Bab 2

654 Words
(Sudut Pandang Vina) Aku mencengkeram dadaku, kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa hampir mencekikku. Air mata mengalir di wajahku, aku menggigit bibirku hingga berdarah, mencoba menahan isak tangisku. Saat itu, Gavin mendorong pintu hingga terbuka. Di tangannya, ia memegang jarum suntik setebal lengan bayi, jarumnya berkilauan tajam. Melihat wajahku yang berlinang air mata, ia jelas terkejut, lalu bergegas maju: “Vina? Mengapa kamu menangis seperti ini? Siapa yang mengganggumu?” Ia menarikku ke dalam pelukannya, suaranya selembut menenangkan anak yang ketakutan. “Apakah kamu mengalami mimpi buruk? Jangan takut, aku selalu ada untukmu.” Pelukannya selalu memberiku kedamaian yang luar biasa. Namun kini, ia masih memegang jarum suntik itu di tangannya. Perutku terasa mual. Selama tujuh tahun terakhir, ia datang setiap bulan dengan jarum ini dan mengambil sebotol darah dariku. Ia mengatakan golongan darahku langka dan ia perlu menyimpan lebih banyak selagi aku masih sehat. Ini demi kebaikanku sendiri, untuk memastikan aku tidak kehabisan darah dalam keadaan darurat. Namun ia tahu betul bahwa aku telah depresi selama bertahun-tahun sejak orang tuaku meninggal, dan pengambilan darah bulanan hanya memperburuk kondisiku. Namun ia tetap mencoba segala cara untuk membujukku agar setuju, selalu mengatakan itu demi kebaikanku sendiri. Hingga saat ini, ia telah mengambil darahku selama delapan tahun. Saat itu, meskipun menyakitkan, aku juga merasa bahagia. Sampai hari ini, akhirnya aku mengetahui bahwa ia mengambil darahku untuk Dewi. Di tengah kesedihan, secercah harapan muncul dalam diriku. Aku mengumpulkan keberanianku dan dengan ragu bertanya, “Gavin, aku sedang hamil sekarang, bolehkah aku tidak diambil darahku?” “Setiap kali kamu mengambil darahku, rasanya sangat sakit.” “Dan kamu sudah mengambil begitu banyak darah, bukankah itu sudah cukup?” Aku menatapnya, mataku berbinar, seolah mengatakan tidak bisa mengubah segalanya. Tapi Gavin menjawab tanpa ragu, “Belum cukup!” Melihatku menatapnya dengan tatapan kosong, dia segera menyadari ekspresinya salah dan melunak, berkata, “Vina, jangan terlalu sensitif, ini demi kebaikanmu sendiri. “Jika kamu mengalami pendarahan pasca persalinan yang parah, di mana aku akan menemukan begitu banyak darah langka untukmu? Kita masih harus mengandalkan diri kita sendiri.” “Bersikaplah baik, ya?” Dia berbicara dengan sangat fasih, seperti seorang suami yang setia dan sangat khawatir tentang istrinya. Tapi yang kurasakan hanyalah rasa dingin yang menusuk. Lalu mengapa dia tidak membiarkan Dewi mengandalkan dirinya sendiri? Mengapa hanya aku yang harus membayar dengan darahku, tubuhku, dan hidupku? Dia jelas salah satu dokter terbaik di Jakarta. Dia tahu betul bahwa pengambilan darah berlebihan selama kehamilan dapat menyebabkan kelainan bentuk janin, atau bahkan menyebabkan kematian anak. Namun dia tetap melakukannya. Dia rela mempertaruhkan nyawa anak dalam kandungannya, yang membawa darah campurannya, hanya untuk menyelamatkan Dewi Ayu. Hatiku dipenuhi keputusasaan saat aku membiarkan dia menusukkan jarum dingin ke lenganku. Saat selang dilepas, darah perlahan mengalir keluar, dan aku merasa semakin mual, pusing, dan sakit. Wajahku pucat pasi. Ketika dia mengambil tetes darah terakhir, dia bahkan tidak repot-repot melihatku. Dia bergegas keluar dengan botol untuk mengawetkannya. Dia bahkan tidak menekan lukaku untuk menghentikan pendarahan. Darah mengalir deras dari luka, dan penglihatanku mulai kabur. Akhirnya, aku tidak tahan lagi dan pingsan. Ketika aku bangun, aku tergeletak di sofa seperti mayat yang dibuang. Pemanas ruangan menyala, tetapi aku masih menggigil kedinginan. Darahku sepertinya telah terkuras terlalu banyak, tubuhku terasa benar-benar lemas. Aku berusaha bangkit, menggunakan sofa sebagai penopang, tetapi gelombang pusing yang hebat hampir membuatku berlutut. Namun aku masih bisa mendengar tawa riang dan bersemangat di lantai bawah. Aku memejamkan mata sejenak dan memaksa diri untuk turun ke lantai bawah. Restoran di lantai bawah terang benderang. Dewi telah tiba beberapa saat sebelumnya dan duduk di antara Gavin dan ibu Gavin, Andrea Aldric, tersenyum malu-malu. Andrea memandang Dewi dengan mata penuh kasih sayang, seolah-olah dia adalah putrinya sendiri. Gavin dengan lembut mengupas kacang favoritnya, meletakkannya satu per satu di telapak tangannya. Tawa mereka hangat dan akrab, seperti tawa sebuah keluarga. Aku satu-satunya orang asing. Dewi adalah orang pertama yang melihatku, senyumnya manis: "Vina! Kamu di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD