Happy reading.
Reno bergegas merapikan kemejanya yang kusut, mengancingkan kerahnya hingga paling atas, dan mencoba mengatur napasnya di depan cermin kecil di sudut ruangan. Ia keluar dari ruang kerja tepat saat pintu depan terbuka.
"Mas? Kamu sudah bangun?" suara Maya terdengar ceria, meski ia tampak lelah setelah perjalanan malam. Ia menarik koper kecilnya masuk dan langsung menghampiri Reno untuk memeluknya.
Reno mematung. Pelukan Maya yang biasanya terasa seperti rumah, kini terasa seperti hukuman. Ia hanya mampu menepuk punggung istrinya dengan kaku.
"Kamu, kamu bilang pulang sekarang? Bukankah urusan bisnismu masih sampai dua hari lagi?"
"Urusannya selesai lebih cepat, jadi aku langsung pesan tiket subuh," jawab Maya sambil melepaskan pelukannya, menatap wajah Reno dengan dahi berkerut. "Mas, wajahmu pucat sekali. Kamu benar-benar begadang di ruang kerja semalaman?"
Sebelum Reno sempat menjawab, suara langkah kaki ringan terdengar dari arah tangga. Laras muncul dengan wajah yang tampak segar, seolah ia baru saja bangun dari tidur yang paling nyenyak sedunia. Ia mengenakan piyama handuk, rambutnya sedikit basah.
"Mbak Maya! Sudah pulang?" Laras menghampiri mereka dengan senyum lebar, lalu tanpa ragu merangkul lengan Maya. "Kasihan Mas Reno, Mbak. Semalam dia sibuk sekali di ruang kerja. Aku sampai harus membawakannya s**u supaya dia nggak ketiduran."
Laras melirik Reno sekilas, sebuah senyuman jahat dan penuh kemenangan tampak di matanya yang jernih. "Iya kan, Mas? Susunya membantu, kan?"
Reno merasakan tenggorokannya kering. Ia melihat Maya yang menatapnya dengan rasa iba, tidak sedikit pun menaruh curiga pada adiknya sendiri.
"Terima kasih ya, Ras, sudah jagain Mas Reno," ucap Maya tulus sambil mengelus pipi Laras.
Dunia Reno rasanya runtuh saat itu juga. Ia berada di antara dua wanita, yang satu mencintainya dengan tulus, dan yang satu lagi baru saja menjadikannya sekutu dalam pengkhianatan yang paling kelam. Permainan Laras belum berakhir justru, ini adalah babak baru yang jauh lebih berbahaya.
Setelah kepulangan Maya, hidup Reno tidak lagi sama. Alih-alih merasa lega karena situasi kembali normal, Reno justru terjebak dalam obsesi yang berbahaya. Sentuhan Laras malam tadi di ruang kerja ternyata telah menanamkan candu yang mulai merusak kewarasannya.
"Huft, kenapa jadi seperti ini? Apa aku sudah terobsesi dengan Laras?"
Di meja makan, saat mereka bertiga sedang sarapan, Reno tidak bisa fokus pada cerita Maya tentang perjalanannya. Matanya terus melirik ke arah Laras yang duduk di samping istrinya.
Laras sedang menyesap jus jeruknya, namun di bawah meja yang tertutup, Reno merasakan sesuatu yang mengejutkan dadanya.
Ujung kaki Laras perlahan menyentuh betis Reno, mengusapnya dengan gerakan yang sangat halus namun penuh tuntutan.
Reno tersentak, tangannya yang memegang garpu bergetar. Ia menatap Laras sekilas, namun gadis itu tetap mengobrol dengan Maya seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum manis Laras di depan kakaknya benar-benar kontras dengan apa yang ia lakukan di bawah meja.
"Mas, kok makanannya cuma diaduk-aduk?" tegur Maya lembut, menyentuh tangan Reno yang bebas.
Sentuhan Maya yang tulus itu justru membuat Reno merasa panas. Ironisnya, ia mendapati dirinya merindukan tekanan kaki Laras di bawah meja tadi. Ia membenci dirinya sendiri, namun tubuhnya bereaksi berbeda. Ia telah menjadi tawanan dari sensasi yang diberikan Laras.
Setelah sarapan, saat Maya sedang mandi di lantai atas, Reno bergegas ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendapati Laras sudah berdiri di sana, menunggunya di balik lemari es, jauh dari jangkauan pandangan tangga.
Tanpa berkata apa-apa, Laras mendekat dan merapikan kerah kemeja Reno yang sebenarnya sudah rapi. Jemarinya sengaja berlama-lama di kulit leher Reno.
"Mas Reno kelihatan gelisah banget," bisik Laras, suaranya seperti desiran angin yang menggoda. "Apa Mas merindukan s**u buatanku semalam?"
Reno seharusnya menjauh, namun ia justru diam terpaku, menikmati sentuhan dingin jemari Laras yang membuatnya kecanduan. "Laras, ini gila. Maya ada di atas."
"Justru itu yang ingin aku berikan agar Mas ketagihan," Laras tersenyum tipis, lalu dengan berani ia menarik dasi Reno sedikit lebih kencang, memaksa pria itu menunduk ke arahnya. "Mas nggak akan bisa lepas sekarang. Mas sudah tahu rasanya sentuhan Laras dan Mas mulai kecanduan bukan?"
