Bab 1
(Sudut Pandang Vina)
Pada hari pernikahanku, karena pesan teks dari Dewi Ayu, tunanganku, Toni Aldric, tanpa ragu membatalkan pertunangan dan pergi saat itu juga.
Dalam perjalanan orang tuaku untuk menemukannya, terjadi kecelakaan mobil. Ayahku meninggal seketika, dan nyawa ibuku berada di ambang kematian.
Tepat ketika kupikir hidupku berada di titik tergelapnya, paman Toni, Gavin Aldric muncul. Dia adalah kepala dari keluarga Aldric.
Dia menggunakan pengaruh keluarganya untuk memasukkan ibuku ke salah satu rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Dia juga secara pribadi melakukan operasi pada ibuku. Namun ibuku tetap meninggal di meja operasi karena kehilangan banyak darah.
Gavin berlutut di koridor rumah sakit dan memelukku, mengatakan dia akan menikahiku, memberiku rumah, dan melindungiku seumur hidupku. Dalam kesedihanku, aku menerima lamarannya, percaya itu adalah penyelamatan.
Sampai Malam Natal, saat aku melewati ruang kerjanya, aku mendengar percakapan di dalam. Di dalam, suara teman Gavin, Rayyan, terdengar rendah tetapi penuh dengan keterkejutan:
"Gavin, kamu sudah keterlaluan dengan mengambil darah ibu Vina, dan sekarang kamu bahkan akan memberikan darah tali pusar anaknya kepada Dewi?"
Suara Gavin lembut namun kejam:
"Aku menghamili Vina hanya untuk mendapatkan darah tali pusar. Golongan darah Dewi sangat langka, dan Vina serta putrinya kebetulan memiliki golongan darah yang sama. Aku tidak bisa mengambil risiko apa pun."
Rayyan terdiam, suaranya getir: "Demi Dewi, kamu sudah bertindak sangat tidak jujur dengan mengatur kecelakaan mobil, membunuh ayah Vina, dan kemudian mengambil darah ibunya..."
"Aku tidak punya pilihan," Gavin menyela dengan dingin. "Jika sesuatu terjadi pada Dewi, aku akan gila."
"Tapi dia baik-baik saja! Mengapa kamu harus melakukan ini?" tanya Rayyan dengan suara serak.
Gavin terdiam lama sebelum berbisik, "Akan terlambat jika sesuatu benar-benar terjadi. Aku tidak tahan melihatnya kesakitan sedikit pun. Kita harus sepenuhnya siap untuk apa pun!"
Aku berdiri di sana terpaku, rasa dingin menjalari tubuhku, tetapi Gavin belum selesai berbicara.
"Soal Vina, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk menebus kesalahanku padanya."
Nada bicara Gavin terdengar getir:
"Dewi tidak menyukaiku, jadi aku akan menikahi Vina, membiarkan Dewi menikahi orang yang dicintainya."
Rayyan hampir meraung, "Kamu masih berpura-pura itu demi kebaikan Vina sendiri, mengambil darahnya secara teratur? Tahukah kamu betapa lemah tubuhnya? Membiarkannya hamil bisa mengakibatkan dia dan bayinya meninggal!"
Gavin terdiam sejenak:
"Aku akan mencarikan tim dokter kandungan terbaik untuknya, dia tidak akan mati."
Tapi dalam dunia kedokteran, tidak pernah ada pilihan yang benar-benar aman. Rayyan tentu saja tidak setuju, dengan keras membalas:
“Kamu gila! Jika Vina mengetahui semua ini, tahukah kamu apa yang akan kamu hadapi? Pembunuhan, pengambilan sampel darah ilegal, obat-obatan pasar gelap, kamu akan berakhir di penjara federal, dan keluargamu akan hancur!”
Gavin berkata tanpa ragu:
“Untuk Dewi, aku tidak peduli. Orang tuaku akan mengerti. Sedangkan untuk Vina… biarkan dia membalas dendam.”
Tubuhku mulai gemetar tak terkendali. Aku menutup mulutku dan melarikan diri dari tempat kejadian. Apa yang kupikir sebagai keselamatan… ternyata hanyalah jebakan yang telah direncanakan dengan matang.
Ibuku, yang seharusnya bisa diselamatkan, menjadi korbannya untuk Dewi.
Dan aku, tanpa sadar, menikah dengannya, menjalani pengambilan sampel darah jangka panjang, menjadi bank darah berjalan untuk Dewi.
Kemarin aku mengetahui bahwa aku hamil dan tak sabar untuk memberitahunya kabar baik itu. Dia selalu tenang dan pendiam, tetapi dia sangat bahagia sehingga dia memelukku dan memutar-mutarku beberapa kali, mengabaikan semua orang di sekitarnya. Dia mengatakan bahwa karena aku, dia adalah pria paling bahagia di dunia.
Kupikir dia bahagia atas kehidupan baru ini yang membawa garis keturunan kami berdua.
Tapi sekarang aku tahu mengapa dia begitu bahagia. Hanya karena darah tali pusarku, Dewi memiliki lapisan perlindungan tambahan. Dia bahkan mempertaruhkan nyawaku demi itu!