggukkan kepala setuju untuk segera keluar dari ruangan ini. *** Aku takjub melihat tampilan dekorasi dan suasana pesta resepsi kami. Megah dan indah. Tidak menyangka bakal mendapatkan pesta pernikahan seperti ini. Beberapa kali datang ke pesta orang tapi tidak begitu memperhatikan. Biasanya aku cuma datang dan mengucapkan selamat. Namun sekarang aku merasakannya berada di posisi mereka. Memang kedua orang tua kami adalah pengusaha yang cukup punya nama terutama keluarga Mas Aksya. Namun aku tak mengira bakal sebesar ini. "Kenapa?" tanya Mas Aksya seolah tahu perhatianku sedang teralihkan. Kami sudah berada di atas pelaminan. "Ini terlalu mewah Mas," bisikku dengan perasaan tak enak. Sudah perusahaan kami dibantu keluarganya dan ternyata pesta pernikahan yang dibuatkan juga luar biasa mewahnya. Setahuku semua dipersiapkan oleh keluarga pihak Mas Aksya. Kami pihak perempuan lebih banyak menerima daripada ikut memberi. Keuangan kami lagi tak baik. "Nggak papa. Buat sekali seumur hidup kan?" Tanganku digenggam erat olehnya. Aku mengangguk mengiakan. Benar, semoga hanya sekali seumur hidup. "Tapi ini berlebihan Mas, kami bahkan tidak menyumbang apapun." Aku tertunduk malu mengatakannya. "Aku yang minta, dan keluargaku menyanggupi. Kalian memang tidak meminta apapun, tapi aku tahu setiap wanita pasti punya pernikahan impiannya. Aku tidak tahu seperti apa pesta impian pernikahanmu karena kamu selalu mengatakan terserah kalau ditanya. Jadi ini Mama yang pilihkan karena Mama yakin kamu menyukainya. Kupikir karena kalian perempuan pasti pemikirannya sama. Lagipula mereka juga menginginkan pesta mewah seperti ini juga karena banyak tamu dan kolega bisnis mereka yang akan hadir. Dari keluargamu juga kan? Ayah Eijaz juga banyak temannya, dan hampir berada di lingkup yang sama bukan? Lagian kalau mampu kenapa tidak? Uang bisa dicari tapi yang begini tidak akan terulang, kecuali kamu menginginkan aku buat nikah–" Paham kemana arah ucapannya, kucubit keras pinggangnya. Enak saja ingin poligami. Aku takkan mau diduakan. Mataku seketika mendelik tak suka. "Mau apa?!" cecarku tak terima. Lelaki yang duduk di sebelahku ini malah tergelak tertawa. "Cantik. Jeng Aya, pilihanmu tak pernah salah." Sayup mendengar pujian tersebut aku menelengkan kepala ke arah kedua mertua yang berdiri tak jauh dari kami. Di depan mereka sedang berdiri sepasang suami-istri dan si istri itu sepertinya sedang memujiku karena saat berbicara tatapannya sekilas ke arahku. "Tentu, kami tidak mungkin mencari yang sembarangan. bibit, bebet dan bobotnya harus bagus. Paling tidak harus anak baik-baik dan dari keluarga baik-baik pula. Iya kan?" Giliran Mama Soraya yang menatap ke arahku. Aku membalas dengan melempar senyum dipaksa. "Iya, harus itu. Sekarang pergaulan anak muda sudah sangat mengkhawatirkan. Banyak yang hamil duluan, ada juga yang sampai aborsi. Pokoknya ngeri Jeng. Amit-amit jangan sampai ketemu yang begituan Untunglah kita punya anak cowok, jadi nggak begitu mengkhawatirkan punya anak cewek, dan Jeng Aya beruntung mendapatkan anak Pak Eijaz. Setahuku mereka dari keluarga yang baik, Anak-anaknya juga dikenal baik." "Sama saja Bu, mau cowok apa cewek kudu dijaga ketat dan iya, itu point plus Saya mau mempersunting Anaya sebagai mantu. Dia sempurna." Deg! Aku yang dipuji mertua, tapi aku juga yang ketar-ketir sendiri. Lihat! Betapa beruntungnya aku bisa menikah dengan Aksya. Dia dari keluarga yang terpandang dan terhormat, lalu aku? Memalukan! Sayangnya mereka tidak tahu nasib buruk apa yang sedang menimpa menantunya ini. "Kenapa Nay?" "Eh, apa Mas?" tanyaku balik tidak fokus