Reno memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam aroma parfum Laras yang kini menjadi candu baginya. Logikanya mati rasa. Meskipun ia tahu ini akan menghancurkan hidupnya, dorongan untuk merasakan kehadiran Laras jauh lebih kuat daripada rasa takutnya akan kehilangan Maya.
"Nanti malam mau lagi? Di kamar aku atau di kamar Mas?"
***
Candu akan sentuhan Laras mulai menggerogoti keseharian Reno. Setiap kali ia berada di dekat Maya, pikirannya justru melayang pada sosok adik iparnya. Ia menjadi pria yang hidup dalam dua dunia, dunia luar yang penuh kepura-puraan sebagai suami ideal, dan dunia bawah tanah yang gelap di mana ia adalah b***k dari sentuhan adik iparnya sendiri.
Satu minggu berlalu, dan ketegangan itu tidak berkurang, justru semakin memuncak. Laras tahu persis bahwa Reno sudah tidak berdaya. Ia mulai sering muncul di saat-saat yang tidak terduga, menciptakan momen-momen berbahaya di dalam rumah mereka sendiri.
Suatu hari, ketika Maya sedang berada di taman. Laras berinisiatif untuk menggoda Reno kembali, ia melangkahkan kakinya menuju ruang dimana Reno sedang sendiri.
"Ras, jangan di sini. Maya bisa masuk kapan saja," bisik Reno, suaranya parau. Namun, meskipun mulutnya menolak, tangannya justru secara otomatis mencari pinggang Laras menarik gadis itu mendekat.
Laras tertawa tanpa suara, sebuah tawa yang terdengar sangat intim. "Mas bilang jangan, tapi tangan Mas nggak bisa bohong. Mas kangen aku, kan?"
Laras melingkarkan lengannya di leher Reno, membiarkan tubuh mereka merapat sempurna di antara tumpukan barang-barang lama. Ia mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang selama ini dicari-cari oleh Reno sebuah candu yang membuatnya merasa hidup sekaligus hancur di saat yang bersamaan.
Reno merasa seperti pria yang kehausan di tengah padang pasir. Ia mencium aroma rambut Laras, membiarkan dirinya terjatuh lebih dalam ke dalam lubang hitam ini. Rasa takut akan ketahuan oleh Maya justru memberikan sensasi adrenalin yang mengerikan, yang anehnya, membuat ketergantungan Laras semakin parah.
"Kamu mau apa sebenarnya, Ras?" gumam Reno di sela-sela napasnya yang memburu.
Laras menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Reno dengan mata yang berkilat penuh rencana. "Aku mau Mas Reno sadar, bahwa hanya aku yang sayang sama Mas Reno, bukan lagi Mbak Maya. Mas punya aku, dan aku-"
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki Maya di ruang tengah, semakin mendekat ke arah bawah tangga. "Mas? Kamu di mana? Tolong bantu aku angkat pot bunga ini!"
Reno membeku. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah. Laras justru tampak tenang, ia bahkan sengaja mengusap d**a Reno, menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah kakak iparnya itu.
Ketegangan di dalam gudang kecil itu memuncak hingga ke titik yang menyakitkan. Reno menahan napasnya, tangannya mencengkeram erat bahu Laras seolah-olah berusaha menahan dunia agar tidak runtuh. Di luar, suara langkah kaki Maya terdengar semakin jelas di atas lantai kayu, berhenti tepat di depan pintu gudang.
"Mas Reno? Kamu di dalam?" Suara Maya terdengar hanya beberapa inci dari balik daun pintu.
Reno sudah siap untuk melepaskan Laras dan berpura-pura sedang mencari sesuatu di gudang, namun Laras justru melakukan hal yang tak terduga.
Alih-alih menjauh, ia justru merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di d**a Reno sehingga detak jantung Reno semakin terdengar tidak beraturan.
Laras meraih tangan Reno dan menempelkannya di bibirnya sendiri, memberikan isyarat agar Reno tetap diam, sementara matanya yang penuh tipu daya menatap pintu dengan senyum yang menantang.
"Mas?" Maya mencoba memutar knop pintu.
Pintu itu terkunci dari dalam sesuatu yang dilakukan Laras sesaat setelah menarik Reno masuk. Reno merasa keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia tahu jika Maya curiga dan memaksa masuk, tamatlah riwayatnya.
"Aku di sini, May!" Reno akhirnya menyahut dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin, meski nadanya sedikit gemetar. "Lagi, lagi cari senter. Sepertinya ada tikus di bawah tangga."
"Oh, dikunci ya? Pantas saja nggak bisa dibuka," sahut Maya dari luar. "Cepat ya Mas, aku tunggu di belakang. Berat banget ini potnya."
Suara langkah kaki Maya akhirnya menjauh. Reno mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti sebuah rintihan lega. Namun, kelegaan itu segera berganti dengan rasa sesak saat ia menyadari Laras masih menempel padanya, menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata bahwa Reno sekarang adalah miliknya sepenuhnya.
"Mas lihat kan?" bisik Laras, suaranya kini kembali tajam dan penuh kuasa. "Mas rela berbohong demi aku. Mas lebih takut kehilangan momen ini daripada kehilangan kepercayaan Mbak Maya."
Laras melepaskan kuncian pintu, namun sebelum ia keluar, ia berjinjit dan membisikkan sesuatu yang membuat Reno mematung di kegelapan gudang itu.
"Malam ini, jam satu. Aku tunggu di balkon belakang. Kalau Mas nggak datang, mungkin aku yang akan datang ke kamar kalian dan mencari senter bersama Mbak Maya."
Cup.