Menggoda kakak ipar.
Happy reading.
Lampu gantung di ruang tengah berpijar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding tembok ruang kerja. Reno sedang fokus pada laptopnya, jemarinya menari di atas keyboard saat Larasati masuk ke ruangan dengan langkah yang sengaja diperlambat. Aroma parfum vanilla yang manis segera mengisi ruang mendahului langkah kaki gadis itu.
Rena tidak langsung menyapa. Ia memilih duduk di kursi yang letaknya sangat dekat dengan meja kerja Reno Samudera, melipat kakinya, dan mempermainkan ujung rambutnya sambil menatap Aris tanpa berkedip.
"Mas Reno kerja terus, seharian aku dicuekin?" suara Rena memecah keheningan, nadanya rendah dan sedikit serak.
Aris bergeming, meski gerakan tangannya pada keyboard laptop sedikit tertahan. Ia masih bisa menahan diri untuk tidak tergoda oleh rayuan Larasati.
"Deadline besok, Ras. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
Larasati bangkit dari tempat duduknya berdiri lalu berjalan perlahan memutari meja hingga ia berada tepat di belakang kursi Reno. Ia membungkuk sedikit, seolah ingin melihat apa yang ada di layar monitor, namun napasnya sengaja diembuskan dekat dengan telinga kakak iparnya itu.
"Aku nggak bisa tidur. Rumah ini terasa terlalu sunyi kalau Mas Reno-" bisik Rena. Ia meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Reno, jari-jarinya nyaris menyentuh bahu pria itu.
Reno menarik napas panjang dan menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menoleh sedikit, menatap mata Larasati dengan ekspresi datar namun tegas, mencoba menjaga jarak profesional yang seharusnya ada di antara mereka.
"Minum s**u hangat mungkin bisa membantu, Ras," jawab Reno dingin sambil berdiri. "Mas juga sudah mau selesai. Selamat malam."
Rena hanya berdiri terpaku, memperhatikan punggung Aris yang menjauh menuju kamar utama. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, ia tahu telah berhasil mengusik ketenangan pria itu. Pria yang telah menjadi kakak iparnya sendiri.
"Satu langkah lagi, semoga misi ku terlaksana. Menggoda kakak ipar," bisik Larasati.
***
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih mencekam bagi Reno Samudera. Sementara bagi Larasati, itu adalah awal baru untuk permainannya.
Cahaya matahari yang terang menembus jendela dapur, namun tidak mampu mencairkan kecanggungan antara Reno dan Larasati.
Maya sibuk menuangkan kopi ke cangkir suaminya, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang terjadi semalam. "Mas, kok kelihatannya kurang tidur? Matanya merah gitu," tanya Maya lembut sambil mengelus bahu Reno.
Reno hanya berdehem pelan, matanya tetap tertuju pada koran digital di ponselnya. "Iya, pekerjaan semalam agak menyita waktu."
Tepat saat itu, Larasatu muncul dengan gaun rumah berbahan satin yang tipis. Ia duduk tepat di hadapan Reno memberikan senyum paling manis yang ia miliki.
"Pagi Mbak Maya, pagi Mas Reno," sapa Larasati dengan nada yang ceria, namun matanya mengunci pandangan Reno dengan penuh arti.
Laras meraih gelas yang berisi s**u putih, namun alih-alih menuangkannya ke sereal, ia membiarkan ujung jemarinya bersentuhan dengan tangan Reno yang sedang memegang sendok. Sentuhan itu singkat, namun disengaja.
"Mas Aris kalau kurang tidur butuh asupan yang manis-manis, kan?" ucap Laras sambil menyodorkan sepiring kecil selai stroberi ke arah Reno. "Seperti yang aku bilang semalam, kesunyian itu bikin lelah."
Reno tersedak. Ia segera meraih tisu dan berdehem keras, mencoba menghindari kontak mata. Maya hanya tertawa kecil, mengira itu hanyalah candaan adik bungsunya. "Laras ini ada-ada saja. Memangnya kamu bilang apa semalam ke Mas Reno"
Larasmenopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Aris yang kini tampak gelisah. "Oh, cuma diskusi kecil soal insomnia. Ya kan, Mas?"
Reno segera berdiri, merapikan kemejanya dengan terburu-buru. "Aku berangkat sekarang. Ada rapat pagi." Ia bergegas pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan keheningan yang janggal di meja makan.
Laras menyesap susunya perlahan, matanya mengikuti langkah Aris hingga pria itu menghilang di balik pintu, merasa puas karena sekali lagi, ia berhasil menjadi pusat perhatian dalam pikiran kakak iparnya.
"Sepertinya, mangsa sudah tergoda."
Dua hari kemudian.
Kesempatan itu akhirnya datang dua hari kemudian. Maya harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, meninggalkan Reno dan Laras di rumah yang mendadak terasa jauh lebih sempit dari biasanya.
"Malam ini aku harus punya kesempatan untuk menggoda Mas Reno, dan aku yakin Mas Reno pasti akan tergoda."
Hujan deras mengguyur kota sejak sore, menciptakan suasana sunyi di dalam rumah. Reno sengaja mengunci diri di ruang kerja, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen. Namun, konsentrasinya buyar saat pintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan.
"Laras? Bukankah tadi katanya mau pergi sama teman-temannya."
Laras berdiri di sana, membawa nampan berisi dua cangkir s**u hangat. Kali ini ia tidak memakai gaun rumah, melainkan sweter oversized yang sengaja dibiarkan jatuh di satu bahunya.
"Mas Reno, hujannya deras sekali. Aku buatkan s**u hangat supaya tubuh Mas Reno hangat," ucap Rena lembut sambil meletakkan nampan itu di meja kerja Reno.
Reno tidak mendongak. "Taruh saja di situ, Ras. Terima kasih dan sebaiknya kamu istirahat."
Bukannya pergi, Laras justru berjalan memutar dan duduk di tepi meja kerja Reno tepat di depan tumpukan berkasnya. Ia menyilangkan kaki seperti dua hari lalu, memaksa Reno untuk mengalihkan pandangan dari layar monitor. Kali ini ia harus berhasil menggoda Reno Samudera sang kakak ipar.
"Kenapa Mas Reno selalu menghindari aku? Sejak dua hari lalu, Mas bahkan nggak berani lihat wajahku," bisik Rena.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya perlahan meraih cangkir s**u, namun matanya tetap terpaku pada mata Reno. "Apa Mas takut, kalau Mas lihat aku?"
Reno meletakkan pulpennya dengan kasar. Amarah dan kegelisahan mulai bercampur aduk di dadanya. "Ras, cukup. Kamu tahu ini salah. Maya itu kakakmu."
Laras tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir sekaligus menggoda. Ia mengulurkan tangan, ujung jemarinya dengan berani menyentuh kerah kemeja Reno mempermainkan kancing paling atas.
"Mbak Maya nggak ada di sini sekarang, Mas. Dan aku tahu, Mas Reno juga memperhatikan aku sejak beberapa hari lalu."
Reno menangkap pergelangan tangan Laras, bermaksud untuk menjauhkannya, namun ia justru terpaku saat menyadari betapa cepat detak jantungnya sendiri. Ruangan itu mendadak terasa panas meski di luar sedang badai.
"Keluar dari sini, Larasati," suara Reno rendah dan penuh peringatan, namun pegangannya pada pergelangan tangan Laras tidak segera dilepaskan.
Laras justru tersenyum kemenangan, ia tahu bahwa kemarahan Reno adalah bentuk pertahanan yang mulai runtuh akibat ulahnya.
"Mas menyuruhku keluar, tapi Mas nggak melepaskan tanganku. Jadi, siapa sebenarnya yang sudah tergoda? Aku atau Mas Reno.
"Cukup Ras! Kamu keluar dari ruangan ini, atau aku akan bertindak-"
Cup.