hingga kurang mendengar ucapannya. "Wajahmu tiba-tiba sendu gitu. Nggak suka ya sama dekorasi atau–" "Nggak, Mas! Suka kok. Ini malah berlebihan untukku. Terima kasih ya Mas. Maaf belum bisa menjadi istri yang sempurna." "Kamu ngomong apaan sudah minta maaf segala. Kita juga baru nikah. Lagi pula kata sempurna dalam pernikahan itu adalah saling melengkapi. Iya kan?" Tuh kan, aku meleleh lagi dibuatnya. Bicaranya sangat lembut. Aku mengangguk dan Mas Aksya tersenyum seraya menggenggam erat kembali tanganku. Jujur aku mulai nyaman dengan perlakuan manis darinya. YA Tuhan, restuilah pernikahan ini dan kuatkanlah hubungan kami sampai maut memisahkan. Aku berharap ini pernikahan pertama dan terakhir kami dan aku harap Mas Aksya bisa menerimaku apa adanya. "Kenapa Mas?" Giliranku bertanya melihat Mas Aksya yang celingukan seperti sedang mencari seseorang. "Cari Demian? Dari tadi dia tak nampak batang hidungnya." Demian? "Kenapa?" Refleks menanyakan karena penasaran ingin tahu. Rasa takut mulai menyelimuti. Mendengar nama Demian selalu membuatku ketakutan. "Aku belum ketemu dia sejak pagi tadi. Belum sempat ngobrol sejak keributan itu terjadi." "Memangnya Mas mau apa? Maksudnya mau bicara apa?" Apa aku kentara sekali ingin tahu? Semoga Mas Aksya tidak curiga. "Ehm, nggak penting amat sih. Biasalah obrolan lelaki." Nah, apa itu? Ya Allah, semoga bukan apa-apa. Pikiranku sudah kalut duluan. Aku takut Demian menceritakan semuanya. Sesuatu yang lagi kututupi dari siapapun kecuali keluargaku yang memang sudah tahu lebih dulu. *** Capek. Aku memijat pelan kaki yang terasa sakit karena kelamaan berdiri. Kami baru saja masuk ke kamar hotel setelah acara pesta resepsi berakhir. Aku segera duduk di tepi ranjang sambil mengurut perlahan kakiku yang terasa pegal-pegal tersebut. Kakiku menjuntai ke bawah. "Eh, nggak usah Mas," tolakku tak enak menyadari Mas Aksya tiba-tiba datang berjongkok di depanku dan mengambil alih tanganku yang sedari tadi memijat bagian kaki yang sakit. "Nggak papa. Di sini?" tanya nya memastikan sembari tangannya lembut memijat bagian kaki yang terasa sakit. "Iya. Sudah Mas, nggak usah. Udah mendingan juga. Mas Aksya pasti capek juga. Sini, gantian biar dipijitin." Sungguh aku tak enak diperlakukan terlalu manis olehnya. Ada perasaan berdosa karena belum bisa jujur padanya. "Nggak usah, aku tahan. Aku tidak sesakit kamu kok." Mas Aksya terus saja melanjutkan tindakannya tersebut. Aku menyerah karena pijatannya membuat kakiku berangsur enakan. Entah siapa dulu yang memulai, sepasang mata kami malah saling terpaut dan sama-sama menatap wajah yang berada di depannya. Posisi kami sangat dekat hingga hembusan napas terasa sampai ke wajah. Lalu pergerakan kepalanya semakin naik ke arahku, membuatku refleks menutup mata. Cup! Kaget. Sebuah ciuman itu ternyata mendarat di kening. Bukan di bagian kenyal yang telah kubayangkan sebelumnya. Untung bibir itu tidak kumajukan hanya pasrah menunggu pendaratan sempurna di sana. Meski akhirnya memalukan karena pasti Mas Aksya tahu pikiran kotorku mengarah ke mana. "Aku mandi dulu ya, gerah," ujarnya sambil mengusap pucuk kepalaku. Aku mengangguk malu. Kulihat ia bangkit, lalu berjalan menjauh menuju kamar mandi. "Yang tadi belum selesai. Nanti kita sambung ya," tukasnya seraya mengedipkan mata genit. Suamiku itu sudah masuk ke dalam kamar mandi dengan kepala menyembul ke depan pintu yang belum tertutup sempurna. Yang belum selesai itu apa …? Aku tersenyum sendiri jadinya. Aku tak mampu bersuara. Ucapannya barusan benar-benar membuat pipiku merona merah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD