Happy reading.
Larasati tidak bergeming. Alih-alih merasa terancam dengan cengkeraman Reno pada pergelangan tangannya, ia justru menggunakan sisa tenaganya untuk menarik diri lebih dekat. Wajah mereka kini hanya terpaut beberapa inci. Aroma teh melati bercampur dengan parfum Laras yang memabukkan, memenuhi ruang sempit di antara mereka.
"Mas Reno marah karena aku cium bibir Mas, atau ciuman aku begitu singkat" bisik Laras, suaranya kini nyaris hilang di balik suara rintik hujan yang menghantam jendela.
Reno merasakan konflik batin yang luar biasa. Logikanya meneriakkan nama Maya, mengingatkannya pada janji suci dan kesetiaan. Namun, keberanian Laras yang terang-terangan dan suasana rumah yang sepi seolah menciptakan lubang hitam yang siap menelan akal sehatnya. Pegangannya pada tangan Laras melonggar, berubah dari sebuah penolakan menjadi sebuah penerimaan
"Ras jangan lakukan ini. Kamu menghancurkan kepercayaan Maya sama kamu," gumam Reno, meski ia tidak lagi mendorong gadis itu menjauh.
Laras melihat celah itu dengan keraguan di mata Reno. Ia melepaskan tangannya dari kerah kemeja Reno dan perlahan menyentuh rahang pria itu, membelai garis wajahnya dengan lembut.
"Aku tidak ingin menghancurkan apa pun, Mas. Aku hanya ingin kita berhenti berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa di antara kita setiap kali kita berpapasan di lorong rumah ini."
Laras kemudian melakukan langkah yang lebih nekat. Ia turun dari tepi meja, namun bukannya menjauh, ia justru melangkah masuk ke ruang di antara kedua kaki Reno yang sedang duduk di kursi kerjanya. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Rebo mengunci pria itu dalam posisinya.
"Malam ini saja, biarkan aku jadi alasan Mas Reno nggak bisa tidur, toh Mbak Maya nggak tahu apa yang kita lakukan berdua malam ini. Kecuali kalau Mas Reno bongkar rahasia kita." bisik Laras tepat di bibir Reno.
Reno memejamkan mata rapat-rapat, napasnya memburu. Ia berada di ambang batas terakhirnya. Di luar, kilat menyambar, menerangi ruangan itu sekejap, memperlihatkan betapa berbahayanya posisi mereka saat ini. Satu keputusan lagi, dan tidak ada jalan untuk kembali.
Pertahanan Reno akhirnya runtuh. Suara hujan yang berisik di luar seolah meredam suara hati nuraninya yang kian melemah. Tatapan Laras yang menantang dan sentuhan lembut di rahangnya menjadi katalis yang menghancurkan sisa-sisa ketegasan yang ia bangun sejak tadi.
Reno mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang menandakan ia menyerah pada keadaan. Alih-alih melepaskan tangan Laras, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang ramping gadis itu, menariknya hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka.
"Kamu benar-benar keras kepala, Ras," bisik Reno dengan suara yang serak, penuh dengan tekanan emosional yang tertahan.
Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang berkilat di matanya. Ia merasakan debaran jantung Reno yang liar di balik kemejanya, sebuah irama yang sama cepatnya dengan miliknya sendiri. Laras menenggelamkan jemarinya di tengkuk Reno, menarik pria itu lebih dalam ke dalam pesonanya.
Reno memejamkan mata, membiarkan logika dan rasa bersalahnya hanyut terbawa suasana malam yang kelam. Ia tahu bahwa setelah malam ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Hubungannya dengan Maya memang qsedang berada di ujung tanduk, namun tarikan magnetis dari kehadiran Laras di depannya terasa terlalu kuat untuk dilawan.
Di bawah temaram lampu ruang kerja, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Reno akhirnya membalas tatapan Laras dengan intensitas yang sama, membiarkan dirinya tenggelam dalam permainan berbahaya yang dimulai oleh adik iparnya itu.
"Kamu nakal Ras," bisik Reno.
"Tapi, Mas Reno suka?"
"Ehm, suka. Suka sama kamu," balas Reno pelan.
Rumah yang biasanya terasa hangat sebagai tempat bernaung bagi Maya dan Reno, malam itu berubah menjadi saksi bisu dari sebuah pengkhianatan yang baru saja dimulai.
Malam itu, ruang kerja yang biasanya dipenuhi dengan aroma kertas dan kopi berubah menjadi ruang yang asing dan penuh rahasia. Pintu yang terkunci rapat menjadi pembatas antara realitas luar yang dingin dan atmosfir panas yang tercipta di dalam.
Reno benar-benar telah menanggalkan perannya sebagai suami yang setia. Di bawah lampu meja yang masih menyala redup, ia dan Laras terjebak dalam pusaran romantis yang mereka ciptakan.
Tidak ada lagi pembicaraan soal pekerjaan atau basa-basi keluarga, yang ada hanyalah ketegangan yang akhirnya pecah setelah sekian lama dipendam.
Laras dengan segala kelincahannya, berhasil membuat Reno melupakan dunia di luar ruangan itu. Setiap kali Reno mencoba menarik napas atau sekilas teringat akan Maya, Laras akan membisikkan sesuatu yang kembali menarik fokus pria itu hanya kepadanya. Ia memastikan bahwa perhatian Reno sepenuhnya tersita, membuat ruang kerja itu seolah menjadi satu-satunya tempat yang eksis di dunia.
Jam dinding terus berdetak, berpindah dari tengah malam menuju dini hari, namun tak satu pun dari mereka beranjak. Reno duduk di kursi kebesarannya dengan Laras yang tetap berada di dekatnya, seolah-olah kursi itu kini menjadi takhta bagi rahasia mereka.
"Ah, Mas Reno. Itu nikmat sekali."
"Kamu suka?"
"Ehm, suka Mas. Suka banget," jawab Laras pelan.
Sesekali, hanya suara petir di kejauhan yang memecah keheningan, mengingatkan bahwa badai di luar sama besarnya dengan badai moral yang sedang mereka lalui.
Hingga akhirnya, cahaya biru pucat mulai muncul dari celah gorden, menandakan fajar akan segera tiba. Reno menatap pantulan dirinya di layar monitor yang gelap, tampak kusut dan lelah, bukan karena pekerjaan, melainkan karena beban rahasia yang kini ia pikul.
Laras lalu tidak lupa merapikan sweternya yang sedikit berantakan, menatap Reno dengan tatapan puas sebelum ia berdiri untuk meninggalkan ruangan.
"Jangan pasang wajah menyesal begitu, Mas," bisik Laras sambil mengusap pundak Reno untuk terakhir kalinya sebelum keluar. "Malam ini hanya milik kita. Dan besok, kita akan tetap menjadi keluarga yang normal di depan Mbak Maya."
Reno hanya bisa terdiam, duduk terpaku saat pintu ruang kerja tertutup pelan. Ia menyadari bahwa meski fajar telah tiba, kegelapan dalam hidupnya justru baru saja dimulai.
Pagi menyingsing dengan cahaya yang terasa terlalu menyilaukan bagi mata Reno yang tidak terpejam sedetik pun. Di dalam ruang kerja yang pengap itu, sisa-sisa malam tadi masih terasa kental aroma parfum Laras yang bercampur dengan udara dingin AC dan rasa bersalah yang kini menghantam Reno.
"Sial! Kenapa aku bisa tergoda dengan Laras?"
Reno menghela nafas panjang, sisa semalam masih terasa di dalam dadanya. Sentuhan terlarang antara dirinya dan Laras masih terngiang, dan Reno mulai merasakan candu yang selama ini belum pernah ia rasakan ketika bersama Maya.
"Ah, Laras. Kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Reno.